Home » Keluarga » Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”
Syafiq Hasyim dalam diskusi JIL tentang otoritas MUI (Foto: Evi)

Syafiq Hasyim: “Patriarkhisme Bukan dari Islam”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib - Selama ini ada anggapan bahwa salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah budaya patriarkhisme, di mana perempuan tidak memiliki kebebasan seperti laki-laki. Mereka tidak memperoleh akses pendidikan yang sama dan akses untuk kerja yang sama. Inilah yang menjadi penyebab utama kemunduran dalam bidang ekonomi, pendidikan dan lain-lain.

Apakah kondisi ini akibat dari doktrin atau bukan? Apakah Islam sebagai kumpulan doktrin punya andil dalam budaya patriarkhi itu. Untuk membahas soal patriarkhisme dalam Islam ini, Vivi Zabkie dan Saidiman Ahmad mewawancarai Syafiq Hasyim, penulis buku Bebas dari Patriarkhisme Islam. Wawancara ini disiarkan langsung pada Rabu, 17 November 2010, dari KBR68H bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

 

Apa yang ingin Anda katakan dalam buku yang baru diterbitkan ini (Bebas dari Patriarkhisme Islam)?

Saya ingin katakan bahwa Islam tidak patriarkhis. Intinya itu. Selama ini tafsir kita, pemaknaan kita terhadap Islam, selalu dikaitkan dengan dominasi rule of the father, aturan yang dirujuk kepada aturan kebapakan. Melalui buku ini saya ingin membantah secara teologis, sudah barang tentu, bahwa ideologi patriarkhisme dalam Islam itu theologically constructed. Artinya disusun secara teologis, secara sengaja untuk memojokkan dan memarjinalisasikan kaum perempuan.

Tetapi apa buktinya? Selama ini orang bicara soal perempuan dan Islam selalu merujuk ke ayat atau hadis. Misalnya ada ayat ar-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’. Itu yang selalu dirujuk...

Itu salah satu masalah yang saya lihat. Itu sudah umum didiskusikan oleh banyak orang. Secara teologis kita bisa merekontruksi tafsir yang berbeda dengan pengertian umum bahwa laki-laki itu menjadi pemimpin keluarga, baik secara gramatikal maupun secara lainnya. Kita memiliki dasar bahwa sesungguhnya kepemimpinan itu bukan hanya hak laki-laki.

Tidak berdasar pada jenis kelamin ya...

Ya, tidak berdasar pada jenis kelamin, tapi berdasar pada kapasitas. Apakah dia memiliki kepemimpinan atau tidak. Kalau secara sederhana, misalnya, sering orang mengatakan ar-rijal itu berarti laki-laki. Di situ ada “al ma’rifat”. Kalau menurut Ilmu Nahwu…

Ada “the” di situ ya...

Ya, ada “the” di situ. Artinya ayat itu merujuk pada laki-laki tertentu, bukan semua laki-laki. Itu secara gramatikal. Bisa ada argumentasi untuk mempertahankan bahwa sesungguhnya kepemimpinan itu bukan biologis, tapi itu theologically dan socially constructed.

Berarti sebenaranya Anda ingin mengatakan bahwa secara esensial doktrin-doktrin Islam itu tidak mendukung patriarkhisme?

Kalau menurut saya seperti itu. Karena itu, dalam buku ini, yang saya maksud dengan menolak patriarkhisme itu adalah menolak cara bacaan tertentu, cara tafsir tertentu dan cara pemaknaan tertentu terhadap Islam yang didasarkan kepada ideologi kelelakian.

Pembacaan siapa saja itu atau dari kelompok mana saja?

Dalam buku ini saya menampilkan varian pembacaan, baik yang dilakukan oleh kalangan yang mendukung dominasi laki-laki atas perempuan maupun kalangan yang menolak adanya dominasi salah satu jenis kelamin terhadap jenis kelamin yang lain. Misalnya saya banyak mengutip Fazlur Rahman, kemudian Farid Essack, seorang intelektual dari Afrika.

