Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Politik » Demokrasi » Fauzi Isman: “Iklim Kebebasan Kita Harus Disyukuri”

Fauzi Isman: “Iklim Kebebasan Kita Harus Disyukuri”

5/5 (3)

Mengapa Anda begitu lama tersadar akan kekeliruan doktrin NII?

Karena kelompok-kelompok seperti itu kan melarang jamaahnya untuk bergaul dengan kelompok lain. Untuk pengajian di jamaah lain pun nggakboleh. Kita juga dilarang membaca buku-buku di luar buku doktrin yang tersedia.

Dulu ketika masih di NII, bacaan wajib saya adalah kitab Jundullâh(Serdadu Tuhan, Red). Di situ diterangkan, kalau kita sudah menyatakan kesetiaan atau walâ kepada seorang pimpinan, maka kepada selain dia harus barâ’ atau emoh taat. Ternyata, setalah saya pelajari lagi, konsekuensinya kan tidak selamanya seperti itu dalam kehidupan kita ini.

Ada buku yang mempengaruhi Anda ketika di penjara?

Banyak sekali. Kebetulan kami dikunjungi pula oleh berbagai kelompok. Saya mulai merambah buku-buku Islam dari berbagai lapisan. Buku-buku yang dikarang ulama Syiah juga saya baca. Buku-buku tentang demokrasi segala macam juga saya baca.

Saya merasa beruntung ketika di penjara mempunyai banyak kesempatan untuk belajar, intropeksi-diri, kontemplasi, dan bergaul, termasuk dengan tahanan kriminal. Dari situ saya memahami tidak semua orang yang divonis kriminal itu jahat. Kadang-kadang lebih banyak motif ekonomi yang menyebabkan mereka terjebak dalam kriminalitas.

Mas Fauzi, bagaimana Anda melihat pelbagai gerakan Islam radikal yang sekarang ini cukup lantang bersuara memanfaatkan iklim demokrasi di Indonesia?

Bagi saya ada penyelesaian yang sangat gampang: penjarakan saja mereka dalam waktu yang lama, sehingga bisa intropeksi. Tapi memenjarakan itu tentunya kalau mereka melanggar hukum. Jadi pemerintah harus melakukan tindakan tegas.

Menurut pengalaman saya, orang-orang ekstrem yang dipenjara cukup lama di masa lalu, akan merasakan pengalaman psikologis dalam perkembangan kesadaran mereka. Sehingga dengan begitu, mereka yang tadinya terlalu radikal akan jadi moderat.

Saya bisa contohkan kasus Abdul Kadir Barajah. Tadinya kita mengenal dia sebagai pengeboman Borobudur. Ketika divonis 18 tahun penjara dan menjalani masa tahanan hampir 12 tahun, setelah keluar dia mendirikan gerakan Khilafatul Muslimin yang lebih berorientasi kultural. Jadi dia tetap memperjuangkan syariat Islam, tapi dengan cara yang lebih ramah.

Jadi, saya bisa katakan bahwa mayoritas orang-orang yang dulu berpandanagan radikal seperti Abu Bakar Ba’asir dan lain sebagainya itu, ketika dipenjara menjadi cukup moderat atau arif. Dalam kasus NII, saya bisa sebutkan nama Tahmid Kartosuwiryo, kemudian almarhum Aceng Kurnia, dan banyak lagi.

Pengalaman intropeksinya itu lebih lama, sehingga mereka bisa menyadari sebetulnya di mana kesalahannya. Hanya saja, dulu Abu Bakar Ba’syir kabur ke Malaysia dan tidak berani menghadapi pengadilan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Itu memang hak dia.

Tapi saya memilih strategi pencerahan, melakukan kajian, dan diskusi tentang Islam politik. Dengan begitu, tafsiran tunggal yang monopoli kebenaran tentang negara Islam yang selama ini didomonasi oleh kelompok-kelompok ekstrim tersebut, mendapat pembanding.

Ternyata, kalau kita kaji literatur-literatur klasik Islam, banyak sekali sikap moderat dalam memandang hubungan Islam dan negara. Tapi karena selama ini tidak ada pembanding, orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal Islam itu jadi terkesima. Saya dulu juga orang yang seperti itu.

