Home » Perbincangan » Seniman » Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”
Hanung Bramantyo (Foto: Hdimagegallery.net)
Hanung Bramantyo (Foto: Hdimagegallery.net)

Hanung Bramantyo: “Agama Hanyalah Medium”

Film-film yang dibuat oleh Hanung Bramantyo belakangan ini selalu berhubungan dengan persoalan agama. Tercatat misalnya film Perempuan Berkalung Sorban, Ayat-Ayat Cinta dan Sang Pencerah. Untuk mengetahui latar belakang lahirnya film-film “religius” itu, Vivi Zabkie dan Saidiman Ahmad mewawancarai sang sutradara. Wawancara ini disiarkan langsung, Rabu, 27 Oktober 2010, dari KBR68H bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) dan disiarkan 40 radio di seluruh Indonesia.

Ketika Anda membuat film ber-genre keagamaan, ini kebetulan saja, ada misi khusus, atau ini bagian dari pencarian?

Sebenarnya kalau komentar salah seorang teman, saya dituduh memiliki misi menyusupi ajaran Islam secara radikal.

Keren sekali itu tuduhannya.

Ya seperti itu. Mencoba untuk menyusupi ajaran-ajaran Islam secara radikal, secara tidak syar’i. Tuduhannya seperti itu. Dan itu terjadi setelah saya membuat film Perempuan Berkalung Sorban. Terus embel-embelnya banyak sekali karena film itu berangkat dari novel yang dibiayai oleh Ford Foundation. Kemudian seolah-olah Amerika berada di belakang saya. Gagah sekali ya…

Sebenarnya, berbicara soal film agama itu karena saya berasal dari komunitas Islam. Bapak saya di Jogja dulu ketua Majlis Ekonomi Muhammadiyah. Dari kecil saya di Kauman sekolah di TK Aisyiah Bustanul Athfal. Itu TK-nya Muhammadiyah juga. SD, SMP, SMA di Muhammadiyah juga.

Dulu saya sempat nyantri di Klaten di tempatnya Kiai Siraj, pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Jadi memang saya dekat dengan komunitas Islam. Keluarga saya adalah keluarga Islam yang taat. Ibu saya Cina muallaf, gitu. Ayah dan kakek saya itu dikenal sangat dekat sekali dengan ulama. Jadi komunitas Islam itu bagian dari tempat bermain saya. Setiap kali Ramadhan, saya tidak pernah absen menjadi panitia Ramadhan di masjid di kampung saya.

Remaja masjid juga ya….

Remaja masjid juga. Nah, tiba-tiba saya menjadi sekuler, sempat menjadi sekuler, pada saat saya duduk di bangku SMA Muhammadiyah. Dari SD kelas empat saya sudah bergelut dengan dunia teater. Saya dikenalkan pada dunia teater itu justru di kelompok masjid. Jadi teater masjid gitu. Namanya dulu teater al-Kautsar. Saya masuk di situ dan berkecimpung dengan dunia pentas. Dulu di Jogja pentasnya di Samisono. Samisono itu seperti Graha Bhakti Budaya kalau di Jakarta.

Kalau sudah pentas di situ, sudah seniman gitu lho. Nah, pada saat itu saya merasa bahwa dunia panggung adalah kehidupan yang nyaman. Angkatan saya banyak memang, tapi yang masih bertahan di dunia panggung cuma saya. Akhirnya berlanjut sampai SMA. Di SMP saya didukung oleh guru Bahasa Indonesia saya. Ibu Harianti, namanya. Hobi saya berteater itu mendapatkan dukungan setiap kali ada acara sekolah, baik acara peringatan Isra’ Mikraj atau Maulid Nabi Muhammad di SMP Muhammadiyah.

Anda selalu tampil, gitu?

SMP Muhammadiyah III selalu membuat acara panggung. Dan kepala sekolahnya memang agak seniman. Maksudnya, dia sangat terbuka.

Jadi Anda tumbuh di tempat yang memang pas?

Ya. SMA itu justru kebalikannya. Di SMA Muhammadiyah I Jogjakarta waktu itu. Pada saat saya masuk, teater sudah dibubarkan oleh kepala sekolah karena dianggap tidak ada kegiatannya. Akhirnya saya putus asa. Saya langsung bilang sama bapak saya. Sementara teman saya yang satu angkatan di SMP tidak satu SMA . Dia di SMA I Teladan yang ada teaternya dan sedang giat.

