Home » Lembaga » Gontor Revisited: 20 Tahun Setelah Menjadi Alumnus
Gontor2

Gontor Revisited: 20 Tahun Setelah Menjadi Alumnus

4.22/5 (37)

IslamLib – Pekan lalu sangat spesial bagi saya. Bersama 189 alumni Gontor 1996, saya mengunjungi lagi pesantren yang sempat mendidik saya selama 6 tahun (1990-1996): Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Kunjungan itu terasa spesial karena diramu dalam bentuk reuni angkatan atau marhalah. Ya, reuni angkatan 1996. Separuh dari sekitar 376 santri yang lulus tahun 1996 kembali mengunjungi Gontor setelah dua puluh tahun diyudisium sebagai Alumni Emas.

Selama tiga hari (5-7 Februari 2016) kami bernostalgia dan menapaktilasi lagi jejak-jejak kehidupan dan kenakalan-kenakalan kecil kami semasa di pondok. Reuninya sendiri bertajuk mulia: Dari Teman Menjadi Sahabat Menuju Keluarga Besar.

Lewat reuni ini, kami ingin merajut kembali apa yang kami sebut ukhuwwatan lan tabura. Ketahuilah kisanak, slogan “ukhuwwatan lan tabura” ini berarti “persaudaraan yang tak akan susut dan bangkrut”, dan ini merupakan ungkapan yang sangat Qurani.

Slogan itu dinukil dari potongan surat Fathir ayat 29 yang sering kami dengarkan semasa di pondok. Ayatnya sendiri bercerita ihwal jenis perniagaan yang tak akan pernah merugi. Anda berminat? Investasinya berupa hal-hal ini: gemar membaca Kitab Allah, menegakkan shalat, serta mendermakan sebagian rezeki kita, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Itulah yang oleh Quran dilabeli perniagaan yang takkan kunjung bangkrut dan merugi (tijaratan lan tabura). Anda berminat untuk berinvestasi?

Entah oleh siapa dan lewat kreativitas macam apa, ungkapan itu lalu dipelesetkan—atau tepatnya dimodifikasi dan diadopsi—menjadi moto kami sesama angkatan kelas 595/696 yang mendambakan jenis persaudaraan yang tak lekang oleh ruang dan tak lapuk oleh waktu.

Ikatan dan solidaritas antar kami itulah yang saya saksikan jauh sebelum maupun selama berlangsungnya reuni. Kami saling peduli saling berbagi, caring and sharing, terutama terhadap mereka-mereka yang sedang berkemalangan dan berkesusahan.

Nah, selama tiga hari di Gontor, 189 orang alumni 1996 dengan berbagai profesi—separuhnya membawa serta keluarga—berbondong-bondong menyisakan waktu, tenaga dan biaya demi berjumpa lagi. Dari Sabang sampai Merauke, kepulauan-kepulauan terpencil sampai Patani, kami datang untuk bersilaturahmi, bernostalgia dan bercengkerama. Sungguh pemandangan indah yang mengharukan sekaligus membahagiakan.

Lalu apa kesan yang saya lihat dan rasakan saat kembali lagi menginjakkan kaki di Gontor setelah dua dekade menjadi alumnus? Tulisan ini merincinya ke dalam lima poin.

Pertama, profil alumni Gontor 1996 tampaknya sudah mulai beragam. Umumnya memang bergerak di dunia pendidikan. Itu lumrah belaka karena selama di Gontor kami sering diperdengarkan akan surat at-Taubah ayat 122 oleh almarhum KH Imam Badri dengan gayanya yang khas dan unik.

Ayat itu mengamanatkan pentingnya mencetak generasi-generasi yang konsen di bidang pendalaman agama (tafaqquh fid din)—sekalipun dalam kondisi yang gawat dan genting seperti peperangan—agar kelak muncul para juru imbau dan juru nasehat di tengah-tengah masyarakat (liyunziruu qaumahum).

