Home » Perbincangan » Sukidi Mulyadi: “Di Amerika Saya Menemukan Islam”
Universtas Harvard

Sukidi Mulyadi: “Di Amerika Saya Menemukan Islam”

5/5 (1)

Belajar Islam dalam perspektif perbandingan dengan agama lain akan memperkaya pemahaman tentang Islam itu sendiri. Pusat-pusat keunggulan pendidikan di Amerika, seperti Universitas Harvard, kini membuka akses lebih luas pada peminat studi Islam untuk menimba ilmu di sana.

Itulah penuturan Sukidi Mulyadi, kandidat doktor yang kini sedang merampungkan studi di Universitas Harvard Amerika Serikat kepada Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dalam wawancara Kamis, (30/6) lalu.

 

Bung Sukidi, apa pengalaman yang paling menarik ketika menimba Islam di pusat-pusat keunggulan pendidikan seperti di Harvard University?

Yang paling menyenangkan, saya dapat meletakkan studi Islam dalam konteks studi agama-agama lain. Jadi, iman atau keberislaman saya diletakkan dalam konteks studi agama-agama, sehingga Islam tidak menjadi satu studi agama yang independen dan terpisah dari agama-agama lain.

Kedua, yang cukup menyenangkan dan menjadi pengalaman personal adalah proses pencarian kebenaran Islam dalam konteks kebenaran agama-agama lain. Dengan begitu, saya sadar bahwa sangat menarik ketika studi Islam terintegrasi dengan studi agama Kristen, Yahudi, Budhisme, Hinduisme, dan seterusnya.

Semua itu dibingkai dalam perspektif perbandingan. Jadi kita belajar Islam dalam kaitannya dengan tradisi-tradisi agama lain, bukan belajar Islam sebagai agama yang seolah-olah tidak punya kaitan dengan agama-agama lain.

Apa bedanya belajar Islam di sana dengan di UIN?

Semasa di IAIN dulu (sekarang UIN, Red), Islam yang dipelajari itu terisolasi dari studi agama-agama lain. Islam yang dulu saya pelajari penuh dengan indoktrinasi, klaim-klaim kebenaran dan keselamatan, serta meletakkan Islam seolah-olah sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan.

Di Harvard, Islam yang diletakkan dalam koteks studi agama-agama lain memberi inspirasi bahwa Islam hanyalah salah satu jalan di antara sekian banyak jalan menuju hadirat Tuhan.

Itu semua ditunjukkan oleh beberapa profesor yang pandangannya sangat pluralis terhadap studi agama apa pun. Misalnya Profesor Diana L. Eks, profesor perbandingan agama yang punya otoritas mengajar agama-agama dan menransfer pengetahuan agama melalui konteks perbandingan.

Dia memilih beberapa pemikir pluralis untuk studi agama, seperti Khalid Abou El Fadl (untuk Islam), Johnatan Schofer (untuk Yahudi) dan Mahatma Ghandi (untuk bahan pelajaran Hinduisme). Pemikir-pemikir pluralis tiap-tiap agama itu pada akhirnya ikut memengaruhi cara pandang kita terhadap agama-agama.

Bisakah ungkapan Islam tidak dipandang sebagai satu-satunya jalan kepada Tuhan itu diterangkan lebih detil?

Ungkapan itu beranjak dari asumsi bahwa kebenaran itu pada hakikatnya tunggal, tapi fragmentasinya kemudian menyebar karena spektrum penangkapan tiap orang atas kebenaran itu ditempuh melalui beragam dimensi, bahasa, dan cara pandang.

Karena itulah Islam dianggap sebagai bukan satu-satunya jalan menuju Tuhan dalam pencarian kebenaran pada agama-agama. Mahatma Ghandi yang menjadi inspirator pandangan yang pluralis ini misalnya mengatakan, “Semua agama pada hakikatnya benar, tapi karena kebenaran tunggal itu diterima sekian banyak manusia dari beragam ras, agama, dan identitas, maka kebenaran yang tertangkap dari yang tunggal itu terfragmentasi, terpecah-pecah. Padahal, inti kebenaran itu satu jua.”