Langsung ngiri dong?

Ya, langsung ngiri saya. Terus saya bilang sama ayah, saya tidak suka saya sekolah di SMA Muhammadiyah. Saya mau keluar cari sekolah yang ada teaternya. Saya dimarahi sama ayah. Bukan karena saya ingin keluar dari sekolah itu hanya karena melihat teraternya. Bukan. Saya keluar karena putus asa.

Terus ayah saya bilang, kalau memang tidak ada teater di situ, ya kamu yang bikin. Jadi jangan ngikut. Biarkan saja teman kamu bubar, biarkan teman kamu itu ikut teater-teater di SMA mereka masing-masing, tidak masalah. Kalau memang tidak ada, kamu bikin. Itu namanya pemimpin. Ayah saya bilang seperti itu.

Ini menarik sekali. Soal Anda hidup berkesenian dan Anda ternyata dari Muhammadiyah dan bersekolah di Muahmmadiyah. Pernah ada pertentangan?

Nah, ini kelanjutannya. Pada saat saya membuat teater di situ, pertentangan pertama dating dari kepala sekolah.Ia tidak suka dengan kesenian teater itu karena image teater adalah seniman jalanan, seniman yang tidak syar’i. Akhirnya ada lokakarya teater SLTA se-Daerah Istimewa Jogjakarta. Undangannya saya lihat itu. Terus saya minta persetujuan dari sekolah untuk ikut dan disetujui. Diam-diam kita keluar ikut lokakarya itu. Ternyata tidak sampai itu saja. Setelah lokakarya, harus ada festival.

Jadi pulang harus bikin teater dan difestivalkan. Itu problem lagi buat saya. Sudah diam-diam; bagaimana ini harus tampil. Yang tampil khan tidak cuma tiga orang. Kalau lokakarya tiga orang tidak apa-apa. Tapi kalau tampil minimal lima orang. Bagaimanan cari dua orang lagi?

Akhirnya saya bergerilya di situ. Kaktu itu kita tidak boleh berteater karena teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i. Misalnya seperti ini: waktu itu ada adegan begini. Saya mementaskan sebuah naskah tentang tempat di bawah jembatan Kali Code. Jembatan Kali Code itu ada komunitas pelacur, preman, gitu kan. Saya menampilkan itu. Di situ harus pelacurnya pakai jilbab. Saya bilang, apa tidak lucu?!

Kalau di Iran atau Mesir, barangkali ada yang begitu itu ya…

Ya. Ini kan pelacur.

Di Jogja pula.

Ya. Di Jogja masak pelacur pakai jilbab. Apa tidak mencoreng nama Islam? Saya bilang begitu. Pokoknya semua yang tampil di atas panggung harus islami. Udah, bagaimana caranya pokoknya harus islami. Akhirnya saya ganti, bukan pelacur, tetapi perempuan tomboy.

Perempuan tomboi boleh dong pakai jilbab. Oke, pada saat adegan si preman ketemu ibunya, kebetulan ceritanya si ibu itu mencari-cari anaknya yang sudah lari sejak umur limabelas tahun. Ternyata gedenya jadi preman. Ketemu di situ, cium tangan dong, memeluklah.

Tidak boleh lagi?…

Ya, tidak boleh lagi karena itu bukan muhrim. Saya berdebat segala macam panjang sekali. Bagaimana sih ibunya. Itu kan jadi klimaks dalam sebuah tontonan. Kalau tidak memeluk, ya paling tidak cium tanganlah. Kalau tidak ada adegan begitu, tidak klimaks. Akhirnya saya ngomong dengan mazhab seni, dia ngomongnya dengan mazhab syafi’i. Dia keluarkan ayat ini dan itu bahwa perzinaan itu tidak hanya zina tubuh, tapi juga zina mata, zina. Begitu…

Ini debat dengan kepala sekolah tadi?