Saya juga mengutip Asma Barlas, seorang muslimah feminis, Haidah Moughissi, Farida Benani dan lain-lain. Farida Benani ini seorang faqih dari Maroko, tapi di sini tidak terlalu didengar. Ia memiliki pandangan-pandangan yang progresif tentang Islam dan perempuan, terutama tentang isu kekerasan yang menimpa kalangan perempuan. Banyak hal yang saya diskusikan di sana.

Apa contoh yang menyebabkan Anda mengatakan ini adalah hasil dari konstruksi sosial?

Tadi saya katakan bahwa patriarkhisme itu secara sosial memang direkonstruksi. Direkonstruksi dalam pengertian diproduksi oleh relasi-relasi tertentu, hubungan-hubungan tertentu dan oleh apa yang disebut dengan ideologi kelelakian. Misalnya kalau kita lihat sejarah. Perkembangan sejarah manusia, bukan hanya masyarakat Islam. Sesungguhnya sejarah manusia ini pernah juga didominasi oleh perempuan.

Kapan?

Itu pada abad 7-8 sebelum Masehi. Nah, ada penelitian arkeologis tentang hal ini yang menemukan bekas kota di Babilonia di mana ada beberapa artefak yang memuat relif-relif tentang the mother goddess, yaitu dewa-dewa kaum perempuan. Banyak sejarawan merekonstruksi ini sebagai bukti bahwa pada zaman dulu perempuan pernah berkuasa di dalam sejarah.

Zaman matriarkhi begitu ya...

Ya, zaman matriarkhi. Pada zaman matriarkhi itu, di mana posisi kehidupan sosial dan politik belum maju, orang masih bergantung pada tradisi berburu, tradisi nomaden dan lain sebagainya. Patriarkhisme muncul ketika ada kebutuhan dari masyarakat akan sebuah tempat yang lebih berperadaban, seperti archaic state, negara kuno.

Nah, ketika lahir negara-negara kuno itu muncul spesialisasi-spesialisasi, muncul jenis-jenis pekerjaan tertentu. Misalnya tukang potong rambut, prajurit dan lain sebagainya yang tidak memungkinkan perempuan terlibat secara penuh.

Kehidupan semakin kompleks maka lambat laun perempuan minggir dari ruang publik ke dalam ruang domestik. Sejak itu patriarkhisme muncul. Dan, kemudian ada semacam pembalikan arah ketika zaman Nabi Muhammad. Pada zaman Nabi Muhammad muncul beberapa terobosan yang dilakukan.

Pertama, misalnya, mengakui hak pewarisan perempuan. Perempuan bukan diwarisi lagi. Ini yang menonjol. Kemudian poligami yang dari tidak terbatas menjadi terbatas. Masih banyak lagi saya kira. Perilaku Nabi Muhammad terhadap kaum perempuan juga positif.

Soal poligami pada masa itu sudah mengalami kemajuan ketika ada pembatasan semacam itu ya...

Ya, dari yang tidak terbatas menjadi empat itu.

Jadi patriarkhisme itu tidak esensial di dalam Islam. Tetapi apakah benar kalau dikatakan itu muncul dari penafsiran-penafsiran tentang patriarkhi?

Ya, obyek saya adalah penafsiran itu sendiri. Kalau kita lihat al-Quran, secara kebahasaan, memungkinkan orang untuk menafsirkan secara patriarkhis. Ungkapan-ungkapan al-Quran seperti dhamir (kata ganti orang) untuk Allah itu”huwa”. Kata ganti untuk Allah itu adalah kata ganti untuk laki-laki dan beberapa ayat secara eksplisit memberikan posisi tinggi bagi kaum laki-laki.

Tapi kalau kita kembalikan kepada konteks kesejarahan pada saat itu, al-Quran merespon kehidupan pada saat itu. Inilah yang disebut sebagai muntaj tsaqafi(terpengaruh oleh budaya), hasil sebuah proses pemaknaan terhadap sejarah dan respon terhadap sejarah yang berlaku pada saat itu. Sehingga, bahasa yang turun di dalam Al-Quran berkecenderungan memihak kepada laki-laki, tidak netral.

