Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Keluarga » Perempuan » Nia Dinata: “Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan”
Nia Dinata on set (Foto: cosmopolitan.co.id)

Nia Dinata: “Pendidikan Kritis Sangat Penting Bagi Perempuan”

5/5 (1)

IslamLib - Ada anggapan bahwa dekadensi moral bangsa terkait dengan urusan perempuan. Karena itu, demi menjaga moral bangsa yang disempitkan maknanya dalam persoalan susila, diperlukan pengaturan lebih ketat, terutama untuk perempuan. Bagaimana Nia Dinata, sineas muda Indonesia yang baru meluncurkan film Berbagi Suami mengulas anggapan itu? Berikut perbincangan Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis, (20/4) lalu.

 

Mbak Nia, bagaimana agama diperkenalkan pada Anda sejak kecil?

Saat berusia sekitar 2 tahun, saya ingat banget ibu saya mengajarkan surat al-Fatihah. Seterusnya ayat-ayat lain yang sampai sekarang masih saya hafal. Tapi saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat fanatik. Tapi ibu selalu mengatakan, surah al-Fatihah sangat penting. Kalau mau ngapa-ngapain, kayaknya harus baca al-Fatihah dulu, dengan artinya.

Waktu 6 tahun, saya tinggal di Arab Saudi bersama keluarga, mengikuti tugas orangtua. Di situ kita umrah tiap Jum’at. Dari Jedah, kita naik mobil ke Mekkah. Setiap tahun, ada saja keluarga yang datang untuk haji, mumpung ada rumah. Itu semua bagian dari kehidupan saya.

Tapi dalam soal agama, saya tak pernah dicecarbahwa ajaran ini penting, berdosa kalau tak dilakukan atau nggak boleh ditinggalkan. Semuanya diintrodusir saja. Jadi proses sosialisasi keagamaannya berlangsung natural, sembari memberi pilihan-pilihan.

Masih ingat nilai-nilai keagamaan yang selalu ditekankan keluarga?

Waktu kecil, saya nggak banyak tahu bahwa yang diajarkan itu nilai-nilai agama. Tapi ketika beranjak remaja dan banyak membaca, saya baru sadar itu ada dalam Islam. Waktu umur 6 tahun dan pertama kali ke padang Arafah, saya sangat kritis atas banyak hal.

Saya kadang bertanya, “Idih, kok orang itu kecil sekali, dan yang itu besar?!” Saya suka diketawain tante-tante. Tapi pulangnya, saya diajak ngomong, sembari diterangkan bahwa banyak sekali ragam manusia dengan bentuk-bentuk yang beda-beda, dan kita tak boleh membeda-bedakannya.

Ketika masih kecil, saya memang takut melihat orang-orang Afrika yang segede gaban, atau perempuan-perempuan yang mengenakan kerudung tinggi-tinggi bersembahyang di sampingku dengan cara yang agak beda. Sebab, pas tahiyyat, telunjuknya goyang-goyang. Untuk anak kecil, otomatis dia nanya, kenapa mereka berbeda? Jadi di situ saya tahu bahwa manusia itu terdiri dari berbagai macam bentuk dan warna, tapi saya tak boleh membeda-bedakannya. Banyak ragam saling menghargai. Etikanya harus begitu.

Apakah saat itu Anda sudah bisa merasakan perbedaan iklim keberagaman di Arab Saudi dengan di Indonesia?

Ada sekali. Sebagai anak umur 6 tahun, kalau sore-sore saya biasa bersepeda pakai celana pendek di kompleks rumah Jakarta dengan anak-anak tetangga. Di sana, saya sempat mau melakukan itu, terutama minggu-minggu pertama. Tapi saya diomongin orangtua bahwa kalau mau naik sepeda, sebaiknya pakai celana panjang, kaos kaki dan sepatu, dan baju kaos tangan panjang serta selendang yang dikrudungin demi menutup aurat. Terus saya langsung nanya, kenapa?