Ya, dengan kepala sekolah di situ. Intinya saya give up. Akhirnya ya sudahlah. Kalau memang tidak ada teater, ya sudah. Yang penting saya sudah merasa pernah berbuat sesuatu. Dari situlah titik awal saya menjadi sekuler. Saya menjadi nakal. Saya menjadi menolak Islam. Saya menjadi tidak suka dengan Muhammadiyah. Itulah awal karir saya menjadi “murtad”.

Perjalanan hidup Anda saja menarik untuk dijadikan film, seru banget gitu.

Seru sekali.

Kita ingin tahu penjelasan Anda menjadi “jauh dari agama” ketika itu.

Intinya setiap orang punya sesuatu yang dipakai untuk eksistensinya. Eksistensi itu kebutuhan mendasar manusia. Ketika dia bisa eksis. Dengan energi, pikiran dan obsesi dia merasa hidup. Dia merasa ada. Saya merasa bahwa keinginan saya untuk eksis itu diharamkan.

Itu kan sudah mengebiri saya, membuat diri saya menjadi seorang yang salah lahir. Akhirnya saya menyalahkan takdir, menyalahkan hidup saya. Kenapa saya harus menyukai teater kalau ternyata teater atau seni itu diharamkan oleh agama saya? Dulu sempat, saking sengitnya berdebat, saya marah sekali. Karena saya nakal dan ngaco, sempat kepala sekolah saya itu bilang bahwa darah kamu itu halal untuk saya tumpahkan.

Kepala sekolahnya ngomong seperti itu?

Ya. Kepala sekolahnya ngomong seperti itu. Berarti kan…

Anda takut ketika dibilang halal darahnya seperti itu?

Ya iyalah. Takutlah. Apalagi saya siswa SMA dan dia adalah kepala sekolah dan ulama. Dia dikenal sebagai ulama pada waktu itu. Dia sering mengisi pengajian sebagai seorang ustaz yang disegani. Ibu saya dan masyarakat pengajian di kampong saya juga tahu bahwa kepala sekolah itu seorang ulama terpandang. Ketika dia bilang darah saya halal untuk ditumpahkan, berarti saya dosa dong. Nah, akhirnya saya bertanya, apakah Islam sekejam ini? Saya kemudian nyantri di pesantren Kiai Siraj, NU.

Kok milih pesantren NU? Kan latar belakang pendidikan Anda Muhammadiyah?

Kebetulan Kiai Siraj itu kakek saya. Kakek tapi tidak sedarah. Orang Jawa itu kan kalau dekat sedikit dianggap sebagai simbah, pakde, meskipun tidak sedarah. Nah, saya nyantri ke sana. Saya senang karena ada kesenian di sana. Keseniannya itu bersalawatan , bertabuh-tabuhan dana ada nyanyian di sana.

Jadi agama itu menjadi menarik, menjadi punya warna di situ. Karena itu saya betah di situ. Tapi memang pada awalnya saya merasa sedang mencoba membunuh hasrat saya. Jadi membunuh keinginan saya bahwa saya santri. Saya ingin memperdalam Islam dan tidak mau memperdalam kesenian. Saya ingin mengetahui Islam lebih jauh.

Dan justru ternyata di sana Anda menemukan kesenian.

Ya. Saya menemukan kesenian di situ. Dari situ saya mencoba mendalami kesenian lebih jauh, gitu.

Apakah Anda punya rencana bikin film soal Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan judul , misalnya, Sang Pengayom?

Soal Sang Pengayom Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, memang ada rencana. Sebenarnya Sang Pencerah itu ada sequel-nya.

Jadi ada lanjutannya?

Ya, ada lanjutannya. Karena sebenarnya Muhammadiyah tidak hanya Kiai Ahmad Dahlan, tidak hanya berhenti pada saat Muhammadiyah berdiri. Tapi ada hal yang lebih esensial yang harus beliau lakukan setelah Muhammadiyah itu berdiri. Justru pada saat Muhammadiyah berdiri, itu titik awal sebenarnya. Titik awal Kiai Ahmad Dahlan memulai perjuangannya. Dari situ saya kasih judul Sang Penanda.

Jangan-jangan sudah mulai digarap?