Jadi situasi saat itu memang sudah patriarkhi, sehingga bahasanya juga seperti itu?

Masyarakat pada saat itu, di Mekah dan Madinah, memang beda-beda. Kalau masyarakat Mekah berkecenderungan matriarkhi. Madinah berkecenderungan patriarkhi. Jadi, turunnya ayat al-Quran itu dipicu oleh satu kejadian tertentu atau ada sebab-sebab turunnya, baik sebab-sebab eksplisit maupun implisit.

Beberapa ahli tafsir menyatakan setiap ayat al-Quran ada sebab turunnya. Sebab diturunkannya itu berkaitan dengan kebudayaan, politik dan kehidupan sosial pada saat itu yang patriarkhis.

Anda tadi menyebut Asma Barlas. Di dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menyebut bahwa penafsiran-penafsiran terhadap kitab suci yang kemudian menjadi patriarkhi disebabkan oleh adanya pertarungan politik juga. Dia menyoroti pada aspek pertarungan politiknya. Bisa dijelaskan tidak soal itu...

Makanya saya katakana bahwa penafsiran itu tidak hanya socially constructed, tapi juga politically constructed. Yang paling penting adalah theologically constructed. Artinya, paham teologi tertentu turut memberikan corak tafsir terhadap al-Quran. Sementara ini orang tidak pernah mengatakan bahwa teologi itu constructed, teologi itu dibangun.

Orang tidak memahami bahwa konsep tentang theos itu dibangun oleh masyarakat dan oleh ulama pada saat itu. Termasuk dengan isu perempuan ini. Meskipun ayat al-Quran netral, tapi karena pandangan teologis tertentu dari ulama pada saat itu, menyebabkan tafsir menjadi lain.

Kalau ternyata persoalannya pada ada kepentingan teologi, kepentingan politik, kepentingan sosial tertentu, apakah kalau perempuan berdaya akan mengancam dominasi laki-laki? Seberapa mengancam?

Kadangkala patriarkhisme disusun bukan karena ancaman. Tapi karena keinginan untuk melakukan proteksi yang berlebihan. Nah, ini ada kasusnya. Umar bin Khatthab memberikan proteksi terhadap para janda Nabi, ummul mukminin, karena janda Nabi tidak boleh dikawini oleh orang.

Itu bagian dari doktrin. Karena tidak boleh dikawin oleh orang lain, maka kehidupan para janda Nabi harus dilindungi. Salah satu perlindungan pada saat itu Umar tidak memperbolehkan para janda ini, atau diharapkan tidak, untuk salat ke masjid.

Apakah itu akhirnya memunculkan pemikiran sampai sekarang bahwa perempuan sebaiknya salat di rumah?

Peristiwa ini kemudian dibakukan oleh para ahli fikih dan ahli tafsir sebagai bentuk ketentuan bahwa perempuan sebaiknya tidak salat di masjid, sebaiknya di rumah saja. Ini contoh yang paling nyata. Padahal Umar ingin memproteksi, ingin memproteksi para janda Nabi supaya tidak terkontaminasi oleh kehidupan sosial saat itu.

Apakah dengan pemikiran seperti itu suatu saat nanti Islam akan merestui imam salat perempuan, presiden dan menteri perempuan, amirul hajj perempuan, dan lain-lain?

Kalau untuk amirul hajj tidak ada masalah. Kalau untuk kepala negara perempuan juga tidak ada masalah. Apalagi menteri. Itu sudah didiskusikan dan sudah selesai. Dan di negara kita sudah mengalami hal itu.

Untuk yang imam salat?

Kalau untuk jadi imam salat ini masih didiskusikan sampai sekarang. Kita tidak tahu nanti hasilnya seperti apa.

Tetapi bagaimana seharusnya kita memperlakukan teks-teks agama yang patriarkhis ini?

Ya kita baca kembali, kita lihat kembali. Salah satu cara melihatnya itu mungkin pertama sebaikanya kita membedakan antara apa yang disebut dengan agama dan apa yang disebut dengan ilmu agama atau tafsir agama. Apa yang hakikat agama.

