Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Mazhab » Ahmadiyah » Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah
Pegawai Pemerintah Kota Bekasi menyegel Masjid Ahmadiyah (Photo: jawabaratnews.com)

Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah

4.29/5 (7)

Bagaimana Ahmadiyah Bertafsir? Ahmadiyah memiliki cara pandang dan tafsir yang berbeda dengan kebanyakan umat Islam. Sejumlah ayat dalam al-Quran ditafsirkan secara “tak lazim.” Ada dua yang paling kontroversial. Pertama, adalah pandangannya tentang adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah khatam al-anbiya yang membawa syariat. Dengan demikian, terbuka kemungkinan bagi hadirnya seorang nabi yang berfungsi melanjutkan dan menegakkan syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Bagi Ahmadiyah, kata “khatam” dalam ayat khatam al-nabiyyin berarti bahwa Nabi Muhammad adalah stempel nabi-nabi. Nabi Muhammad adalah nabi yang mencapai puncak ruhaniyah yang tak akan pernah dimiliki atau dicapai oleh nabi lain.

Dengan demikian, Nabi Muhammad bukanlah penutup fisik-jasmani kenabian sehingga kehadiran seorang nabi tak boleh terjadi, melainkan penutup seluruh pencapaian puncak spiritual yang tak mungkin digapai oleh yang lain. Artinya, masih dimungkinkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad, dengan kualitas ruhani yang lebih rendah dari Nabi Muhammad dan yang berfungsi untuk melanjutkan syariat Nabi Muhammad.

Tafsir yang dikemukakan Ahmadiyah ini jelas berbeda dengan pandangan para ulama Ahlus Sunnah yang berpendirian bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang menutup segala jenis kenabian. Bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang juga menerima wahyu.

Bagi Ahlus Sunnah, aliran wahyu sudah terhenti bersamaan dengan berhentinya kenabian. Atas dasar itu, sejumlah ulama sunni menyesatkan Ahmadiyah. Bahkan tak sedikit orang berpendapat bahwa darah jemaat Ahmadiyah boleh ditumpahkan. Maka tindak kekerasan dan pembasmian terhadap jemaat Ahmadiyah menjadi tak terhindarkan.

Kedua, Ahmadiyah mempunyai perbedaan tafsir dengan umat kristiani tentang sosok Yesus Kristus. Misalnya, menurut Ahmadiyah, Yesus meninggal dalam usia 120 tahun, di Kashmir India. Pandangannya ini konon didasarkan kepada Hadits riwayat Thabrani, “Rasulullah berkata kepada Fathimah: Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Isa hidup 120 tahun lamanya” [qala Rasulullah li Fathimah: akhbarani Jibrilu an Isa ibn Maryam asya isyrina wa mi’atan sanatan]. Dan Yesus pun tak naik ke langit, sebagaimana pandangan umum umat Islam dan umat kristiani.

Bagi Ahmadiyah, sekiranya Yesus naik ke langit, itu berarti Allah mempunyai tempat, yaitu langit. Jelas, mustahil bagi Allah untuk mempunyai tempat, karena Allah tak berupa jasad. Ahmadiyah tak menafsirkan kalimat “rafa’ahu Allah” dalam al-Quran sebagai diangkatnya Yesus secara jasmaniah ke atas langit, melainkan diangkatnya derajat Yesus secara ruhaniah. Fisik-jasmani Yesus terbaring di Kashmir, sementara ruh-spiritualnya berada dekat di sisi Allah. Tentang tafsirnya ini, kebanyakan para ulama cenderung tak mempersoalkannya. Namun, pandangan Ahmadiyah ini potensial mengguncangkan bangunan teologi dan doktrin kalangan kristiani.

Jalan Kontekstualisasi. Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak hanya keberatan verbal.

Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian orang-orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru.

Lalu, dalam konteks internal umat Islam Indonesia yang terus menegang, bagaimana solusi terbaiknya. Pertama, sebagian orang mengusulkan agar Ahmadiyah mengalah dengan menggunakan kata lain selain kata nabi untuk menyebut sang junjungan Mirza Ghulam Ahmad. Bukankah yang ditolak oleh umat Islam lain adalah penggunaan kata “nabi” kepada siapapun setelah Nabi Muhammad.

Karena kata “nabi” itu adalah bahasa Arab, apakah jemaat Ahmadiyah di Indonesia misalnya berkenan untuk menggunakan nama Indonesia atau nama-nama daerah sesuai dengan tempat tinggal jemaat Ahmadiyah tersebut. Misalnya, “kanjeng khalifah,” “Pangeran,” “tuan guru,” “kiai,” dan lain-lain.

Kedua, setelah yang pertama, segera lakukan pembaharuan terhadap tafsir-tafsir keislaman Ahmadiyah yang konon telah lama mengalami stagnasi. Dalam kaitan itu, dibutuhkan seorang pemikir-pembaharu dalam tubuh Ahmadiyah yang bertugas mengkontekstualisasikan pandangan-pandangan lama atau meremajakan tafsir-tafsir tua yang mungkin sudah aus.

Dalam konteks Indonesia, NU bisa menjadi pelajaran. Setelah berpuluh tahun NU berada dalam kubangan konservatisme, maka muncullah kelompok pembaharu seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dengan peran Gus Dur dan tokoh-tokoh lain, NU mengalami dinamisasi pemikiran keislaman yang signifikan.

Jika Ahmadiyah meyakini hadits bahwa dalam setiap 100 tahun akan muncul seorang pembaharu, maka saatnya ulama-ulama Ahmadiyah berhimpun untuk segera menyepakati; mana doktrin yang diperlukan dan mana doktrin yang sudah tak seharusnya dipertahankan.

Ketiga, jemaat Ahmadiyah perlu melakukan diversifikasi rujukan kitab. Tak melulu merujuk pada kitab-kitab karya Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah kiranya perlu melebarkannya pada kitab-kitab lain. Membaca buku-buku seperti ushul fikih al-Syafii, al-Syathibi dll, juga buku-buku filsafat Ibn Sina dll menyebabkan Ahmadiyah tak berada dalam benteng yang tertutup. Pada waktu yang bersamaan, buku-buku Ahmadiyah pun harus siap dimasuki oleh kelompok umat Islam lain. Tak boleh ada buku tertutup yang hanya boleh diakes jemaat Ahmadiyah.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.