Jadi, tidaklah mengherankan bilamana sebagian besar kami—dan mungkin juga umumnya alumni Gontor—lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan: menjadi dai, ustad, guru, dosen, ataupun pimpinan pesantren. Beberapa telah mendirikan pesantren yang cukup besar dan mulai ternama, sebagian lagi masih merintis, tengah merangkak dan masih tertatih-tatih.

Puluhan telah bergelar doktor, namun satu-dua setia mengabdikan diri sebagai dai di sebuah kepulauan terpencil. Sebagian berwirausaha, manjadi penguasa kecil dan menengah; sebagian bergerak di bidang jasa dan dunia perbankan, dan sebagian kecil di birokrasi pemerintah dan berkarir sebagai diplomat.

Jika Anda ingin tahu karakteristik alumni Gontor, saya dapat menjamin bahwa umumnya kami berpaham dan beraliran yang moderat. Semasa di Gontor, kami kerap kali didiktekan akan sebuah hadis yang menekankan bahwa sebaik-baiknya perkara berada di tengah-tengah atau di posisi yang moderat (khairu al-umuri ausathuha). Inilah hadis yang membuat bangga para santri yang duduk di kelas Satu H—walau mereka masuk kategori santri yang tidak terlalu pintar.

Sekalipun pada umumnya moderat, deviasi di antara alumni Gontor tentu saja bisa terjadi. Sebagian alumni 1996 misalnya, ada juga yang aktif di FPI—ya, Front Pembela Islam. Sebagian berkecimpung di Hizbut Tahrir, menjadi penggerak Salafisme, pendukung NII, politisi PKS-PKB-Hanura, dan beberapa juga cukup liberal.

Oh ya, pada Pemilu lalu, kebanyakan mendukung Prabowo. Ini tak berarti mereka mutlak membenci Jokowi. Konon mereka kurang menyukai Jokowi karena unsur di luar Jokowi. Karena Moncong Putih, misalnya.

Saya belum pernah mendengar alumni Gontor yang bergabung dengan ISIS atau ikut berjihad di Suriah. Rasanya tidak ada yang ikut Ahmadiyah, tapi beberapa ada yang Syiah. Saya sempat dianggap aktivis Gafatar, tapi itu hanya kelakar.

Yang unik dari alumni 1996 ini, walau sering terlibat perdebatan panas, namun ukhuwwah kami tetap terjaga. Alhamdulillah, subhanallah, ya Allah! Kami benar-benar serius mewujudkan moto ukhuwwatan lan tabura, persaudaraan yang tak akan susut-bangkrut tadi.

Lalu bagaimana posisi Gontor dalam menanggapi keragaman profil alumninya ini? Inilah poin kedua saya.

Kedua, sebagaimana yang saya simak dari Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dalam penutupan reuni kami, sekalipun punya Moto dan Pancajiwa yang menjunjung tinggi kebebasan dan berpikiran bebas, Gontor tidak sedang mencetak para pemikir bebas.

Ustad Fahmi menampik anggapan bahwa Gontor ikut bertanggungjawab bila ada alumninya yang liberal ataupun mengikuti kelompok radikal. Menjadi liberal atau radikal adalah wilayah kesunyian dan bagian dari pengembaraan intelektual dan atau spiritual masing-masing alumni. Gontornya sendiri mungkin tetap dan ingin senantiasa “berdiri di atas dan untuk semua golongan”.

Itulah yang saya rasakan sampai saat ini. Selama enam tahun mengenyam pendidikan Gontor, saya tak pernah menangkap atau punya feeling bahwa para pimpinan Gontor sedang mengarah-arahkan santrinya untuk menjadi orang radikal dalam artian terobsesi untuk mengganti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara secara radikal—menuntut tegaknya negara Islam atau sistem khilafah, misalnya—apalagi menjadi teroris.

Gontor mungkin sudah terlalu sibuk dengan ritme kehidupannya sendiri. Seperangkat kurikulumnya yang khas telah membuatnya tersedot di dalam upaya mencetak santri-santri yang khidmat mendalami ajaran agama (tafaqquh fid din) lewat jalur-jalur kultural.

