Home » Politik » Dunia Islam » Soheib Bencheikh: “Kita Perlu De-Saudisasi Islam”

Soheib Bencheikh: “Kita Perlu De-Saudisasi Islam”

4.25/5 (4)

Anda frustasi melihat gagalnya sebagian umat Islam melakukan penyesuaian Islam dengan kebiasaan setempat?

Penyesuaian itu adalah hak kita semua. Mengapa kita memaksakan Muslim Prancis untuk mengamalkan corak Islam yang akan menjauhkan mereka dari lingkungan kebudayaan Prancis? Bagi saya, mereka berhak menentukan corak Islam ala Prancis, dengan syarat paling minimal seperti percaya pada Tuhan dan kenabian Muhamad.

Tidak lebih dari itu. Untuk apa mereka harus mengubah nama mereka dengan nama yang berbau Arab ataupun mengubah secara radikal cara berpakaian mereka? Apakah Abu Bakar dan Umar pernah mengganti namanya ketika memeluk Islam? Apakah Khadijah dan Aisyah mengganti namanya?

Dengan apa Anda memberi nama anak-anak Anda?

Yang pertama saya beri nama Hajar, ibundanya orang Arab dan Nabi Ismail. Yang kedua saya beri nama Iskandar atau Alexander Makedonia. Yang ketiga saya beri nama Arsalan yang khas Turki. Tidak ada maksud untuk menegaskan identitas agama ketika saya memberi nama-nama pada anak saya.

Semuanya nama-nama yang mendunia. Nama saya sendiri Shoheib, berasal dari nama bawaan dari orang tua saya yang Arab. Itu pun diambil dari nama seorang sahabat Nabi yang berasal dari Yunani yang memeluk Islam.

Bagi saya, tidak ada hal-hal yang perlu membatasi kebudayaan Timur dan Barat. Pembatasan itu sendiri baru ditetapkan secara tegas oleh negara-negara Eropa pada era kolonialisme. Itulah yang disebut Edward Said sebagai batasan-batasan geografis yang imajiner.

Karena itu, kalau kita serius membahas akar-akar pemikiran klasik Islam, kita akan menemukan wujud filsafat yang bersumber dari Yunani, administrasi pemerintahan dari tradisi Persia, dan adopsi prinsip `urf (adat) yang berasal dari tradisi hukum Romawi. Itulah peradaban. Saling memberi dan menerima. Peradaban Eropa tidak akan bisa tinggal landas kalau tidak meneruskan dan mengembangkan peradaban Arab-Islam yang mulai runtuh.

Kini kita seakan menghadapi pertarungan mencari otentisitas. Orang Islam menginginkan otentisitas Islam sementara kalangan fundamentalis Kristen juga ingin seperti itu. Dan itu menimbulkan gap. Tanggapan Anda?

Kelompok-kelompok yang fundamentalis itu di mana-mana hanya minoritas. Tapi kebangkitan minoritas Kristen fundamentalis di beberapa negara Barat saat ini sangat mudah dipahami. Mereka memang berpandangan sempit. Tapi kemunculan mereka sedikit banyak juga dipicu oleh perasaan bahwa negara mereka yang demokratis, sekuler, toleran, dan pluralis, kini seakan-akan kedatangan kuda troya yang berpotensi mengancam kenyamanan hidup mereka.

Mereka merasa telah memberikan kebebasan penuh kepada banyak imigran Muslim untuk tinggal di negeri mereka. Tapi para imigran ini kini dianggap mengganggu eksistensi mereka. Karena itulah gejala kebangkitan kelompok kanan itu kini terjadi di Jerman, Denmark, menjalar ke Belanda dan negara Eropa lainnya. Tapi mereka tetap minoritas yang tak perlu terlalu dirisaukan.

Apakah orang Islam akan diperlakukan seperti Yahudi di Jerman dulunya atau masa depan mereka akan cerah?

