Home » Lembaga » Pesantren » Lily Zakiyah Munir: “Pesantren Harus Pertahankan Jati Dirinya”
Lily Zakiyah Munir (Foto: women-without-borders.org)
Lily Zakiyah Munir (Foto: women-without-borders.org)

Lily Zakiyah Munir: “Pesantren Harus Pertahankan Jati Dirinya”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Mengaitkan dunia pesantren dengan terorisme merupakan penilaian yang gegabah. Namun beberapa faktor internal dan eksternal pesantren mungkin saja ikut mempengaruhi corak keberagamaan yang diajarkan dunia pesantren. Berikut perbincangan Novriantoni Kahar dan Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Lily Zakiyah Munir, direktur Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes), Kamis (1/12) lalu.

 

Ibu Lily, apa komentar anda soal anggapan keterkaitan dunia pesantren dengan isu terorisme?

Antara percaya dan tidak percaya. Tidak percaya, karena selama ini pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan keagamaan dan transformasi sosial yang dikenal sangat kukuh menjaga nilai-nilai keragaman, perbedaan, serta sangat akomodatif terhadap budaya lokal. Karena itu, posisi saya antara percaya dan tidak percaya. Mungkin, beberapa pesantren bisa saja tidak mampu bertahan sebagai sub-kultur tersendiri seperti tesis yang pernah dikemukakan Gus Dur dulunya.

Sebatas pemahaman kita selama ini, ada tiga elemen yang membuat pesantren mampu menjadi sub-kultur tersendiri. Pertama, pola kepemimpinan yang mandiri dan tidak terkooptimasi kepentingan-kepentingan berjangka pendek. Elemen ini sungguh sangat penting bagi pesantren.

Artinya, atasan seorang kiai itu hanyalah Allah. Tidak ada kelompok politik, aparatur negara, birokrat, atau manusia lain, yang bisa mengintervensi terlalu jauh di dunia pesantren. Pola kepemimpinan seperti itu membuat pesantren menjadi unik.

Kedua, kitab-kitab rujukan yang digunakan di banyak pesantren, umumnya terdiri dari warisan peradaban Islam dari berbagai abad. Kalau itu dikaji betul, pengetahuan yang akan diserap para santri pesantren akan sangat luas sekali. Dari situ mereka tidak hanya belajar bagian fikih yang rigid, sempit, kaku, hitam-putih, dan halal-haram saja, tapi juga ilmu-ilmu ushul fikih, kalam, tasawuf, dan lain-lain.

Semua itu menunjukkan kearifan dan keindahan Islam. Mestinya itu akan membentuk wawasan keislaman yang padu dan utuh bagi santri, karena mereka mendalami agama tidak sekadar pilihan hitam-putih yang nampak di permukaan.

Sementara elemen ketiga sub-kultur pesantren adalah sistem nilai atau values system yang diterapkan di pesantren itu sendiri. Sistem nilai itulah yang nantinya akan dibawa dalam proses kehidupan mereka di masyarakat. Di sini kita mengenal nilai-nilai dasar pesantren, seperti al-ushûl khamsah (lima prinsip dasar) yang diadopsi dari paham Ahli Sunnah.

Apa saja al-ushûl al-khamsah atau “pancasila”-nya pesantren itu?

Yang pertama prinsip tawâsuth yang berarti tidak memihak atau moderasi. Kedua tawâzun, atau menjaga keseimbangan dan harmoni. Ketiga, tasâmuh,atautoleransi. Keempat adl atau sikap adil; dan kelima tasyâwur atau prinsip musyawarah.

Nah, “pancasila” pesantren itu tidak hanya sekadar hiasan kata, tapi terinternalisasi dan diprektikkan dalam dunia pesantren. Sebab, komunitas pesantren itu hidup seperti dalam akademi militer selama 24 jam, dan menjalankan aktivitas pendidikan sejak sebelum subuh sampai kembali tidur. Jadi, dunia pesantren sesungguhnya membuat miniatur dunia ideal mereka sendiri.

Tapi apakah prinsip-prinsip dasar pesantren itu masih tampak hidup sampai sekarang?

Pesantren sebagai institusi, tentunya juga termasuk dalam lingkup dunia global yang tidak bisa lepas dari pengaruh luar dirinya. Derasnya arus informasi lewat media, hubungan antar-negara, antar-institusi, antar-organisasi, seperti jalur sumbangan dan bantuan dengan berbagai motifnya, tentu ikut mempengaruhi dunia pesantren.

