Home » Perbincangan » Achmad Chodjim: “Agama Bukan Alat Penguasa”
Achmad Chodjim
Achmad Chodjim

Achmad Chodjim: “Agama Bukan Alat Penguasa”

5/5 (2)

Tak selamanya Islam dapat berkembang menjadi basis moral yang menuntun umatnya ke arah hidup yang lebih baik. Islam dan agama apapun, ada kalanya justru berkembang sebagai identitas sektarian, serta alat kekuasaan dan penaklukan atas otonomi dan kebebasan masyarakat.

Tren seperti itu selalu terjadi, baik di masa Siti Jenar maupun di era sekarang. Itulah antara lain refleksi keagamaan Achmad Chodjim, pegawai sebuah perusahaan Jepang di Jakarta, yang telah banyak menulis buku tentang aspek-aspek esoteris dalam Islam.

Kepada Ulil Abshar-Abdalla dari KIUK, lulusan IPB yang telah menulis buku Syekh Siti Jenar, Islam Esoteris, dan Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga,itu mengungkap pergulatan imannya, Kamis (10/02) kamarin. Berikut petikannya.

 

Pak Chodjim, Anda telah mengarang beberapa buku agama, terutama aspek-aspek yang esoterik Islam. Mengapa Anda tertarik pada aspek-aspek yang bersifat mistikal atau esoteris dalam agama?

Sejauh pengamatan saya, ada pemahaman yang keliru selama ini tentang kaitan antara unsur yang mistis atau makrifat dalam agama dengan kehidupan nyata. Ketika orang menceburkan diri ke dalam khazanah mistik, seolah-olah dia akan menjadi orang terasing, hidup di awang-awang, dan memisahkan diri dari hidup yang ramai.

Maka saya lalu coba mencari tokoh yang sangat intens bergaul dengan manusia lain, sekaligus seorang mistikus. Di situlah saya berjumpa dengan sosok Syeh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Kebetulan, kedua tokoh itu asli Indonesia, dari tanah Jawa, dan akrab dengan budaya lokal.

Mengapa memilih Siti Jenar, sosok kontroversial yang oleh Walisongo dianggap penyebar aliran sesat, kurang tepat, dan tuduhan lainnya?

Saya menyadari, selama masa Orde Baru, orang Indonesia sangat alergi mendengar nama Siti Jenar. Belum-belum sudah muncul statementbahwa dia adalah wali yang sesat, melawan arus, mbalelo, dan seterusnya. Bagi saya, situasi semacam itu tidak bisa kita biarkan.

Kita harus mampu mendidik masyarakat secara terbuka. Kalau Siti Jenar dianggap sesat, kita mesti tahu di mana letak sesatnya. Mungkin saja dia justru orang yang berusaha membuka cakrawala kehidupan secara lebih luas. Hanya karena sudah ada capsesat yang tergesa-gesa, orang tidak pernah mengenal pola atau alam pikirannya secara tepat.

Bagi saya, selama ini kita lebih banyak “mendengar” dari pada “tahu” tentang Siti Jenar ataupun Sunan Kalijaga. Kita mendengar cerita sana-sini, tapi sebenarnya tidak tahu. Banyak juga yang menulis buku tentang Siti Jenar selama ini, tapi umumnya yang ditulis hanya berupa kisah, hanya cerita-cerita. Sementara soal doktrinnya hampir tidak ada yang mau membahasnya.

Selama ini, orang mengenal Sunan Kalijaga sangat intens bergumul dengan kebudayaan, tapi orang tidak pernah tahu reasoning-nya atau alasan mengapa dia intens bergulat dengan budaya.

Sejak kapan Anda menaruh perhatian terhadap tokoh-tokoh seperti Siti Jenar dan Sunan Kalijaga?

Dimulai ketika masih kecil. Bagi saya yang terlahir sebagai orang Jawa Timur, tepatnya Surabaya, cerita-cerita tentang Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan lainnya, sudah sangat akrab sejak saya masih kecil. Saya dulu sering nonton ludruk maupun ketoprak. Dan di situ pasti ada lakon tentang Siti Jenar.

Nah, melalui refleksi pengalaman hidup sendiri, saya kemudian mulai bertanya: mengapa cuma cerita-cerita saja? Apa betul cerita itu sebagaimana adanya? Jangan-jangan cerita-cerita itu tidak ada juntrungannya?!

Bagi Anda, apa ajaran Siti Jenar yang masih relevan untuk saat ini dan jarang dikenal banyak orang khususnya dalam soal agama dan makna keberagamaan?