Karena itu, semua agama pada hakikatnya benar, hanya cara mendekati kebenaran itu saja yang menggunakan sekian banyak jalan.

Mungkin agama itu seperti kotak. Yang memandang dari sebelah kiri akan melihatnya berbeda dengan yang melihat dari kanan, depan, dan belakang?

Saya kira demikian. Tamsil atau perumpamaan yang biasa digunakan sejumlah sarjana dan pemikir agama-agama adalah ibarat cahaya. Jadi agama itu ibarat cahaya. Tapi spektrum cahaya yang kita tangkap selalu warna-warni. Tamsil lain adalah mata air. Sumber mata air memang satu juga, tapi ia dapat mengalir melalui beberapa jalur. 

Karena itu, penting sekali mengakui pandangan yang pluralis dalam agama. Di Amerika, seluruh spektrum dan tradisi agama bisa berkumpul, terutama sejak 1965, saat kebijakan imigrasi mulai diperlonggar. Sejak itu di sana terdapat umat Kristen yang menjadi penganut agama dominan, Islam, Budhisme, Hinduisme dan seterusnya.

Yang cukup mengagetkan, Islam yang seringkali kita sangka berada di seberang sana, di Timur Tengah atau di Indonesia, sebenarnya justru berada di Amerika. Menurut Diana L. Eks, yang disebut islamic world atau dunia Islam itu sebetulnya termasuk juga Amerika.

Sebab di Chicago misalnya, terdapat tak kurang dari 70 masjid. Di Boston atau di Harvard sendiri, Anda bisa salat Jumat, berkumpul dan berdialog dengan sesama muslim di mana saja.

Jadi Amerika sudah menjadi arena di mana hampir semua agama bisa berekspresi secara bebas?

Betul, dan karena itu pemahaman tentang agama yang plural menjadi tumbuh subur di sana. Itu sekaligus menjadi bukti baru bahwa Amerika sekarang ini sangat plural dan multidimensional, baik dari segi agama, ras, maupun etnik.

Tingkat konflik antara satu dengan yang lain juga relatif rendah. Keberadaan Islam, Kristen, Budhisme, Hinduisme dan seterusnya, sebagai ekspresi beragama, dijamin oleh konstitusi Amerika. Dengan itu mereka bisa berkumpul, saling berdialog dan saling menyapa.

Lalu, bagaimana sikap orang Amerika terhadap serbuan tradisi-tradisi agama baru ini?

Sejauh yang saya tahu, lingkungan akademik sangat terbuka terhadap masuknya beberapa penganut agama lain di lingkungan Amerika. Mereka memandang itu justru akan memberi warna baru, mengukuhkan kehidupan yang plural, dan menumbuhkan semangat dan komitmen untuk saling menghargai.

Karena itu, apa yang disebut pluralisme bagi masyarakat Amerika tidak sekadar mengakui fakta sosial yang memang plural, tapi bagaimana terlibat aktif dalam menciptakan pluralitas itu sendiri.

Penerimaan itu mungkin terkait dengan sejarah orang-orang puritan yang datang ke Amerika untuk mencari kebebasan. Amerika bagi mereka ini adalah pulau baru atau new island untuk menggantungkan harapan kebebasan.

Jadi secara historis, mereka adalah kelompok puritan yang menganut prinsip dasar kebebasan itu sendiri. Dan, atas nama kebebasan itulah mereka mengekspresikan keberagamannya.

Karena jaminan kebebasan itu pula sebetulnya alasan sebagian orang Islam hijrah ke Amerika, ya?

Ya. Kita tahu Prof. Fazlur Rahman yang diusir dan dikejar-kejar orang-orang Islam fanatik di Pakistan, menghirup udara bebas di Amerika. Dan rupanya, banyak sekali pemikir-pemikir muslim yang justru mencari kebebasan di Amerika dan memberi kontribusi positif di dunia akademik Amerika.

Di Harvard sendiri ada orang seperti Leila Ahmed, profesor perempuan yang sangat ahli dalam studi Islam dan Timur Tengah. Ada juga Profesor Khalid Abou el-Fadl dan Ali Asani, pengajar studi Islam. Orang seperti Omid Safi melakukan studi Islam yang lama sekali di Iran, tapi justru memperoleh ruang kebebasan di Amerika.