Pesantren sedikit banyaknya tidak bisa lepas dari pengaruh global itu. Pesantren yang tidak mampu mempertahankan “pancasila”-nya tadi, bisa jadi akan terjebak dalam permainan politik global. Dengan begitu, mereka tanpa sadar dapat saja berada dalam jaringan yang punya egenda tertentu, tidak lagi seperti yang dimaui pesantren itu secara “konvensional”.

Artinya, kalaupun sebuah pesantren mengalami disorientasi, itu bisa disebabkan oleh dua faktor. Faktor internal berupa merosotnya etos elemen-elemen yang telah kita sebutkan tadi, sementara faktor eksternal seperti pengaruh jaringan global. Keduanya saling berkaitan.

Lemahnya peran kiai atau kepemimpinan pesantren yang selama ini dikenal independen, mandiri, dan tidak terkooptasi oleh kepentingan politik, ekonomi, ataupun ideologi di luar pesantren, bisa berakibar buruk bagi sebuah pesantren. Dulu, pesantren benar-benar bagaikan sebuah kerajaan kecil. Tapi sekarang, banyak kepemimpinan pesantren sudah tidak jadi panutan lagi.

Kedua, kurikulum pesantren juga sebuah problem yang harus diselesaikan secara komprehensif. Tapi yang kita harapkan sebenarnya bukan hanya perbaikan kurikulum, tapi koreksi dan kritik ke dalam pesantren dan masayarakat. Apakah pola keberagamaan yang kita ajarkan selama ini memang sudah tepat?

Jadi, misi ini tidak hanya harus dilakukan pesantren, sebab pesantren hanyalah salah satu institusi pendidikan. Soal corak keberagamaan kita adalah tanggung jawab semua kaum muslim. Jadi pertanyaannya bisa diperluas: apakah perilaku kita sebagai muslim sudah mencerminkan ajaran-ajaran dan sistem nilai agama yang menghendaki toleransi dan kedamaian?

Kurikulum pesantren memang masih perlu dipertanyakan. Tapi itu hanyalah salah satu aspek perubahan dalam masyarakat. Yang lebih penting adalah implimentasi perubahan mental attitude atau sikap mental, dan paradigma keberagamaan kita semua. Kita diharapkan kembali ke corak Islam alaIndonesia yang dikenal menghargai keragaman. Sekarang, berbeda pendapat soal agama saja sudah dianggap kafir. Dan sayangnya, ada lembaga keagamaan yang justru memotori pengkafiran itu.

Apakah kondisi keberagamaan di luar pesantren juga berpengaruh ke dalam pesantren?

Dinamika kehidupan global sekarang ini memang sangat tinggi. Dalam dinamika itu ada berbagai kepentingan ideologis, ekonomis, politis, dan lainnya, yang bermain. Nah, yang diperlukan adalah bagaimana pesantren mampu berkiprah mempertahankan pakemnya.

Tantangan terbesar pesantren adalah situasi dan kondisi nasional dan internasional yang sedang menghadapi berbagai krisis. Itu sedikit banyak mempengaruhi daya tahan pesantren sebagai sub-kultur tersendiri. Jadi rumusnya: bagaimana pesantren mampu bertahan dari pengaruh-pengaruh ekologis itu, lalu mengembangkan misi pencerahan umat yang sangat dibutuhkan.

Artinya, sebagai institusi pendidikan agama, pesantren diharapkan memberi respons positif untuk mengupayakan tegaknya nilai-nilai moralitas yang mereka sudah punya. Pesantren hendaknya tidak terikut arus permainan-permainan luar, dan jangan pula mengalami devaluasi atau penyusutan nilai-nilai luhur yang mereka perjuangkan.

Apakah pengaitan pesantren dengan isu terorisme hanya agenda global untuk menyudutkan institusi pendidikan Islam yang sudah banyak berjasa bagi dunia pendidikan Indonesia?

Ada benar dan tidaknya. Secara keseluruhan, tanggungjawab mengubah corak keberagamaan masayarakat itu bukan hanya tanggung jawab pesantren, tapi tanggung jawab semua. Tapi kalau dikatakan pesantren tak bisa dipersalahkan sama sekali juga tidak benar. Di satu sisi, beberapa pesantren memang sudah terlepas dari pakem konvensionalnya sebagai institusi yang unik, yang tidak terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan yang sempit.