Dan itu sudah cukup menghalanginya untuk terlibat dalam aktivisme atau hiruk-pikuk perpolitikan praktis dengan berbagai tuntutan strukturalnya yang radikal. Pesantren yang benar-benar pesantren—sepemahaman saya—umumnya begitu, kecuali satu-dua dari puluhan ribu yang memang berdiri untuk menopang ideologi tertentu.

Lalu dari mana datangnya alumni yang mau-maunya berbaiat kepada al-Baghdadi, atau menjadi pemikir yang dianggap liberal seumpama almarhum Nurcholish Madjid? Di sebagian kalangan alumni, gejala yang kompleks ini tak jarang dipahami dan disederhanakan ke dalam kerangka sempit adagium ini: khalif tu’raf (berbedalah, niscaya kau akan cepat dikenal!).

Strategi diferensiasi-diri ini, di Gontor sering dicontohkan dengan laku yang ekstrem: mengencingi Ka’bah. Di saat orang banyak mensucikan dan berlomba-lomba untuk mencium batu hitamnya, mengencingi Ka’bah adalah bentuk ekstrem dari khalif tu’raf tadi.

Namun ini tentu bukan penjelasan yang sosiologis dan memadai. Perjalanan hidup seseorang, umpamanya alumnus Gontor, tentu merupakan fenomena yang kompleks dan melibatkan berbagai latar sejarah, sosial, intelektual, politik, dan kebudayaan yang melingkupinya. Saya pribadi menjadi liberal bukan karena Gontor. Namun harus saya akui bahwa Gontor telah memberikan fondasi dan pijakan untuk menembus cakrawala berpikir yang lebih luas!

Semasa di Gontor, kami diwajibkan mempraktekkan bahasa Arab dan Inggris sebagai kunci dan jendela kami untuk menembus horison dunia. Saya pribadi sangat menghayati berbagai disiplin ilmu yang diajarkan Gontor.

Pelajaran Mahfudzat yang berisi petatah petitih dan syair para pujangga Arab sejak era Jahiliah sampai pencerahan modern, masih banyak yang saya hafal. Saya menyukai bahasa Arab sejak santri dan kurang menyukai Inggris yang saya anggap munafik dari sisi pengucapan—sesuatu yang kelak saya sesali.

Saya menikmati kaidah-kaidah Ushul Fiqh yang diajarkan Gontor berikut kitab fiqh perbandingan karya agung Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid. Saya pun menyukai Ilmu Mantiq alias Logika, walau sempat kurang suka dengan gaya dan artikulasi ustad yang mengajarkannya.

Sang ustad pernah menghukum saya untuk menjelaskan pelajaran Mantiq di muka kelas, entah karena saya sering nyeletuk atau sedang mengantuk. Alhamdulillah, kawan-kawan lebih paham penjelasan saya ketimbang syarah sang ustad.

Semua nostalgia di atas, bagi saya merupakan bagian dari fase fondasional (marhalah al-ta’sis)dalam perjalanan intelektual saya saat melanjutkan studi di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Diakui Gontor atau tidak, bekal itu sungguh banyak dan saya tetap mensyukuri apa-apa yang telah saya peroleh dari Gontor.

Di Kairo, cakrawala berpikir saya lebih banyak dibentuk oleh bahan-bahan bacaan di luar bangku perkuliahan ketimbang dari teks perkuliahan. Inilah fase pembentukan(marhalah al-bina’) penting dalam perkembangan berpikir saya ke arah yang lebih terbuka.

Mesir merupakan lumbung yang sangat kaya akan polemik intelektual antara kubu pembaruan dan pembekuan Islam, dan saya merasa hidup terlalu sia-sia untuk menelaah bacaan-bacaan yang hanya mengulangi apa-apa yang telah dikatakan di masa lampau.

