Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Lembaga » Muhammadiyah » Muhammadiyah dan Imperialisme Islam Murni

Muhammadiyah dan Imperialisme Islam Murni

4/5 (3)

Tanwir memahami dakwah kultural meliputi dua pintu utama – konvensional dan komunikasi. Yang pertama menyampaikan ajaran Islam melalui ceramah, khutbah, dialog interaktif dan kegiatan tabligh lainnya.

Cara ini sudah berlangsung lama dan masih terus digunakan sampai saat ini. Yang kedua sebagai proses interaksi nilai dan saling mempengaruhi dalam rangka terjadinya perubahan pemahaman, keimanan dan pengamalan Islam secara individual; dan perubahan struktur dan norma kehidupan menuju masyarakat madani secara sosial.

Keberpihakan dakwah kultural adalah pada nilai-nilai universal kemanusiaan, menerima kearifan dan kecerdasan lokal, dan mencegah kemunkaran dengan memperhatikan keunikan sifat manusia secara individual dan sosial. Cara dakwahnya “memudahkan” dan “menggembirakan” demi tegaknya nilai-nilai Islam diberbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Upaya Muhammadiyah untuk mempersatukan persepsi dalam rangka menciptakan Islam yang sejuk dan bernuansa kultural di negeri ini sangat positif. Upaya semacam ini membuat kelompok abangan menjadi tidak memiliki hambatan mental untuk belajar Islam.

Singkatnya, dakwah kultural Muhammadiyah mengakui secara tulus pentingnya menghargai multikulturalisme, keunikan, dan kekhasan setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada dalam kategori abangan.

Melampaui kebekuan dakwah purifikatif yang selama ini dipandang sebagai ciri khas (idiokrasi dan idiolatri, meminjam Kuntowijoyo) Muhammadiyah, yang ternyata mengalami benturan dan kebuntuan di sana sini, dakwah kultural merupakan visi baru agar dakwah dalam arti seluas-luasnya semakin diapresiasi oleh semua kelompok dan aliran.

Perubahan orientasi dakwah agar menyentuh aspek-aspek multikultural dan multireligi, melalui pendekatan kultural yang variatif dengan memandang perubahan ruang dan waktu dan level sosial yang menjadi obyeknya. Sebelum perubahan orientasi ini, sudah ada pergeseran besar lain, yakni pergeseran dari “gerakan purifikasi” (ijtihad pertama) yang orientasi dakwahnya mengembangkan isu takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), ke gerakan redefinisi TBC dalam kultus individu dan KKN.

Gerakan yang terakhir inilah yang disebut sebagai ijtihad kedua. Dakwah kultural merupakan upaya baru untuk menggeser Muhammadiyah dari dari gerakan struktural yang terserap oleh negara, ke gerakan kultural dengan semangat pluralisme dan multikulturalisme.

Memperhatikan pergeseran-pergeseran itu, dakwah kultural sesungguhnya mempunyai kesinambungan (continuity) historis dengan perjalanan dakwah yang hampir satu abad itu. Perubahannya (change) terletak pada cara dakwah kultural memaknai kembali wacana dan gerakan TBC. Sesuai dengan namanya, dakwah kultural hendak menyentuh persoalan-persoalan kebudayaan yang menjadi kebutuhan dan tantangan kontemporer.

Serupa dengan dakwah purifikatif dan dakwah politik, dakwah kultural juga berpijak pada slogan TBC, namun dengan pemaknaan yang sama sekali berbeda dengan dua dakwah sebelumnya (lihat skema 1 dan skema 2).

Penyandaran “kultural” menekankan distingsi yang berpijak pada makna dan cakupan kebudayaan itu sendiri yang meliputi sistem gagasan (ide), aktivitas dan fungsi, serta bentuk atau materi. Dari sini dapat dipahami, dakwah kultural ingin melakukan perubahan, perbaikan dan transformasi dalam cara berpikir, cara bertindak, sekaligus bentuk dan materi kebudayaan.

