Home » Lembaga » MUI » Nasaruddin Umar: “MUI Harus Hati-hati”
Nasarudin Umar
Nasarudin Umar

Nasaruddin Umar: “MUI Harus Hati-hati”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Kata jihad yang sekarang ini ramai dibicarakan, menurut Dr. Nasaruddin Umar yang juga salah seorang pembantu rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, ternyata sudah lepas dari konteksnya. Kata ini berkonotasi negatif dan bahkan cenderung kontraproduktif karena didasarkan hanya pada akumulasi kekecewaan dan kemarahan umat Islam saja, bukan didasarkan pada pertimbangan logika dan konfirmasi terhadap nurani.

Dan jihad ini mestinya memperhitungkan unsur-unsur strategi, taktik, dan metode seperti yang pernah dilakukan Nabi SAW. Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, Dr. Nasaruddin membicarakan konsep jihad dari mulai pengertian, sejarah sampai penggunaannya.

 

Saya mulai dari pertanyaan dasar dulu, apa sih sebenarnya arti kata jihad itu di dalam Islam?

Jihad itu berasal dari kata jahada. Dari akar kata ini akan melahirkan beberapa kata, antara lain; jihad, yaitu perjuangan secara otot. Dari akar kata yang sama juga melahirkan ijtihad, perjuangan secara otak. Dan dari akar kata yang juga melahirkan kata mujahadah; perjuangan hati nurani, perjuangan spiritual.

Jadi mestinya konsep jihad itu tidak bisa lepas dari 3 konteks ini, karena kalau jihad dilepaskan dari konteks yang lainnya, ia bisa direduksi menjadi kekerasan kemanusiaan. Itu bisa saja terjadi. Jadi jihad di mana-mana, apalagi konteks dan konsep penggunaan jihad pada masa nabi, itu sangat khusus.

Maksudnya sangat khusus itu bagaimana?

Pertama, unsur sebuah jihad itu adalah berangkat dari sebuah niat. Niatnya itu adalah untuk li-i’la-i kalimatillah dan li-i’la-i kalimatillah ini menjunjung nama Allah SWT itu tidak harus mengorbankan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Sebab di dalam perjuangan, atau yang biasa disebut jihad pada masa Nabi itu juga sesungguhnya sarat sekali dengan prinsip-prinsip toleransi yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Banyak contoh yang bisa kita kemukakan, misalnya pasukan Rasulullah tidak boleh membunuh seseorang yang sudah mengucapkan syahadatain.

Bahkan pernah ada satu orang yang dimarahi karena bilang “mereka kan masuk ke dalam gua dan pura-pura mengucapkan kalimat syahadat karena takut dibunuh”, terus muncul hadits Rasulullah bahwa “kita hanya mampu mendeteksi apa yang tersurat. Urusan Allah mendeteksi urusan yang tersirat”.

Pada masa Nabi, jihad sebenarnya sesuatu yang merupakan fakta sejarah; jihad fisik. Pertanyaannya adalah apakah penggunaan kekerasan fisik untuk membuat orang bersyahadat itu diperbolehkan?

Ya, sesungguhnya tidak bisa. Dan tidak ada pemaksaan dalam pengucapan syahadat. La ikraha fi al-din itu kan sudah tegas sekali. Jadi konsep jihad yang disampaikan Nabi itu lebih kepada pelanggaran kemanusiaan. Makanya istilah ini tidak digunakan pada masa Nabi.

Ada konsep jihad, ada konsep al-qital, peperangan secara fisik. Ada konsep al-harb; perang diplomatis. Ada konsep al-ghazwah; perang secara massif. Nah, keempat konsep yang sering digunakan pada masa Nabi itu covernya adalah jihad. Jadi salah satu spesies dari jihad adalah al-qital, al-harb, al-ghazwah, futuhat. Jadi jihad ini tidak bisa diartikan konotasinya sangat phisycal, harus ada darah yang mengalir, misalnya.