Karena itu, ungkapan Tariq Ramadan yang menyebut Eropa sebagai “rumah syahadat” saya kira juga berlaku untuk Amerika. Sebab orang yang convert atau masuk Islam di Amerika besar sekali.

Itulah yang mendorong orang untuk membuat kesimpulan umum bahwa perkembangan Islam di Amerika paling pesat di dunia Barat.Sekarang, populasi muslim Amerika sudah berjumlah sekitar 6-7 juta orang. Itu jumlah yang disepakati sejumlah sarjana. 

Selain itu, yang penting juga adalah fakta bahwa di Amerika, mereka seperti menemukan kebebasan untuk menunjukkan wajah Islam yang progresif dan liberal. Kita tahu, salah satu alasan Amina Wadud masuk Islam adalah untuk menemukan semangat kebebasan dan persamaan yang dikandung oleh Alquran.

Orang-orang seperti Amina Wadud, Omid Safi, Khalid Abou El Fadl, dan sarjana Islam lainnya, justru bisa menerbitkan buku-buku berkualitas di Amerika, bukan di negeri asal mereka.

Kenyataan ini berbeda dengan pengalaman pahit feminis Mesir, Nawal El Sadawi yang beberapa tahun lalu bukunya Shuqûtul Imam atau The Fall of The Imam justru dilarang beredar di Timur Tengah. Hal seperti itu saya kira tidak akan terjadi di Amerika, karena ruang kebebasan benar-benar dimaksimalkan.

Apakah Anda telah merasakan ruang kebebasan seperti itu?

Ya, saya merasakan sendiri. Bahkan saya tinggal di sebuah Seminari, tempat di mana orang-orang Yahudi, Kristen, dan lain-lain berkumpul. Di situ, sayalah satu-satunya orang muslim. Namun di situ saya juga tidak mengalami erosi atau degradasi keimanan.

Prasangka bahwa pergaulan lintas agama akan membuat kita lemah iman tidak terbukti di situ. Dengan itu, saya justru menemukan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan, yang dapat ditemukan dalam tradisi agama-agama mana pun.

Keimanan pribadi saya justru lebih terasa meaningfull, sangat bermakna ketika dipertemukan dan mengalami perjumpaan dengan tradisi agama-agama lain. Nuansa itu berbeda sekali dengan keimanan yang terisolasi dari tradisi agama-agama lain.

Iman yang diletakkan dalam konteks perjumpaan dengan agama-agama lain, bagi saya justru akan semakin memperkaya iman itu sendiri. Sebab dengan itu, kita sadar bahwa ternyata ada sekian ragam iman dan sekian banyak ekspresi untuk menunjukkan keberimanan.

Apakah masyarakat Amerika tidak merasa terancam keimanannya dengan keragaman seperti itu?

Selama ini, kita memang mengenal Amerika lewat ketidakadilan kebijakan luar negri pemerintahanya, film-film Hollywood, dan lagu-lagunya. Kita tidak tahu fakta bahwa masyarakat Amerika punya tingkat toleransi yang begitu tinggi, menjunjung tinggi nilai kebebasan, dan sangat hormat terhadap orang lain.

Bagi saya, mereka jauh lebih muslim dibandingkan banyak orang muslim sendiri. Kalau Anda tidak mendapat kebebasan di Timur Tengah, kebebasan akan Anda jumpai di Amerika.

Tingkat trust atau kepercayaan masyarakat satu dengan yang lain juga sangat tinggi. Dalam membangun rumah, mereka sama sekali tidak memerlukan pagar. Itu saja menunjukkan bahwa masyarakat Amerika tidak kuatir akan kecurian. Menurut saya, masyarakat Amerika adalah contoh tentang high trust society, masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi antara satu dengan yang lain.

Bagaimana Anda melihat kedudukan Islam dalam studi agam-agama di Amerika?