Saya selalu mengatakan kepada umat Islam di Prancis agar mengambil pelajaran dari orang-orang Yahudi. Sebab mereka lebih tahu bagaimana populisme mengancam eksistensi mereka. Kita tahu, di mana-mana, demokrasi tidak pernah bisa lepas dari ancaman populisme yang kadang bengis. Bahkan sebuah konstitusi, sebagai sumber nilai tertinggi sebuah negara, mungkin saja berubah bilamana opini publik berubah drastis.

Kalau kita menyia-nyiakan kekuatan kita untuk sesuatu yang tidak perlu dan menantang Barat di kampung halaman mereka sendiri, mereka bisa saja memanipulasi opini publik tentang ancaman orang Islam di Eropa. Kalau sudah parah, mereka bisa saja membuntuti orang Islam di manapun.

Untungnya, sekularisme selalu melingdungi kita. Dan iklim kebebasan selalu dapat memberi perlindungan terhadap kalangan minoritas. Jangan lupa, Hitler menggunakan populisme dan demokrasi untuk sampai pada tampuk kekuasaaan dan menciptakan bencana.

Karena itu, saya selalu menganjurkan orang Islam untuk mengambil pelajaran dari orang-orang Yahjudi tentang bagaimana mempengaruhi pusat-pusat kekuasaan tanpa kebisingan. Itu berhasil mereka lakukan di Prancis tanpa mengingkari sejarah dan identitas keprancisan mereka.

Dan mereka juga berjuang untuk hak-hak kaum minoritas secara keseluruhan. Tapi tampaknya kita tidak mau mengambil pelajaran. Kita seakan-akan tak punya kesadaran politik yang memadai.

Dulu, institusi-institusi pendidikan di Prancis berada dalam asuhan Gereja Katolik. Semua mata pelajaran di Prancis, dulunya sangat kuat dipengaruhi institusi agama Katolik, tepatnya Kongregasi Jesuit. Tapi gerakan Kaum Republikan III mampu meruntuhkan dominasi Gereja atas institusi pendidikan dan menjadikan pendidikan sebagai ruang yang terbuka bagi semua.

Itu dicapai lewat perjuangan yang berdarah-darah dalam perang Prancis-Prancis. Eksponen Republik III lalu mampu menyerabut sektor pendidikan dari dominasi suatu gereja, sehingga muncullah corak pendidikan sekuler dan netral untuk semua agama dan kelompok. Dengan itu, konsep kewarganegaraan yang setara menjadi semakin kokoh.

Nah, ketika orang-orang Muslim datang di Prancis, mereka tidak mengerti sejarah Prancis. Mereka datang dengan surban yang menjulang tinggi lalu berteriak bahwa demi demokrasi kami mestinya juga berhak melakukan ini dan itu.

Mereka secara umum tidak paham bahwa perjuangan Prancis untuk mencapai sebuah negara sekuler hanya bisa terwujud lewat cara yang berdarah-darah. Mereka juga tidak tahu bahwa keharmonisan hubungan antaraagama di Prancis tidak datang sekonyong-konyong, tapi juga melalui pelbagai cobaan pahit.

Pada mulanya, orang Islam generasi pertama yang datang di Prancis disambut dengan penuh toleransi dan rasa iba kerena mereka adalah kalangan minoritas yang sempat tertindas di negara asalnya. Tapi ketika orang Islam makin banyak dan sudah pula menjadi perpanjangan kepentingan ideologis di tanah asalnya, seperti Wahhabisme dan Ikhwanul Muslimin, para anggota Parlemen Prancis mulai waswas dan merasa adanya bara yang siap menyala.

Kecemasan itu menguat karena ada tanda-tanda meningkatnya intoleransi beragama yang mewabah seperti pengecaman berlebihan terhadap Yahudi dan Kristen di Prancis. Perkembangan jilbab dan cadar juga sangat mengkhawatirkan mereka.

Anda tergangggu oleh pengaruh Islam berwatak ideologis itu di Prancis?

