Home » Politik » Demokrasi » Arisan Melawan Kemiskinan
IMG-20151006-WA0005

Arisan Melawan Kemiskinan

4.4/5 (15)

Semiskin-miskinnya seseorang, setidaknya ia memiliki seorang tenaga kerja: yaitu dirinya sendiri. Saya lupa siapa yang menyatakan ini. Tapi kemungkinan besar adalah Professor Chunlai Chen, pengajar ekonomi di Crawford School of Public Policy, ANU. Selain memiliki diri sendiri, orang miskin juga memiliki teman dan kerabat di sekitarnya. Dari sana kemudian mereka mungkin bisa bertahan.

Kali ini saya akan membicarakan salah satu inisatif kaum miskin untuk mengatasi keterbatasannya. Inisiatif ini bernama arisan. Memang, arisan nampak semakin kurang populer belakangan ini. Namun, di tengah keterbatasan kelompok miskin, arisan bisa menjadi pintu masuk mengurai persoalan hidup mereka.

Dalam studi akademik, arisan biasa disebut sebagai ROSCA (Rotating savings and credit association). Arisan dipraktikkan oleh komunitas-komunitas miskin di seluruh dunia. Ia muncul dalam beragam nama dan metode.

Kebanyakan orang di Amerika Latin menyebutnya tandas, orang Senegal menyebutnya tontine, susu di Ghana, esusu di Nigeria, stockvel di Afrika Selatan, bishi di India, cundinas di Mexico, kyae di Korea Selatan, pandeiros di Brazil, juntas di Peru, dan partnerhand di Inggris (Bauman 1995, h. 372). Selain arisan, nama lain yang dipakai di Indonesia, terutama di Sumatera adalah julu-julu atau jula-jula.

Secara literal, arisan bermakna ‘usaha bersama’ atau ‘saling membantu’ (Geertz 1962, h. 243). Bersama dengan bentuk-bentuk microfinance yang lain, seperti simpan-pinjam, masyarakat miskin Tanah Air sangat antusias dengan kegiatan ini. Sebuah laporan, misalnya, menyebutkan bahwa ada ratusan kelompok arisan dan simpan pinjam di Bengkulu tahun 2000 (Lont 2000, h. 161).

Setidaknya ada dua motivasi dan manfaat utama ikut arisan. Pertama, arisan bisa menjadi sarana bagi kaum miskin untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka terutama untuk mereka yang membutuhkan uang banyak (Lont 2000, h. 170). Kedua, arisan juga bisa mempererat solidaritas sosial. Indonesia sendiri, terutama pada masyarakat pedesaan, dikenal dengan semangat gotong-royong, selflessness, dan sangat solider (Bowen 1986, h. 546).

Tulisan ini akan membahas aspek keuntungan finansial dari arisan untuk orang miskin. Bagian kedua mungkin bisa kita bahas di lain waktu.

Arisan Vs Bank

Thomas Piketty (2014), melalaui bukunya yang fenomenal, Capital in the Twenty-First Century, mengemukakan bahwa yang membuat orang menjadi kaya dan super kaya adalah karena kepemilikan aset. Mereka yang bisa menambah modal dan aset akan mengalami peningkatan kekayaan.

Karena itu, menurut Piketty, ketimpangan ekonomi yang saat ini melanda dunia sangat sulit diatasi karena modal dan aset terakumulasi di tangan kelas atas saja. Kelas bawah selamanya tidak bisa bergerak naik karena mereka tidak bisa menabung dan membeli aset.

Sementara kelas menengah juga cenderung stagnan karena penghasilan mereka terbagi habis dengan cicilan rumah, mobil, biaya sekolah anak, dan lain-lain. Hampir tidak ada uang tersisa untuk ditabung dan dijadikan modal untuk menambah aset. Kebanyakan mereka adalah pegawai yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa kecuali diri mereka sendiri.

Satu-satunya kelompok masyarakat yang bisa mengakumulasi modal dan menambah aset adalah kelas atas. Merekalah yang memiliki uang lebih untuk ditabung dan dijadikan modal untuk membeli aset baru. Akhirnya, kelompok ini akan mampu menambah kekayaan mereka melalui aset-aset baru yang terus bertambah.

Si miskin tidak bisa naik kelas. Mereka bahkan akan semakin terjerumus. Sementara kelas menengah hanya jalan di tempat. Dan hanya kelas ataslah yang paling mungkin bertambah kaya. Jauh sebelum Piketty, Rhoma Irama sudah meramalkan hal ini melalui lyric lagunya: ‘Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.’

Sebenarnya ada jalan keluar, yakni bank. Bank memungkinkan mereka yang tidak punya modal untuk meminjam uang. Masalahnya, meminjam uang di bank bukan perkara mudah. Setidaknya si peminjam harus punya aset yang bisa dijadikan jaminan. Dan yang memiliki aset untuk jadi jaminan lagi-lagi hanya orang kaya atau kelas atas. Pinjaman bank untuk menambah aset akhirnya hanya mungkin diakses oleh mereka yang memenuhi persyaratan kepemilikan aset.