Kalau saya berpendapat bahwa yang hakikatnya disebut agama adalah dua: al-Quran dan Sunnah Nabi. Tafsir, ulumul hadis, sufisme, tauhid, fikih dan lain sebagainya adalah ilmu agama, bukan agama itu sendiri. Karena ilmu agama maka dia testable, dia bisa dites dan bisa diverifikasi.

Bisa diperdebatkan ya...

Bisa diperdebatkan dan lain sebagainya.

Ada doktrin yang diterima begitu saja oleh masyarakat. Misalnya soal perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki. Sebagian orang menyatakan bahwa itu bukan dari tradisi Islam, tapi dari tradisi Yahudi...

Kalau menurut Muhammad Abduh di dalam Tafsir al-Manar memang sangat jelas dikatakan seperti itu. Bukan sesuatu yang mengada-ada. Menurut Muhammad Abduh bahwa tradisi mengenai tulang rusuk itu merupakan isra’iliyat di dalam tafsir al-Quran. Isra’iliyat itu artinya pengaruh-pengaruh dari tradisi Yahudi dan Kristen, tradisi Biblistik, penafsiran Bible.

Para penafsir pada saat itu jangan disangka tidak membaca kita suci lain. Para penafsir al-Quran pada saat itu juga membaca buku-buku yang lain, buku-buku agama lain, kitab-kitab suci lain. Kalau ada keterpengaruhan itu sesuatu yang wajar. Nah, Abduh mengatakan secara jelas bahwa cerita tentang tulang rusuk ini memang diadopsi oleh kalanganahli tafsir dari isra’iliyat itu.

Di dalam al-Quran dan hadis sendiri tidak ada?

Kalau di hadis ada enam: riwayat Bukhari tiga dan riwayat Muslim tiga. Tapi kalangan ahli hadis ada yang menafsirkan itu sebagai metafor dan bukan sebagai hadis untuk menafsirkan ayat tentang kejadian.

Dalam surah al-Nisa’ perempuan harus tunduk pada laki-laki. Benarkah begitu? Bagaimana penjelasan Anda soal surah itu?

Al-Nisa artinya adalah perempuan. Memang secara global kebanyakan ayatnya membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Tapi mungkin dimaksud ayat ar-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’ yang ditafsirkan oleh banyak kalangan bahwa perempuan harus tunduk dan taat. Padahal tadi sudah saya singgung sepintas. Di dalam tradisi fikih ayat itu diperdebatkan.

Dalam pengertian bahwa apakah kepemimpinan itu sesuatu yang menempel, biologis atau yang gender, yang constructed, yang dibangun. Kalau kita melihat ayat itu secara langsung maka banyak pengertiannya, tidak monolitik. Salah satu pengertian yang saya katakan tadi bahwa ar-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’ bima fadldlalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin wa bima ‘anfaqu. Yang pertama adalah ini merupakan berita bahwa laki-laki itu merupakan qawwam, pemimpin.

Banyak tafsir yang mengartikan qawwam ini sebagai pemimpin, meskipun kataqawwam sendiri diperdebatkan oleh banyak kalangan ahli tafsir. ‘Ala al-nisa’i, atas kaum perempuan. Bima fadldlala l-Lahu, karena apa? “Ba’” ini namanyaba’ li al-sababiyah, “ba’” yang menimbulkan sesuatu. “Ma”-nya ini ma mashdariyah, yang sebetulnya tidak berfungsi. Karena laki-laki punya kelebihan dan memberikan nafkah maka menjadi pemimpin.

Jadi kalau tidak memberikan nafkah dia tidak mengisi ruang itu dan yang memimpin boleh perempuan?

Ya, bisa jadi seperti itu. Karena secara kebahasaan memang memungkinkan orang untuk menafsirkan seperti itu.

Apakah di Indonesia sudah bebas dari patriarkhisme Islam?

Pembicaraan bukan tentang perempuan versus laki-laki. Sama-sama dibicarakan karena pembicaraan ini tidak untuk mempertentangkan, tapi mencari jalan keluar. Pembicaraan ini sangat penting karena jumlah perempuan di dunia lebih banyak dari jumlah laki-laki.