Sebetulnya, sejak menginjakkan kaki di airport Jakarta, saya sudah dikasih tahu bahwa di Arab Saudi auratnya tertutup semua, apalagi perempuan. Mereka pakai abaya hitam yang kelihatan hanya mata saja. Saya tahu itu, tapi saya kan bukan orang Arab?! Saya bilang, kenapa saya juga harus begitu?

Saat itu saya masih keukeuh dan keras kepala, hingga suatu hari ada kejadian menimpa seorang Filipina. Dia belanja di pasar dengan mengenakan baju panjang tunik setengah betis dengan sandal terbuka tanpa kaos kaki, dan tidak juga pakai celana panjang dalaman.

Karena baru datang dan belum beradaptasi, tiba-tiba ada polisi yang langsung memecut kakinya. Itu menjadi isu cukup heboh di kompleks kita. Dari situ kita dikasih tahu bahwa keadaannya memang seperti itu. Jadi kalau mau keluar rumah dan kejadian serupa tak ingin terjadi pada, kita harus coba menghormati kultur mereka.

Tapi saya ingat, orangtua saya pernah mengatakan, yang diajarkan itu bukan Islam, tapi kultur Arab Saudi. Saya tidak tahu apakah itu salah, tapi mereka memang sudah sangat liberal. Beliau memberitahu saya begitu.

Anda jadi sadar ada banyak varian dalam praktik Islam di banyak tempat; mulai yang natural sampai yang sangat formalistis, ya?

Ya. Tapi saya juga tidak dijelaskan begitu. Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman sesama anak kecil ketika orang tua kita ngumpul weekend. Akhirnya suka dibahas juga, bahwa semua itu tidak terjadi begitu. Ada unsur tradisi dan kebudayaan yang dirasa harus diamankan lewat semacam revolusi yang pada akhirnya menyuruh perempuan memakai pakaian lebih tertutup.

Dari nguping-nguping, saya bersyukur hidup di Indonesia yang kebudayaannya sangat beragam. Kita terdiri dari berbagai suku dan kebudayaan yang sangat kaya dan sophisticated. Artinya, kalau orang Jawa atau Sunda memakai kebaya ketat atau dodot, itu tak perlu diangap men-trigger berahi. Itu dilihat saja dari segi budaya; bahwa itu memang cocok dipakai di Indonesia.

Apakah kini Anda merasakan perubahan-perubahan corak keberagamaan di masyarakat kita ke arah yang lebih ekstrim?

Kalau pribadi, keluarga, lingkungan teman-teman, baik di dunia film maupun bukan, itu sangat tidak ada. Saya merasa semua orang di lingkungan saya masih menggunakan akal sehat dan nuraninya. Meski tidak formalistis amat dalam beragama, mereka tidak juga sangat liar. Jauh dari itu. Bahkan saya merasa orang-orang lingkungan saya adalah mereka yang seharusnya menjadi inspirasi bagi orang lain.

Tapi kenyataan tidak begitu ketika saya melihat dan membaca apa yang ada di media massa seperti di televisi atau radio. Dari situ saya bertanya, orang-orang ini hidup di mana, sih? Kayaknya, saya nggak nyambung bangetdengan apa yang mereka diskusikan, terutama isu-isu yang menganggap perempuan harus dibatasi ruang gerak, rasa kepemilikan tubuh, cara berpakaian, dan segala macam tentang dirinya, demi menjaga moral bangsa. Dari situ saya bertanya: sebenarnya orang-orang ini hidup di mana, ya?

Saya sejak kecil di Indonesia dan hanya 4 tahun meninggalkan negeri ini saat di Arab Saudi dan kuliah di Amerika. Tapi saat kembali, saya tahu bahwa orang Indonesia dan lingkungan saya kok tidak berpikir begitu. Tapi kok ada orang yang berpikiran seperti itu? Jadi bagi saya, soal itu cukup absurdlah.

Kalau pola pikir keagamaan yang formalistis itu hendak diterapkan lewat aturan-aturan negara yang sampai membatasi kebebasan individu, akan seperti apa Indonesia menurut Anda?

