Home » Politik » Ali Maschan Musa: “Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan”
Ali Maschan Musa
Ali Maschan Musa

Ali Maschan Musa: “Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan”

5/5 (1)

Substansi memelihara agama adalah dengan memakai pendekatan intrinsik, bukan pada yang ekstrinsik, atau sekedar something to use. Islam artinya kedamaian, yang intinya bagaimana kita berdamai dengan orang lain, bagaimana agar tiap detik kita bisa menyelamatkan orang lain.

Semua teladan Nabi Muhammad bertujuan untuk menyelamatkan dan berdamai dengan orang lain. Demikian sekelumit isi wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan K.H. Ali Maschan Musa, ketua DPW NU Jawa Timur pada hari Kamis, 22 Agustus 2003.

 

Pak kyai, tanggal 8 Agustus lalu, Kapolda Jateng, Irjen Didi Wijayadi MBA menyiarkan pihak kepolisian telah menemukan beberapa dokumen penting dari 4 anggota Jemaah Islamiyah (JI) yang tertangkap di Semarang. Dokumen itu mengungkap, sekitar 141 pesantren dan 388 ulama dan dai di Jawa Tengah menjadi sasaran ajaran dan gerakan JI. Pertanyaan saya, bagaimana persepsi di bawah, khususnya di kalangan Nahdatul Ulama (NU) sendiri tentang JI?

Sejarah membuktikan bahwa di tubuh NU hampir tidak pernah ada soal keterlibatan dengan urusan yang bersifat kekerasan, termasuk kalangan pesantren. Dulu, bom Bali yang melibatkan Amrozi, memang menyebabkan pesantren terkena getahnya, karena Amrozi terhitung dari pesantren. Hanya saja, kebetulan pesantren yang mengeluarkan Amrozi bukan pesantren yang berafiliasi dengan NU.

Jadi, apakah berita itu sebetulnya tidak berdampak apa-apa terhadap pesantren?

Menurut saya, sebetulnya temuan tersebut tidak harus dipublikasikan seperti itu. Yang diperlukan adalah proses dialog terus menerus antara pihak kepolisian dengan pihak pesantren. Itu yang harus dijelaskan, agar tidak muncul persepsi bahwa kepolisian ingin memojokkan pesantren. Persepsi semacam itu berbahaya. Kita memerlukan dialog untuk persoalan ini.

Menurut pengamatan Anda, apakah ada model pesantren di luar yang kita kenal?

Itu yang sampai sekarang belum ada rinciannya. Tapi menurut saya, kalau mengikut klasifikasi model lama, hanya ada model pesantren tradisional dan pesantren modern. Yang tradisional umumnya berada di bawah naungan NU. Sementara yang modern, seperti Pondok Modern Gontor di Jawa Timur, tidak berafiliasi ke NU ataupun Muhamadiyah.

Apakah ada perkembangan baru belakangan ini?

Kalau mau diklasifikasi lebih detail lagi akan ada. Sekarang, nampaknya banyak bermunculan pesantren model baru yang dikelola oleh para alumni Timur Tengah. Itu klasifikasi yang saya lakukan secara longgar.

Apa perbedaan mereka dengan pesantren yang ada selama ini?

Kalau peantren yang bernaung di bawah NU, konsentrasinya tetap seperti dulu juga. Yang diajarkan di sana adalah ilmu gramatikal Arab seperti nahwu, shorf, fiqih dan tasawuf. Tafsir-hadis otomatis diajarkan. Sementara pesantren modern, umumnya tidak mengajarkan kitab-kitab kuning ataupun kitab klasik. Mereka lebih banyak menekankan sisi pengajaran bahasa, baik Arab maupun Inggris.

Pesantren yang dikelola alumni Timur Tengah itu agak lain lagi. Nampaknya, mereka juga mengikuti perkembangan kitab-kitab yang diajarkan di Timur Tengah. Memang, sebetulnya belum ada perincian dan kalkulasi yang baku tentang pesantren yang disebutkan belakangan ini.

Bagaimana dengan perspektif keislaman yang mereka anut; apakah lebih keras atau bagaimana?

Yang tradisional jelas tidak. Yang berafiliasi ke NU, biasanya nasionalisme mereka relatif kuat, dan mereka sangat mengerti konteks sosiologis di masyarakat. Sebab, fikih biasanya sangat akomodatif dengan konteks lokalitas, khususnya terhadap keputusan publik dari pemerintah.

Yang modern biasanya kuat menekankan pada penguasaan bahasa, khususnya Arab dan Inggris, seperti Gontor dan pesantren yang menyebut diri sebagai pesantren modern.

Sementara pesantren alumni Timur Tengah ini belum saya ketahui; apakah mereka lebih keras atau bagaimana. Memang, diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang itu. Yang jelas, pesantren para alumni Timur Tengah itu punya sisi pengajaran atau pendapat yang tidak sama dengan pendapat ulama di pesantren umumnya –untuk tidak mengatakan punya pendapat yang keras.

Secara spesifik menyangkut apa perbedaan itu?

Pertama, soal orientasi politik, jelas. Kedua, menyangkut sikap dan respon mereka terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah. Ketiga, mereka juga tidak terlalu akomodatif dengan budaya lokal.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.