Home » Politik » Bachtiar Effendi: “Islam dan Nasionalisme tidak Mesti Bertentangan”
Bachtiar Effendi

Bachtiar Effendi: “Islam dan Nasionalisme tidak Mesti Bertentangan”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Secara historis, kekhilafahan Islam pernah eksis di dunia Islam. Tapi di zaman modern, orang lebih memilih nasionalisme.Tapi pertarungan antara ide lama dengan ide baru itu nampaknya tetap berlangsung.

Mungkin ada pandangan seperti itu. Tapi saya ingin memikirkan soal ini secara jernih. Misalnya, apakah gagasan tentang khilafah itu gagasan keagamaan atau gagasan politik? Saya bukan sejarawan, tapi kalau pemahaman sejarah saya masih bisa diterima, khilafah itu sebetulnya konsekuensi saja dari penaklukan demi penaklukan yang dilakukan penguasa-penguasa Islam.

Kebetulan, ketua, penguasa, presiden, atau siapa pun yang memimpin di kala itu disebut khalifah. Mestinya, semua itu perlu dilihat sebagai gagasan yang bersifat non-agama. Bahwa di dalamnya ada unsur-unsur dan nilai-nilai agama, mungkin saja. Tapi saya kira itu persoalan politik.

Lantas tentang nation, sebetulnya sejak abad ke-18 dan ke-19 sudah mulai terjadi kompartementalisasiwilayah-wilayah di dunia. Dalam bentuk yang modern, juga terjadi balkanisasi, seperti terpecahnya negara-negara kecil di Semenanjung Balkan.

Memang dasar-dasarnya bisa nation atau kesatuan bangsa, dan bisa juga agama. Tapi kenyataannya, kita hidup di alam modern yang berbasis nation-state. Gelora nasionalisme dan lain sebagainya itu, selalu saja diletakkan dalam konteks bagaimana memerdekakan diri dari penjajahan dan penguasaan pihak asing.

Makanya banyak sejarawan menulis tentang fajar atau bangkitnya nasionalisme di awal abad ke-20, baik di Asia, Afrika, dan tempat-tempat lainnya. Sebab, memang pada awal abad ke-20 itulah kekuatan-kekuatan dan belenggu-belenggu kolonial mulai terlepas.

Kalau kita letakkan dalam konteks seperti itu, kita juga bisa berbicara mengenai nasionalisme sekarang ini dalam perspektif yang lain. Umpamanya, secara fisik kita memang tidak lagi terikat oleh praktik-praktik kolonialisme masa lampau. Tapi kalau bicara secara substansial, banyak mereka yang menganut nasionalisme seperti Bung Karno.

Nasionalisme Bung Karno tahun 1950-an itu masih ada terkait dengan kehendak lepas dari belenggu penjajah. Perhatikan saja bagaimana sikap Bung Karno terhadap modal dan bantuan luar negeri, kekuatan-kekuatan raksasa luar, atau dunia Barat. Dia sudah punya kekhawatiran akan terjadinya cengkraman atas dunia ketiga.

Itulah yang dulunya menghantui Bung Karno, dan tidak lagi menghantui orang-orang sekarang yang sudah hidup berjarak sekian lama dengan masa kolonial. Soekarno yang nasionalis itu, pada tahun 1950 dan 1960-an juga sudah mengatakan, ”Kita memang sudah merdeka.

Tapi jangan lupa, masih ada neo-imperalisme!” Gagasan seperti itu kan tidak pernah mati, dan sampai tingkat tertentu masih terdapat orang-orang yang sampai sekarang meng-entertaintgagasan-gagasan seperti itu.

Mas Bachtiar, kaum intelektual selalu membedakan stratifikasi sosial-politik umat Islam Indonesia dengan kategori Islamis dan nasionalis. Di kategori seperti itu, orang Islam masih tampak tersudut atau paling tidak tercurigai kadar nasionalismenya.

Memang ada saja yang berpemahaman bahwa nasionalisme harus kita berikan prasyarat-prasyarat tertentu. Ada pemahaman yang ideologis, dan ada saja pemahaman yang menjadikan nation-state sebagai sebuah ideologi.

Tapi ada juga yang memahami nasionalisme sebagai rasa cinta negara, cinta tanah air. Bagi saya, siapa pun yang meragukan nasionalisme orang-orang Islam masa lalu, dia harus membaca kembali apa yang pernah dilakukan Cokroaminoto, dan jangan hanya membaca perdebatan-perdebatan Soekarno di satu pihak, Muhammad Natsir, Agus Salim dan yang lainnya di pihak lain.

Cobalah pahami lagi apa yang dilakukan Cokroaminoto melalui Syarikat Islam (SI) pada masa itu. Dalam pandangan sejarawan tertentu, cikal bakal gerakan nasionalisme yang paling awal dan yang sungguh-sungguh di Indonesia adalah gerakan SI yang dimotori Cokroaminoto, bukan sekolah Stovia dengan Budi Utomo dan lainnya itu.

Gerakan Budi Utomo itu hanya terdiri dari beberapa orang atau 50-an orang saja. Tapi SI itu luar biasa. Dalam satu tahun saja, keanggotaannya bisa sekian banyak, dan semuanya aktif mengobarkan api nasionalisme.

Tentu saja itu tidak bisa dipahami dalam konteks ideologis. Saya nasionalis, tapi mungkin ideologi saya lain. Orang lain disebut nasionalis, tapi ideologinya berbeda dengan saya. Kategori-kategori yang diciptakan ilmuan-ilmuan sosial dan para sejarawan tentang kelompok-kelompok orang Indonesia, sebetulnya masih klasifikasi yang ideologis.

Semua itu tidak ada hubungannya dengan soal cinta tanah air seseorang. Orang-orang yang dibilang kelompok Wahid Hasyim, Sukiman, dan Mohammad Roem, tidak kurang cintanya pada Indonesia. Hanya saja, mereka punya perspektif atau weltanschaung sendiri yang berbeda dari Soekarno tentang Indonesia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.