Kata kunci dalam istilah “kultural” adalah inovasi dan kreasi. Inilah yang dimaksud bid’ah dalam dakwah kultural. Sementara itu, takhayyul yang selama ini dipahami sebagai “sesuatu yang tidak ada dalam kenyataan” (Nyai Roro Kidul misalnya), dipahami oleh dakwah kultural sebagai imajinasi, suatu kekuatan dan kemampuan khas manusia yang merupakan anugerah alam dan anugerah Tuhan (a gift of nature and a gift of God).

Menurut dakwah kultural, berimajinasi bukan cermin kemalasan dan tidak produktif karena suka “berkhayal”. Ini kekeliruan besar, karena imajinasi adalah anugerah yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Imajinasi itu sendiri bertingkat-tingkat meliputi: imajinasi onerik, imajinasi estetik, imajinasi kreatif, imajinasi abstraktif, dan imajinasi intuitif.

Pada sisi ini, dakwah kultural nampaknya merupakan penegasan pentingnya pendekatan `irfani (dalam manhaj Tarjih 2000); pada saat yang sama dakwah kultural memperoleh dukungan metodologis dari pendekatan `irfani, karena hanya dengan pendekatan inilah realitas imajinatif dapat dipahami.

Sayangnya, pendekatan `irfani selama ini justeru menjadi kontradiksi dan penolakan dalam Muhammadiyah, dan karena itu pula Majelis Tarjih belum dapat mentanfidzkannya.

Yang dimaksud dengan khurafat selama ini adalah bid’ah dalam bidang aqidah. Ada sebagian penulis menyandarkan khurafat pada nama orang yang memiliki “keahlian bercerita, membuat legenda dan berdongeng”, seperti dongeng tentang kemampuan Syekh Abdul Qodir Jaelani yang dapat menangkap malaikat Izrail dan meminta agar ruh manusia yang dibawanya dikembalikan ke jasadnya atas permintaan seseorang.

Dakwah kultural, memaknai khurafat sebagai “kemampuan menciptakan makna” (meaning-making), menciptakan dan membangun citra (image-making and building) dalam wilayah-wilayah kultural dan keberagamaan.

Jadi, berbeda dari dua model dakwah Muhammadiyah sebelumnya yang anti- TBC, dakwah kultural adalah dakwah pro-TBC. Yakni: 1) dakwah yang memanfaatkan dan membangkitkan kemampuan imajinatif (takhayyul) individu dan masyarakat agar kehidupan semakin estetik (indah), holistik, simbolik (dalam arti beradab), dan cerdas;

2) dakwah yang mendorong, memotivasi, dan mengkondisikan individu dan masyarakat untuk mencipta (kreatif) dan menemukan (inovatif) berbagai hal baru (bid’ah) baik dalam ide (pemikiran, wacana, teori dalam Muhammadiyah, dan masyarakat), aktivitas (praksis, gerakan Muhammadiyah), dan bentuk kebudayaan (amal-amal usaha Muhammadiyah);

3) serta dakwah yang mengeksplorasi seluruh kemampuan untuk meredefinisi “mitos” (baca: cita-cita sosial, meminjam istilah Mohammed Arkoun), mereproduksi, bahkan memproduksi mitos baru (khurafat) untuk mambangun citra keberagamaan, keber-islam-an, dan keber-muhammadiyah-an dalam rangka menuju masyarakat utama.

Penulis berharap, dakwah kultural menjadi semacam tenda besar bagi bangsa karena mempertimbangkan dan menyantuni realitas masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural-multireligi dalam wacana dan gerakan dakwah; tenda besar bagi ummat Islam karena mengusung semangat kebersamaan antargolongan di kalangan internal ummat menuju tercapainya masyarakat madani; dan tenda besar bagi Muhammadiyah sendiri karena Muhammadiyah terbuka bagi warga dan simpatisannya yang hadir dengan banyak wajah, aliran dan kecenderungan, bukan semata wajah purifikatif-anti-TBC dalam pengertian lama (in the old meaning). Semoga.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.