Home » Politik » Dunia Islam » Muhamad Ali: “Kolonialisme Tak Selalu Negatif Bagi Islam”
Muhamad Ali (Foto: Pribadi)

Muhamad Ali: “Kolonialisme Tak Selalu Negatif Bagi Islam”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Anda tadi menyinggung juga aspek hukum. Persisnya seperti apa hukum Belanda dan sistem hukum lokal yang ada? Dan bagaimana pula respon tokoh-tokoh Islam lokal dengan hukum fikihnya?

Pada waktu itu, hukum Belanda sudah terkodifikasi dengan baik. Kemudian hukum adat juga di kodifikasi dengan rapi oleh Belanda. Tokoh-tokoh Islam di Indonesia mencoba merespon dengan mengkodifikasi juga hukum-hukum Islam.

Sebagian tokoh-tokoh ahli fikih di Indonesia mencoba mengkodifikasi, misalnya, hukum-hukum dari mazhab Syafi’i. Tidak heran jika kita temukan kompilasi hukum Islam pada zaman sekarang. Menurut saya, ini adalah respon tidak langsung dari kompilasi-kompilasi sejenis yang dilakukan oleh Belanda sebelumnya.

Bagaimana dengan hukum Islam atau fiqih sendiri kaitannya dengan hukum adat pada masa itu?

Hukum adat saat itu sebagian sudah dipengaruhi oleh hukum Islam. Misalnya di Sumatera Barat, di Makasar, di Banten, warga lokal sudah menganggap bahwa hukum Islam itu bagian dari hukum adat mereka. Dalam konteks Islam di Sumatera Barat terkenal sekali adagium, adat basandi syara’ dan syara’ basandi kitabullah.

Kata “adat” itu sendiri kan berasal dari bahasa Arab, ‘adah. Jadi artinya mereka juga mengadopsi bahasa, bahasa Arab. Artinya bahasa Islam ketika itu memang kemudian menjadi bahasa lokal, menjadi bahasa adat. Lucunya kemudian adat diantagoniskan, dipertentangkan dengan syari’ah, padahal dua-duanya adalah (bahasa) Arab.

Setelah anda mengkomparasikan peristiwa-peristiwa sejarah yang berlangsung di Indonesia dan Malaysia di bawah pengaruh Belanda dan Inggris, apa yang sama dan apa yang berbeda antara keduanya dalam tilikan studi sejarah anda?

Pertama, pengalaman kolonial Inggris dan Belanda memang berbeda. Mereka memiliki perbedaan-perbedaan dalam hal ideologi kaitannya dengan kolonialisme mereka. Belanda itu motif awal mereka murni ekonomi. VOC misalnya, sejak abad ke-17 mereka memang ingin mencari rempah-rempah. Di sisi lain, Inggris sebetulnya memiliki motif peradaban, selain motif ekonomi tentu.

Mereka mempunyai semacam civilizing mission, misi untuk memperadabkan orang-orang yang mereka jajah. Itu perbedaan dari sisi motif. Pada perkembangannya, setelah sekian lama di Indonesia, Belanda akhirnya ikut terlibat juga dalam proses civilizing mission. Langkah Belanda ini sangat terlambat jauh dibanding Inggris, karena motif Inggris sejak awal adalah civilizing mission.

Dari sudut kebijakan, apa persamaan dan perbedaan kebijakan kolonial Belanda di Indonesia dan Inggris di Malaysia terhadap Islam sendiri?

Saya mulai dari perbedaannya. Pemerintah kolonial Belanda berkecenderungan untuk melakukan intervensi. Sosok Snouck Hurgronje misalnya. Salah satu pendapat dia adalah pemisahan antara Islam agama dengan Islam politik. Bagi dia itu mutlak.

Artinya kalau ada gerakan Islam yang berpolitik harus dibumi hanguskan. Akan tetapi kalau menyangkut soal-soal murni keagamaan yang tidak terkait dengan politik, mereka tidak campur tangan. Misalnya urusan naik haji, zakat, urusan harta waris dan lain sebagainya. Yang mereka anggap politik itu adalah anti Belanda, anti kolonial. Soal itu mereka tidak ada toleransi sama sekali.

Bagaimana pula dengan corak kebijakan Inggris di Malaysia?

Di sisi lain, Inggris tidak demikian. Inggris tidak mau campur tangan. Mereka menyerahkan urusan agama dan urusan budaya lokal terhadap para sultan, para petinggi pada waktu itu yang ada di daerah yang sekarang kita sebut Malaysia. Itu perbedaan pertama.

Perbedaan kedua, respon lokal di Indonesia terhadap Belanda lebih majemuk. Sedangkan di Malasyia respon yang terjadi tidak terlalu majemuk,karena ada hubungan yang kuat antara sultan dengan pemerintah Inggris.

