Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Perbincangan » Sukidi Mulyadi: “Di Amerika Saya Menemukan Islam”
Universtas Harvard

Sukidi Mulyadi: “Di Amerika Saya Menemukan Islam”

5/5 (3)

Bagaimana Anda melihat kedudukan Islam dalam studi agam-agama di Amerika?

Islam memang menjadi objek studi yang diperebutkan kalangan akademisi Barat. Secara umum, kita bisa membelah dua model pandangan tentang Islam di Barat. Satu pandangan mewakili pandangan bias atau sinis terhadap Islam, atau yang biasa disebut Edward Said dengan misrepresentative Islam. Di baris ini terdapat orang-orang seperti Samuel P. Huntington, Bernard Lewis, dan yang terburuk Daniel Pipes.

Sementara di seberang lain terdapat orang yang memandang Islam secara positif, bahkan terlampau positif. Yang kedua ini juga banyak, dan yang simpati dan melakukan studi Islam dengan penuh empati juga banyak.

Saya kira, pembelaan yang paling ekspresif terhadap Islam telah ditunjukkan Edward Said sendiri dalam bukunya Orientalism. Padahal, dia adalah seorang Kristen Palestina yang sejarah hidupnya betul-betul sejarah hidup dalam pengasingan.

Edward Said adalah sarjana yang mampu membongkar skandal kesarjanaan Barat dalam membedah Islam, terutama pandangan-pandangan orientalis Perancis, Inggris, dan Amerika sendiri. Dalam skandal kesarjanaan itu, Islam dipersepsi secara keliru. Dan itulah pandangan yang dibongkar Said.

Jadi, keliru juga kalau menganggap Islam di Barat sepenuhnya ditampilkan secara bias atau terdistorsi?

Saya kira anggapan itu keliru, karena masih banyak orang-orang baik seperti Jhon L. Esposito, Omid Safi, Amina Wadud Muhsin, Leila Ahmed, dan sekian sarjana Amerika yang justru menjadikan Islam sebagai perangkat nilai dan ilmu yang mampu membentuk wajah toleran Islam.

Pendek kata, Islam di Amerika merupakan salah satu prototipe Islam yang mungkin disebut ‘Islam sebenarnya’. Saya justru menemukan Islam di Amerika.

Bung Sukidi, Anda punya pandangan pluralis terhadap agama-agama. Bagaimana kalau ada yang bilang, “Kenapa Anda tidak menganut Yahudi saja?”

Saya memeluk Islam terlebih karena alasan sosiologis; bahwa saya dilahirkan dalam lingkungan muslim, dan saya beruntung memeluk Islam. Kalau saya terlahir di lingkungan Hindu, kemungkinan saya akan menganut Hinduisme.

Fakta sosiologis itu merupakan hal mendasar yang perlu diakui. Tetapi setelah menganut agama yang terberi itu, selalu ada proses pencarian kebenaran atau seeking the truth. Karena itu, bagi saya, selalu terdapat perbedaan antara memeluk Islam secara taken for granted, menerima apa adanya, dengan memeluk Islam lewat proses pencarian kebenaran yang tiada berujung.

Terus terang, saya memeluk Islam bukan didasari doktrin bahwa Islam pasti yang paling benar, tapi karena argumen bahwa Islam juga menyediakan sumber jalan yang sama untuk menuju Tuhan.

Jadi, Islam menjadi sumber yang equal dengan agama-agama lain dalam menunjukkan jalan kepada Tuhan. Dengan premis itu, kita bisa respek pada proses pencarian kebenaran dari berbagai tradisi agama lain.

Jadi, semua agama pada hakikatnya menuju Yang Satu jua?

Ya, dan Tuhan selalu diterima beragam umat beragama melalui berbagai nama. Oleh orang Islam, Ia disebut Allah, dan oleh orang Kristen Dia disebut Allah yang mewujudkan diri-Nya dalam bentuk Yesus. Oleh orang Yahudi, Ia disebut Yahweh.

Jadi pada esensinya Tuhan itu satu, tapi kita memberi-Nya sekian banyak nama. Nama-nama itu mungkin penting, tapi ia juga sekadar piranti menuju pada Yang Satu, Yang Esensi itu sendiri.

Karena itu, jangan sekali-kali mengklaim bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan. Islam hanyalah satu di antara sekian banyak jalan menuju Tuhan. Jangan pula kita tertipu oleh nama Tuhan itu sendiri, karena nama adalah simbol, sekadar alat bantu untuk menuju Yang Esensial itu sendiri.

