Home » Keluarga » Tentang Tenis dan Individualitas
(Photo credit: John Togasaki).
(Photo credit: John Togasaki).

Tentang Tenis dan Individualitas

3/5 (2)

IslamLib – Di Indonesia, ada dua ritual mingguan penting: Yang pertama, pergi ke masjid atau gereja. Yang kedua, menonton klub-klub bola Eropa. Ritual yang pertama bersifat relijius, suci dan agak sedikit “angker”. Yang kedua, profan, duniawi, dan sangat menyenangkan.

Jika dua klub besar Spanyol, Real Madrid dan Barcelona bertemu dalam event yang dikenal sebagai el classico, semua orang akan khusyuk duduk di depan pesawat televisi: menonton tim kesayangan mereka dalam kekhusyukan yang nyaris menyerupai sebuah ritual ibadah.

Tetapi saya bukan bagian dari ritual ini. Saya memiliki kegemaran yang agak sedikit janggal. Saya lebih menyukai tenis ketimbang sepakbola. Tentu saja, saya menonton bola. Tentu saja saya mempunyai tim kesayangan, agar bisa terlibat dalam “ejek-mengejek” antar fan klub bola. Percakapan sehari-hari akan lebih “gayeng” dan seru jika Anda menjadi bagian dari tim ini atau itu, lalu saling mengejek antar teman jika tim kesayangan mereka mengalami kekalahan.

Saya kurang tahu, dari mana asal-usul kesukaan saya pada tenis. Setahu saya, tenis bukanlah olahraga yang digemari banyak orang. Di kampung saya dulu, yang bermain tenis hanyalah pegawai kecamatan: Pak Camat sendiri dan pejabat Muspika. Satu-satunya lapangan tenis di kampung saya ada di belakang kantor pegadaian milik pemerintah di Bulumanis Kidul.

Di kampung saya dulu, tenis bukan dipandang sebagai olahraga rakyat biasa. Melainkan olahraga para punggawa, para pejabat. Olahraga rakyat adalah, tentu saja, sepak bola, selain bulu tangkis dan bola voli.

Perkenalan pertama dengan tenis adalah melalui Pakde Bad, paman saya, seorang kiai di desa Pondowan, Pati. Tentu saja dia bukanlah pemain tenis. Mana ada kiai bermain tenis di desa? Paman saya memperkenalkan saya pada tenis secara tak langsung. Ia memperkenalkan tenis melalui koran yang ia langgani.

Paman saya memiliki barang istimewa yang tak dimiliki baik oleh ayah atau kakek. Dia memiliki koleksi buku-buku Arab modern. Dari dialah saya mengenal para pengarang Arab modern seperti Abul Ala Maududi, Muhammad al-Ghazali, dan Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir). Dari dialah saya mengenal bahasa Arab modern, bukan bahasa Arab kitab kuning yang biasa saya pelajari di pesantren.

Dia juga melanggani sejumlah koran Arab. Melalui dialah saya berkenalan dengan koran-koran Arab: al-Jazirah, al-Riyadh, ‘Ukadz, al-Madinah, dll. Semuanya koran Saudi. “Kemewahan literer” ini tampaknya diperoleh paman saya karena dia menjadi pengurus Ittihadul Muballighin, sebuah organisasi para da’i yang dirikan politisi NU kawakan, KH Achmad Syaichu.

Saya menduga, saat itu ada kerjasama antara organisasi tersebut dengan pemerintah Saudi, sehingga bacaan-bacaan dari Saudi mengalir lancar ke para da’i yang menjadi anggota organisasi itu. Paman saya termasuk yang terkena cipratan “berkah”-nya. Dan saya ikut nimbrung di sana.

Bagi saya, bacaan-bacaan semacam itu adalah suatu kemewahan. Sebab tak ada perpustakaan di kampung saya. Juga di sekolah. Satu-satunya perpustakaan saya adalah rumah Pakde Bad, paman saya itu.

Yang mengherankan, paman saya juga melanggani koran Berita Buana. Di halaman koran ini, saya kerap melihat foto seorang atlet dengan pakaian yang agak “nyentrik”, dengan gaya memukul bola yang khas. Dia adalah Björn Borg. Inilah pertama kali saya berkenalan dengan tenis. Saya langsung jatuh cinta pada sosok atlet Swedia yang pernah memenangkan sebelas gelar grandslam ini. Ketika itu, kira-kira saya berumur sebelas tahun.

