Home » Politik » Demokrasi » Bahtiar Effendy: “Tanpa Kepercayaan, Demokrasi Tidak Sehat”
Bachtiar Effendi

Bahtiar Effendy: “Tanpa Kepercayaan, Demokrasi Tidak Sehat”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Tapi beberapa ayat dalam Alquran seperti ayat walan tardla anka al-yahud wa la al-nashara hatta tattabi’a millatahumseolah menganjurkan distrust, khususnya pada orang Yahudi dan Nasrani. Tanggapan Anda?

Saya bukan ahli tafsir seperti Quraish Shihab. Tapi dalam Alquran memang antara satu ayat dengan lainnya ada yang saling meneguhkan, dan ada juga yang saling bertentangan. Kadang satu ayat mengajarkan kasih sayang terhadap orang lain, tapi di lain sisi ada ayat yang menganjurkan bertindak tegas.

Tapi kalau kita lihat secara keseluruhan, keharusan memegang teguh sikap amanah dan keharusan bersikap tegas dan jelas tersebut, bisa saja menunjukkan sesuatu yang tidak bertentangan. Tapi kalau Anda hadapkan satu per satu seperti itu, kesannya memang bisa bertentangan.

Apakah ayat-ayat yang memicu distrust itu an sichyang membuat kita sulit bertoleransi?

Bila kita lihat pandangan umat Islam terhadap Barat, khususnya Amerika, atau Israel atau Yahudi, saya kira, sense of distrust mereka luar biasa besar. Bagi mayoritas umat Islam, mereka adalah kelompok sosial yang sangat tidak bisa dipercaya. Makanya, yang muncul adalah prejudice. Tapi penyebabnya tidak murni berasal dari dasar-dasar teologi yang diajarkan Islam.

Saya kira, lebih bersifat sosial atau politik (socially and politically constructed). Jadi distrust orang Islam terhadap non-Islam atau Barat, lebih dibentuk oleh struktur sosial-politik-ekonomi ketimbang struktur teologi.

Bila demikian, apa urgensi membicarakan konsep teologi yang suportif terhadap sikap trust?

Dalam tingkat paling ekstrem, jawabannya adalah agar teologi tidak digunakan dan diseret-seret untuk memperkeruh suasana. Kehidupan kita sehari-hari juga dipengaruhi atau dibentuk oleh seberapa besar kita mempersepsi pemahaman keagamaan.

Dalam hal ini, teologi juga penting dipahami secara benar; Bagaimana semangat agama diturunkan akan membantu kita untuk memilah-milah mana persoalan agama dan mana yang bukan. Ini dibutuhkan bukan untuk memisahkan, tapi untuk membedakan saja.

Selain itu, Islam juga mengenal konsep husn al-dzan(berbaik sangka). Apakah konsep ini juga bisa menunjang trust?

Justru konsep ini bersifat saling komplementer. Dalam Islam, kita mengenal doktrin fitrah bahwa manusia terlahir secara bersih, sehingga kita tidak mengenal adanya dosa turunan. Semua bayi yang baru lahir putih bersih. Maka, yang harus dikembangkan adalah prasangka baik atau husn al-dzan. Manusia pada dasarnya adalah baik. Itulah filsafat Islam tentang manusia. Itu kan konsep yang bagus.

Sedari awal kita harus mengembangkan husn al-dzan sampai ditemukan bukti-bukti bahwa orang tersebut tidak baik. Ini beriringan dengan trust. Secara sosiologis, Nabi Saw mengajarkan hal itu dalam perilakunya sehari-hari dan dalam berdagang khususnya, sehingga dia lebih mudah dipercaya orang.

Islam juga melarang ghibah (menggunjing orang lain). Apakah juga inheren dengan trust?

Ya. Kalau kita ghibah, meskipun gunjingan itu benar, itu sudah dianggap sebagai ghibah yang tidak dibolehkan. Kalau gunjingan itu tidak terbukti, jelas lebih dilarang. Kita, termasuk saya, kadang tidak bisa mengamalkan ajaran-ajaran seperti itu. Harus ada islamisasi internal, di mana kita mengkaji ajaran-ajaran yang relevan untuk menyelesaikan persoalan yang sedang mendera kita.

Tapi uniknya, suguhan bernuansa ghibah dalam pelbagai acara infotainment di televisi justru paling digandrungi masyarakat kita.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Ada baiknya kita memulai kembali nilai-nilai yang bagus dari agama tersebut, kemudian pelan-pelan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu, banyak doktrin Islam yang menjunjung tinggi konsep trust.

Penelitian Sarif Mardin menunjukkan rendahnya tingkat trust di banyak negara Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk muslim. Mengapa ada paradoks seperti ini?

Negara-negara Islam mengalami defisit demokrasi tidak bisa kita timpakan pada persoalan trust semata-mata. Prasyarat untuk menegakkan demokrasi tidak terpulang pada soal trust saja. Yang terpenting adalah: apakah ada usaha serius untuk menegakkan demokrasi dalam artian menegakkan prinsip-prinsip yang dibutuhkan demokrasi?

Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa demokrasi Amerika bisa ditegakkan begitu saja di sini. Demokrasi bisa tegak di sini, kalau nilai-nilainya yang universal dan prinsip dalam demokrasi itu sendiri, kita letakkan dalam konteks sosial budaya kita. Mestinya ada banyak versi tentang demokrasi, dan kita tidak bisa mengklaim bahwa demokrasi di negara tertentu sajalah yang lebih bagus.

Anda percaya akan kemungkinan indigenisasi demokrasi?

Ya, saya percaya. Sebab demokrasi muncul pertama kali juga didukung oleh sistem sosial, kultural, dan kepercayaan tertentu dalam masyarakat Anglo-Saxon di Eropa Barat, tepatnya Inggris. Semula kecil, lalu membesar setelah diekspor ke Amerika.

Mudah diekspor di Amerika karena pada hakikatnya yang tinggal di Amerika juga orang-orang Inggis yang hijrah ke sana. Nah, bagaimana kalau diekspor ke Indonesia? Kita pernah mengalami itu dalam konteks yang sangat liberal dan gagal. Apakah kita akan mengulangi kegagalan itu? Saya kira tidak.

Kita punya banyak doktrin yang mendukung modal sosial demokrasi. Logikanya, bila melakukan indigenisasi demokrasi mestinya lebih mudah diadaptasi oleh masyarakat. Tanggapan Anda?

Kita tidak pernah melakukan proses indigenisasi demokrasi. Pengalaman kita dalam demokrasi sangat pendek, dari tahun 1950-1959. Saat itu yang muncul bukan indigenisasi demokrasi. Makanya Soekarno berang dan mengatakan bahwa ini demokrasi stem-steman.

Sementara pendukung demokrasi juga tidak pernah melakukan itu, karena pengalaman mereka adalah pengalaman Barat, baik dalam dunia pendidikan atau kehidupan sosial sehari-hari. Walaupun ada di antara mereka yang menginginkan Islam sebagai dasar negara, pada dasarnya pengalaman mereka adalah pengalaman Barat.

Nah, sekarang mestinya, secara struktur sosial, masyarakat kita lebih kuat, karena ekspos terhadap demokrasi juga semakin nampak. Semakin banyak mengalami hidup berdemokrasi, maka semakin mudah kita melakukan adaptasi.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.