Tapi survei terakhir katanya sudah kebalikan…

Mungkin itu di Indonesia. Secara global saya kira jumlah perempuan masih relatif lebih banyak daripada laki-laki. Nah, dari gambaran ini saja ini sangat luas kaitannya. Misalnya dengan proses demokratisasi. Di negara-negara Timur Tengah jumlah perempuan yang separuh tidak boleh kasih suara, misalnya. Ini sangat merugikan negara.

Ini juga menyebabkan Islam selalu dikritik dalam soal perlakuan terhadap perempuan...

Ya, kalau Islam dikritik terus itu tidak masalah. Islam dikritik itu biasa. Tapi yang saya permasalahkan adalah tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk memilih dan mengambil hak politiknya. Banyak hal yang kita lupakan dan banyak hal yang kita hilangkan.

Perempuan tidak bisa membela hak-haknya sendiri. Dengan tidak membolehkan perempuan untuk, misalnya, menempuh pendidikan yang tinggi, berkarir di ruang publik, akan berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi, kehidupan politik dan lain sebagainya. Ada survei menarik yang mengkalkulasi tentang kerugian apabila perempuan tidak dilibatkan di dalam kehidupan publik. Karena itu perlu.

Hasilnya itu bagaimana?

Ya, nanti. lain kali soal survei itu.

Ada orang yang menganggap bahwa kalau bicara soal kesetaraan gender yang akan diuntungkan hanya perempuan. Nah laki-lakinya bagaimana?

Tidak. Itu salah pengertian orang terhadap gender. Laki-laki juga diuntungkan. Misalnya, di dalam kehidupan rumah tangga. Jika laki-laki tidak bisa bekerja, perempuannya yang bisa.

Karena ada penafsiran bahwa laki-laki yang harus tanggung jawab cari uang gitu. Lama-lama laki-laki stres nyari uang sendiri…

Ya,stres juga. Karena kita menganggap hubungan kita seimbang dan sejajar; ya kamu yang bisa bekerja, saya yang mengasuh anak.

Kenapa tidak ya...

Kenapa tidak. Misalnya hal-hal seperti itu. Banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan mendudukkan secara seimbang dan setara antara laki-laki dan perempuan. Kalau kita bicara tentang gender itu artinya bukan bicara tentang perempuan, tapi bicara tentang relasi laki-laki dan perempuan. Gender tidak perempuan.

Berarti laki-laki sebenarnya juga korban dari relasi yang tidak seimbang itu?

Ya, pada zaman matriarkhisme laki-laki pernah menjadi korban. Sekarang pada masa dan era patriarkhis yang belum berubah-ubah, belum seimbang ini, ya perempuan banyak yang menjadi korban. Perempuan yang menjadi korban.

Tadi ada pertanyaan soal bagaimana kondisinya di Indonesia sekarang ini?

Kalau kita lihat Indonesia sebetulnya relatif lumayan bila dibandingkan dengan negara-negara Islam yang lain. Paling tidak kita masih bisa mendiskusikan ini secara terbuka.

Misalnya dibandingkan dengan Malasyia yang paling dekat?

Ya, orang-orang Malasyia belajar pada kita soal isu ini. Jangan lupa, para aktivis perempuan di Malasyia itu belajar pada kita di Indonesia. Mereka menganggap bahwa proses pemberdayaan perempuan atau hak kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia dipandang lebih maju dari negara-negara muslim yang lain.

Tapi bagaimana Anda melihat, misalnya, di Biren di Nanggroe Aceh Darussalam muncul wacana bahwa perempuan sebaiknya tidak memimpin. Sehingga, ada perempuan yang saat ini menjabat sebagai bupati diminta untuk mundur…

Alasannya apa? Saya tidak setuju itu.

Karena, katanya, dengan pemberlakuan syariat Islam di sana, perempuan tidak boleh memimpin. Lalu ada Peraturan Daerah yang melarang perempuan keluar sampai pukul sembilan malam. Bagaimana Anda melihat kecenderungan-kecenderungan seperti ini?

