Home » Lembaga » Muhammadiyah » Bahtiar Effendy: Di Muhamadiyah Ada “Munu” dan “Marmud”
Bahtiar Effendy
Bahtiar Effendy

Bahtiar Effendy: Di Muhamadiyah Ada “Munu” dan “Marmud”

4/5 (1)

Baru-baru ini, Muhammadiyah melaksanakan Sidang Tanwir di Bali. Salah satu rekomendasi menarik yang ditelurkan dalam acara tersebut adalah akomodasi Muhammadiyah terhadap budaya lokal. Hal ini menjadi menarik bila dikaitkan dengan adanya kesan bahwa selama ini Muhammadiyah tidak ramah terhadap budaya lokal.

Berikut ini petikan wawancara Burhanuddin dari Kajian Utan Kayu dengan Dr. Bahtiar Effendy, seorang pengamat politik Islam kondang dan pengurus lembaga al-Hikmah PP Muhammadiyah pada hari Kamis, 7 Maret 2002, yang disiarkan Radio 68 H dan jaringannya di seluruh Indonesia.

 

Apa yang menarik dari Sidang Tanwir Muhammadiyah yang baru-baru ini dilaksanakan di Bali?

Saya kira, gagasan dakwah kultural yang ditelurkan Muhammadiyah tak terbilang revolusioner. Karena soal dakwah kultural ini sebetulnya bukan persoalan baru dan pernah juga dilontarkan beberapa waktu yang lalu.

Kalau kita perhatikan dulu, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah—red) juga cukup memperhatikan budaya-budaya setempat di dalam mengembangkan Islam. Tapi mungkin dalam perkembangan sejarah Muhammadiyah, justru yang menonjol adalah puritanisme dan sejenisnya.

Ini yang kemudian membuat orang mempersepsi Muhammadiyah sebagai tidak ramah, atau tidak bersedia menggunakan resources atau sumber daya budaya yang tersedia untuk mendakwahkan Islam.

Yang terjadi di Bali kemarin sebenarnya adalah ingin mengundang kembali perhatian segenap warga Muhammadiyah, atau mengajak mereka kembali untuk memanfaatkan sumber daya budaya yang ada dalam upaya mendakwahkan Islam. Dengan demikian, kesan bahwa Muhammadiyah terlalu kering di dalam menggunakan sumberdaya ini bisa dihilangkan.

Apa bentuk konkrit dakwah kultural yang digagas Muhammadiyah itu?

Sebenarnya, Islam yang hadir di sini itu tidak bisa dilepaskan dengan tradisi atau budaya Indonesia. Saya sering mengatakan bahwa antara Islam dan budaya Arab adalah sesuatu yang berbeda. Maksudnya, Arabisme dan Islamisme bergumul sedemikian rupa di kawasan Timur Tengah sehingga kadang-kadang orang agak susah membedakannya.

Saya mempunyai asumsi bahwa Nabi Muhammad, tentu saja dengan bimbingan Tuhan, dengan cukup cerdik mengetahui sosiologi masyarakat Arab pada saat itu. Saya kira, dia dengan serta merta menggunakan tradisi-tradisi Arab untuk mengembangkan Islam.

Satu hal misalnya, ketika Nabi Saw hijrah ke Madinah. Masyarakat Madinah di sana menyambut dengan iringan gendang dan tetabuhan sambil menyanyikan thala’al-badru alaina dan seterusnya. Bahwa kemudian sekarang ini Saudi Arabia dipengaruhi secara kuat oleh paham-paham Wahabisme, sehingga ada kesan Saudi Arabia saat ini tidak mempunyai kesadaran budaya.

Bagimana kita melihat, misalnya di depan Masjidil Haram Mekkah, terdapat Hotel Hilton, ada juga Restoran Si Doel. Nah, preservasi budaya itu kan tidak mungkin terjadi di negara seperti Indonesia atau Turki atau Malaysia.

Ada kesan Muhamadiyah kurang ramah terhadap budaya. Bagaimana menurut Anda?

Ya memang, warna dominan Muhammadiyah seperti itu. Tapi kalau kita masuk ke dalam dunia Muhammadiyah, setidak-tidaknya ada empat kelompok; Pertama, disebut sebagai kelompok KH Ahmad Dahlan. Mereka menghargai budaya lokal. Mungkin tidak mempraktikkan agama-agama dengan menggunakan sumber budaya, tapi tidak mengecam.

Kedua, kelompok al-ikhlas. Kelompok ini sangat puritan. Prinsip mereka bila tak ada dalam Alquran dan Sunnah, maka tak usah dilakukan. Ketiga, ada kelompok yang disebut oleh Abdul Munir Mulkhan sebagai kelompok Munu, Muhammadiyah-NU. Kelompok ini berasal dari tradisi NU, tapi karena lingkungan, pergaulan, dan macam-macam, kemudian bergabung dengan Muhammadiyah.

Kemudian yang terakhir, kelompok yang disebut Marmud, kelompok yang mempunyai latar belakang PNI, abangan, PDI dan sebagainya yang kemudian bergabung dengan Muhammadiyah.

Empat kelompok di atas riil ada dalam keluarga besar Muhammadiyah. Mereka mempraktikkan budaya-budaya di dalam mengembangkan Islam. Jadi sangat variatif di dalam Muhammadiyah, tetapi cap yang dipersepsi oleh masyarakat adalah bahwa Muhammadiyah itu puritan dan satu warna. Sebetulnya tidak begitu.

Kalau Muhammadiyah seperti yang digambarkan Anda cukup variatif dan kemudian warna akomodasi terhadap budaya lokalnya berkembang, lantas kita tidak bisa membedakan lagi antara NU dengan Muhammadiyah dong?

Ya, masih bisa. Misalnya dari segi sosial Muhammadiyah dicap sebagai organisasi yang berbasis massa kota dan profesional. Muhammadiyah tidak mendirikan pesantren tapi mendirikan sekolah-sekolah. Sementara NU mendirikan pesantren tapi tidak mendirikan sekolah.

Dulu mungkin seperti itu, namun sekarang agak berubah. Dari segi sosial keagamaan juga sudah berubah, karena ada proses transformasi. Saya tidak tahu betul variasi-variasi yang ada di NU, kecuali dalam segi politik. Itu yang membuat kita sulit membuat kategori-kategori keagamaan di dalam NU. Saya kira warna NU juga tidak tunggal.

Apa sikap kalangan puritan di dalam Muhammadiyah terhadap kesadaran untuk mengakomodasi budaya lokal?

Saya kemarin memberikan pengajian di Muhammadiyah. Saya ceritakan lebih lanjut pandangan saya tentang dakwah kultural itu sambil menyanyi. Memang ada yang menerima, ada yang menghargai, tetapi juga ada yang menolak mentah-mentah. Saya belajar agama di Pesantren Pabelan. Pabelan itu hampir mirip-mirip Gontor.

Saya mencontohkan ketika adzan selesai dikumandangkan, kan ada yang salat sunnah, ada yang duduk-duduk. Nah, saya mengusulkan bahwa yang duduk-duduk itu melakukan puji-pujian, misalnya.

Sebab kalau kita pergi ke Gontor atau Pabelan, ada orang yang melakukan puji-pujian dengan menyanyikan syair Abu Nawas. Waktu saya kecil, biasanya kita melakukan puji-pujian di surau atau langgar. Itu menurut saya membuat hati lebih sejuk, lebih dingin.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.