Jihad itu bahkan ada hadits Nabi yang sangat jelas “kalian pulang dari jihad yang kecil menuju ke jihad yang akbar”. Kata sahabat, “masih adakah jihad yang lebih akbar daripada perang Badar ini?”. Jawab Nabi: “Ada yaitu perang melawan diri sendiri, perang melawan hawa nafsu.” Jadi konsep jihad itu luas sekali maknanya.

Tidak bisa diartikan hanya sebagai agresi militer begitu saja?

Oh iya, agresi itu juga bahasa arabnya bukan jihad. Bahkan sebetulnya Islam tidak pernah memperkenalkan konsep agresi militer dalam pengertian kaidah-kaidah kemanusiaan.

Kenapa pengertian jihad di masyarakat kita identik dengan perang?

Itu karena kemiskinan Bahasa Indonesia kita untuk menerjemahkan term-term bahasa Arab. Kita tidak ada perbedaan antara jihad, al-qital, al-harb, al-ghazwah, al-fath.

Jihad dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Arab itu berbeda. Nah, jihad di dalam bahasa Indonesia, yang populer di dalam masyarakat kita, itu perjuangan secara fisik. Lasykar Jihad misalnya, itu ada usaha-usaha yang sifatnya phisycal.

Tetapi konsep jihad sebetulnya itu tidak bisa terlepas dari konsep yang lain; ada ijtihad, ada mujahadah. Jadi kalau kita mau menangkap makna jihad ini secara utuh, harus kita lihat apa yang dimaksud dengan jihad, apa yang dimaksud dengan mujahadah.

Konsep mujahadah ini juga bagian dari kata jahada itu. Bahkan Nabi SAW pernah bersabda bahwa “Tetesan darah syuhada kalau dibandingkan dengan tinta pena mujtahid, itu masih lebih berharga tinta pena”. Dengan kata lain begini; tinta pena atau tulisan-tulisan para mujtahid itu lebih berharga daripada darah para syuhada.

Jadi artinya ijtihad atau perjuangan secara intelektual itu jauh lebih dihargai di dalam Islam?

Ya. Saya ingin membandingkan begini. Jihad itu kan wilayah fisik, tapi mujahadah itu wilayah intelektual. Dan Mujahadah itu adalah perjuangan spiritual. Kita mengenal ada istilah IQ; ada Intellectual Quotient, kemudian ada juga EQ; Emotional Quotient, dan ada SQ; Spiritual Quotient. Dan ini juga di dalam perjuangan seperti itu juga; ada yang level fisik, ada yang level kognitif (mujahadah), orang yang melakukan ijtihad itu disebut mujtahid, sedangkan orang yang melakukan jihad itu adalah mujahid.

Ini pertanyaan yang agak sedikit jauh ke belakang. Sebetulnya perang agama itu ada nggak dalam Islam? Apakah diperbolehkan perang atas dasar alasan agama?

Ya, tergantung dari metode sejarah mana yang kita anut. Kalau di dalam masa Rasulullah SAW, itu sesungguhnya bukan perang antar agama. Rasulullah tidak pernah memerangi seseorang karena berbeda agama.

Yang terjadi saat itu apa?

Yang terjadi adalah pelanggaran kemanusiaan. Jadi Nabi tidak pernah melakukan perang, tapi yang dilakukan adalah mempertahankan diri.

Apakah anda setuju jika MUI mewajibkan jihad kalau Amerika menyerang Afghanistan?

Saya kira kita harus melihat secara mikro. Harus ada perhitungan-perhitungan; untung ruginya apa secara kemanusiaan, untung ruginya apa secara ummah.

Kalau saya secara pribadi nggak setuju, karena kalau kita ikuti hukum fikih itu sebetulnya kan berenteng. Yang wajib membela pertama mestinya tetangganya yaitu negara Pakistan, Bangladesh. Di negara kita juga punya persoalan yaitu masyarakat Aceh yang orang Islam ditindas dari dulu. Kita nggak pernah melakukan solidaritas dengan mereka. Ini kan aneh juga itu. Bagaimana tanggapan Anda?

