Home » Mazhab » Ahmadiyah » Ahmadiyah dan Dua Jenis Kenabian
Masjid Ahmadiyah di Paramaribo, Suriname.
Masjid Ahmadiyah di Paramaribo, Suriname.

Ahmadiyah dan Dua Jenis Kenabian

4.4/5 (58)

 

IslamLib – Salah satu titik pertengkaran antara kaum Sunni pada umumnya dan Ahmadiyah ialah mengenai perkara kenabian. Kaum Sunni percaya bahwa kenabian telah berhenti dengan diutusnya nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad. Doktrin finalitas kenabian ini menjadi batu-sudut yang sangat penting dalam keyakinan umat Islam di luar Ahmadiyah.

Ahmadiyah datang dengan ide yang lain. Ide ini bertentangan secara diametral dengan keyakinan kaum Sunni. Mereka percaya bahwa ada dua jenis kenabian: kenabian legislatif (nubuwwah tasyri’) dan kenabian afirmatif. Kenabian tasyri’ ialah jenis kenabian di mana nabi di sana membawa agama baru, dengan syariat baru. Sementara kenabian afirmatif tidak demikian. Di sana, nabi tidak datang dengan agama dan ajaran baru. Ia hanya menegaskan dan memperkuat agama yang dibawa nabi sebelumnya.

Dalam pandangan Ahmadiyah, yang berakhir dan tidak ada kelanjutannya lagi adalah kenabian jenis pertama. Nabi yang membawa agama dan syariat baru seperti Nabi Muhmmad memang sudah tak ada lagi. Nabi seperti itu sudah berakhir dengan kedatangan Muhammad. Tetapi kenabian jenis kedua, menurut Ahmadiyah, masih bisa terus berlanjut. Mereka meyakini bahwa pendiri gerakan ini, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), adalah nabi dalam pengertian kedua itu.

Bagaimana menilai keyakinan Ahmadiyah ini dalam terang keyakinan umat Islam pada umumnya?

Sebagian besar umat Islam tentu saja menolak keyakinan Ahmadiyah ini. Mereka menganggap keyakinan itu telah menyimpang dari ortodoksi, dari keyakinan pakem yang dianggap oleh umat Islam sebagai satu-satunya keyakinan yang benar dan tepat. Tetapi, jika kita telaah secara mendalam, apa sih yang ada di balik doktrin finalitas kenabian ini? What is at stake here?

Di balik doktrin ini, saya menduga ada asumsi tertentu. Yaitu, nabi terakhir adalah nabi yang menutup seluruh rangkaian kenabian. Dia adalah nabi pamuncak. Kebenaran paling “hakiki” akhirnya disingkap oleh nabi yang terakhir. Dengan kata lain, di balik konsep finalitas kenabian ini terkandung suatu asumsi bahwa kebenaran puncak dan terlengkap dicapai dan diartikulasikan oleh nabi terakhir itu.

Jika asumsi ini benar, apakah keyakinan Ahmadiyah membahayakan asumsi itu? Menurut saya: tidak. Sebab, orang-orang Ahmadiyah tetap percaya bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dalam pengertian nubuwwa al-tasyri’. Status Nabi Muhmmad sebagai “the pinnacle of truth”, puncak kebenaran tak diingkari oleh orang-orang Ahmadiyah. Jadi, kenapa takut pada Ahmadiyah?

Doktrin finalitas kenabian juga berkaitan dengan keyakinan umat Islam yang lain, yakni, bahwa Islam adalah agama terakhir yang paling sempurna. Jika ada nabi baru setelah Muhammad, ada kekhawatiran kesempurnaan Islam itu akan dibatalkan oleh nabi baru. Agar kesempurnaan itu terlindungi dengan aman, muncullah dotrin tentang finalitas kenabian.

Sekali lagi, apakah keyakinan Ahmadiyah tentang nabi baru mengganggu kesempurnaan Islam? Tentu saja tidak. Sebab, nabi baru yang diyakini oleh pengikut Ahmadiyah tidak membawa agama baru. Dia hanya bertugas untuk memperkuat agama yang ada sebelumnya, yaitu Islam. Ahmadiyah tidak mengkleim adanya agama baru, meskipun oleh banyak umat Islam yang lain, mereka dipaksa untuk mendirikan agama terpisah.

