Home » Keluarga » Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”
Syafiq Hasyim dalam diskusi JIL tentang otoritas MUI (Foto: Evi)

Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Apakah dengan pemikiran seperti itu suatu saat nanti Islam akan merestui imam salat perempuan, presiden dan menteri perempuan, amirul hajj perempuan, dan lain-lain?

Kalau untuk amirul hajj tidak ada masalah. Kalau untuk kepala negara perempuan juga tidak ada masalah. Apalagi menteri. Itu sudah didiskusikan dan sudah selesai. Dan di negara kita sudah mengalami hal itu.

Untuk yang imam salat?

Kalau untuk jadi imam salat ini masih didiskusikan sampai sekarang. Kita tidak tahu nanti hasilnya seperti apa.

Tetapi bagaimana seharusnya kita memperlakukan teks-teks agama yang patriarkhis ini?

Ya kita baca kembali, kita lihat kembali. Salah satu cara melihatnya itu mungkin pertama sebaikanya kita membedakan antara apa yang disebut dengan agama dan apa yang disebut dengan ilmu agama atau tafsir agama. Apa yang hakikat agama.

Kalau saya berpendapat bahwa yang hakikatnya disebut agama adalah dua: al-Quran dan Sunnah Nabi. Tafsir, ulumul hadis, sufisme, tauhid, fikih dan lain sebagainya adalah ilmu agama, bukan agama itu sendiri. Karena ilmu agama maka dia testable, dia bisa dites dan bisa diverifikasi.

Bisa diperdebatkan ya…

Bisa diperdebatkan dan lain sebagainya.

Ada doktrin yang diterima begitu saja oleh masyarakat. Misalnya soal perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki. Sebagian orang menyatakan bahwa itu bukan dari tradisi Islam, tapi dari tradisi Yahudi…

Kalau menurut Muhammad Abduh di dalam Tafsir al-Manar memang sangat jelas dikatakan seperti itu. Bukan sesuatu yang mengada-ada. Menurut Muhammad Abduh bahwa tradisi mengenai tulang rusuk itu merupakan isra’iliyat di dalam tafsir al-Quran. Isra’iliyat itu artinya pengaruh-pengaruh dari tradisi Yahudi dan Kristen, tradisi Biblistik, penafsiran Bible.

Para penafsir pada saat itu jangan disangka tidak membaca kita suci lain. Para penafsir al-Quran pada saat itu juga membaca buku-buku yang lain, buku-buku agama lain, kitab-kitab suci lain. Kalau ada keterpengaruhan itu sesuatu yang wajar. Nah, Abduh mengatakan secara jelas bahwa cerita tentang tulang rusuk ini memang diadopsi oleh kalanganahli tafsir dari isra’iliyat itu.

Di dalam al-Quran dan hadis sendiri tidak ada?

Kalau di hadis ada enam: riwayat Bukhari tiga dan riwayat Muslim tiga. Tapi kalangan ahli hadis ada yang menafsirkan itu sebagai metafor dan bukan sebagai hadis untuk menafsirkan ayat tentang kejadian.

Dalam surah al-Nisa’ perempuan harus tunduk pada laki-laki. Benarkah begitu? Bagaimana penjelasan Anda soal surah itu?

Al-Nisa artinya adalah perempuan. Memang secara global kebanyakan ayatnya membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Tapi mungkin dimaksud ayat ar-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’ yang ditafsirkan oleh banyak kalangan bahwa perempuan harus tunduk dan taat. Padahal tadi sudah saya singgung sepintas. Di dalam tradisi fikih ayat itu diperdebatkan.

Dalam pengertian bahwa apakah kepemimpinan itu sesuatu yang menempel, biologis atau yang gender, yang constructed, yang dibangun. Kalau kita melihat ayat itu secara langsung maka banyak pengertiannya, tidak monolitik. Salah satu pengertian yang saya katakan tadi bahwa ar-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’ bima fadldlalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin wa bima ‘anfaqu. Yang pertama adalah ini merupakan berita bahwa laki-laki itu merupakan qawwam, pemimpin.

Banyak tafsir yang mengartikan qawwam ini sebagai pemimpin, meskipun kataqawwam sendiri diperdebatkan oleh banyak kalangan ahli tafsir. ‘Ala al-nisa’i, atas kaum perempuan. Bima fadldlala l-Lahu, karena apa? “Ba’” ini namanyaba’ li al-sababiyah, “ba’” yang menimbulkan sesuatu. “Ma”-nya ini ma mashdariyah, yang sebetulnya tidak berfungsi. Karena laki-laki punya kelebihan dan memberikan nafkah maka menjadi pemimpin.

Jadi kalau tidak memberikan nafkah dia tidak mengisi ruang itu dan yang memimpin boleh perempuan?

Ya, bisa jadi seperti itu. Karena secara kebahasaan memang memungkinkan orang untuk menafsirkan seperti itu.

