Home » Politik » Derita Para Pencari Suaka di Sekitar Kita
Para pengungsi Rohingyadi Kuala Cangkoi, Aceh Utara. (Foto: bbc.com)
Para pengungsi Rohingyadi Kuala Cangkoi, Aceh Utara. (Foto: bbc.com)

Derita Para Pencari Suaka di Sekitar Kita

4.6/5 (10)

IslamLib – Ingatan kita tentu masih lekat dengan foto mengenaskan sesosok bocah kecil yang tertelungkup di pantai. Aylan Kurdi, bocah kecil asal Suriah itu beserta kakak dan ibunya harus kehilangan nyawa ketika hendak menyeberang ke Eropa, tanah harapan mereka.

Mereka adalah bagian kecil dari jutaan orang Suriah lainnya yang mempertaruhkan hidupnya demi mencari tempat yang aman di tengah kekerasan berkepanjangan yang terjadi di negaranya.

Kematian tragis Aylan Kurdi seperti membangunkan kesadaran dunia bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi di tengah kehidupan normal kita. Dunia sedang menghadapi krisis kemanusiaan, jutaan orang berpindah tempat mencari kehidupan yang aman bermartabat akibat dari perang dan kekerasan yang tak berkesudahan.

Seperti kata Ariel Dorfman, penyair dan aktivis Chile kelahiran Argentina, “We live in the age of the refugee, the age of the exile.

Namun situasi tersebut tidak hanya terjadi di Eropa. Indonesia juga menghadapi situasi yang sama, di mana gelombang para pencari suaka dari berbagai negara yang tinggal di Indonesia meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Mereka yang tiba di Indonesia sebagian besar menjadikan Australia sebagai negara tujuan.

Dalam konvensi PBB tahun 1951 yang diperbarui melalui protokol 1967, para pencari suaka adalah orang yang meninggalkan negaranya karena ketakutan dan mendapatkan ancaman karena ras, agama, nasionalitas dan keanggotaan pada kelompok sosial tertentu. Mereka berhak mendapatkan perlindungan secara internasional.

UNHCR, badan tinggi PBB yang mengurusi masalah pengungsi setiap bulan, mengeluarkan data terbaru mengenai jumlah dan kondisi pencari suaka di Indonesia. Jika ditelisik, jumlahnya hampir selalu meningkat dari bulan ke bulan. Sebagian besar dari mereka berasal dari negara-negara Timur Tengah, Asia maupun Afrika yang sedang dilanda konflik kekerasan berkepanjangan.

Jumlah terbesar para pencari suaka di Indonesia berasal dari Afghanistan dan Pakistan. Mereka adalah suku Hazara, suku minoritas yang beraliran Syiah yang diburu oleh milisi Taliban yang Sunni. Di kedua negara ini, komunitas atau pemukiman suku Hazara bisa dipastikan selalu menjadi sasaran kekerasan entah berupa bom bunuh diri atau intimidasi langsung untuk pergi meninggalkan negaranya.

Sementara para pencari suaka dari Irak biasanya adalah suku minoritas yang mengalami diskriminasi pasca tumbangnya rezim Saddam Hussein. Ada juga warga negara Iran yang diburu oleh penguasa Iran saat ini karena aktifitas politiknya.

Dari Afrika, biasanya berasal dari Somalia yang juga tak putus dirundung konflik. Sebagian lainnya berasal dari Srilanka pasca kekerasan bertahun-tahun di negara tersebut.

Yang paling naas nasibnya adalah pengungsi Rohingya yang mengalami diskriminasi sosial politik dari pemerintah Myanmar, sehingga ribuan dari mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan terdampar di Indonesia.

Orang-orang tersebut disatukan oleh kesamaan tujuan yang dicari oleh setiap individu: rasa aman dan kebebasan hidup. Bagi mereka yang menjadikan Indonesia sebagai tempat transit, Australia adalah tanah impian tersebut.

Mereka bertaruh nyawa melintasi lautan luas menggunakan perahu ala kadarnya tanpa standar keamanan yang memadai. Banyak yang berhasil tiba di Australia, namun tak sedikit pula yang harus mengakhiri mimpinya: mati akibat kelaparan, dehidrasi, penyakit, atau tenggelam ditelan samudera yang ganas.

Yang sedikit beruntung, ditangkap oleh petugas di perairan Indonesia dan kemudian diserahkan ke pihak Imigrasi. Mereka kemudian dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).

Rudenim sebenarnya adalah tempat penampungan bagi orang asing yang tidak punya dokumen dan menunggu proses deportasi. Seiring dengan gelombang pencari suaka, pihak Imigrasi menggunakan Rudenim sebagai tempat untuk menampung para pencari suaka.

Pencari suaka di Rudenim. Saat ini ada ribuan pencari suaka yang tersebar di 13 Rudenim di seluruh Indonesia. Mendengar kata rumah detensi, dalam bayangan kita adalah bangunan tempat tinggal yang nyaman beserta energi keluarga yang hangat membahagiakan. Namun kondisi di Rudenim jauh dari gambaran seperti itu. Rudenim ibarat penjara dalam arti fisik bangunan, juga kondisi di dalamnya.