Secara umum saya tidak khawatir akan masa depan Muslim Perancis. Tapi saya mengkhawatirkan jenis keislaman yang mulai dianut dan dikembangkan oleh banyak kalangan muda Muslim Prancis saat ini. Mereka telah menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Dengan menganut jenis Islam tertentu, mereka mulai kesulitan membangun hubungan sosial yang lebih baik dengan tetangganya. Mereka menghabiskan waktu untuk membahas soal jenggot, ukuran celana, budaya siwak, dan lain-lain.

Mereka lupa bahwa Nabi Muhammad sendiri memanfaatkan hal-hal terbaik pada zamannya sebagaimana kita di zaman modern. Sebagai pemikir Islam, saya pernah dikecam tidak mengindahkan sunnah Nabi versi mereka. ”Anda sungguh tidak mengindahkan sunnah Nabi!” sergah mereka.

”Dalam hal apa aku tidak mengindahkan sunnah Nabi?” tanyaku. Katanya, ”Dari gaya hidup Anda sehari-hari, terutama cara berpakaian.” Jawaban saya waktu itu adalah: yang aku pahami dari sunnah Nabi adalah fakta bahwa Nabi tidak punya minat untuk bertindak menyimpang (syadz) dari budaya pada masanya.

Bagi saya, untuk benar-benar menghormati sunnah Nabi, kita hendaknya jangan bertindak janggal-janggal pada masa kini, terutama dalam hal-hal yang tidak esensial. Saya menyayangkan kalau hendak menjadi Muslim kita justru berperilaku menyimpang dari tatanan sosial yang ada.

Padahal kalau kita jujur, justru itulah prototipe yang digambarkan kalangan orientalis tentang Islam. Kesan eksotis dan aneh dari orang Islam itulah yang mereka citrakan tentang hakikat Islam. Tapi, saya dan para orientaslis pun dianggap tidak mengerti tentang Islam. ”Mereka (para orientalis itu, Red) justru mengetengahkan Islam sebagaimana yang kalian tunjukkan pada mereka,” kata saya.

Itulah pengalaman saya berdialog dengan sebagaian anak muda Islam yang ekstrem. Memang banyak dialog yang mentok, tapi sering juga berhasil. Karena itu, saya selalu menyarankan para pengambil keputusan di Prancis untuk bertindak bijak terhadap mereka. Saya jelaskan, mereka berperilaku demikian bukan karena dalamnya pemahaman Islam mereka, tapi karena sedikitnya Islam yang mereka pahami.

Mereka sungguh tidak punya kekebalan-diri dari virus fanatisme. Mereka mendatangkan orang-orang yang ekstrem untuk mengajarkan Islam sehingga mereka gagal membangun hubungan sosial yang positif dengan masyarakat Prancis dan terpinggirkan.

Apa bayangan Anda tentang sosok Muslim Prancis yang ideal?

Saya berpandangan sederhana: ketika seorang Prancis mengaku dia Muslim, dia akan tetap Muslim, meski orang lain meragukan kemurnian Islam mereka. Toh, Tuhan tidak memperkenankan kita untuk menjadi pengadil(qudlat) bagi nurani dan jenis keislaman orang. Bagi saya, sosok Muslim Perancis yang ideal adalah seorang Muslim yang terbuka, cerdas, berwawasan luas, dan punya sensitivitas politik yang tinggi.

Mereka berpikiran terbuka dan selalu mencermati pemikiran-pemikiran kontemporer. Mereka hendaknya juga mengetahui sejarah Prancis, dan Eropa pada umumnya, karena Prancis punya posisi strategis di kawasan Eropa. Di sisi lain, mereka hendaknya juga mendalami khazanah pemikrian Arab dan Islam, khususnya sebelum fase kemundurannya.

Saya teringat seorang mahasiswa Indonesia yang terobsesi untuk menghidupkan kembali masa kejayaan ilmu dan peradaban Islam dengan proyek kembali menelaah karya-karya Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun. Saya katakan, ”Jangan membatasi diri pada mereka saja.