Saat itu, televisi adalah barang langka. Warga kampung kekek saya biasa menonton televisi di sebuah lapangan terbuka milik Pabrik Gula di desa Pakis. Ya, sekarang saya ingat. Itu adalah lapangan tenis yang setiap malam disulap menjadi tempat “nobar” buat warga kampung untuk menonton televisi. Saya kerap ikut nonton di sana. Menikmati suasana “karnaval”.

Seingat saya, jarang ada siaran tenis di televisi saat itu. Saya juga tak pernah mempunyai kesempatan untuk menonton tenis di televisi. Saya hanya mengikuti kiprah Björn Borg melalui koran Berita Buana, di rumah paman saya.

Karena tak pernah melihat wujud permainan tenis secara langsung, setiap membaca ulasan tenis, saya menemukan sejumlah “misteri”. Misalnya, saya tak pernah paham apa arti ace. Tak ada orang di sekeliling saya yang bisa saya mintai keterangan. Paman saya pasti tidak tahu juga. Apalagi kakek dan ayah saya. Jika saya bertanya perihal nahwu (Arabic grammar), tentu dengan senang hati ayah saya akan menjawab.

Tetapi ace? Barang apa itu? Satu-satunya padanan kata yang agak dekat dengan istilah itu dan tersedia di kampung saya adalah pace, buah yang ketika matang berbau busuk itu. Saya juga tak tahu jika kata itu harus dibaca “es” (seperti dalam keris), bukan “ace”, seperti nama Ace dalam bahasa Sunda.

Tetapi saya, maupun paman saya yang menyediakan banyak bacaan itu, tak pernah main tenis. Saya mulai main tenis bertahun-tahun kemudian, saat saya belajar di Amerika. Di Amerika, hampir di semua tempat kita jumpai lapangan tenis yang bisa dipakai secara gratis oleh warga. Tenis adalah semacam bulu tangkisnya penduduk Amerika.

Saya tak tahu, kenapa saya lebih menyukai tenis ketimbang sepakbola. Mungkin karena ini. Saya, sejak kecil, cenderung meggemari olahraga yang mengandalkan “individualitas”. Saya suka bola, tentu saja. Karena semua orang di kampung memainkan olahraga itu. Tetapi, di mata saya, olahraga yang dimainkan secara perorangan, sendirian, lebih memikat.

Sosok-sosok pemain bukutangkis “jadul” seperti seperti Rudi Hartono, Lim Swie King, Icuk Sugiarto lebih memukau saya. Olah raga individual, di mata saya, memperlihatkan batas kemampuan seseorang hingga tingkat yang paling maksimal. Bagi saya, menonton tenis untuk partai tunggal, misalnya, adalah menonton peragaan individualitas dalam bentuknya yang par excellence. Di sana, batas fisik manusia dan ketrampilannya muncul ke permukaan secara penuh.

Dalam olah raga individual, kecerdasan fisik manusia lebih tampak ketimbang dalam olahraga kolektif. Ketika seorang atlet olahraga individual memenangkan suatu titel, ia stands out, menjulang tinggi sebagai sosok yang tampak karismatik.

Bagian yang paling saya suka dalam tenis ialah “post match interview”, wawancara yang biasanya diadakan setelah seorang pemain memenangkan gelar. Ia mirip sebuah pidato kemenangan dalam pemilu presiden. Pidato kemenangan tak kalah menariknya dengan permainan tenis itu sendiri. Di sana tampak seorang atlet tenis bukan saja cerdas secara fisik, melainkan juga secara intelektual.

Tontonlah wawancara post-match yang diberikan oleh pemain seperti Roger Federer atau Maria Sharapova. Kedua pemain itu selalu memikat saat diwawancarai atau memberikan victory speech. Pemandangan seorang pemain tenis memberikan pidato kemenangan mengingatkan kita pada raja-raja di zaman dahulu saat memberikan pidato usai memenangkan sebuah peperangan.

Sebagaimana rakyat mendengarkan pidato raja dengan penuh kekhusyukan, begitulah penonton tenis saat menyimak pemain tenis yang memberikan victory speech. Raja, dalam konsepsi kekuasaan tradisional, dianggap sebagai primus inter pares, individu yang terbaik di antara orang-orang lain yang “normal”.

Pemain tenis yang memenangkan gelar juga primus inter pares. Saat ia memberikan pidato dan kita mendengarkan dengan khusyuk, kita seperti hendak berkata: Ya, anda memang individu yang spesial. Anda memiliki hal yang istimewa. Anda beda. And I concede![]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.