Makna agama dalam refleksi hidup Siti Jenar tidak begitu terkait dengan soal-soal seperti ibadah murni. Misalnya, dia menerjemahkan makna salat sebagai “kewajiban orang muslim dalam konteks hubungannya dengan Tuhan.”

Namun demikian, seseorang sudah bisa dianggap salat bila aktivitas hidupnya (seperti bertani atau apapun) selalu dilandasi oleh rasa ingat akan Tuhan.

Semacam eling, begitu?

Ya. Tapi eling itu sekadar kepercayaan. Yang diinginkan Siti Jenar, semua tindakan real kita antar sesama manusia, harus merupakan wujud dari refleksi keimanan kepada Tuhan. Siti Jenar juga beda dalam menerjemahkan makna zakat.

Menurutnya, zakat tidak harus fokus pada pengeluaran 2,5 % dari harta yang kita punya. Ketika seseorang merasa punya harta dan menemukan orang yang patut dibantu, maka dia harus segera keluarkan sebagian hartanya.

Itulah yang dia sebut zakat. Jadi, zakat baginya tidak bergantung pada waktu (setahun sekali atau haul) dan jumlah (volume yang mesti dikeluarkan sebagaimana ketentuan formal fikih).

Kalau Anda ringkaskan, apa pokok soal yang membedakan pandangan keagamaan Siti Jenar dengan umumnya umat Islam?

Kalau kita giat menelaah pandangan-pandangan keagamaan Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, kita akan menemukan bahwa agama bagi mereka merupakan basis moral kehidupan.

Untuk itu, tingkah laku, perbuatan dan tindakan seseorang, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya, haruslah merupakan perwujudan dari penghayatan keagamaan. Sementara umumnya masyarakat selalu menganggap agama dalam bingkai tersendiri.

Makanya, kadang kita melihat masjid penuh terisi, tapi korupsi tetap bersemi. Masjid penuh terisi, pencuri bisa lari di mana-mana. Nah, kondisi seperti itulah yang tidak dikehendaki Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga.

Pak Chodjim, Anda pernah mengecap pendidikan di IPB, bukan di perguruan tinggi agama. Mengapa Anda punya minat dan perhatian begitu besar terhadap masalah agama?

Memang agak aneh, karena di IPB saya belajar pertanian. Kita tahu, bukan hanya di IPB, tapi di semua universitas–terutama yang memiliki fakultas sains—soal agama bukan perhatian utama. Namun dalam perkembangannya, banyak sekali kalangan agamawan yang begitu intensif berusaha menerobos fakultas-fakultas ini.

Makanya, ada orang yang terbawa arus besar islamisasi kampus, dan ada juga yang justru prihatin akan arus besar itu. Terus terang, saya termasuk yang prihatin akan arus besar itu. Makanya, dengan jernih saya selalu berusaha membedakan antara bagaimana mestinya beragama, dan bagaimana belajar untuk mendapat ilmu yang saya tuju. Jadi saya tidak terbawa arus.

Apakah minat Anda pada kajian agama berkembang selama di IPB?

Selama di IPB, saya lebih memfokuskan diri untuk belajar ilmu pertanian. Prinsip itu tentu sudah absolut. Hanya saja, supaya tidak ketinggalan isu, waktu-waktu senggang saya gunakan untuk menelaah kembali cerita-cerita tentang Siti Jenar dan lainnya. Buku-buku babad yang selama ini asing, saya beli dan pelajari. Jadi saya mempelajari dua tokoh itu secara otodidak dan mencari sendiri bahan-bahannya.

Pak Chodjim, kini kegiatan agama di kampus-kampus sekuler marak sekali. Bagaimana Anda melihat gejala ini menurut wawasan Islam yang esoteris Siti Jenar?

Bagi saya, dalam hidup ini kita tidak pernah bisa lepas dari tren yang terjadi di dalam masyarakat. Ketika saya masuk IPB sekitar tahun 1980-an, tren Usrah cukup menguat, meski belum sampai seperti tahun 1990-an.

Hanya saja, pada masa itu mereka belum bisa melakukan kooptasi seperti yang bisa kita lihat sekarang ini. Makanya, dalam pergaulan sehari-hari di kampus, friksi-friksi belum terlalu timbul meski perbedaan pandangan tetap ada.

