Home » Perbincangan » Aktivis » Lily Zakiyah Munir: “Afghanistan Pasca-Taliban Menjanjikan”
Lily Zakiyah Munir (Foto: women-without-borders.org)
Lily Zakiyah Munir (Foto: women-without-borders.org)

Lily Zakiyah Munir: “Afghanistan Pasca-Taliban Menjanjikan”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Masa depan rakyat Afghanistan pasca-Taliban akan menjanjikan harapan bilamana mereka dapat menentukan nasib sendiri secara bebas dan independen. Sejarah Afghanistan modern memberi pelajaran teramat mahal bagi mayoritas rakyat Afghanistan.

Selama 25 tahun terakhir, nasib mereka terombang-ambing antara ambisi negara-negara yang memangsa mereka dan represi rezim penguasa yang menyelewengkan kuasa dan agama untuk kepentingan masing-masing. Lantas bagaimana kondisi Afghanistan setelah mereka sukses melangsungkan pemilu presiden pada 9 Oktober 2004 lalu?

Novriantoni Kahar dari JIL berbincang-bincang dengan Lily Zakiyah Munir, direktur Cepdes (Center for Pesantren and Democracy Studies) yang sempat menjadi salah seorang “anggota KPU” Afghanistan, dan bermukim di sana selama enam bulan. Berikut perbincangan yang berlangsung Kamis (3/2) itu.

 

Ibu Lily, selama periode Mei sampai November 2004 kemarin, Anda berada di Afghanistan dan terlibat dalam mengurusi pemilu di sana. Bagaimana Anda bisa terlibat dalam pemilu di sana?

Selama enam bulan, saya memang menjadi salah seorang anggota International Commissioners pada Joint Electoral Management Body (JEMB). JEMB ini adalah badan gabungan antara PBB dan Pemerintah Interim Afghanistan. Di JEMB, kami diberi mandat untuk membuat policy, prosedur, dan mekanisme pemilu presiden dan parleman di Afghanistan.

Saya berada di sana sejak Mei sampai November 2004, sebagai salah satu dari lima angota International Commissioners itu. Enam anggota lainnya adalah orang Afghanistan sendiri.

Kita banyak mendengar kisah Afghanistan masa Taliban. Tapi bagaimana kesan pribadi Anda ketika pertama kali menjejakkan kaki di sana?

Kesan saya luar biasa. Saya beruntung bisa mendapat kesempatan datang dan terlibat dalam pemilu di sana, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat sana. Sesampai di sana, saya sadar bahwa permahaman kita umumnya tentang Afghanistan, memang sangat dipengaruhi oleh minimnya informasi.

Ketika bicara tentang Afghanistan, biasanya kita langsung membayangkan Taliban, seakan-akan semua rakyat Afghan seperti itu. Padahal, Taliban adalah satu dari beberapa kelompok radikal seperti di Indonesia yang dijumpai di Afghanistan.

Nah, setiba di sana, saya menjumpai kehangantan dan keterbukaan rakyat Afghanistan yang luar biasa terhadap masyarakat dunia. Mereka juga merindukan kedamaian dan sangat menghargai pluralisme. Informasi ini jarang sekali kita perolah, dan saya beruntung dapat merasakan nuansa seperti itu.

Anda menyebut Taliban seperti beberapa kelompok radikal yang ada di Indonesia. Apa Anda lupa bahwa Taliban berbeda dengan kelompok-kelompok radikal di Indonesia, dan mereka sempat berkuasa selama enam tahun sebelum ditumbangkan aliansi Amerika pada Oktober 2001 kamarin?

Betul. Tapi di sini saya sedang bicara dalam kontens perbandingannya dengan kebanyakan rakyat Afghanistan yang sebenarnya juga anti-Taliban. Meski Taliban berkuasa, mereka tetap againt Taliban. Jadi di sana saya juga menemukan manusia Afghanistan yang penuh kehangatan dan keterbukaan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan. Makanya, ketika bicara Afghanistan, kita tidak bisa hanya fokus pada era Taliban. Ada beberapamilestone (tonggak sejarah) yang sangat perlu kita perhatikan.

Mungkin, problem Afghanistan modern bermula ketika diduduki Uni Soviet sebagai kelanjutan Revolusi Saur. Dalam Revolusi Saur, Uni Soviet menduduki Afghanistan dan menanamkan orang-orang seperti Babra Kamal. Setelah itu terjadilah perlawanan dari dalam, meski memakan waktu cukup lama.

Setelah Uni Soviet angkat kaki, mulailah perang saudara, antar kelompok-kelompok dalam negeri yang terpolar menjadi dua: antara kelompok Mujahidin (seperti Jamiat Islami yang biasa disebut kelompok Utara pimpinan Burhanuddin Rabbani), dan kelompok Selatan yang didukung Pakisan, pimpinan Gulbuddin Hekmatiyar.