Keyakinan tentang “kebenaran terakhir” ini sebetulnya bukan khas Islam saja. Dalam agama Yahudi, sebagaimana tampak dalam pandangan filosof besar Yahudi Musa ibn Maimun atau Maimonides (w. 1204), Musa adalah nabi terbesar terakhir. Setelah Musa memang ada nabi-nabi yang lain, tetapi dia tetap nabi terbesar. Nabi-nabi setelah Musa tidak membawa hukum baru. Mereka semua melanjutkan “covenant” atau perjanjian yang dibawa oleh Musa.

Dalam Kristen, doktrin yang nyaris serupa juga kita temukan. Yesus, dalam pandangan Kristen, dianggap sebagai satu-satunya nama melalui mana manusia bisa mencapai keselamatan, seperti ditegaskan (Kisah Para Rasul 4:12). Keyakinan ini pernah dikritik dengan tajam oleh pemikir Kristen, Paul Knitter, dalam bukunya No Other Name? (1985).

Saya pernah menulis sebuah twit pendek (mana ada twit panjang?): doktrin finalitas kenabian harus ditinjau ulang. Saya memang mengajak umat Islam untuk meninjau kembali doktrin itu. Bukan dalam rangka menghimbau mereka untuk meninggalkan keyakinan mereka bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir. Sebaliknya, saya hendak mengajak umat umat berpikir ulang: yang berakhir itu kenabian yang mana? Kenabian tasyri’ atau kenabian secara keseluruhan?

Tentu saja dalam Quran dan hadis tak akan anda temukan jawaban atas pertanyaan ini. Sebab dalam dua sumber utama Islam itu tak kita jumpai sebuah pembedaan antara dua jenis kenabian seperti diajukan oleh Ahmadiyah itu. Jangankan mengenai pembedaan ini. Bahkan definisi tentang nabi dan rasul pun tak ada di sana. Definisi nabi dan rasul yang kita kenal selama ini adalah produk dari pemikiran para ulama dari generasi pasca-nabi.

Menurut saya, tak ada yang salah dengan pembedaan yang dibikin oleh Ahmadiyah itu. Secara historis, memang kita jumpai dua jenis kenabian itu dalam sejarah nabi-nabi Israel sebelum Islam. Seperti tampak dalam pemikiran Maimonides di atas, Musa lah nabi yang sebenar-benar nabi, dalam pengertian dialah sosok yang membawa “commandement” atau perintah Tuhan. Katakan saja, Musa lah satu-satunya nabi tasyri’ dalam sejarah keyahudian. Sementara nabi-nabi setelahnya hanyalah meneruskan saja “jalan” yang sudah dibuka oleh Musa.

Para ulama Sunni biasa memakai dalil berikut ini: jika anda bisa menghindari tindakan “takfir” atau mengkafirkan seseorang dengan “mahmal al-ta’wil”, kemungkinan ta’wil atau interpretasi, maka sebaiknya tindakan itu dilakukan. Selagi ada jalan untuk menghindarkan pengkafiran dengan jalan menakwilkan keyakinan orang dengan kemungkinan tafsir tentu, sebaiknya jalan itu ditempuh.

Menurut saya, jalan ini bisa kita pakai dalam kasus Ahmadiyah. Ada kemugkinan untuk menakwilkan keyakinan Ahmadiyah tentang kenabian dengan cara begitu rupa sehingga kita bisa menghindarkan diri untuk “mengkafirkan” mereka. Yaitu, dengan cara kembali ke teori tentang dua jenis kenabian tersebut. Sebagaimana kita lihat di atas, pengikut Ahmadiyah tetap mengakui Muhamad sebagai nabi terakhir dalam pengertian nabi legislator.

Dengan kata lain, masih ada titik temu antara Ahmdiyah dengan umat Islam yang lain dalam soal teori kenabian. Jadi, tak ada gunanya umat Islam melakukan permusuhan terus-menerus terhadap Ahmadiyah, bahkan melakukan tindakan kekerasan terhadap mereka.[]

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.