Home » Politik » Dunia Islam » Ulama Su’
ulamasu

Ulama Su’

5/5 (1)

IslamLib – Masjid orang Syiah yang bersejarah dihancurkan oleh orang Sunni di Irak. Begitu juga sebaliknya reaksi yang muncul kemudian. Ini bukan hanya terjadi di Irak seperti diberitakan pekan-pekan ini, melainkan juga di negeri-negeri muslim lain seperti Pakistan.

Di Indonesia, masjid kelompok Islam Ahmadiyah menjadi sasaran penghancuran sebagian umat Islam yang kontra. Di sini, di samping faktor-faktor lain, konon para pemimpin umatlah yang diduga ikut menyumbang saham bagi meletusnya kekerasan.

Pandangan-pandangan keislaman yang membakar hampir selalu keluar dari lisan sejumlah orang yang disebut ulama itu. Mereka seperti kompor bagi umat dan dapat dengan mudah menyulut api permusuhan. Dari mereka, semakin langka diketemukan pandangan keislaman yang sejuk dan solutif.

Menghadapi “ulama kompor” tersebut–mestinya mereka tidak layak disebut sebagai ulama kalau menggunakan standar kompetensi keilmuan dan lain-lain– bukanlah perkara gampang. Ini karena sebagian umat—tentu tidak semua—telah memposisikan mereka sebagai ulama.

Dari mereka, seakan-akan segala urusan dan hajat keumatan dapat ditanggulangi. Mereka telah diposisikan seperti seorang pemilik yang menguasai segala perkakas kerumah-tanggaan Islam. Sehingga ketika ada “piring” yang pecah, serta merta mereka berkoar dan meminta ganti.

Yang paling aneh, mereka tak segan-segan mengambil alih otoritas dan kewenangan Tuhan, sekalipun wahyu pendelegasian wewenang tak pernah turun langsung kepadanya. Cobalah perhatikan fenomena kita belakangan ini.

Jika seorang muslim melakukan—katakan saja dosa-dosa yang bersifat pribadi, serta merta doa permintaan maaf dipanjatkan pada ulama yang bersangkutan. Dan naifnya, bukan kepada Tuhan. Jika tak ada permintaan maaf, karuan si pelaku dosa diperkarakan, misalnya dengan pasal penodaan atas Islam.

Umat Islam akhirnya hanya diwakili oleh segelintir orang. Kita boleh tidak puas, tapi itulah faktanya. Dalam konteks itu, hemat saya, perlu ada upaya untuk mengerem membludaknya ulama-ulama kompor.

Salah satunya adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan umat, sehingga mereka akan tahu secara persis mana-mana orang yang pantas disebut ulama dan mana-mana pula yang tidak. Mana ulama yang perlu diteladani dan mana yang “preman berjubah”, seperti yang dikatakan Buya Syafii Maarif, yang harus diwaspadai.

Umat yang terpelajar akan tahu kualifikasi keilmuan seorang ulama. Umat yang cerdas bisa menakar derajat moralitas yang mesti digenapi. Sebab, kita mungkin tak pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sekiranya sebuah bangsa dipenuhi oleh para ulama kompor dengan kualitas keilmuan yang tidak mumpuni dan standar moralitas publik yang retak.

Sementara, mereka kerap saja diminta untuk mengeluarkan pendapat dari sudut pandang Islam atas kasus-kasus yang biasanya tanpa didului investigasi dan deliberasi.

Saya khawatir, apa yang pernah diprediksi Kanjeng Nabi Muhammad akan benar-benar terjadi, yaitu banjir fatwa dari sejumlah orang yang tak layak disebut ulama. Fa aftaw bi ghairi `ilmin fa dhallu wa adhallu, kata nabi tandas.

Mereka berfatwa tanpa dasar ilmu, dan mereka tersesat serta menyesatkan. Perbedaan pendapat yang mesti rahmat, di hadapan mereka beralih-rupa menjadi laknat. Pluralisme yang mestinya dirayakan malah diharamkan.

Akhirulkalam, kalau boleh memodifikasi sebuah hadits Nabi, saya akan katakan, “Sungguh, takkan pernah bahagia sebuah bangsa yang menyerahkan segala urusannya kepada ulama kompor”. Lan yufliha qawmun wallaw amrahum ulamâ` al-su`.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.