Ya, kecenderungan seperti itu harus diluruskan, harus diajak diskusi dan harus diperdebatkan.

Berarti kita juga punya masalah soal penafsiran...

Ya, yang dari awal kita bicarakan memang soal penafsiran. Soal penafsiran itu kan soal, tidak hanya soal kapasitas keagamaan, tapi juga soal relasi politik, antara yang kuat dan yang lemah, antara yang mainstream dan non-mainstream, antara yang otoritatif dan yang biasa saja dan lain sebagainya. Banyak yang menyebabkan hal seperti itu.

Jadi yang harus dilakukan apakah hanya mengkritik tafsir-tafsir yang ada atau kita membutuhkan tafsir-tafsir baru yang lebih berpihak pada persoalan kesetaraan ini?

Kita masih bisa menggunakan tafsir-tafsir lama. Yang saya gunakan adalah tafsir-tafsir lama juga. Ini bukan buku saya yang pertama tentang isu perempuan. Sepuluh tahun yang lalu saya menerbitkan satu buku utuh yang diterbitkan oleh Mizan tentang Hal-hal yang Tak Terpikirkan tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam. Saya melakukan survei terhadap literatur-literatur klasik.

Kitab-kitab tafsir...

Ya, tafsir, fikih. Saya bisa menggunakannya untuk merekonstruksi sebuah cara baru, tafsir yang relatively friendly terhadap kaum perempuan. Jadi tafsir lama tidak selalu tidak bisa digunakan untuk menjustifikasi atau untuk dijadikan bahan dan dasar bagi reinterpretasi mengenai relasi yang lebih adil antara laki-laki dan perempuan.

Tinggal mempopulerkannya dan menggunakannya ya...

Saya kira alat baca kita yang harus kita penuhi. Metodologinya, membaca itu seperti apa, menafsirkan itu seperti apa. Kalau bahannya bisa yang lama atau yang baru. Kritik ini adalah cara untuk melahirkan sesuatu yang baru. Kalau tidak melalui kritik, tidak akan muncul sesuatu yang baru.

Berarti Anda harus menulis lagi agar penafsiran-penafsiran yang jarang dipakai orang semakin populer. Jangan-jangan buku yang Anda tulis ini bisa kita sebut sebagai tafsir baru...

Tidaklah.

Ada pertanyaan: mengapa dalam Islam, pada saat salat di masjid, perempuan harus dipisahkan dari laki-laki, tidak boleh berbaur?

Ya. Itu juga banyak didiskusikan dalam buku-buku fikih. Tapi persoalan yang krusial di sana adalah mengapa posisi perempuan itu tidak sejajar dengan laki-laki. Memang tidak bisa dicampur. Kalau sejajar bisa, asal dikasih satir istilahnya, dikasih penghalang. Yang sebelah kanan laki-laki, yang sebelah kiri perempuan. Isu utamanya sebetulnya isu tentang aurat, isu tentang sesuatu yang harus dijauhkan dan sesuatu yang harus dilindungi dari mata laki-laki. Makanya kalau salat jangan dicampur.

Itu asal-usul lahirnya pemisahan itu ya...

Ya.

Tapi berita-berita mengenai salat Idul Adlha di dunia para perempuan dan laki-laki bercampur…

Ya, berarti kemajuan yang luar biasa. Tapi yang saya katakan tadi adalah historisitasnya seperti itu. Bahwa pada zaman Nabi salatnya seperti itu. Shaf-shafnya seperti itu.

Di Mekah mereka salat bercampur...

Ya, itu emergency.

Bukan karena menggunakan mazhab fikih tertentu...

Fikih emergency istilahnya, fikih darurat. Karena kalau tidak seperti itu, hajinya tidak bakal sah. Kan di dalam haji itu, kalau kita mengikuti mazhab Syafii, tidak akan sah itu hajinya. Dalam mazhab Syafi’i sentuhan kulit itu dapat membatalkan wudhu.