Saya rasa, Indonesia akan jadi bangsa yang munafik. Dari 220 juta penduduk Indonesia, tidak sepenuhnya setuju dan merasa aturan-aturan seperti itu benar. Tapi kalau akhirnya dipaksakan juga, orang-orang Indonesia akan munafik. Hanya karena takut dan malas mencari masalah, akan terbentuklah pribadi-pribadi yang munafik. Itu nomor satu.

Nomor dua, akan ada kebingungan bagaimana mendidik anak-anak kita untuk menghargai orang secara utuh, mulai niatnya, kebaikan hatinya, budi pekertinya, karyanya, dan isi kepalanya? Jadi yang dinilai bukan hanya tubuhnya, tapi utuh. Faktor fisik itu nomor terakhir. Kalau buat saya, itu sebenarnya nggak masuk hitungan.

Apa tanggapan Anda terhadap pelbagai aturan yang membatasi perempuan dengan dalih antisipasi dekadensi moral bangsa, misalnya?

Saya rasa itu anggapan yang agak berlebihan. Kalau ngomong soal moral dan segala macamnya, sebaiknya diawali dari ruang lingkup terkecil yaitu keluarga, karena itu masalah yang sangat individual. Keluarga yang benar-benar harus memberi pengertian dan pendidikan moral serta integritas. Itu semua satu kesatuan yang tidak bisa dipisah.

Tapi, kenapa yang diributkan hanya soal moral yang dikaitkan dengan sesuatu yang berbau-bau susila? Buat saya, yang sangat bobrok di negeri ini sebenarnya soal integritas. Ketika seseorang yang berwenang menghukum orang, misalnya dalam kasus tilang, sudah ada tawaran negosiasi dengan salam tempel kalau ingin lepas dari tilang.

Kalau sebuah otoriti bisa melakukan itu, mendengarnya saja kita sudah malu. Birokrasi kita sengaja dibuat korup. Jadi saya rasa, hal-hal seperti itu, kalau disaksikan anak-anak kita, dia akan jadi bingung.

Anda melihat soal moralitas kini disempitkan maknanya pada urusan susila saja?

Ya. Kepinginnya, saya, keluarga dan anak-anak, tidak membiarkan itu terjadi. Bagi saya, moral yang terpenting adalah integritas kita. Kalau masalah susila, saya rasa itu sudah natural sekali. Dari kecil, kalau kita memakaikan anak kita baju, tetap saja sudah ada standar kesopanan dan ketidaksopanan di kepala. Jadi itu sudah natural. Orang tua mana sih yang membiarkan anaknya nggak pakai baju sama sekali?!

Karena itu, rasa atas sesuatu yang berbau-bau susila yang diperjual-belikan atau media-media yang ada kaitan dengan terbukanya aurat yang vulgar, bisa dinilai masing-masing individu. Ketika kita menginjak usia tujuh belas, harusnya kita sudah mampu menilai mana kebutuhan dan mana yang tidak.

Yang harusnya diregulasi adalah cara memperjual-belikankannya. Regulasi tetap perlu, tapi khusus bagi yang memperjualbelikan atau yang berbisnis susila lah. Tapi kalau mengatur sesuatu yang privat dan individual, kita harusnya tetap menghargai capability masing-masing orang.

Mbak Nia, Anda termasuk pengagum Kartini sebagai simbol perempuan pejuang. Apa yang menarik dari perjuangan perempuan Indonesia?

Kalau melihat sejarahnya, sebenarnya tidak hanya Kartini yang berjuang. Ada Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dan Marta Tiahahu. Selain mereka, masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang kuat dan maju di zamannya. Tapi Kartini punya kelebihan karena punya bakat menulis. Perempuan-perempuan pejuang lain belum tentu buta huruf, tapi Kartini pandai mengekspresikan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan itu sifatnya immortal atau abadi.

Dan terbukti, sekarang tulisan-tulisannya jadi buku dan selalu diingat tiap tahun. Semua anak-anak sekolah membaca tulisannya. Jadi dia sangatinspiring. Saya rasa, yang menunjang kelemahan orang Indonesia in generaladalahsistem pendidikan yang tak memberi peluang tiap individu untuk mengekspresikan pendapatnya. Di sekolah, kita hanya mencatat saja.

