Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Lembaga » Pesantren » Belajar Ilmu “Alat” di Pesantren
Mengaji di sebuah pesantren (Foto: Istimewa)

Belajar Ilmu “Alat” di Pesantren

4.44/5 (16)

Urgensi Ilmu Alat. Kitab kuning adalah tambang ilmu pengetahuan. Ia disusun para ulama dari beragam disiplin ilmu. Dengan demikian, kitab kuning tak hanya berisi ilmu-ilmu keislaman tradisional seperti fikih, tasawuf, tarikh, melainkan juga berisi sains seperti kedokteran, aljabar, astronomi, dan lain-lain.

Yang menulis kitab kuning itu bukan hanya Imam Syafii yang fokus pada bidang fikih-ushul fikih, melainkan juga Ibnu Sina yang minat akademiknya terbentang luas dari filsafat hingga kedokteran. Terus terang, kitab kuning yang berisi sains itu adalah area yang belum banyak dijamah para santri pondok pesantren.

Karena kitab kuning itu adalah karya ulama abad pertengahan, maka diksi dan gaya bahasanya mencerminkan zamannya. Tak seperti kitab-kitab berbahasa Arab modern, bahasa Arab kitab kuning adalah bahasa Arab klasik yang membutuhkan penanganan khusus untuk menyingkap tabir maknanya.

Stuktur kalimat kitab kuning kadang demikian ringkas-padat (ijaz) sehingga sulit ditangkap pengertiaannya, seperti dalam karya-karya fikih yang ditulis Syaikh Zakariya al-Anshari. Namun, pada saat yang lain, kalimat-kalimat kitab kuning demikian lebar (ithnab).

Misalnya, dalam kitab Fathul Mu’in, kerap dijumpai anak-anak kalimat mengular panjang di antara subyek (mubtada’) dan predikat (khabar) yang jika lepas kendali potensial membuyarkan konsentrasi para pembacanya.

Sebagaimana wudhu’ adalah syarat sahnya shalat, maka menguasai ilmu alat adalah syarat sahnya menjadi santri. Sebab, dengan menguasai ilmu alat para santri bisa menyingkap lapis terdalam kitab kuning, kitab-kitab mana telah lama menjadi landasan intelektual pesantren.

Tak ada yang mengingkari, ilmu alat bukan hanya jembatan intelektual yang menguhubungkan para santri ke dalam khazanah intelektual Islam masa lalu, melainkan juga jendela yang memungkinkan para santri di daerah pedalaman mengintai karya para pemikir Islam kontemporer yang tersebar di pelbagai penjuru dunia.

Betapa para santri yang duduk di abad XXI bisa tersambung ke dalam diskursus ilmiah jenius-jenius raksasa seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad ibn Hanbal di abad pertengahan.

Begitu juga, dengan mengerti ilmu alat, para santri yang tinggal di dusun nusantara yang tak terjamah tangan modernisme bisa mencicipi kelezatan buah tangan intelektual para ulama nun jauh di sana, Timur Tengah misalnya.

Lebih dari itu, Abdullah Darraz berkata bahwa mengetahui lika-liku bahasa Arab adalah persyaratan awal menjadi mujtahid (fa kana hadzqu al-lughah al’arabiyyah ruknan min arkan al-ijtihad). Tak mungkin seseorang bisa memaknai apalagi menafsirkan al-Qur’an jika yang bersangkutan tak menguasai gramatika bahasa Arab.

Jika pemaknaan al-Qur’an pun harus dilakukan, maka kesalahan penafsiran besar kemungkinan bisa terjadi. Misalnya, jika seseorang tak mengerti kalam khabari dan kalam insya’i, maka yang bersangkutan bisa keliru dalam menentukan kalimat perintah dan kalimat informasi biasa, yang pada ujungnya adalah keliru di dalam meng-istinbath-kan hukum dari satu nash.

Kita sekarang menyaksikan betapa banyaknya kekeliruan dalam penerjemahan al-Qur’an, karena sang penerjemah tak disangga dengan penguasaan ilmu alat yang memadai. Misalanya, kerap para da’i menerjemahkan ayat al-Qur’an “fankihu ma thaba lakum min al-nisa’ matsna wa tsulatsa wa ruba’” dengan “nikahilah perempuan-perempuan yang kamu sukai, dua, tiga, dan empat”.

Terjemahan itu keliru. Yang benar adalah, “nikahilah perempuan-perempuan yang suka kepadamu”. Jelas, sekiranya terjemahan pertama telah menjadikan perempuan sebagai obyek, maka terjemahan kedua telah menempatkan perempuan sebagai subyek.

Begitu juga, jika seseorang tak mengerti fungsi dan arti “huruf jar”, maka akibatnya bisa fatal. Huruf “ba’” saja memiliki beragam makna. Ia tak hanya bermakna “dengan”, melainkan juga “bertemu” (li al-ilshaq), li al-isti’anah, dan seterusnya.

Kalimat yang seringkali menjadi batu uji, mengerti dan tidaknya santri terhadap fungsi dan arti huruf jar “ba’” adalah “man tawadhdha’a bi baul l-khinzir, shahha wudhu’uhu”. Jika tak jeli, maka kalimat itu akan diterjemahkan demikian, “barangsiapa berwudhu dengan kencing babi, maka sahlah wudhu’nya”.

Terjemahan yang benar adalah “barangsiapa berwudhu bertemu dengan kencing babi, maka wudhu’nya sah”. Contoh lain adalah “al-hamdu lillah rabb al-‘alamin” yang diartikan “segala puji bagi Allah yang mengatur alam semesta”.

Tentang terjemahan itu, tak semua pelajar Islam tahu, darimana kata “segala” tersebut dipungut. Hanya para santri yang telah mempelajari macam-macam “al” yang akan mengerti bahwa “al” dalam “al-hamdu” berfungsi “li al-istighraq” yang berfungsi “menghabiskan” segala jenis pujian dan mengembalikannya hanya kepada Tuhan; pujian seseorang pada orang lain hakekatnya adalah pujian orang itu pada Allah sebagai sang Pencipta manusia.

Demikian seterusnya. Yang di ujungnya paparan ini hendak menunjukkan bahwa mempelajari ilmu alat adalah niscaya bukan hanya ketika hendak mengeksplorasi isi kitab kuning dan buku-buku berbahasa Arab lainnya melainkan juga saat ingin menimba makna yang bersembunyi di balik lipatan huruf dan aksara al-Qur’an.

 

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.