Di sisi lain, hilangnya nilai-nilai dasar pesantren juga dapat kita saksikan. Saya sering berkunjung ke beberapa pesantren untuk mengamati sikap dan perlakuan mereka terhadap perempuan atau orang yang berbeda agama. Beberapa di antaranya sangat memprihatinkan. Untuk itu, kita perlu melakukan refleksi kritis, apakah yang kita lakukan selama ini sebagai seorang muslim sudah tepat?

Corak keberagamaan di luar pesantren tentu lebih bermasalah. Ramadan kemarin, saya salat tarawih di mushala dekat rumah. Penceramahnya saat itu berbicara dengan semangatnya, sembari mengampayekan rasa kebencian pada kelompok tertentu. Saya sedih karena itu terjadi di bulan sudi Ramadan yang seharusnya meningkatkan kualitas hubungan kita antar sesama manusia.

Apakah tren-tren fundamentalisme dan radikalisme di tingkat global juga mempengaruhi corak keberagamaan kita?

Ada analisis Khalid Abou El Fadl, penulis buku Speaking in God Name yang bisa menjelaskan itu. Sebagai anggota International Commission on Religious Freedom (Komisi Internasioanal untuk Kebebasan Beragama), dia pernah menulis di Wall Street Journal (edisi November 2003) tentang hubungan antara ideologi Al-Qaidah dan kucuran dana petro-dolar Arab Saudi.

Berdasarkan riset yang ia lakukan, Abou El Fadl menyimpulkan bahwa beberapa dana yang datang dari Saudi, oleh sebagian kelompok sudah diselewengkan penggunaanya untuk membiayai sekolah-sekolah agama dan kegiatan-kegiatan yang disinyalir ikut mendukung semangat intoleransi di seluruh dunia.

Apakah fakta itu yang pernah anda saksikan di “pesantren-pesantren” Taliban waktu berkunjung ke Afganistan tahun lalu?

Di sana namanya bukan pesantren, dan lokasinya tidak tepat di Afganistan, tapi lebih ke sebelah selatan yang berbatasan dengan Pakistan, seperti daerah Peshawar, Kandahar, dan Jalalabad. Secara kultural, penduduk yang hidup di kawasan-kawasan itu memang sangat konservatif, berlainan dengan kawasan Afganistan utara yang kebanyakan dihuni kaum Syiah, seperti di Mazar Sharif.

Tapi radikalisasi sesungguhnya tidak terjadi pada keseluruhan orang Afganistan, karena saya merasakan betapa hangat dan terbukanya mereka terhadap orang lain. Karena itu saya pernah mengatakan, kalau Amerika mengutuk orang-orang Afganistan sebagai teroris, itu adalah kesalahan besar. Kutukan itu sama dengan menyebut orang Indonesia yang mayoritas moderat ini sebagai teroris.

Yang relatif radikal hanyalah suku-suku tertentu, dan kebanyakan mereka berada di wilayah Pashtun di bagian selatan. Kehidupan mereka betul-betul sudah dipengaruhi permainan politik global. Mereka inilah yang berpandangan keagamaan sangat rigid seperti yang dicontohkan kaum Taliban yang menghancurkan warisan sejarah Afganistan yang luar biasa, yaitu patung Budha di Bamian.

Ini mungkin disebabkan doktrin keagamaan yang dominan dianut di sana, yaitu Wahabisme, yang mengharamkan banyak hal, seperti patung-patung. Mereka terkenal sangat kaku dalam menerjemahkan Islam. Kalau di dalam Alqur’an disebutkan hukum potong tangan bagi pencuri, ya diterjemahkan dalam bentuk potong tangan sungguhan. Pandangan keagamaan seperti itu menjadi pengalaman yang traumatis bagi kebanyakan orang Afganistan.

Ketika Afganistan dijajah Rusia, beberapa aspek budaya Rusia seperti dansa-dansa masuk ke sana. Rakyat Afganistan tidak suka budaya itu, karena itu mereka beharap kelompok Taliban akan menegakkan Islam secara penuh. Tapi tidak lama Taliban berkuasa, mereka segera menerapkan aturan-aturan yang sangat kaku yang didasarkan pada pandangan keagamaan mereka yang sempit.

Saat berkuasa, Taliban langsung menutup sekolah-sekolah untuk perempuan. Anak perempuan dilarang sekolah, sementara yang laki-laki hanya belajar Alquran dan hadis. Tidak ada ilmu-ilmu umum dalam kurikulum Taliban. Perempuan tidak boleh bekerja.