Ada yang bilang di Indonesia itu too much religion. Agama seakan tumpah-ruah dan campur tangan di segala tempat. Soal bagaimana mengatur peredaran VCD porno, tiba-tiba jadi pertentangan antara yang Islam dan bukan Islam. Anda melihat gejala itu?

Secara pribadi saya anggap too much religion-nya itu tidak di Indonesia. Di sini dari dulu memang sudah hidup beragam kepercayaan dan agama. Tapitoo much religion-nyaada di media. Saya dulu kuliah S1 soal jurnalistik. Dari situ saya merasa ada perbedaan antara media Indonesia dan negara lain.

Di sini, tiap ada isu, seakan-akan harus ada ahli agama yang ngomong, kan? Kenapa pemerintah yang memang punya otoritas nggak bisa ngatur sesuatu yang jadi wewenangnya secara percaya diri? Mereka harusnya ngomong tanpa perlu diback-up ahli-ahli agama. Sebab saya rasa, secara individual, semua orang adalah spiritual being.

Jadi, jangan seakan-akan ahli agama itu ahli dalam segala hal. Itu yang overbanget dari media-media Indonesia. Kalau kita baca suatu isu, nanti ada saja komentar dari siapa gitu yang ada embel-embel agamanya. Kenapa harus selalu dikomentari mereka? Soal bercerai saja mengadu ke tokoh agama. Itu salah satunya.

Kayaknya, media-media harus berubah. Pemred-pemrednya harus memutuskan nggak usah terlalu ngambil komentar kalangan yang tak terlalu terkait dengan persoalan. Percaya saja pada individu-individu dan orang-orang yang memang kompeten dalam bidang tertentu. Kalau yang dibahas masalah sosial, antropologi atau budaya, jangan dikaitkan dengan soal agama. Politis sekali sih, ya... Itu semua, kita tahu, politis sekali.

Anda selalu ingin corak keberagamaan yang kontekstual dengan tingkat keragaman masyarakat Indonesia?

Tentu saja. Dari kecil saya sudah Islam dan percaya Islam walau bukan orang yang 100% religius. Saya memang nggak religius, tapi saya merasa itu adalah hubungan saya yang sangat pribadi dengan Tuhan. Di situ tak boleh ada intervensi orang lain. Saya yakin adanya Allah dan nggak ingin diintervensi orang lain dalam hubungan langsung yang pribadi itu. Saya juganggak pernah konsultasi dengan agamawan. Konsultasinya langsung aja ke Dia, hehe.

Itu tidak hanya saat shalat, di mobil juga bisa. Misalnya saat waktu tersita di mobil kala macet. Saya sering diam dan berusaha untuk kontemplasi dan berdialog dengan-Nya. Tapi itu hal-hal yang sifatnya sangat pribadi. Karena itu, kalau kita menjadikan agama hanya simbol untuk sosialisasi, akhirnya dalam diri kita bisa kosong. Padahal spiritualitas dalam itu yang justru harus kita pelihara. Gitu, kan?

Selalu terjadi konversi-internal dalam cara kita beragama. Misalnya dari toleran jadi tidak toleran atau sebaliknya. Anda mengalami itu?

Banyak yang saya lihat seperti itu. Tapi pada saya pribadi, itu tak terjadi. Mungkin karena saya beruntung banyak diajarkan bertoleransi. Jadinya, semakin ke sini makin toleran. Apa lagi yang kita cari sih dalam hidup ini kalau bukan hidup berdampingan secara damai dan sejauh mungkin menjauhi kekerasan?

Mengapa memilih topik poligami dalam film terbaru Anda, Berbagi Suami?

Sebenarnya yang membuat saya agak gregetan dan punya kekuatan untuk menuangkannya dalam skenario untuk diproduksi, sangat simpel dan sederhana. Saya melihat fenomena itu banyak terjadi di lingkungan saya, sejak supir sampai orang-orang kelas sosial elite.

