Home » Politik » Dunia Islam » Pudarnya Agama Cinta
(Foto: Creativeresistance.org)
(Foto: Creativeresistance.org)

Pudarnya Agama Cinta

4.22/5 (9)

IslamLib – Bagaimana kita tak terenyuh mendengar kabar tentang negara-negara Arab menolak pengungsi korban perang Suriah? Sementara ini adalah masalah hidup mati mereka yang ingin masuk mencari perlindungan dari perang yang mengganas.

Bagaimana pula kita tak merasa sikap negara-negara Arab itu teramat keji? Bahkan juga tak sepeser pun donasi mereka berikan sekedar untuk mengurangi sedikit derita korban perang. Padahal mereka sungguh negara makmur lagi kaya. Sebutlah Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, terutama Arab Saudi.

Kala imigran Suriah ingin masuk, segera mereka menutup pintu. Para korban perang itu ditolak, tak diterima. Seolah mereka membawa penyakit menular berbahaya seperti kusta. Padahal mereka masih serumpun. Masih saudara.

Padahal juga mereka seiman, satu agama yang harusnya mengenal kalimat: “Sesama Muslim ibarat satu tubuh. Jika tangan atau kaki tersakiti, seluruh tubuh ikut merasakan sakit.”

Entah bagaimana mereka lupa. Sengaja mereka menutup mata atas penderitaan saudara serumpun, saudara seiman itu.

Terlepas dari urusan agama, di manakah pula rasa kemanusiaan mereka?  Padahal sungguh, ini urusan hidup dan mati.

Besar anggapan ketakutan psikologis akan perbedaaan Sunni-Syiah menjadi alasan kuat mereka tak menerima para imigran Suriah itu. Selain juga pemahaman bahwa menerima imigran ibarat menyemai bibit terorisme.

Dua alasan yang patut dinilai sebagai gejala paranoid saja. Dugaan-dugaan dan ketakutan, keegoan yang dipertahankan. Sementara kepedihan sesama manusia, hidup dan mati terpapar jelas di depan mata.

Satu kali lagi kejadian yang membuat dunia akhirnya semakin menganggap terlalu jauh cinta dan kasih sayang dari agama kita,  Islam. Bahwa kita memperlihatkan ego dan perpecahan pun juga kecurigaan lebih di atas-segala-galanya. Padahal Islam katanya agama cinta dan kedamaian.

Lalu kita tak bisa pula untuk tidak membandingkan sikap mereka dengan negara lain yang juga tak jauh dari Suriah. Adalah negara-negara Eropa yang amat terbuka dan memiliki solidaritas yang mengundang simpati.

Beberapa pemimpin Eropa kini malah berusaha keras menyelamatkan imigran Suriah. Padahal upaya itu amat berpotensi mengundang kericuhan karena harus melawan gerakan anti-imigran di negara masing-masing. Resiko yang diemban atas nama kemanusiaan.

Bahkan Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker mengajukan usul pembagian kuota pengungsi ke berbagai negara. Sekarang sudah Jerman, Prancis dan Spanyol yang menerima dengan tangan terbuka porsi pengungsi dalam jumlah besar.

Jerman malah menerima lebih dari usul kuota. Terdapat lima ratus ribu pengungsi menitipkan diri ke negara tersebut di tahun ini. Pengungsi itu diperlakukan selayaknya keluarga. Mereka diberikan kesempatan kerja, anak-anak disekolahkan.

Memang benar pula ada beberapa negara Eropa yang enggan memberi suaka untuk korban perang Suriah ini. Iba kita mendengar Perdana Menteri Hungaria, Viktor Mihály Orbán, bahkan sampai menyerukan agar Eropa tak menerima para imigran itu.

Alasannya adalah untuk mempertahankan identitas kekristenan Eropa dengan tak menolong imigran yang tentulah Muslim. Bagaimana bisa rasisme dan perbedaan agama masih dikedepankan di atas nasib manusia yang berada di antara jurang hidup dan mati?

Berkaca pada perbedaan sikap beberapa negara ini kita akhirnya berpikir, mengapa dunia dibuat sebegitu rumitnya? Bukankah atas nama cinta, kasih sayang dan kemanusian semua hal sungguh sederhana saja.

Tanpa ada pikiran yang dirumit-rumitkan, cinta dan kasih sayang hanya akan menghadirkan pertolongan yang tulus dan refleks. Bahkan tanpa diminta. Mungkin kita banyak meyakinkan diri dengan aturan dan paham yang tak terlalu perlu. Bahkan hanya membuat dunia menjadi lebih rumit, lebih sulit, lebih kelam.

Bukankah semua Agama mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang? Lalu mengapa ia berbalik menjadi alasan untuk lupa akan cinta dan kasih sayang pula?

Kita mungkin juga sering terlupa, apakah hakikat paling dasar untuk sebuah agama? Tak perlulah kita mengkaji terlalu dalam. Cukup sederhana saja: bahwa agama menuntut semua manusia untuk menjadi pribadi yang berbudi baik. Gemar melakukan kebaikan. Tentu saja dengan cinta dan kasih sayang.

Sampai sekarang bukankah tak ada yang mengajarkan sebaliknya? Agama yang mengajarkan penganutnya untuk berbuat jahat? Semua agama adalah kebaikan. Semua agama adalah cinta dan kasih sayang.

Begitulah, kejadian pengungsi Suriah mungkin terasa amat berat untuk kita ikut memberikan solusi. Namun darinya kita bisa belajar untuk tak lupa bahwa apapun agama kita,  Islam, Kristen (Katolik/Protestan), Budha, Hindu atau yang lainnya tetap saja,  seharusnya agama kita adalah cinta.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.