Saya tidak anti terhadap khazanah tradisional Islam di berbagai bidang—dan sampai sekarang pun saya masih suka membaca dan merujuknya—namun saya berupaya mencari hal-hal yang lebih segar dan lebih membangkitkan minat berpikir ulang.

Ketiga, selama ini saya pribadi tidak merasa dimusuhi oleh pimpinan dan alumni Gontor, walau sesekali menjadi bahan pergunjingan. Tak ada permusuhan pribadi antara saya dengan keluarga Gontor. Saat reuni kemarin, hamba menyimak dan mencatat petuah-petuah penuh hikmah yang disampaikan KH Hasan Abdullah Sahal secara seksama.

Saya juga mendengar kritik yang dilancarkan ustad dan dosen yang saya kagumi semasa kuliah di Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi terhadap liberalisme, pluralisme, dan sekularisme.

Tentu tak semua asumsi, premis, dan kritik-kritik Ustad Fahmi itu—terutama dengan menguliti riwayat intektual almarhum Nurcholish Madjid—dapat saya terima dan amini. Tapi sebagian maksud saya datang ke Gontor memang untuk bernostalgia saja; menghayati ulang dan menyimak persepsi pimpinan Gontor tentang alumninya.

Alhamdulillah, Pak Fahmi masih mengenal saya dan sempat bertanya tentang pekerjaan saya saat ini. Itu suatu kehormatan bagi saya. Oh ya, setelah bersalaman, dengan bahasa Arab ala Gontori beliau bilang kepada saya: la takun liberalan! (jangan menjadi orang liberal). J

Saya sangat menikmati sambutan atau lebih tepatnya pidato yang disampaikan oleh Pak Hasan. Pidato yang sederhana dan mendalam itu berjudul Maziyyatuka ‘Aybuka. Artinya, kelebihanmu boleh jadi atau seringkali dapat menjadi bagian dari aib atau kelemahanmu.

Menjadi guru, umpamanya, boleh jadi merupakan kelebihan seseorang. Tapi itu juga dapat menjadi aib tatkala seseorang tak lagi mau belajar dari orang lain. Qis alaihi ghaira dzalika, ambillah perumpamaan-perumpamaan lainnya.

Keempat, pada pimpinan pesantren semacam Gontor dan beberapa kiai pesanten lainnya, saya merasakan kuatnya aspek penghayatan dan penguasaan akan dua aspek: kitab dan hikmah. Apa yang saya maksud dengan kitab dan hikmah di sini berkaitan langsung dengan beberapa ayat Quran yang merangkai kedua kosakata itu. Surat al-Jumu’ah ayat 2 misalnya, menekankan bahwa bekal penting dalam mengajak kepada perubahan itu ada dua perkara: pertama kitab, kedua hikmah.

Saya memahami kata “kitab” di sini sebagai “penguasan atas seperangkat aturan yang tertulis atau termaktub di dalam Quran ataupun kitab-kitab suci sebelum Quran”. Sebab Quran juga menyingggung kitab dan hikmah tatkala berbicara soal Ibrahim (al-Baqarah 129) ataupun Isa (Ali Imran 48).

Sementara untuk kata “hikmah”, ia mustahil dimaknai sebagai “sunnah atau hadis” sebagaimana pemaknaan umumnya ahli tafsir, termasuk Imam Syafii yang hendak mensejajarkan kedudukan Quran dengan sunnah.

Ketika menafsirkan al-Baqarah 129, al-Thabari mengemukakan beberapa opsi makna “hikmah” selain sunnah. Antara lain: pengetahuan dan penguasaan atas ilmu agama (al-ma’rifah bi al-din wa al-fiqh fih), atau sesuatu yang dititipkan Tuhan kepada nurani seseorang demi meneranginya (syai’un yaj’aluhulLah fi al-qalb wa yunawwiru lahu bihi).

Saya pribadi cenderung memaknai kata “hikmah” ini sebagai “kearifan-kearifan yang didapat seseorang tatkala menghayati kompleksitas kehidupan dan alam raya”. Atau sebutlah “kearifan hidup” saja.