Dalam diskusi dan omong kosong sehari-hari, terlau banyak pendapat yang mengatakan begini: enak banget jadi orang Islam, karena poligami ibadah. Nah, dari situ saya terusik dan langsung riset; benarkah Islam mengatakan seperti itu?

Saya memang harus riset mendalam, karena sebelumnya tidak adabackground yang kuat. Benarkah Islam begitu? Secara tak langsung, saya tak terima kalau ada banyak omongan seperti itu walau dalam bentuk canda. Kalau lagi ngopi-ngopi, kita selalu mendengar kalau perempuan yang mau dipoligami atau istri yang sudah dipoligami akan dibukakan baginya pintu surga. Padahal menurut saya, masih banyak jalan lain menuju surga; kenapa memilihnya itu? Jadi, saya awalnya gregetan.

Anda ingin mengajukan sudut pandang apa lewat film itu?

Ini bukan film propaganda. Karena itu, saya tetap memilih teknik bertutur lewat bentuk satire-drama. Jadi ini drama yang ada unsur satirenya. Saya ingin mengatakan hidup ini pilihan, karena itu poligami juga pilihan. Kalau laki-laki memilih poligami dan isterinya tidak keberatan, terjadilah tiga pola kehidupan seperti film itu. Ada kehidupan Salma, Siti, dan Ming.

Ketika perempuannya sudah merasa tidak enaknya dipoligami, mereka bisa memilih untuk keluar, seperti Salma. Dia pelan-pelan memilih untuk tidak langsung keluar, padahal dia perempuan mapan. Ini menunjukkan, sebetulnya kemapanan bukanlah tolok-ukur orang menerima atau menolak poligami.

Saya percaya, semapan-mapannya perempuan, selama masih dibesarkan dalam keluarga-keluarga yang sangat kuat unsur patriarkhinya, dia tetap akan terjebak dalam tradisi itu. Tapi kalau dia mulai bisa menentang suami dalam bentuk berbeda pendapat—karakter perempuan itu tidak mau konflik—suaminya akan shock, lalu mati.

Terus, kalau suatu ketika seorang perempuan yang dipoligami mulai merasanggak nyaman, seperti di cerita kedua, dia memilih minggat. Sementara satunya lagi, karena masih muda, memilih untuk memulai hidup baru.

Jadi saya rasa, ini semua pilihan. Tapi inti yang sebenarnya hendak saya katakan, nggak cuma orang Islam yang melakukan poligami, karena itu bagian dari tradisi. Dulu dalam sejarah kita, negeri ini terdiri dari raja-raja kecil yang punya banyak istri atau selir. Jadi itu bukan tradisi mereka yang beragama Islam atau berasal dari suku tertentu saja. Tapi itu fakta dan pilihannya ada di kedua belah pihak.

Ada perkembangan mengembirakan dan mengkhawatirkan di tanah air kita bagi kaum perempuan. Tahun lalu disahkan Undang-undang Anti Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU KDRT). Tapi kini perempuan juga diviktimitasi dan dijadikan kambing hitam kebobrokan moral. Apa usul Anda bagi kaum perempuan Indonesia?

Saya rasa, perempuan tak bisa mengubah nasibnya bagai membalik tangan. Tapi pendidikan sangat penting. Pendidikan yang penting adalah pendidikan kritis seperti banyak membaca buku, berani menuliskan pendapat, dan banyak-banyak komunikasi dengan lingkungan terdekat untuk menuju yang lebih luas.

Sekarang, sudah banyak jalur-jalur pendidikan seperti itu. Medianya banyak tersedia, dan itu harus lebih banyak diisi pendapat-pendapat perempuan. Kalau pendapat perempuan terekspresikan, pasti akan ada yang mendengar. Orang akhirnya juga berpikir dan punya kesimpulan yang berbeda dengan kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Jadi saya rasa, pendidikan non-formal yang kritis itu yang justru sangat penting buat perempuan Indonesia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.