Home » Keluarga » Perempuan » Khotbah Id Maryam Mirza
mirza

Khotbah Id Maryam Mirza

4/5 (2)

Maryam Mirza menorehkan guratan baru dalam sejarah Muslim Amerika. Pada Hari Raya lalu, gadis 20 tahun itu tampil sebagai khatib salat Id di Masjid Asosiasi Muslim AS di Toronto, Kanada.

“Demi kelangsungan hidup kita, manusia harus berubah sesuai gerak zaman, atau kita akan tertinggal,” katanya di depan 200an jamaah. “Hal yang sama dapat diterapkan pada agama. Saudara-saudariku sesama umat Islam, kita semua harus membantu agar Islam bergerak maju, dan saya yakin kita semua mampu melakukannya”.

Kita semua, ujar Maryam, harus terus menerus mendidik diri dan memprakarsai perubahan di komunitas dan agama kita. “Dan semua hal ini dapat kita lakukan dengan tetap berpegang pada ajaran Quran,” tambahnya dalam khotbah 10 menit itu.

Ibunya, Nazreen, sangat bangga pada Maryam. “Ini merupakan sebuah terobosan bagi perempuan Muslim… Saya sungguh gembira melihat dia melakukannya”, kata wanita asal Guyana itu.

Sang ibu tak berlebihan. Seperti diakui oleh seorang jamaah salat Id di Toronto itu, Majeed, masalah gender adalah soal besar yang tak kunjung usai di kalangan Islam.

“Kita selalu bilang bahwa kedudukan perempuan sejajar dengan lelaki dalam Islam, tapi praktiknya tak selalu begitu,” kata pria 55 tahun itu kepada Nicholas Keung dari Immigrant/Diversity.

“Kaum pria generasi saya terlalu banyak beban. Mereka bukan hanya merasa ditantang dan risau terhadap hal ini, tapi umumnya malah merasa posisinya terancam”.

Rekannya, Esmile Ganie, menambahkan, soal gender memang terus menghangat di dunia Islam. “Tapi perdebatan tentang isu ini sudah dimulai di mana-mana,” ujar ayah tiga puteri itu, dengan optimistis.

“Saya rasa khotbah hari ini fantastis. Sangat mencerahkan melihat seorang perempuan tampil di mimbar khatib. Maryam bisa menjadi teladan bagi gadis-gadis lain. Kalau Maryam bisa, tentu mereka pun bisa”.

Imam masjid itu sendiri, Jafar Ally, berharap apa yang dilakukan kelompoknya dengan menampilkan khatib perempuan bisa memulai sebuah gelombang baru di kalangan komunitas Muslim. Penampilan Maryam Mirza memang bahkan bisa dikatakan “revolusioner” – bukan hanya buat Muslim Amerika, tapi untuk seluruh dunia Islam.

Kesetaraan gender dalam Islam memang terlalu banyak dikatakan dan terlalu sedikit dilaksanakan. Seperti di banyak sektor lain, dalam hal ini kalangan ulama Islam lazim mengkritik apa yang mereka pandang sebagai penyimpangan moral di masyarakat non-Islam dalam praktik, lalu mengajukan alternatif berdasarkan ajaran ideal Islam — bukan berdasar apa yang diipraktikkan mayoritas komunitas Muslim di seluruh dunia. Ini jelas cara pembandingan tidak fair.

Mudah-mudahan pada Idul Fitri tahun depan, kita di Indonesia – kalaupun mustahil diharap di Arab Saudi — pun bisa menikmati tampilnya khatib perempuan dalam salat Id. Jika Maryam Mirza bisa, seperti kata jamaah salat Id di Toronto itu, tentu para perempuan Muslim lain di mana pun bisa.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.