Islam memang menjadi objek studi yang diperebutkan kalangan akademisi Barat. Secara umum, kita bisa membelah dua model pandangan tentang Islam di Barat. Satu pandangan mewakili pandangan bias atau sinis terhadap Islam, atau yang biasa disebut Edward Said dengan misrepresentative Islam. Di baris ini terdapat orang-orang seperti Samuel P. Huntington, Bernard Lewis, dan yang terburuk Daniel Pipes.

Sementara di seberang lain terdapat orang yang memandang Islam secara positif, bahkan terlampau positif. Yang kedua ini juga banyak, dan yang simpati dan melakukan studi Islam dengan penuh empati juga banyak.

Saya kira, pembelaan yang paling ekspresif terhadap Islam telah ditunjukkan Edward Said sendiri dalam bukunya Orientalism. Padahal, dia adalah seorang Kristen Palestina yang sejarah hidupnya betul-betul sejarah hidup dalam pengasingan.

Edward Said adalah sarjana yang mampu membongkar skandal kesarjanaan Barat dalam membedah Islam, terutama pandangan-pandangan orientalis Perancis, Inggris, dan Amerika sendiri. Dalam skandal kesarjanaan itu, Islam dipersepsi secara keliru. Dan itulah pandangan yang dibongkar Said.

Jadi, keliru juga kalau menganggap Islam di Barat sepenuhnya ditampilkan secara bias atau terdistorsi?

Saya kira anggapan itu keliru, karena masih banyak orang-orang baik seperti Jhon L. Esposito, Omid Safi, Amina Wadud Muhsin, Leila Ahmed, dan sekian sarjana Amerika yang justru menjadikan Islam sebagai perangkat nilai dan ilmu yang mampu membentuk wajah toleran Islam.

Pendek kata, Islam di Amerika merupakan salah satu prototipe Islam yang mungkin disebut ‘Islam sebenarnya’. Saya justru menemukan Islam di Amerika.

Bung Sukidi, Anda punya pandangan pluralis terhadap agama-agama. Bagaimana kalau ada yang bilang, “Kenapa Anda tidak menganut Yahudi saja?”

Saya memeluk Islam terlebih karena alasan sosiologis; bahwa saya dilahirkan dalam lingkungan muslim, dan saya beruntung memeluk Islam. Kalau saya terlahir di lingkungan Hindu, kemungkinan saya akan menganut Hinduisme.

Fakta sosiologis itu merupakan hal mendasar yang perlu diakui. Tetapi setelah menganut agama yang terberi itu, selalu ada proses pencarian kebenaran atau seeking the truth. Karena itu, bagi saya, selalu terdapat perbedaan antara memeluk Islam secara taken for granted, menerima apa adanya, dengan memeluk Islam lewat proses pencarian kebenaran yang tiada berujung.

Terus terang, saya memeluk Islam bukan didasari doktrin bahwa Islam pasti yang paling benar, tapi karena argumen bahwa Islam juga menyediakan sumber jalan yang sama untuk menuju Tuhan.

Jadi, Islam menjadi sumber yang equal dengan agama-agama lain dalam menunjukkan jalan kepada Tuhan. Dengan premis itu, kita bisa respek pada proses pencarian kebenaran dari berbagai tradisi agama lain.

Jadi, semua agama pada hakikatnya menuju Yang Satu jua?

Ya, dan Tuhan selalu diterima beragam umat beragama melalui berbagai nama. Oleh orang Islam, Ia disebut Allah, dan oleh orang Kristen Dia disebut Allah yang mewujudkan diri-Nya dalam bentuk Yesus. Oleh orang Yahudi, Ia disebut Yahweh.

Jadi pada esensinya Tuhan itu satu, tapi kita memberi-Nya sekian banyak nama. Nama-nama itu mungkin penting, tapi ia juga sekadar piranti menuju pada Yang Satu, Yang Esensi itu sendiri.

Karena itu, jangan sekali-kali mengklaim bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan. Islam hanyalah satu di antara sekian banyak jalan menuju Tuhan. Jangan pula kita tertipu oleh nama Tuhan itu sendiri, karena nama adalah simbol, sekadar alat bantu untuk menuju Yang Esensial itu sendiri.