Apakah di Indonesia sudah bebas dari patriarkhisme Islam?

Pembicaraan bukan tentang perempuan versus laki-laki. Sama-sama dibicarakan karena pembicaraan ini tidak untuk mempertentangkan, tapi mencari jalan keluar. Pembicaraan ini sangat penting karena jumlah perempuan di dunia lebih banyak dari jumlah laki-laki.

Tapi survei terakhir katanya sudah kebalikan…

Mungkin itu di Indonesia. Secara global saya kira jumlah perempuan masih relatif lebih banyak daripada laki-laki. Nah, dari gambaran ini saja ini sangat luas kaitannya. Misalnya dengan proses demokratisasi. Di negara-negara Timur Tengah jumlah perempuan yang separuh tidak boleh kasih suara, misalnya. Ini sangat merugikan negara.

Ini juga menyebabkan Islam selalu dikritik dalam soal perlakuan terhadap perempuan…

Ya, kalau Islam dikritik terus itu tidak masalah. Islam dikritik itu biasa. Tapi yang saya permasalahkan adalah tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memilih dan mengambil hak politiknya. Banyak hal yang kita lupakan dan banyak hal yang kita hilangkan.

Perempuan tidak bisa membela hak-haknya sendiri. Dengan tidak membolehkan perempuan untuk, misalnya, menempuh pendidikan yang tinggi, berkarir di ruang publik, akan berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi, kehidupan politik dan lain sebagainya. Ada survei menarik yang mengkalkulasi tentang kerugian apabila perempuan tidak dilibatkan di dalam kehidupan publik. Karena itu perlu.

Hasilnya itu bagaimana?

Ya, nanti. lain kali soal survei itu.

Ada orang yang menganggap bahwa kalau bicara soal kesetaraan gender yang akan diuntungkan hanya perempuan. Nah laki-lakinya bagaimana?

Tidak. Itu salah pengertian orang terhadap gender. Laki-laki juga diuntungkan. Misalnya, di dalam kehidupan rumah tangga. Jika laki-laki tidak bisa bekerja, perempuannya yang bisa.

Karena ada penafsiran bahwa laki-laki yang harus tanggung jawab cari uang gitu. Lama-lama laki-laki stres nyari uang sendiri…

Ya,stres juga. Karena kita menganggap hubungan kita seimbang dan sejajar; ya kamu yang bisa bekerja, saya yang mengasuh anak.

Kenapa tidak ya…

Kenapa tidak. Misalnya hal-hal seperti itu. Banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan mendudukkan secara seimbang dan setara antara laki-laki dan perempuan. Kalau kita bicara tentang gender itu artinya bukan bicara tentang perempuan, tapi bicara tentang relasi laki-laki dan perempuan. Gender tidak perempuan.

Berarti laki-laki sebenarnya juga korban dari relasi yang tidak seimbang itu?

Ya, pada zaman matriarkhisme laki-laki pernah menjadi korban. Sekarang pada masa dan era patriarkhis yang belum berubah-ubah, belum seimbang ini, ya perempuan banyak yang menjadi korban. Perempuan yang menjadi korban.

Tadi ada pertanyaan soal bagaimana kondisinya di Indonesia sekarang ini?

Kalau kita lihat Indonesia sebetulnya relatif lumayan bila dibandingkan dengan negara-negara Islam yang lain. Paling tidak kita masih bisa mendiskusikan ini secara terbuka.

Misalnya dibandingkan dengan Malasyia yang paling dekat?

Ya, orang-orang Malasyia belajar pada kita soal isu ini. Jangan lupa, para aktivis perempuan di Malasyia itu belajar pada kita di Indonesia. Mereka menganggap bahwa proses pemberdayaan perempuan atau hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia dipandang lebih maju dari negara-negara muslim yang lain.

Tapi bagaimana Anda melihat, misalnya, di Biren di Nanggroe Aceh Darussalam muncul wacana bahwa perempuan sebaiknya tidak memimpin. Sehingga, ada perempuan yang saat ini menjabat sebagai bupati diminta untuk mundur…

Alasannya apa? Saya tidak setuju itu.

Karena, katanya, dengan pemberlakuan syariat Islam di sana, perempuan tidak boleh memimpin. Lalu ada Peraturan Daerah yang melarang perempuan keluar sampai pukul sembilan malam. Bagaimana Anda melihat kecenderungan-kecenderungan seperti ini?

Ya, kecenderungan seperti itu harus diluruskan, harus diajak diskusi dan harus diperdebatkan.

Berarti kita juga punya masalah soal penafsiran…

Ya, yang dari awal kita bicarakan memang soal penafsiran. Soal penafsiran itu kan soal, tidak hanya soal kapasitas keagamaan, tapi juga soal relasi politik, antara yang kuat dan yang lemah, antara yang mainstream dan non-mainstream, antara yang otoritatif dan yang biasa saja dan lain sebagainya. Banyak yang menyebabkan hal seperti itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.