Home » Politik » Demokrasi » Bahtiar Effendy: “Tanpa Kepercayaan, Demokrasi Tidak Sehat”
Bachtiar Effendi
Bachtiar Effendi

Bahtiar Effendy: “Tanpa Kepercayaan, Demokrasi Tidak Sehat”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Islam pada hakikatnya menyuplai perangkat teologis yang reseptif terhadaptrust sebagai social capital demokrasi. Tapi ipso facto, banyak warga di negara- negara Islam yang minus trust. Penelitian Sarif Mardin di Timur Tengah menunjukkan absennya budaya trust, sehingga kekuatan civil society menjadi tumpul.

Pada gilirannya kemudian banyak negara Islam yang mengalami defisit demokrasi. Berikut petikan wawancara Burhanuddin dengan Dr. Bahtiar Effendy, pengamat politik dan pengajar Pascasarjana UIN Jakarta, pada 31 Agustus 2003:

Mas Bahtiar, banyak ilmuwan sosial yang menekankan pentingnya trust dalam menopang modal sosial demokrasi. Seberapa penting sih urgensi trust dalam mendukung demokrasi?

Sangat penting. Tanpa trust, demokrasi tidak mungkin bisa diterapkan secara substansial. Kita bisa saja berbicara ihwal demokrasi dari sudut prosedur-prosedur untuk menempatkan seseorang guna menduduki pelbagai jabatan publik. Tapi tanpa trust, tanpa adanya habit untuk mempercayai seseorang, sistem, struktur, atau infrastruktur yang tersedia, saya kira, bangunan demokrasi itu akan sangat rapuh.

Secara umum, apa yang dimaksud dengan trust?

Trust terbagi menjadi dua unsur. Pertamatrust dalam arti amanah bahwa seseorang bisa dipercaya. Keduatrust dalam arti kemampuan untuk bisa memercayai orang lain. Dua unsur ini penting dalam menegakkan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang demokratis. Ini berbeda dengan Francis Fukuyama yang lebih memahami trust tanpa membedakan dua unsur tadi.

Adanya kepercayaan pada orang, tetangga, teman, atau pemangku jabatan publik merupakan “soko guru” demokrasi. Trust juga menyangkut kepercayaan kita pada prosedur, aturan main. Tanpa itu semua, yang muncul hanyalah kecurigaan dan prasangka, sehingga kehidupan menjadi tidak sehat.

Kita bisa melihat contoh yang paling mutakhir tentang trust. Misalnya tingkat kepercayaan seorang Nurcholish Madjid sebagai seorang capres yang sangat rendah terhadap aturan main yang dibuat Partai Golkar dalam proses konvensi untuk menjaring calon presiden.

Kita lihat, akhirnya proses itu tidak diteruskan Cak Nur, karena ada kecurigaan, prasangka, prejudice, dan stigma, bahwa apapun yang dilakukan Partai Golkar tidak bisa memberikan kepercayaan atau membuat publik ragu-ragu. Hanya saja, karena ada stigma masa lampau, orang seperti Cak Nur sekalipun, tidak dapat memercayai proses-proses yang ada di sana.

Bukankah distrust terhadap partai politik seperti Golkar karena dipicu oleh masih hidupnya tradisi Orde Baru dalam praktik politik mereka?

Saya bukan hendak menafikan itu. Kehidupan politik bisa berjalan teratur dan tertib bila dibarengi trust. Ketertiban di sini bukan sesuatu yang dipaksakan, tapi berjalan natural. Kita belum bisa mengembangkan trust, bukan karena dari sono-nya kita bangsa yang disebut zero-trust society, tapi memang ada proses politik-ekonomi sebelum ini yang membuat trust menurun drastis. Dalam hal ini, memang ada kontribusi Golkar yang menyebabkan hal itu terjadi.

Hal ini tidak berarti bahwa yang salah adalah mereka yang tidak punya trust. Alih-alih dalam persoalan politik makro, dalam skala pertemanan pun trust kita rendah. Kita sering tak adil melihat prestasi akademik seseorang, misalnya. Maka dari itu, sedikit demi sedikit, kita harus mengeliminir atau mengurangi perasaan-perasaan seperti itu.

Apakah interpersonal trust juga mempengaruhi tingkat trust terhadap institusi publik?

trust harus dibangun di tingkat masyarakat dan sebaiknya tidak mengaitkannya dengan struktur negara. Nanti akan berpengaruh sendiri tanpa dikait-kaitkan. Sebenarnya lebih karena negara tidak berfungsi baik, sehingga mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat.

Misalnya, penegakan hukum yang tidak maksimal, nyatanya mengurangi kepercayaan publik pada lembaga peradilan. Mereka lebih percaya dengan cara main hakim sendiri yang tak jarang lebih brutal dan radikal. Mengapa misalnya FPI merusak diskotik? Itu juga disebabkan mereka tidak percaya lagi pada negara.

Nah, kita bisa belajar banyak tentang trust dari sistem kongsi dagang yang dibangun orang Cina. Bagi mereka, interpersonal trust mempunyai peran yang sangat besar. Misalnya, Anda mempunyai kongsi. Bila Anda kekurangan apapun, mereka akan penuhi. Tapi sekali saja Anda mengurangi kepercayaan itu, maka Anda akan “rusak” selamanya.

Tadi Anda menyebut trust dengan amanah. Konsep ini sangat dikenal dalam doktrin Islam. Apakah memang ada paralelisasi antara konsep amanah dengan trust?

Ini memang persoalan yang agak ironis. Sebab kalau kita mau kaitkan dengan Islam, kita justru menemukan bahwa konsep trust tersebut justru populer di tangan orang seperti Francis Fukuyama dengan bukunya yang membahas persoalan trust. Nah, dalam bahasa Arab atau terminologi Islam, kata trust bisa saja diterjemahkan sebagai amanah.

Dari dulu, kita sudah belajar sejarah Nabi Saw, bahwa sebelum menjadi nabi, beliau sudah bergelar al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Bahkan, hadis yang menyebut tanda-tanda orang munafik sebenarnya pas jika dikaitkan dengan orang-orang yang tak bisa melakukantrust.

Ini kan sebetulnya pelajaran tentang prinsip yang harus diteladani orang Islam. Biasanya, persoalan amanah perlu dikaitkan dengan soal kepemimpinan dan tanggung jawab. Seseorang yang diberi wewenang dan tanggung jawab, harus amanah. Artinya, dia betul-betul memegang teguh jabatan, sehingga orang tahu bahwa jabatan yang dipegangnya selalu berada dalam batasan-batasan yang bisa diterima masyarakat.

Faktanya, banyak pemimpin umat yang tak bisa dipercaya?

Harus kita akui bahwa memang tak banyak orang Islam yang bisa mengamalkan konsep amanah. Sebenarnya ini tidak unik sebagai prinsip agama semata, tapi juga menjadi prinsip kehidupan yang biasa saja kita temukan.

Mungkin dalam konteks ini, amanah bisa juga kita pandang sebagai nilai yang universal. Konsep tersebut memang ada dalam Islam, lengkap dengan anjuran teologisnya. Hanya saja, dia juga mempunyai kaitan yang sangat luas. Terbukti bukan hanya orang Islam saja yang mengamalkan prinsip amanah itu.

Memang ada kesenjangan antara dokrin dengan tingkah laku kita sehari-hari. Bisa dikatakan, dalam banyak hal kehidupan kita tidak diinspirasi oleh semangat ajaran agama. Dan ini tak hanya menjadi persoalan orang Islam semata. Banyak juga orang, apapun agamanya, yang tidak bisa dipercaya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.