Konflik juga belum timbul, sekalipun potensinya ada. Potensinya disebut ada, karena masing-masing orang selalu ingin mempertahankan kebenaran versinya sendiri. Padahal, kita mestinya bisa membedakan antara kebenaran di tingkat intelektual dan kebenaran di tingkat realitas.

Jangan sampai kebenaran di tingkat intelektual mematikan kebenaran pada tingkat realitas. Umpamanya, orang yang berpandangan A benar, pada tingkat realitas mungkin belum tentu nyata. Tapi kebenaran intelektual itu kemudian dipaksakan untuk benar juga pada tingkat realitas. Akhirnya terjadilah kekerasan yang tidak kita inginkan.

Dari sudut padang Islam esoteris, apa yang kurang tepat dari pandangan keagamaan yang berkembang di kampus-kampus sekuler saat itu?

Pada masa itu, saya menyaksikan agama yang dikampanyekan tidak sebagai basis moral kehidupan, tapi lebih bernuansa politis. Berdirinya Usrah waktu itu menurut saya tidak bisa dilepaskan dari jangkauan-jangkauan politis dan kekuasaan.

Maksudnya, berdirinya mereka sebetulnya lebih bertujuan politik ketimbang semata-mata untuk tujuan agama. Mungkin karena itulah mereka lebih mudah berfriksi dengan kelompok-kelompok lain.

Kalau dikaitkan dengan pemikiran Siti Jenar, bagaimana Anda melihat pola keberagamaan di kampus-kampus kini?

Dari hasil pengamatan saya, Siti Jenar lebih menekankan pola kehidupan keagamaan yang lebih bernuansa merdeka. Dia tidak ingin dikuasai orang lain dan terus menerus menyerukan agar orang lain juga tidak berambisi menguasai orang lain. Makanya dia berontak terhadap kekuasaan Demak di masanya, karena dia tidak mau mengikuti satu pakem tertentu, baik dalam beragama ataupun pola kekuasaan.

Bagi Siti Jenar, agama merupakan jalan hidup, bukan alat kekuasaan dan penguasaan. Agama baginya menuntut orang untuk menjalani hidup yang benar dan bahagia. Kalau kita telaah lebih jauh, banyak sekali ajaran-ajaran Siti Jenar yang menyinggung soal hak dan kemandirian manusia.

Apakah Siti Jenar juga punya pandangan keagamaan yang menekankan soal kemerdekaan manusia?

Ya. Bahkan pandangannya dalam soal itu bisa dikatakan jauh melompat ke depan. Soal hak kemandirian ada dalam pelajaran Siti Jenar tentang pribadi. Ajarannya tentang pribadi, dalam ukuran zaman sekarang hampir sama dengan ajaran filsafat eksistensialis. Padahal, filsafat eksistensialis masa kini justru digunakan untuk wacana bantahan atas filsafat rasionalis zaman Kant, atau filsafat Kantian dan Cartesian.

Siti Jenar juga mengajarkan manusia untuk hidup secara nyata, tidak di dalam ilusi. Makanya Siti Jenar pernah melontarkan kritik yang lebih kurang berbunyi: “Jangan-jangan pikiran Anda hanyalah buah dari ilusi Anda pribadi, bukan betul-betul buah dari rasa ingat pada Tuhan!”

Kenapa dia melontarkan kritik seperti itu?

Karena banyak sekali orang yang pada masa itu, di awal perkembangan Islam di bawah kekuasaan Raden Fatah, yang sangat intensif melakukan zikir di masjid-masjid sebagai wujud dari angan-angan atau ilusi dalam kehidupan. Itu semua tidak terkait dengan praktik nyata kehidupan, seperti bagaimana usaha untuk bisa hidup lebih mandiri.

Nah, yang diinginkan Siti Jenar adalah: orang boleh berzikir, tetapi tidak semata-mata karena itu dianjurkan di bawah otoritas tertentu dan karena orang beragama dituntut untuk begini dan begitu.

Zikir yang diinginkan Siti Jenar adalah yang membuat orang bisa hidup dengan benar. Jadi dia selalu mengaitkannya dengan hidup secara benar. Bagi Siti Jenar, sungguh suatu nista bila seseorang terlihat bersembahyang dan berdzikir, tapi masih mencuri, memaksa, dan berhasrat tinggi untuk menguasai orang lain.

Saya kira, ajaran seperti itu cukup relevan dengan kehidupan keagamaan kita saat ini. Sebab kini, kita menyaksikan agama cenderung digunakan sebagai alat politik untuk menguasai orang lain, atau untuk memaksakan kebenaran sendiri-sendiri.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.