Makanya justru itu kita harus berhati-hati. MUI juga. Kita perlu menghimbau, statemen-statemennya itu kan sangat didengar oleh umat. Jadi harus ada pendalaman-pendalaman suatu masalah, baru keluar statemen dari MUI itu sendiri.

Jadi Anda nggak setuju kalau seandainya dihimbau jihad ke Afghanistan?

Ya, dalam kondisi sekarang ini, kita kan masih dalam suasana al-harb, belum pada suasana al-ghazwah. Tahapan-tahapan yang memungkinkan kita berjihad secara fisik, indikator-indikator seperti yang kita lihat dalam peperangan Rasulullah pada masa dulu belum ada. Saat ini baru tahap al-harb, ancam mengancam. Tapi kalau al-ghazwah, itu kondisi darurat yang memang memerlukan bantuan, dan itupun sebatas habisnya unsur darurat itu sendiri. Kalau misalnya sudah angkat tangan, misalnya, itu tidak bisa ada lagi pemusnahan di situ.

Menurut Anda, apakah ada kaitan antara larisnya penggunaan kata jihad ini dengan maraknya kelompok-kelompok Islam militan?

Saya ingin melihat dalam satu sisi, bahwa ada kekecewaan-kekecewaan global di kalangan umat Islam, termasuk juga kekecewaan lokal di Indonesia ini, sehingga kata-kata pelarian mereka adalah jihad. Jadi jihad ini ada unsur kepasrahan dan tidak ada jalan keluar yang lain. Istilah jihad itu adalah akibat dari sebuah sebab yang panjang.

Nah, kita tidak bisa melihat konsep jihad dalam Bahasa Indonesia yang kita terapkan selama ini hanya semata-mata karena adanya penyerangan terhadap New York. Ada kekecewaan-kekecewaan yang terakumulasi dari masyarakat Islam itu sendiri, sehingga begitu bersahabat dengan kata jihad. Jadi ungkapan-ungkapan yang lebih mencerahkan itu tidak muncul, tapi justru ungkapan-ungkapan yang seperti jihad ini yang muncul.

Jadi penggunaan kata ini lebih mencerminkan kemarahan karena keadaan yang menimpa orang Islam ini?

Jadi ada suasana akumulatif yang berjangka panjang yang bermasa lampau yang begitu panjang, kekecewaan-kekecewaan umat ini.

Apakah kekecewaan-kekecewaan ini bisa diselesaikan hanya dengan menyerukan jihad?

Nah, itu yang kontraproduktif. Jadi jihad itu sekali lagi harus memperhitungkan unsur-unsur strategi, taktik, dan metode. Karena kita tidak boleh konyol.

Jadi artinya jihad di sini harus dikaitkan dengan ijtihad, dengan perhitungan rasional. Dan tentu juga dengan perhitungan rohaniah tadi, mujahadah?

Ya, kalau perlu ada salat istikharah; mana yang terbaik. Nah, itu wilayah mujahadah.

Jadi tidak bisa hanya diserukan di panggung begitu saja?

Tidak bisa, harus ada penjelasan secara nalar di situ, penjelasan secara logika, bahkan juga konfirmasi secara nurani.

Nah, sekarang ini nampaknya kata jihad lebih sarat muatan emosinya?

Karena ia lepas dari konteksnya.

Jadi menurut Anda, kata jihad ini harus dikembalikan ke dalam proporsi yang semestinya yaitu dikaitkan dengan mujahadah dan ijtihad?

Ya, sayang sekali kata jihad itu terkonotasi agak negatif. Mestinya kata jihad itu adalah kalimat suci, tetapi opini masyarakat kita justru memberikan terjemahan-terjemahan jihad itu di dalam konotasi agak negatif.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.