Hernando de Soto (2000) bahkan menemukan tragedi lanjutan. Menurut Soto, masyarakat miskin di luar negara maju juga mengalami persoalan bahkan ketika mereka memiliki aset berupa tanah. Kebanyakan warga negara miskin tidak peduli dengan sertifikat tanah. Akibatnya, tanah yang tak bersertifikat kemungkinan besar mengalami kendala untuk dijadikan jaminan di bank. Bahkan tak jarang kelompok miskin kalah ketika terlibat sengketa tanah persis karena mereka tidak memiliki sertifikat.

Mungkin terlalu besar jika kita mengharap arisan akan menyelesaikan semua persoalan ini. Namun setidaknya ia memberi sedikit harapan. Melalui arisan, orang-orang miskin bisa mendapatkan modal dari uang yang mereka kumpulkan. Arisan adalah mekanisme orang miskin untuk mendapatkan modal. Dari uang arisan, mereka bisa menambah alat produksi bahkan tanah sebagai aset.

Arisan juga memiliki fungsi tabungan dan pinjaman. Anggota yang mendapatkan undian di awal-awal periode arisan adalah sama dengan meminjam uang karena selanjutnya mereka harus mencicil uang yang mereka dapat itu. Sementara yang memeroleh undian di akhir-akhir rotasi arisan sama dengan menabung. Dua hal ini, meminjam dan menabung sangat sulit dilakukan oleh orang miskin dalam keadaan normal. Arisan yang memungkinkan itu terjadi.

Persoalan seperti jaminan aset tidak dibutuhkan dalam arisan. Mereka yang mendapatkan modal dari arisan tidak perlu jaminan aset apapun. Di luar itu, fungsi meminjam modal dalam arisan ini juga tidak dikenai bunga. Di sini, peserta arisan akan membayar persis pada nominal yang sama dengan uang yang diperolehnya.

Kelemahan

Setidaknya ada tiga kelemahan arisan. Pertama, uang yang diputar menggunakan nilai yang tetap. Misalnya, jika pemenang pertama mendapatkan uang satu juta rupiah, maka pemenang selanjutnya sampai pada yang terakhir juga akan mendapatkan uang dengan jumlah yang sama. Sistem ini tidak mempertimbangkan inflasi dan pengurangan nilai mata uang. Akibatnya, peserta arisan terakhir akan mendapatkan uang dengan nilai yang paling sedikit.

Kedua, seringkali mereka yang memenangkan undian sedang tidak dalam kondisi membutuhkan uang banyak. Sebaliknya mereka yang sedang butuh uang, belum tentu mendapatkan undian di waktu yang tepat (Bouman 1995, h. 377). Sebagai organisasi yang cair dan kekeluargaan, para peserta bisa mengatasi ini melalui suatu kesepakatan untuk memberikan hasil undian pada yang membutuhkan terlebih dahulu.

Sebagai sebuah kegiatan sukarela berbasis komunitas, arisan mungkin saja mendatangkan masalah, misalnya ketika yang memenangkan undian di awal, tapi tidak mau melanjutkan membayar. Bagaimana mengatasi ini?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fessler (2002, h. 30), sanksi sosial akan datang segera setelah pelanggaran ini dilakukan. Sanksi sosial itu menyebar melalui gossip. Segera setelah pelanggaran dilakukan, eksklusi sosial akan datang. Si pelanggar akan dikucilkan dan takkan dipercaya lagi untuk terlibat dalam kegiatan serupa di masa depan. Boleh jadi dia akan kesulitan mendapatkan jodoh dan pekerjaan.

Dalam komunitas lokal dan miskin, sanksi sosial semacam ini sangat berat. Karena itu, hampir tidak mungkin ada anggota arisan yang berbuat curang.

***

Singkatnya, arisan, juga institusi finansial swadaya yang lain seperti koperasi simpan pinjam, memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat, terutama kelompok miskin. Ini bahkan dijadikan alasan oleh negara untuk menurunkan strandar garis kemiskinan dari 1,25 USD perhari, sebagaimana versi World Bank, menjadi 0,7 USD perhari. Itu yang menjelaskan kenapa, misalnya, tahun 2013 jumlah orang miskin versi pemerintah hanya sebesar 12 persen penduduk, sementara versi World Bank sebesar 50 persen (Djojohadikusumo 2013).

Tentu ini bisa diperdebatkan lebih jauh. Namun secara umum, arisan dan inisiatif semacam ini membuat potret kemiskinan menjadi sedikit lain. Semiskin-miskinnya masyarakat kita, setidaknya mereka memiliki teman dan kerabat untuk berbagi.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.