Mereka yang sebelumnya sudah menjadi dokter, dosen-dosen di Universitas Kabul, tidak dibolehkan keluar rumah lagi. Kalau perempuan hendak keluar rumah, mereka harus ditemani muhrimnya. Akhirnya, selama 4-5 tahun kekuasaan Taliban, rakyat Afganistan betul-betul tersiksa. Karena itu, sebetulnya mereka sangat tidak suka pada Taliban.

Apakah pola pandang keagamaan sempit itu sudah menjangkiti beberapa pesantren di tanah air?

Ya, saya melihatnya. Contohnya soal pandangan terhadap aurat perempuan yang tak boleh kelihatan sama sekali, sehingga diwajibkan bercadar. Juga pengharaman menghormati simbol-simbol negara seperti bendera. Kalau di sini ppla pandang seperti itu hanya dianut satu-dua pesantren, di Afganistan era Taliban, itulah yang dipaksakan oleh penguasa. Ketika Taliban berkuasa, perempuan yang kelihatan betisnya saja dihukum cambuk.

Saya banyak mendengar cerita bagaimana para talibatau santri di Afganistan itudibentuk dan di-brainwash pola pikirnya. Anak-anak yang masih berumur 10, 11, dan 12 tahun direkrut, lalu hanya diajari mengaji Alqur’an dan hadis.

Kalau pengajarannya komprehensif tentu tidak mengapa. Tapi nyatanya, yang lebih banyak dijejalkan hanya ayat-ayat pedang. Sisi keagamaan yang diajarkan hanyalah bagian yang membangkitkan patriotisme keagamaaan. Nilai-nilai Islam seperti “pancasila” pesantren di sini tidak ada dalam benak mereka.

Karena itu hasil bentukan sedari kecil, bisa dibanyangkan generasi seperti apa yang akan muncul. Sebuah penelitian pernah coba menjawab mengapa mereka begitu tega memukul perempuan, membunuh, atau memotong tangan. Jawabnya: sejak kanak-kanak, mereka memang telah banyak diambil dari asuhan orangtuanya. Anak-anak itu bertumbuh tanpa kasih sayang. Karena itu, mudah sekali membayangkan corak produk yang dibesarkan tanpa kasih sayang serta dijejali ideologi-ideologi kekerasan itu.

Kalau begitu, apa perbedaan mendasar santri pesantren di Indonesia dengan talib di Afganistan?

Yang membedakannya adalah faktor-faktor budaya dan politik. Di Indonesia, yang namanya santri itu besar di pesantren tanpa agenda politik apa-apa. Hidup di pesantren adalah untuk belajar agama 24 jam, dan terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar yang ada di dalamnya.

Tapi agenda taliban memang sudah lain. Ada aktor di belakang sana yang membentuk, mengarahkan, dan memproyeksikan mereka untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu. Jadi, kuncinya sekarang: bagaimana hal seperti itu tidak terjadi di Indonesia.

Kalau begitu, langkah-langkah konkret apa yang perlu dilakukan pesantren saat ini, terlepas mereka terkait dengan isu terorisme atau tidak?

Menurut saya,pesantren perlu dilepaskanlah dari berbagai kepentingan luar itu. Kembalikan pesantren ke jati diri dan khittah-nya. Etos keikhlasan misalnya, harus kembali diperkuat. Para pengasuh pesantren harus percaya diri dan kuat bertahan dari iming-iming bantuan demi memperjuangkan suatu ideologi atau kepentingan yang sesaat.

Masih banyak pesantren yang tetap berjalan pada relnya sampai saat ini. Di dalamnya, kita masih dapat menemukan komunitas yang sangat toleran dan mampu mengakomodasi perbedaan-perbedaan. Di Jombang atau tempat-tempat lainnya, masih banyak sekali pesantren yang sangat-sangat toleran. Di pesantren tempat saya dibesarkan di Jombang, pendeta dapat berdialog dengan kiai dengan menggunakan bahasa Arab.

Di sana sang pendeta—seorang Belanda yang pernah lama di Mesir—dapat berinteraksi secara wajar dengan kalangan pesantren. Suatu kali, dia menuliskan kenangan itu di dalam memoarnya: “Itulah hadiah terindah dalam hidupku”. Artinya, di sebuah kampung kecil itu, dia bisa hidup bersama dan saling memahami, sekalipun dalam perbedaan, dengan seorang kiai.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.