Tapi semua agama punya klaim kebenaran eksklusif masing-masing. Mayoritas orang Islam menganggap selain penganut Islam akan masuk neraka, begitu juga anggapan mayoritas umat Kristen terhadap umat agama lain. Bagaimana Anda mengurai klaim keselamatan yang eksklusif seperti ini?

Wah, itu pertanyaan terberat. Tapi yang penting diingat, soal surga dan neraka adalah otoritas Tuhan semata. Karena itu, tugas kita tak lain adalah beragama secara lapang, toleran, pluralis, dan menghargai keberagaman orang lain.

Soal akankah kita atau orang lain masuk neraka, sama sekali bukan urusan kita. Bagi saya, ketika kita mengklaim diri masuk surga dan yang lain akan masuk neraka, itu sudah berarti merebut otoritas Tuhan untuk kepentingan kita sendiri.

Mas Sukidi, Anda berhadapan dengan berbagai ragam sudut pandang tentang Islam. Bagaimana Anda mendudukkan diri sebagai seorang muslim di tengah beragam sudut pandang itu?

Terus terang saya masih dalam tahap pencarian akan arti kebenaran itu sendiri, sehingga masih dalam proses yang tiada berujung. Beragam sudut pandang tentang Islam di Barat menurut saya memberi sinyal bahwa Islam memang diperebutkan maknanya di kalangan sarjana Barat.

Saya kira, sikap yang relatif baik dalam memperlakuakan keragaman Islam dan pelbagai ekspresi keberagaman adalah dengan merayakan keragaman itu sendiri. Cara merayakannya adalah dengan berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan.

Jadi, pelbagai varian Islam itu kita rayakan bersama tanpa adanya sikap opresif dan represif dari satu kelompok atas kelompok lain. Selain itu, tidak cukup hanya mengakui fakta keragaman agama, kita juga harus enggage atau terlibat dalam keragaman itu sendiri.

Jadi, kita perlu terus saling belajar dari yang lain?

Perlu belajar dari orang lain dan mengakui bahwa orang lain juga ingin eksis seperti kita. Itulah yang ditunjukkan orang Amerika dalam mengayomi semua agama. Ketika Alexis De Tocqueville datang ke Amerika tahun 1820-an, yang memukau perhatiannya tak lain adalah peran gereja di sana dalam menjaga spirit beragama dan spirit kebebasan secara beriringan.

Gereja di sana justru menjadi lembaga yang menopang demokrasi. Fakta itu berbeda dengan peran gereja di dalam masyarakat Prancis yang punya semangat anti-klerik atau anti-gereja yang begitu tinggi. Di Amerika, spirit agama dan spirit kebebasan bagi gereja berjalan beriringan dan masing-masing memberi kontribusi terhadap perkembangan demokrasi.

Apakah masyarakat Amerika tidak merasa cukup bermasalah dengan Islam?

Tidak. Bahkan saya sering menghadiri perayaan Natal bersama masyarakat Kristen di sana, dan terbukti mereka sangat respek atas keyakinan saya. Bahkan di Harvard Divinity School, sekolah teologi Harvard, kita diberi kebebasan penuh dalam menjalankan ritual agama masing-masing. Di dalam lembaga seperti Harvard, ada saja ruang untuk salat. Jadi di sana Anda bebas beribadah.

Dan perlu diketahui pula, hampir semua jenis Islam yang dilarang di negeri Islam mendapatkan kebebasan untuk berekspresi di Amerika. Itu mungkin disebabkan dasar pencerahan Amerika adalah the politic of liberty atau politik kebebasan. Jadi semua itu dilindungi konstitusi atas nama kebebasan.

John Adam misalnya mendefinisikan Amerika sebagai “kerajaan kebebasan”. Atas nama pencarian kebebasan beragama, orang-orang puritan datang ke new island demi merayakan kebebasan. Dan atas nama kebebasan pula orang-orang puritan itu mendirikan Universitas Harvard.

Bagi Anda, apakah orang muslim diuntungkan oleh kebebasan di Amerika?

Sangat diuntungkan. Sebagai seorang muslim, saya beruntung dapat mengecap pendidikan di sana. Saya adalah satu di antara dua orang mahasiswa muslim yang sekolah di Harvard Divinity School. []

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.