Kita sedang riset sekarang. Apakah bisa tayang tahun 2011 atau tahun 2012, tergantung dari riset saya sekarang ini. Nah, di dalam Sang Penanda itu, Kiai Ahmad Dahlan akan berhubungan dengan banyak orang, dengan banyak tokoh. Karena tahun 1912 atau 1900-an adalah awal masa pergerakan, lahirnya pergerakan. Karena banyak sekali priayi dan intelektual muda yang lahir dari priayi-priayi karena disekolahkan oleh Belanda. Belanda kan membuka politik etis, kemudian pribumi bisa sekolah.

Akhirnya bisa pintar, bisa kritis. Maka, muncullah tokoh-tokoh pergerakan seperti Haji Samanhudi, HOS. Cokroaminoto, Semaun dan lain-lain. Nah, Kiai Ahmad Dahlan itu ada di tengah pergerakan yang sedang hangat ketika itu. Di Solo ada Sarikat Dagang Islam. Ada Tirto Adisuryo di Bogor.

Karena Muhammadiyah sejalan dengan semua gerakan itu maka seperti ada perahudan ada angin segar untuk berlabuh kea rah modernisasi. Pada saat berlabuh ke arah modernisasi itulah terjadi gesekan dengan kaum tradisional.

Itu titik ketegangannya

Ya, gesekan dengan kaum tradisional. Itulah yang akhirnya muncul pada kongres umat Islam di Cirebon tahun 1923. Di situlah pertemuannya Kiai Ahmad Dahlan dengan Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Apakah perjalanan hidup Anda mempengaruhi pandangan-pandangan Anda ketika membuat film dan berkarya di masa berikutnya?

Ya, kebetulan dulu saya tidak tuntas nyantrinya karena bentuk pesantren Mbah Siraj itu tidak seperti pesantren Gontor atau Tebuireng.

Berapa lama Anda nyantri di situ?

Kira-kira tiga bulan sampai lima bulan. Tapi setelah itu, setiap Jumat, Sabtu dan Minggu saya tidur di sana, mengaji segala macam. Akhirnya saya keluar dan melanjutkan aktivitas kesenian saya di Jakarta dengan masuk di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sebelum itu saya sudah berkecimpung dengan dunia teater, sanggar dan lain-lain. Di IKJ saya banyak sekali bertemu dengan orang dari berbagai agama. Dari Kristen, Islam, Budha, Hindu, semua ada di IKJ. Mereka memiliki pandangan yang bebas.

Saya masuk dalam sebuah pusaran kreativitas yang bebas di situ. Tapi kemudian saya rindu pada satu hal, bahwa nilai-nilai keislaman itu sebenarnya sangat menarik, sangat adem dan mengayomi. Tapi saya tidak mencoba untuk menelusuri itu lebih dalam. Saya tinggalkan dan saya hanyut dalam berkesenian.

Saya membuat film Brownis dan Catatan Akhir Sekolah. Begitu saja saya menikmati hidup. Akhirnya sampai pada titik kesempatan Ayat-Ayat Cinta. Sepanjang dari film Brownis sampai film Ayat-Ayat Cinta itu saya tidak bersinggungan dengan agama Islam sama sekali.

Itulah masa-masa sekuler, kalau bisa disebut?

Ya, itulah masa-masa sekuler itu di situ. Pada saat saya melihat novel Ayat-ayat Cinta itu saya kemudian teringat ibu saya. Pada saat saya hijrah pertama ke Jakarta, pesan ibu saya, kamu kalau sudah bisa membuat film, tolong buat film untuk agama kamu. Itu ibu saya yang Cina, yang muallaf. Itu amanat dari ibu saya, bukan dari bapak saya. Bapak saya dari lahir sudah Islam. Tapi ibu saya muallaf. Jadi kata-kata itu justru muncul dari ibu saya.

Saya pikir kata-kata ibu saya itu hanya sambil lalu saja. Ya, namanya juga ibu, menasihati itu biasa. Tapi saat saya melihat novel Ayat-Ayat Cinta itu, lantas terdengar suara ibu saya itu. Akhirnya, ya sudah lah. Oke, ini amanat dari ibu, begitu pikiran saya ketika itu. Novel itu saya baca. Terus terang, jujur saja, novel itu jelek sekali. Kenapa jelek sekali, karena …

Silahkan di-share...Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0Share on Google+0Pin on Pinterest0

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>