Lebih dari itu, kalau bicara tentang perang saudara dan konflik Afghan, kita juga tidak bisa lepas dari perbincangan soal sebab-sebanya. Di sini, analisis tentang lokasi Afghanistan yang sangat strategis menjadi penting. Afghanistan adalah kawasan yang berada di croossroad atau persimpangan antara Asia selatan dan tengah.

Afghanistan juga punya sumber daya alam yang sangat kaya. Posisi dan sumber daya ini, membuat Afghanistan sebagai mangsa atau incaran negara-negara sekitarnya. Secara geografis, Afghanistan adalah negara tidak berlaut, tapi dikelilingi negara-negara seperti Iran, Pakistan, China, Tajikistan, Turkemenistan, dan Uzbekistan. Di sana terdapat kelompok Sunni dan Syiah, juga kelompok etnis yang beragam-ragam dan saling konflik.

Kita langsung ke Afghanistan era Taliban. Bisa diceritakan sikap rakyat Afghanistan terhadap rezim Taliban ketika mereka masih berkuasa?

Kelompok Taliban muncul dari mayoritas suku Pastun di bagian selatan yang berbatasan dengan Pakistan. Secara budaya mereka memang dikenal sangat konservatif dan patriarkhal. Perlakuan mereka terhadap perempuan sangat memprihatinkan. Ini berbeda dari suku lainnya di utara yang lebih terbuka, seperti seperti Hazara.

Di sana, perempuan hidup di ruang publik secara lebih bebas. Kalau di selatan seperti Kandahar, di Timur seperti Paktika dan Jalalabad, di Barat seperti Herat, memang sangat tertutup dan konservatif. Tapi mereka adalah kelompok suku paling besar di etnis lain.

Mereka inilah yang dulunya dibantu Amerika, Pakistan, Arab Saudi, dan lalu memunculkan rezim Taliban. Mungkin yang tidak disangka oleh Amerika ketika mendukung Taliban dulunya, mereka justru menerapkan Islam secara sangat harfiah. Itulah yang kita lihat di masa Taliban.

Dari media massa kita sering mendengar kisah represi yang diterapkan rezim teokratis-otoriter Taliban atas rakyat Afghanistan. Orang mungkin menyangka itu hanya propaganda Barat balaka atas dunia Islam seperti Afghanistan. Nah, apa kesimpulan Anda setelah sampai di sana?

Kita memang dengar tentang Taliban dan represi dan jenis Islam sangat tekstual yang mereka terapkan. Ketika mulai menguasa Kabul tahun 1999, mereka langsung saja menggantung Najibullah. Mereka juga langsung menerapkan hukum potong tangan tengah lapangan, mewajibkan burqa, dan melarang perempuan untuk bekerja dan bersekolah.

Sekolah-sekolah perempuan memang langsung ditutup dan anak laki-laki pun tidak boleh belajar selain Qur’an. Mereka menafsirkan agama sangat-sangat tektual dan konservatif. Terhadap perempuan sama sekali tidak ada penghargaan.

Mungkin pengaruh budaya setempat yang sangat konservatif dan patriarkhal, sangat kental dalam penerapan mereka terhadap Islam. Secara resmi di dalam konstitusi, Afghanistan era Taliban memang mendasarkan diri pada syariat Islam.

Apakah Anda terkena imbas dari situasi era Taliban waktu berada di sana?

Kini kita justru menjumpai kehidupan rakyat Afghan yang penuh kedamaian dengan komunitas internasional. Sekarang setelah rezim Taliban tumbang, munculnya Bonn Aggrement, dan terpilihnya pemerintahan interim dan diadakannya pemilu, situasi sudah banyak berubah. Dari situlah kita dapat melihat langsung betapa terbukanya rakyat Afghanistan terhadap orang luar. Ribuan orang luar berada di sana untuk membantu rakyat Afghanistan keluar dari masa lalunya.

Ibu Lily, rezim Taliban sudah tumbang dan diganti pemerintahan transisi. Nah, apa perubahan mendasar yang dirasakan rakyat Afghanistan kini?

Yang jelas adalah lebih banyaknya ruang kebebasan bagi mereka untuk menentukan nasibnya sendiri. Di masa Taliban, agama secara formal dipaksakan untuk mengatur segala perkara. Kisah penerjemah saya di sana cukup unik. Dia pernah salah zuhur sampai empat kali di era Taliban.

Ketika jalan-jalan di waktu zuhur, dia berjumpa aparat Taliban yang berjenggot panjang dan bersorban. Dia berteriak, “Salat, salat! Penerjemah saya itu lalu salat. Ketika usai salat dan melangkah jalan lagi, dia berjumpa lagi dengan Taliban dan disuruh salat lagi. Itu terjadi sampai empat kali. Pengalaman serupa pernah juga terjadi pada seorang India yang bukan muslim. Setelah diterangkan kalau dia bukan muslim, mereka baru mengerti.

