Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Keluarga » Perempuan » Nia Dinata: “Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan”
Nia Dinata on set (Foto: cosmopolitan.co.id)

Nia Dinata: “Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan”

5/5 (1)

Apakah kini Anda merasakan perubahan-perubahan corak keberagamaan di masyarakat kita ke arah yang lebih ekstrim?

Kalau pribadi, keluarga, lingkungan teman-teman, baik di dunia film maupun bukan, itu sangat tidak ada. Saya merasa semua orang di lingkungan saya masih menggunakan akal sehat dan nuraninya. Meski tidak formalistis amat dalam beragama, mereka tidak juga sangat liar. Jauh dari itu. Bahkan saya merasa orang-orang lingkungan saya adalah mereka yang seharusnya menjadi inspirasi bagi orang lain.

Tapi kenyataan tidak begitu ketika saya melihat dan membaca apa yang ada di media massa seperti di televisi atau radio. Dari situ saya bertanya, orang-orang ini hidup di mana, sih? Kayaknya, saya nggak nyambung bangetdengan apa yang mereka diskusikan, terutama isu-isu yang menganggap perempuan harus dibatasi ruang gerak, rasa kepemilikan tubuh, cara berpakaian, dan segala macam tentang dirinya, demi menjaga moral bangsa. Dari situ saya bertanya: sebenarnya orang-orang ini hidup di mana, ya?

Saya sejak kecil di Indonesia dan hanya 4 tahun meninggalkan negeri ini saat di Arab Saudi dan kuliah di Amerika. Tapi saat kembali, saya tahu bahwa orang Indonesia dan lingkungan saya kok tidak berpikir begitu. Tapi kok ada orang yang berpikiran seperti itu? Jadi bagi saya, soal itu cukup absurdlah.

Kalau pola pikir keagamaan yang formalistis itu hendak diterapkan lewat aturan-aturan negara yang sampai membatasi kebebasan individu, akan seperti apa Indonesia menurut Anda?

Saya rasa, Indonesia akan jadi bangsa yang munafik. Dari 220 juta penduduk Indonesia, tidak sepenuhnya setuju dan merasa aturan-aturan seperti itu benar. Tapi kalau akhirnya dipaksakan juga, orang-orang Indonesia akan munafik. Hanya karena takut dan malas mencari masalah, akan terbentuklah pribadi-pribadi yang munafik. Itu nomor satu.

Nomor dua, akan ada kebingungan bagaimana mendidik anak-anak kita untuk menghargai orang secara utuh, mulai niatnya, kebaikan hatinya, budi pekertinya, karyanya, dan isi kepalanya? Jadi yang dinilai bukan hanya tubuhnya, tapi utuh. Faktor fisik itu nomor terakhir. Kalau buat saya, itu sebenarnya nggak masuk hitungan.

Apa tanggapan Anda terhadap pelbagai aturan yang membatasi perempuan dengan dalih antisipasi dekadensi moral bangsa, misalnya?

Saya rasa itu anggapan yang agak berlebihan. Kalau ngomong soal moral dan segala macamnya, sebaiknya diawali dari ruang lingkup terkecil yaitu keluarga, karena itu masalah yang sangat individual. Keluarga yang benar-benar harus memberi pengertian dan pendidikan moral serta integritas. Itu semua satu kesatuan yang tidak bisa dipisah.

Tapi, kenapa yang diributkan hanya soal moral yang dikaitkan dengan sesuatu yang berbau-bau susila? Buat saya, yang sangat bobrok di negeri ini sebenarnya soal integritas. Ketika seseorang yang berwenang menghukum orang, misalnya dalam kasus tilang, sudah ada tawaran negosiasi dengan salam tempel kalau ingin lepas dari tilang.

Kalau sebuah otoriti bisa melakukan itu, mendengarnya saja kita sudah malu. Birokrasi kita sengaja dibuat korup. Jadi saya rasa, hal-hal seperti itu, kalau disaksikan anak-anak kita, dia akan jadi bingung.

Anda melihat soal moralitas kini disempitkan maknanya pada urusan susila saja?