Menurut Anda, apa perbedaan antara kelompok-kelompok radikal Islam radikal saat ini dengan Anda dulunya?

Ada satu hal mendasar yang saya lihat. Kalau dulu, munculnya radikalisasi dari kalangan Islam itu karena adanya tindakan represif dari penguasa. Jadi kita berbeda pendapat sedikit saja sudah ditahan, diintrogasi, dan disiksa. Kita nggak bisa bebas. Khatib-khatib Jumat, kalau dulu mau berkhutbah, bahannya harus diperika dulu oleh Laksusda Jaya dan Bakorkanas seminggu sebelumnya.

Tapi sekarang, saya melihat kekerasan itu justru terjadi secara horisontal, bukan untuk melawan kesemena-menaan, dan hanya untuk pemaksaan pendapat. Jadi ada keinginan untuk memonopoli dan kalau ada orang yang tidak sependapat dengan dia, dilakukanlah berbagai tindak intimidasi, stigmatisasi, dan teror.

Itulah yang membedakan keduanya. Karena itu, untuk yang saat ini, saya tidak melihat adanya alasan bagi mereka untuk bertindak. Terhadap pelacur dipukuli; apa alasannya? Saya yakin, tidak ada orang yang ingin menjadi pelacur. Jadi harus dilihat persoalannya itu apa sebenarnya.

Jadi proses radikalisasi itu dulunya untuk melawan represi, sementara kini untuk melakukan represi?

Ya, karena itu kini tidak ada alasan rasional untuk ada. Tapi anehnya, terhadap kelompok yang melakukan anarkisme itu, tidak ada penekanan yang memadai dari aparat. Saya tidak melihat aparat melakukan itu pada Muhammad Riziq Shihab, misalnya.

Seharusnya, dia bersyukur dengan kondisi saat ini. Dulu kita memperjuangkan dan menyosialisasikan wacana Islam dan bicara soal negara Islam saja sudah dipenjara. M. Irfan Awas itu dulu pernah menerbitkan buletin Risalah lalu kalau tidak salah, dipenjara 7 tahun. Itu hanya karena dia mau menerbitkan buletin yang menyosialisasikan wacana negara Islam.

Nah, sekarang kan dengan bebasnya kita bisa berdiskusi dan berwacana. Kondisi ini harus kita syukuri, dan untuk itu, tawarkanlah ide-ide negara Islam dengan cara yang ramah. Biarlah masyarakat yang menentukan mau menerima atau tidak. Bukan dengan pemaksaan seperti yang terjadi sekarang ini.

Beberapa individu yang sempat seideologi dengan Anda juga dipenjara, tapi setelah keluar tetap tak berubah. Apa yang membedakan orang seperti Irfan Awwas itu misalnya, dengan Anda?

Irfan Awwas itu dipenjara di Nusakambangan, sebuah daerah terisolir. Jadi pergaulan dia dengan kelompok-kelompok politik yang lain sangat terbatas. Sehingga dia tidak punya kesempatan untuk bergaul dengan orang lain, seperti tahanan politik dari berbagai latar belakang ideologi.

Tapi memang ada juga yang pernah sama-sama di Cipinang dengan saya, tapi kini tetap ekstrem. Saya ingin contohkan Abu Fatih yang sekarang menjadi ketua Mantiqi II Jamaah Islamiyah yang sedang dicari-cari. Namanya dulu dikenal sebagai Abdullah Mansyuri. Tapi saya melihat, memang sejak dulu dia tidak mau bergaul dengan orang lain. Dia tetap memelihara sikap ogahnya.

Dulu saya ingat, pernah ada bantuan dari kelompok Gereja. Dia begitu takut bantuan itu akan membahayakan akidah. Pasti mereka ingin mengkristenkan kita, pikirnya. Padahal, kalau dia sudah yakin dengan ideologi Islamnya, kenapa mesti takut akan dikristenkan? Dia sampai membakar baju yang diberikan pihak gereja. Jadi memang ada sikap-sikap yang tidak mau bergaul sejak dulu. Mungkin itu pilihan dia. Saya kira itu di antara beberapa faktor yang penting.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.