Itulah dua hal yang nuansanya sangat saya rasakan tatkala berjumpa sosok-sosok kiai kharismatik seperti KH Hasan Abdullah Sahal ataupun KH Mustofa Bisri. Mereka adalah orang-orang yang tak hanya mengerti seluk-beluk agama luar dan dalam, tapi juga arif wicaksana dalam menanggapi kompleksitas kehidupan manusia.

Dua modal terpenting itulah (kitab dan hikmah) yang sentiasa dimiliki para nabi, rasul dan para ulama yang dilabeli sebagai pewaris etos kenabian dalam mendidik dan membimbing umat.

Tanpa kemampuan mengombinasikan kedua aspek itu, nabi ataupun rasul, para kiai ataupun ulama, hanya akan mengantongi bekal yang timpang. Mereka kemungkinan akan kesulitan melakukan misitazakka atau mensucikan masyarakat umum (ummiyyun) dari noda-dosa dan sifat alpa sebagaimana diilustrasikan surat al-Jumuah ayat 2.

Dalam buku al-Ashlani al-Adzimani, Gamal al-Banna menandaskan bahwa dengan bermodal kitab saja, para juru dakwah akan terjebak menjadi hakim-hakim yang hanya menenteng KUHP dan palu godam di kedua tangannya. Mereka akan menjadi manusia-manusia textbook yang hanya paham halal-haram tanpa peduli dengan kompleksnya kehidupan dunia nyata.

Kelima, sepanjang ingatan saya, Gontor setia mendidik dan mengajarkan santri-santrinya dengan hadis-hadis etiket (akhlaq/adab) baik dalam aspek ibadah maupun muamalah. Sebagian besar yang diajarkan itu adalah hadis-hadis sugestif dan preventif (hadis al-targhib wa at-tarhib) seperti kemuliaan menuntut dan berbagi ilmu, larangan menguap, atau makan-minum sambil berdiri. Tidak ada pengajaran dan disiplin berhadis yang terlalu berlebihan, dan Gontor tak mengajarkan hadis-hadis jihad atau maghazi (peperangan era Nabi).

Andai hadis-hadis jihad dan maghazi itu dicekokkah kepada kami, boleh jadi gairah berperang kami akan lebih besar ketimbang menuntut ilmu. Walaupun para santri umumnya percaya bahwa lalat yang nyemplung ke dalam gelas tidak berbahaya—karena menurut hadis salah satu sayapnya mengandung racun namun sayap lainnya mengandung penawar—kami tetap tidak lebay menerapkan sunnah dalam aspek-aspek yang furuiyah seperti pola berpakaian atau berpenampilan.

Karena itu, saya keberatan bilamana kata “hikmah” yang kita singgung di atas tadi disempitkan maknanya menjadi sekadar sunnah atau hadis. Di zaman modern ini, kita jarang sekali menemukan para bijak bestari dari mereka-mereka yang mengaku teguh berpegang kepada Sunnah dan hadis Nabi. Mereka-mereka yang ahli hikmah dan arif bijaksana, biasanya memang juga sangat paham dan menghayati sunnah, namun tidak demikian sebaliknya.

Tiga hari berada di Gontor, merasakan lagi ritme kehidupan santri, meyakinkan saya bahwa kehidupan santri tidaklah lepas dari dua modal utama tadi (kitab dan hikmah). Kitab mengisi kepala mereka dengan apa-apa yang perlu mereka ketahui tentang agama, sementara hikmah mengajarkan mereka kearifan-kearifan hidup baik saat berada dalam miniatur masyarakat pesantren maupun tatkala kelak keluar dari pesantren.

Dengan bermodalkan dua bekal berharga itulah alumni Gontor menatap dan mengarungi dunia yang lebih luas lagi. Tidak selalu mudah, memang. Umumnya kami cukup berhasil, walau terkadang ada juga yang limbung dan kehilangan keseimbangan. Wallahu al-musta’an.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.