Mereka memang brilian pada masanya. Tapi kalau Anda benar-benar ingin memperdalam ilmu pengetahuan dan sains, Anda hendaknya melanjutkan apa yang sudah dicapai oleh khazanah ilmu pengetahuan modern. Boleh saja Anda menengok ulang apa yang sudah dicapai oleh para raksasa pemikiran Islam itu. Tapi Anda harus menambahkan sesuatu yang baru!”

Kita tahu, untuk saat ini, buku kedokteran Ibnu Sina, yaitu as-Syifa atau al-Qanun fit Thibb, sudah lama ditinggalkan negara-negara Eropa. Orang Eropa juga tak lagi merujuk al-Khawarizmi dan Abul Hayyan at-Tauhidi untuk mengerti ilmu pasti.

Memang, sejarah membuktikan bahwa apa yang dicapai oleh orang-orang saat ini bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit, tapi merupakan akumulasi dari pencapaian-pencapaian peradaban yang tiada henti dari masa sebelumnya. Tapi mengandalkan apa yang dicapai Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khalun terlalu jauh dan sangat kurang.

Saran Anda untuk perkembangan Islam di Indonesia?

Saya heran mengapa masyarakat Islam Indonesia yang terkenal ramah dan mampu membangun pola hidup berdampingan secara damai dengan agama-agama lain seperti Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha, kini justru bertindak semena-mena terhadap kelompok Ahmadiyah. Bagi saya, kalau mereka mengaku Islam, tak ada yang berhak mengeluarkan mereka dari keluasan Islam dengan cara memonopoli pandangan tentang Islam.

Sunni, Syiah, Khawarij, dan lain-lain, semuanya tidak berhak memonopoli kebenaran tentang Islam. Kalaupun mereka dianggap keluar dari Islam, prinsip yang berlaku adalah: bagi mereka agama mereka dan bagi kita agama kita.

Saya heran mengapa ekstremisme seperti itu muncul dalam perilaku masyarakat Islam Indonesia yang terkenal toleran dan lapang dada menyikapi keragaman. Katakan pada nurani orang-orang Islam Indonesia yang ingin kembali menghidupkan kembali pandangan yang positif tentang kemajemukan, tradisi toleransi, dan keluesan watak Islam, bahwa jika usaha mereka berhasil, itu akan banyak sekali manfaatnya.

Banyak yang merasa tidak berdosa memperlakukan Ahmadiyah secara semena-mena karena mereka sudah dianggap sesat. Tanggapan Anda?

Tidak soal sebesar apapun perbedaan keislaman Anda dengan mereka. Biar Tuhanlah yang nantinya menjadi hakim perbedaan di antara kita. Begitulah prinsip Islam yang saya kenal. Tentu ada saja yang beranggapan bahwa mereka sedang membela kemurnian Islam dengan menyerang Ahmadiyah.

Tapi bagi saya, kalau ingin menunjukkan wajah Islam yang murni dan asli, Anda harus menampilkannya dalam bentuk yang lapang dada. Tunjukkan pada dunia bahwa meski banyak perbedaaan di antara kita, kita tetap tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk berkonflik.

Saya kita, sikap itu akan lebih banyak membantu citra Islam daripada bertindak konyol. Itu lebih baik daripada kita terus-menerus berimajinasi sedang membela Islam yang asli. Klaim Islam asli itu pada hakikatnya tidak perlu dan tidak bermanfaat untuk membangun hubungan sosial-kemasyarakatan yang harmonis.

Kita tahu, Alqur’an sendiri tidak berbicara tentang apa itu Islam yang asli. Sepanjang hidup, saya tidak menemukan Alqur’an berjalan di muka bumi dengan mikrofon sembari memberi kuliah tentang apa itu Islam asli. Yang ada hanya orang-orang dengan berbagai watak dan kecenderungannya yang berbicara lantang atau lamat-lamat tentang apa itu Islam menurut mereka.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.