Tapi semua agama punya klaim kebenaran eksklusif masing-masing. Mayoritas orang Islam menganggap selain penganut Islam akan masuk neraka, begitu juga anggapan mayoritas umat Kristen terhadap umat agama lain. Bagaimana Anda mengurai klaim keselamatan yang eksklusif seperti ini?

Wah, itu pertanyaan terberat. Tapi yang penting diingat, soal surga dan neraka adalah otoritas Tuhan semata. Karena itu, tugas kita tak lain adalah beragama secara lapang, toleran, pluralis, dan menghargai keberagaman orang lain.

Soal akankah kita atau orang lain masuk neraka, sama sekali bukan urusan kita. Bagi saya, ketika kita mengklaim diri masuk surga dan yang lain akan masuk neraka, itu sudah berarti merebut otoritas Tuhan untuk kepentingan kita sendiri.

Mas Sukidi, Anda berhadapan dengan berbagai ragam sudut pandang tentang Islam. Bagaimana Anda mendudukkan diri sebagai seorang muslim di tengah beragam sudut pandang itu?

Terus terang saya masih dalam tahap pencarian akan arti kebenaran itu sendiri, sehingga masih dalam proses yang tiada berujung. Beragam sudut pandang tentang Islam di Barat menurut saya memberi sinyal bahwa Islam memang diperebutkan maknanya di kalangan sarjana Barat.

Saya kira, sikap yang relatif baik dalam memperlakuakan keragaman Islam dan pelbagai ekspresi keberagaman adalah dengan merayakan keragaman itu sendiri. Cara merayakannya adalah dengan berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan.

Jadi, pelbagai varian Islam itu kita rayakan bersama tanpa adanya sikap opresif dan represif dari satu kelompok atas kelompok lain. Selain itu, tidak cukup hanya mengakui fakta keragaman agama, kita juga harus enggage atau terlibat dalam keragaman itu sendiri.

Jadi, kita perlu terus saling belajar dari yang lain?

Perlu belajar dari orang lain dan mengakui bahwa orang lain juga ingin eksis seperti kita. Itulah yang ditunjukkan orang Amerika dalam mengayomi semua agama. Ketika Alexis De Tocqueville datang ke Amerika tahun 1820-an, yang memukau perhatiannya tak lain adalah peran gereja di sana dalam menjaga spirit beragama dan spirit kebebasan secara beriringan.

Gereja di sana justru menjadi lembaga yang menopang demokrasi. Fakta itu berbeda dengan peran gereja di dalam masyarakat Prancis yang punya semangat anti-klerik atau anti-gereja yang begitu tinggi. Di Amerika, spirit agama dan spirit kebebasan bagi gereja berjalan beriringan dan masing-masing memberi kontribusi terhadap perkembangan demokrasi.

Apakah masyarakat Amerika tidak merasa cukup bermasalah dengan Islam?

Tidak. Bahkan saya sering menghadiri perayaan Natal bersama masyarakat Kristen di sana, dan terbukti mereka sangat respek atas keyakinan saya. Bahkan di Harvard Divinity School, sekolah teologi Harvard, kita diberi kebebasan penuh dalam menjalankan ritual agama masing-masing. Di dalam lembaga seperti Harvard, ada saja ruang untuk salat. Jadi di sana Anda bebas beribadah.

Dan perlu diketahui pula, hampir semua jenis Islam yang dilarang di negeri Islam mendapatkan kebebasan untuk berekspresi di Amerika. Itu mungkin disebabkan dasar pencerahan Amerika adalah the politic of liberty atau politik kebebasan. Jadi semua itu dilindungi konstitusi atas nama kebebasan.

John Adam misalnya mendefinisikan Amerika sebagai “kerajaan kebebasan”. Atas nama pencarian kebebasan beragama, orang-orang puritan datang ke new island demi merayakan kebebasan. Dan atas nama kebebasan pula orang-orang puritan itu mendirikan Universitas Harvard.

Bagi Anda, apakah orang muslim diuntungkan oleh kebebasan di Amerika?

Sangat diuntungkan. Sebagai seorang muslim, saya beruntung dapat mengecap pendidikan di sana. Saya adalah satu di antara dua orang mahasiswa muslim yang sekolah di Harvard Divinity School. []

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.