Kembali ke soal kerugian masyarakat jika mempersempit peran perempuan dalam kehidupan…

Ya, saya setuju bahwa kita memang tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan perempuan untuk bekerja atau untuk berperan di ruang publik, baik di bidang pendidikan, politik maupun yang lain. Masalahnya selama ini, di dalam dunia kerja, kadang-kadang perempuan sudah disediakan ruangnya, sudah disediakan pekerjaan-pekerjaan yang menurut gender itu pekerjaannya perempuan.

Yang halus-halus pekerjaan perempuan ya...

Dibangun sebagai pekerjaan perempuan. Sekarang kita harus mengubah cara pandang itu. Cara pandang itu harus didasarkan kepada capability. Nah, persoalan kapabilitas perempuan itu sendiri juga tidak bisa dilepaskan dari bagaimana perempuan dibangun persepsinya dan image-nya di tengah masyarakat di mana perempuan dianggap lemah. Itu semua harus kita bongkar.

Padahal faktanya tidak seperti itu ya...

Tidak seperti itu. Mungkin lemah tapi pada sisi yang lain kuat. Pentingnya analisis gender seperti itu, untuk memahami bahwa relasi itu tidak selamanya didominasi oleh salah satu pihak. Tidak selamanya sesuatu yang dianggap lemah menciptakan sesuatu yang lemah pula. Sesuatu yang lemah bisa menciptakan sesuatu yang kuat.

Soal penciptaan: dalam buku saya sepuluh tahun yang lalu saya ulas panjang lebar soal penciptaan. Kalau di buku ini saya tidak mengulasnya karena isu itu saya anggap sudah selesai. Kalau di dalam tradisi tafsir Islam, terutama saya mengacu pada Tafsir al-Manar, Muhammad Abduh. Tafsir ini sangat otoritatif sekali, tapi kalangan tradisionalis tidak begitu suka membaca Tafsir al-Manar karena banyak hal yang modern, banyak hal yang reform di dalamnya.

Nah, menurut Muhammad Abduh, cara tafsir yang mengatakan bahwa Hawa itu diciptakan dari Adam adalah cara tafsir yang diadopsi dari gagasan isra’iliyat. Itu jelas dikatakan bahwa di dalam al-Quran sendiri penciptaan itu dari sumber yang satu, min nafsin wahidatin, atau single sources.

Tidak ada yang namanya lebih dahulu atau yang satu bagian dari yang lain…

Debat itu berada dalam wilayah penafsiran yang sangat rumit kalau saya jelaskan di sini.

Bagaimana soal hukum rajam itu yang memang ada dalam al-Quran atau hadis muttafaq ‘alaih?

Kalau soal rajam memang di dalam al-Quran ada. Tapi sebagai hukum, apakah efektif atau tidak, itu yang menjadi perbincangan kita. Nah, pada zaman Nabi, tradisi rajam ini sangat jarang dilakukan. Bahkan tidak pernah dilakukan. Mungkin pada zaman sahabat pernah dilakukan. Nah, mengenai kasus di Iran (kasus Sakinah Ashtiani, red), kalau memang mengimplementasikan hukum rajam, sebenarnya yang bisa terkena hukum rajam tidak hanya perempuan. Laki-laki juga bisa terkena.

Jadi rajam bukan hokum yang spesifik untuk perempuan. Untuk konteks Indonesia sekarang ini, kita tidak memakai hukum hudud. Criminal laws itu kita tidak pakai. Kita memakai hukum yang didasarkan pada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dan juga berdasarkan beberapa hukum yang diadopsi dari tradisi Islam, dari tradisi Barat dan lain sebagainya. Kebetulan kita tidak mengadopsi rajam.

Ada yang mengatakan bahwa patriarkhi berkembang dalam sistem feodal sebelum Islam. Islam justru menguranginya. Kita justru membahasnya…

Sebetulnya kita ingin membebaskan Islam dari patriarkhisme. Yang disebut dengan patriarkhisme Islam itu adalah cara pemaknaan kelompok tertentu yang mengakibatkan posisi perempuan didominasi atau dikuasai oleh ideologi kelelakian. Nah, Islam tidak seperti itu. Islam harus bebas dari itu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.