Ya. Kepinginnya, saya, keluarga dan anak-anak, tidak membiarkan itu terjadi. Bagi saya, moral yang terpenting adalah integritas kita. Kalau masalah susila, saya rasa itu sudah natural sekali. Dari kecil, kalau kita memakaikan anak kita baju, tetap saja sudah ada standar kesopanan dan ketidaksopanan di kepala. Jadi itu sudah natural. Orang tua mana sih yang membiarkan anaknya nggak pakai baju sama sekali?!

Karena itu, rasa atas sesuatu yang berbau-bau susila yang diperjual-belikan atau media-media yang ada kaitan dengan terbukanya aurat yang vulgar, bisa dinilai masing-masing individu. Ketika kita menginjak usia tujuh belas, harusnya kita sudah mampu menilai mana kebutuhan dan mana yang tidak.

Yang harusnya diregulasi adalah cara memperjual-belikankannya. Regulasi tetap perlu, tapi khusus bagi yang memperjualbelikan atau yang berbisnis susila lah. Tapi kalau mengatur sesuatu yang privat dan individual, kita harusnya tetap menghargai capability masing-masing orang.

Mbak Nia, Anda termasuk pengagum Kartini sebagai simbol perempuan pejuang. Apa yang menarik dari perjuangan perempuan Indonesia?

Kalau melihat sejarahnya, sebenarnya tidak hanya Kartini yang berjuang. Ada Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dan Marta Tiahahu. Selain mereka, masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang kuat dan maju di zamannya. Tapi Kartini punya kelebihan karena punya bakat menulis. Perempuan-perempuan pejuang lain belum tentu buta huruf, tapi Kartini pandai mengekspresikan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan itu sifatnya immortal atau abadi.

Dan terbukti, sekarang tulisan-tulisannya jadi buku dan selalu diingat tiap tahun. Semua anak-anak sekolah membaca tulisannya. Jadi dia sangatinspiring. Saya rasa, yang menunjang kelemahan orang Indonesia in generaladalahsistem pendidikan yang tak memberi peluang tiap individu untuk mengekspresikan pendapatnya. Di sekolah, kita hanya mencatat saja.

Ada yang bilang di Indonesia itu too much religion. Agama seakan tumpah-ruah dan campur tangan di segala tempat. Soal bagaimana mengatur peredaran VCD porno, tiba-tiba jadi pertentangan antara yang Islam dan bukan Islam. Anda melihat gejala itu?

Secara pribadi saya anggap too much religion-nya itu tidak di Indonesia. Di sini dari dulu memang sudah hidup beragam kepercayaan dan agama. Tapitoo much religion-nyaada di media. Saya dulu kuliah S1 soal jurnalistik. Dari situ saya merasa ada perbedaan antara media Indonesia dan negara lain.

Di sini, tiap ada isu, seakan-akan harus ada ahli agama yang ngomong, kan? Kenapa pemerintah yang memang punya otoritas nggak bisa ngatur sesuatu yang jadi wewenangnya secara percaya diri? Mereka harusnya ngomong tanpa perlu diback-up ahli-ahli agama. Sebab saya rasa, secara individual, semua orang adalah spiritual being.

Jadi, jangan seakan-akan ahli agama itu ahli dalam segala hal. Itu yang overbanget dari media-media Indonesia. Kalau kita baca suatu isu, nanti ada saja komentar dari siapa gitu yang ada embel-embel agamanya. Kenapa harus selalu dikomentari mereka? Soal bercerai saja mengadu ke tokoh agama. Itu salah satunya.

Kayaknya, media-media harus berubah. Pemred-pemrednya harus memutuskan nggak usah terlalu ngambil komentar kalangan yang tak terlalu terkait dengan persoalan. Percaya saja pada individu-individu dan orang-orang yang memang kompeten dalam bidang tertentu. Kalau yang dibahas masalah sosial, antropologi atau budaya, jangan dikaitkan dengan soal agama. Politis sekali sih, ya… Itu semua, kita tahu, politis sekali.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.