Saya sendiri pernah mendapat kesempatan menemani para pencari suaka di salah satu Rudenim. Orang-orang yang lari dari negaranya hendak mencari kebebasan ini harus mendapati kenyataan berdesak-desakan di Rudenim dengan kondisi yang jauh dari layak.

Bangunan rumah detensi didesain mirip penjara, terdiri dari beberapa blok. Setiap blok biasanya terdapat beberapa kamar terkunci, lengkap dengan jendela berjeruji besi.

Yang menyedihkan, seiring dengan meningkatnya jumlah pencari suaka, banyak Rudenim yang kelebihan kapasitas. Anda bisa bayangkan, satu kamar dengan kapasitas normal 10-13 orang, diisi rata-rata 20 sampai 25 orang.

Pasokan air pun terbatas. Jika musim kemarau, mereka harus berjuang mengatasi udara pengap dan panas. Dengan alasan keamanan, pihak imigrasi hanya mengijinkan mereka beraktivitas di luar kamar saat jam tertentu. Selebihnya mereka nyaris seperti pesakitan. Terkunci dalam kamar berjeruji. Tak ada kunjungan dari keluarga. Benar-benar terasing.

Yang paling ditakuti para pencari suaka adalah ketidakjelasan nasib berapa lama mereka akan menempati Rudenim. Para pencari suaka (Asylum Seekers) tersebut harus menunggu beberapa waktu untuk mendapat status Pengungsi (Refugee) dari UNHCR, status yang memberi mereka hak perlindungan internasional dan hak untuk ditempatkan di negara ketiga yang mau menerima mereka.

Untuk proses ini, pihak UNHCR mendata dan melakukan wawancara untuk mengetahui apakah alasan mereka meninggalkan negaranya menenuhi kriteria sebagai pengungsi.

Seorang pencari suaka biasanya menunggu beberapa bulan untuk melewati tahap ini. Bahkan ada yang satu tahun lebih. Jika permohonan mereka diterima, artinya mereka bebas menghirup udara bebas di luar Rudenim dan segera mengurus proses penempatan di negara yang menjadi tujuan. Entah Australia atau negara Eropa lainnya.

Yang menyedihkan adalah setelah menunggu berbulan-bulan, sertifikat mereka berisi penolakan mendapat status sebagai pengungsi. Ada beberapa pencari suaka yang saya temani harus menunggu setahun lebih kemudian mendapati kenyataan pahit tersebut.

Banyak yang frustasi dan putus asa. Ada yang mencoba bunuh diri atau melarikan diri dari Rudenim. Pilihan terakhir bukannya tanpa resiko karena jika tertangkap kembali mereka bisa jadi sasaran kemarahan petugas yang dianggap lalai menjaga mereka di Rudenim.

Tak hanya orang dewasa, ada banyak pencari suaka yang membawa serta anak-anak mereka. Salah satu keluarga yang saya temani berasal dari Rohingya yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan dua anaknya yang masih balita. Keluarga ini adalah satu dari sekian pencari suaka Rohingya yang selamat tiba di Indonesia.

Bukannya hidup normal, mereka harus mendapati kenyataan tinggal dalam ruangan yang terkunci selama 24 jam sehari. Hampir setiap hari anak mereka menangis karena kehilangan kemewahan sebagai anak: bermain di alam bebas.

Ada juga pasangan pencari suaka dari Srilanka. Sang suami diburu pemerintah setempat karena disangka sebagai bagian dari kelompok Macan Tamil. Ia membawa serta istrinya yang seorang perawat dan anak laki-lakinya berusia 5 tahun. Bersama puluhan orang lainnya, perahu mereka mati mesin di lautan selama hampir dua bulan.

Seperti di film Hollywood, rombongan ini bertahan hidup memanfaatkan air hujan atau memancing ikan dengan peralatan seadanya. Ketika nyawa sudah hampir di ujung tanduk, mereka diselamatkan nelayan di perairan selatan Jawa. Mereka kemudian diserahkan ke Rudenim.

Namun kehidupan keluarga kecil ini berakhir Happy Ending. Mereka mendapatkan status pengungsi dari UNHCR, dan kemudian pengajuan mereka untuk tinggal di salah satu negara di Eropa juga diterima. Di akun Facebook-nya saya sering melihat foto-foto kehidupan mereka, terutama anak mereka yang terlihat begitu bahagia.

Sama seperti yang kita alami sehari-hari, apa yang dialami para pencari suaka di Indonesia —terutama di Rudenim— menunjukkan gambaran nyata pergulatan hidup manusia. Ketakutan, keputusasaan, harapan, pengembaraan spiritual, kebahagiaan, juga tragedi. Lain waktu saya akan kembali menuliskannya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.