Ini artinya, di masa Taliban, Islam diperlakukan penguasa untuk mengontrol nyaris seluruh kehidupan rakyat, bahkan digunakan untuk melakukan represi. Sekarang, secara formal tidak itu tidak terjadi lagi, tapi bentuk-bentuk represi secara budaya, termasuk penggunaan agama untuk kepentingan politik, memang masih terjadi.

Saya pernah membaca kalau masjid-masjid di Afghanistan pasca-Taliban kini cenderung sepi karena orang tidak mau lagi dipaksa-paksa untuk salat di masjid. Tapi uniknya ada yang berkomentar, “Dulu kami salat demi Taliban. Tapi kini, kami yakin kami salat demi Tuhan.” Apa komentar Anda?

Itu betul-betul terjadi. Tapi sebetulnya rakyat Afghan pada hakikatnya sudah sangat religius. Hanya saja, ketika Taliban berkuasa, mereka dianggap kurang tegas keislamannya, sehingga dipaksakan beragama sebagaimana interpretasi Taliban sendiri tentang agama. Artinya, di masa Taliban, agama hampir masuk ke semua lini kehidupan orang Afghan.

Dampak negatifnya terhadap kebebasan rakyat dan terutama perempuan sangat luar biasa. Banyak kasus-kasus di mana perempuan terpaksa bunuh diri karena tidak senang dengan paksaan seperti itu. Kaum perempuan yang kakinya kelihatan kakinya akan dihukum cambuk. Laki-laki yang tidak berjenggot juga dicambuk. Tidak boleh ada perempuan yang menyanyi, dan mereka diharamkan menonton televisi.

Paling menyedihkan dari segalanya, perempuan tidak boleh sendirian keluar atau berada di luar. Mereka harus ditemani mahramnya. Padahal, di sana banyak sekali janda-janda, karena suami mereka mati di medan perang.

Dan, tentu saja mereka butuh mencari nafkah. Kalau mereka punya anak laki-laki, tentu tidak akan jadi soal. Tapi bagi yang tidak punya, seperti yang kita saksikan dalam film Osama itu, bagaimana?! Jangan pula lupa, bahkan di masa Taliban banyak juga terjadi kegiatan prostitusi terselubung.

Lantas, bagaimana rakyat Afghan menata kembali hidup mereka setelah lepas dari rezim Taliban?

Yang paling didambakan rakyat Afghan sekarang ini adalah bagaimana mereka bisa menentukan nasib sendiri (self determintion). Hampir 25 tahun mereka tercabik-cabik, baik oleh perang mengusir penjajah maupun perang saudara.

Sekarang mereka berharap dapat menatap masa depan di tengah hancurnya infrastruktur negara dan minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan. Anak-anak kini bersekolah di bawah pohon, dan enam tahun sudah Afghanistan tidak diguyur hujan. Masalah lain yang juga mendera mereka adalah soal persoalan opium.

Jangan lupa, Afghanistan adalah penyumpai 75% kebutuhan narkotika dunia. Masalah senjata yang bertebaran di tangan takyat juga masih belum bisa ditanggulangi. Jadi, masih ada setumpuk masalah pelik sosial-politik-ekonomi dan budaya di Afghanistan.

Sekarang mereka ingin hidup dengan masyarakat dunia secara equal atau setara. Mereka butuh kerja sama dengan dunia luar. Tapi syaratnya, jangan lagi seperti dulu, ketika dunia luar justru bekerja untuk kepentingan masing-masing. Dulunya negara seperti Iran, Pakistan, Uni Soviet, China dan bahkan Amerika, cawe-cawe di sana dengan agenda masing-masing.

Lalu apakah Anda optimis atau justru pesimis melihat masa depan Afghanistan pasca-Taliban?

Saya optimis karena melihat people power atau kekuatan rakyat yang sangat massif dan mampu menaklukkan kendala-kendala yang menghadang mereka dalam pemilu kemarin. Kebanyakan mereka adalah kaum perempuan, dan itu sangat sulit dibayangkan dalam kondisi Afghanistan sekarang. 44% para pemilih dalam pemilu Afghanistan 9 Oktober 2004 lalu adalah perempuan.

Tadinya, kita mengestimasi paling banyak 10% saja dari perempuan Afghanistan yang akan ikut dalam pemilu. Sebab faktanya, banyak sekali ancaman atas mereka, baik dari sisa-sisa kaum Taliban, maupun kelompok konservatif lainnya.

Dari situlah saya percaya kalau orang Afghanistan akan mampu menatap masa depan lebih cerah lagi. Tapi syaratnya sekali lagi: masyarakat internasional tidak lagi obrak-abrik dan campur tangan demi kepentingan masing-masing. Mereka harus bekerja demi kemanusiaan rakyat Afghanistan sendiri.

Terakhir, apakah Taliban masih menjadi ancaman laten atas perubahan?

Dukungan dari rakyat atas mereka sebetulnya sudah tidak ada. Dulu dukungan itu juga tidak ada atau bersifat semu saja. Hanya saja, mereka masihon and off dalam bentuk gerilya-gerilya. Mereka datang dan pergi melempar teror, roket dan lainnya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.