Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Lembaga » Muhammadiyah » Bahtiar Effendy: Di Muhamadiyah Ada “Munu” dan “Marmud”
Bahtiar Effendy

Bahtiar Effendy: Di Muhamadiyah Ada “Munu” dan “Marmud”

4/5 (1)

Menurut Anda, adakah corak budaya yang katakanlah tidak sesuai dengan Islam?

Memang ada budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi juga banyak yang bersesuaian. Saya ingin membuat perbandingan; banyak sekali kelompok-kelompok keagamaan Islam yang juga memanfaatkan sumber daya budaya, katakanlah NU.

Akhir-akhir ini kita melihat, misalnya, teman-teman yang mempunyai orientasi keagamaan Syiah juga menggunakan sumber daya budaya. Saya tidak tahu apakah Haddad Alwi itu mengikuti paham Syiah atau tidak, tapi kalau saya lihat lagu-lagunya sungguh luar biasa.

Jadi, menurut saya, itu merupakan representasi dakwah Syiah yang memakai instrumen budaya dan sangat efektif. Mungkin anak-anak kecil yang tak tahu bahasa Arab mungkin tidak paham apa isinya. Tetapi ini menjadi awal dari sebuah apresiasi dan penghargaan.

Anda lihat, misalnya, pada waktu lebaran kemarin, Haddad Alwi mampu mengumpulkan ribuan anak-anak kecil untuk ikut bernyanyi. Kemarin dia juga muncul lagi di TV. Nah, sekarang kalau kita lihat minat anak-anak Islam untuk mendengarkan lagu-lagu yang dibuat oleh Haddad Alwi, sangat besar sekali antusiasismenya.

Saya kira, lagu-lagu Haddad Alwi biasa saja. Edisi terbaru lagu Haddad Alwi dengan dipadu orchestra kemarin, ternyata menyisipkan nilai-nilai Syiah. Misalnya lagu ana madinatul ‘ilm, wa-aliyyu babuha.

Itu kan jelas. Saya juga membuka compact disc lama, misalnya, lagu salawat kepada Nabi Muhammad juga diikuti dengan salawat kepada keluarganya: Ali, Hasan, Husein. Ini adalah sebuah medium budaya yang digunakan.

Kalau kita lihat Muhammadiyah, pemakaian budaya sebagai instrumen hampir-hampir tidak ada. Itu yang membuat orang melihat bahwa apresiasi kebudayaan di dalam Muhammadiyah sangat tipis sekali. Apalagi di masa krisis sekarang ini, saya kira apresiasi budaya bisa mendinginkan hati orang.

Bayangkan kalau kita ke radio; yang kita dengar adalah berita-berita tentang kebakaran, penangkapan, pengadilan, banjir, jelas bisa membikin orang stres. Mendingan mendengar lagu Haddad Alwi dan Sulis (tertawa).

Soal kesesuaian budaya dengan doktrin Islam menjadi persoalan klasik karena ada beberapa kelompok keagamaan di Indonesia yang relatif enggan untuk memakai budaya sebagai instrumen dengan alasan ia dianggap bertentangan dengan Islam?

Memang ada faktor penafsiran agama yang berbeda, misalnya salawat, tahlil, talqin, dan sebagainya. Bagi tradisi NU, hal itu biasa saja. Tapi kita tidak bisa melihat semua hal dalam konteks agama. Misalnya Maulid Nabi, apakah kita mau melihatnya sebagai faktor budaya atau tidak? Maulid Nabi kan tidak ada dalam Alquran dan Hadis.

Dalam tradisi Nabi tidak ada Maulid. Nabi tidak merayakan ulang tahunnya sendiri. Ritus tersebut digagas Thariq bin Ziyad untuk membangun solidaritas umat Islam. Itu kan hal yang biasa saja. Nah, sekarang Maulid Nabi menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan agama.

Saya ingin menukikkan pada persoalan dakwah kultural sebagai instrumen. Kira-kira kalau kita memakai kultur atau budaya sebagai medium, bukankah akan membuat dakwah lebih efektif?

Saya sendiri berpandangan seperti itu. Menurut saya, kita sulit memformulasi bentuk Islam murni karena ajaran-ajaran Islam ketika dibumikan, ia akan berinteraksi atau dipengaruhi atau dibentuk oleh lingkungan sosialnya.

Masyarakat Indonesia mempunyai banyak perbedaan dalam memahami ajaran Islam dibanding Iran, Saudi Arabia, atau bahkan Malaysia. Islam yang masuk di Iran, Indonesia dan Pakistan harus terkontekstualisasikan dengan sistem budaya setempat. Memang ada budaya-budaya yang secara kategoris bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.

Tapi bagi saya tak mungkin membangun sebuah Islam yang seratus proses bermusuhan dengan budaya setempat. Jadi kita juga tidak bisa mengatakan bahwa seluruh budaya Indonesia berlawanan dengan Islam.

Bahkan Alquran tidak langsung melarang, tetapi secara bertahap, tradisi yang bertentangan dengan Islam. Misalnya kasus larangan minum khamr. Itu kan menunjukkan akomodasi Alquran terhadap tradisi yang meskipun bertentangan tetapi pelarangannya dilakukan secara bertahap.

Ya, dalam konteks Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan melakukan strategi seperti itu. Tapi dalam perjalanannya kemudian, tokoh-tokoh muda Muhammadiyah: ada Mas Mansyur, Hamka, Buya Sutan Ahmad, dan lainnya mempunyai pandangan yang berbeda. Dalam sejarah Muhammadiyah yang sudah 90 tahun ini, yang menonjol adalah aliran-aliran yang puritan.

Nah, saya ingin mengatakan bagaimana Muhammadiyah membangun tenda besar yang mengayomi seluruh umat Islam. Jadi jangan bermimpi untuk memuhammadiyahkan umat Islam Indonesia, tapi bagaimana orang Islam Indonesia dengan berbagai macam kecenderungannya itu merasa diayomi oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah menjadi tenda besar, salah satu caranya dengan menggunakan budaya sebagai sumber daya dan instrumen untuk mengembangkan tenda besar Muhammadiyah itu tadi.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.