Kolaborasi antara keduanya bersifat mutualistik, saling menguntungkan. Sementara di Indonesia, kalau pun ada kolaborasi itu, tidaklah sekuat yang terjadi di Malasyia antara para sultan dan pejabat pemerintah Inggris.

Ada persepsi yang berkembang bahwa kolonialisme memelihara konservatisme. Menurut anda, tepat ataukah tidak persepsi demikian?

Dalam hal ini tesis saya adalah bahwa kolonialisme berpengaruh secara tidak langsung terhadap perkembangan konservatisme Islam, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Pesantren dan masjid-masjid dibiarkan oleh Belanda sehingga tidak mengalami reformasi internal.

Ini menimbulkan banyak gerakan transmisi-transmisi Islam dari Timur Tengah menguasai Nusantara. Akibatnya banyak sekali orang Islam yang hanya berfikir soal halal-haram, mana yang boleh dan yang tidak, dan seterusnya.

Dengan kata lain, banyak memproduksi orang-orang yang berpikir legal-formal atau fiqh-oriented. Tapi bukankah gerakan sufisme juga berkembang di masa itu?

Betul. Sufisme atau tasawuf juga berkembang di Asia Tenggara. Justru Islam sufistik inilah yang cukup berpengaruh terhadap populerisasi Islam di berbagai kalangan. Tasawuf lah yang membuat, misalnya, orang-orang Jawa yang sudah punya tradisi Negarakartagama, Mahabarata, Ramayana, mudah menerima ajaran-ajaran Islam.

Karena ada kesesuaian antara ajaran-ajaran sufistik dengan ajaran-ajaran yang telah mereka kenal. Hal itu membantu proses transmisi Islam lebih cepat dan lebih menyebar. Tidak hanya di pesisir, tapi juga di pedalaman di seluruh Indonesia.

Bagaimana respon Belanda sendiri terhadap Islam yang bercorak sufistik ini?

Mereka waspada terhadap Islam sufistik ini. Karena memang Islam sufistik ini memiliki organisasi. Ketika sudah menjadi thoriqoh atau tarikat, mereka bisa menjadi kekuatan anti-kolonial yang efektif. Dan memang terbukti banyak gerakan-gerakan sufi lokal yang berjuang melawan Belanda ketika itu.

Oleh Belanda, kelompok-kelompok tarekat ini dianggap sebagai Islam politik. Jadi Islam politik itu bukan hanya Islam-syari’at. Islam sufistik bisa menjadi Islam politik ketika menjadi tarikat yang bergerak melawan, keluar dari sarang pengajian-pengajian sufistik mereka.

Sebagai penutup, apa kesimpulan yang bisa kita tarik seputar relasi Islam dan kolonialisme?

Pertama, kolonialisme itu tidak selalu negatif. Ada aspek yang positif, antara lain pendidikan yang diperkenalkan sebagai pendidikan kolonial. Pendidikan lokal muslim, pesantren, madrasah itu mengalami reformasi, pembaharuan akibat dari interaksi mereka dengan sistem kolonial Belanda. Kedua, salah menganggap bahwa kristenisasi itu selalu terkait dengan kolonialisme.

Selalu anggapannya, agama Kristen adalah agama kolonial, agama penjajah, karena itu mereka adalah musuh. Itu adalah retorika sebagian kalangan aktivis muslim yang anti imperial, anti kolonial. Pada kenyataannya kristenisasi itu berjalan sangat beragam. Misi Kristen, zending, termasuk juga agama-agama lain seperti Konghucu, Hindu, Budha itu berjalan sendiri-sendiri.

Mereka sebagai organisasi-organisasi mandiri, tidak selalu terkait dengan kebijakan Belanda. Bahkan pernah Belanda itu melarang penyebaran agama Krsiten di tempat-tempat yang sudah berpenduduk muslim ketika itu.

Ketiga, kekuatan kolonial itu bukan kekuatan yang monolitik. Yang kita sebut sebagai penjajah itu sebetulnya bahasa penyebutan kita. Mereka sebetulnya beragam. Ada yang official atau resmi. Ada yang independen, seperti para sarjana-sarjana Belanda yang tidak terkait dengan pihak kolonial. Juga misi-misi agama yang tidak terkait dengan kolonial, disamping ada sebagian yang memang terkait.

Kita harus melihat kolonialisme secara komprehensif. Dengan demikian kita tidak bisa menganggap bahwa kolonialisme itu monolitik, satu kekuatan yang memiliki satu ideologi yang kemudian ideologinya merusak Indonesia, merusak Islam. Kita harus melihatnya kasus per kasus. Sebab jika tidak, penjelasan yang muncul kemudian adalah penjelasan yang ahistoris.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.