Home » Politik » Internasional » Ahmad Sahal: “Kita Perlu Lobi Tandingan Israel”

Ahmad Sahal: “Kita Perlu Lobi Tandingan Israel”

1/5 (1)

Anda mungkin punya penjelasan historis juga mengapa Amerika begitu simpati, tidak kritis, bahkan suportif habis terhadap segala tindakan Israel?

Beberapa waktu lalu, setelah tulisan dua profesor tadi dimuat di London Review of Books, muncul tulisan Tony Judd, seorang profesor sejarah Eropa dari New York University di New York Times. Di situ Judd bilang bahwa ketakutan terhadap stigma anti-Semit juga sangat menakutkan bagi publik Amerika.

Menurut dia, ketakutan dituduh anti-Semit kalau mengkritik hubungan tidak sehat antara Amerika dengan Israel itu begitu kuatnya di Amerika, dan itu tidak terjadi di Eropa. Padahal, dalam banyak hal, itu justru akan merugikan kepentingan Amerika sendiri, Israel dan seluruh orang Yahudi.

Karena itu, bagi dia ketakutan akan stigma anti-Semit ini harus dilawan, dan karena itu tulisan dua profesor tadi dia sebut sebuah terobosan yang menarik sekali di Amerika.

Mungkin penjelasan itu berbeda dengan apa yang terjadi di banyak negeri muslim dan Arab. Kalau di publik Amerika ketakutan stigma anti-Semit melumpuhkan sikap kritis terhadap hubungan Amerika dan Israel, di dunia muslim, kita gampang sekali terjebak pada skenario teori konspirasi.

Jadi kita gampang terjebak dalam penjelasan dengan menggunakan teori konspirasi. Sekali sedikit-sedikit ada kejadian, kita menghubungkannya dengan konspirasi Yahudi yang mengandaikan adanya kekuatan tunggal terorganisir yang dilakukan olehYahudi, mungkin dari Amerika atau dunia Barat, untuk melumpuhkan dunia dan umat Islam.

Menurut saya, kecenderungan berpikir konspiratif ini juga sesuatu yang sudah saatnya dihentikan. Lebih baik kita berpikir realistis. Artinya, kalau Amerika habis-habisan mendukung Israel karena peranan lobi Israel yang begitu hebat melalui proses politik yang wajar di Amerika, mengapa umat Islam di Amerika atau mungkin bangsa Arab di Timur Tengah yang juga tidak miskin-miskin amat, tidak membangaun lobi yang sama.

Mulai sekarang, untuk kepentingan jangka panjang, membangun lobi Palestina, Timur Tengah, atau Arab untuk menandingi lobi Yahudi itu sangat perlu. Jadi kita sedang bicara soal kenyataan politik Amerika yang mensyaratkan demikian. Ini yang harus mulai kita pikirkan sebagai strategi jangka panjang umat Islam dalam menghadapi kekuatan Israel.

Sayangnya, dunia Arab selalu tidak bisa bersatu, dan bukan hanya itu, mereka juga kurang berpikir stategis dalam kancah politik riilnya. Kalau mereka sudah tahu bahwa Amerika selalu mendukung Israel karena ada kekuatan lobi Israel yang begitu kuat di Amerika, mengapa mereka selalu menuntut Amerika untuk menjadi wasit yang adil tanpa pernah berpikir membangun kekuatan dalam perpolitikan domestik Amerika? Karena itu, lobi itu penting untuk menghadapi kekuatan yang nyaris tak terkalahkan.

Karena itu, menurut saya, untuk strategi jangka panjang, cara-cara kekerasan seperti yang sudah sering kita tempuh dan selalu gagal, sudah sebaiknya ditinggalkan. Kini sudah saatnya kita memikirkan supaya ada kelompok yang memikirkan kepentingan Palestina di dalam kancah perpolitikan domestik Amerika. Mereka harus rajin, giat dan aktif mempengaruhi Amerika supaya kebijakan politik luar negerinya berpihak kepada Palestina dan dunia Islam. Jadi ini betul-betul pertarungan politik yang harus dilakukan.

Kalau Amerika ingin mendapatkan informasi tentang situasi Timur Tengah, selama ini mereka otomatis mencari dari organ-organ atau badan-badan pro-Israel seperti AIPAC itu, ya?

Sebetulnya tidak semonolitik itu, karena Amerika juga negara demokratis. Salah satu kekuatan negara yang demokratis adalah kebebasan berekspresi. Karena itu, tulisan dua profesor yang saya sebutkan tadi beredar luas juga di dalam dunia akademis Amerika. Hanya saja, kritik-kriitik itu, dari segi intensitas dan frekuensinya, tidak sepopuler di Eropa; di mana ketakutan terhadap tuduhan anti-Semit tidak terlalu kuat.

Karena itu, kita tidak perlu lagi bicara tentang hak Israel berada di Timur Tengah seperti yang sering dikemukakan Presiden Iran, Ahmadinejad. Pada tahap sekarang ini, sebenarnya pembicaraan sudah ada pada gagasan bagaimana Israel dan Palestina itu bisa hidup berdampingan. Dan karena itu, tindakan sembrono seperti menculik kopral Israel seperti yang dilakukan Hamas atau Hizbullah, dari segi stategi politik, menurut saya ngawur. Tapi yang jauh lebih ngawur, tentulah pembalasan Isreal yang membabi-buta.

Lalu apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi Israel dan sekutunya, Amerika? Apa cukup dengan menggembar-gemborkan kalimat al-Islam ya’lu wala yu’la alaih (Islam itu jaya, dan tidak ada yang mampu menandinginya, Red?) Bagi saya, kita tidak seharusnya berhenti pada retorika, tetapi perlu mewujudkannya secara kongkret dengan cara membangun kekuatan di dalam dunia politik yang riil.

Kita gampang sekali tersulut emosi kemarahan karena diperlakukan secara tidak adil, tetapi kemarahan itu tidak mampu kita tranformasikan menjadi energi besar untuk membangun kekuatan. Ini adalah soal serius: bagaimana staretegi yang dibutuhkan untuk merealisir jargon itu tadi.

Ada banyak juga komunitas muslim dan Arab di Amerika. Apakah mereka sudah berpikir untuk membangun lobi yang bisa diperhitungkan?

Sebenarnya sudah ada beberapa komunitas di Amerika yang berpikir begitu, tetapi masih terlalu lemah. Komunitas muslim di Amerika, dari segi mobilitas vertikal dan tingkat kesejahteraan ekonominya, relatif lebih cepat dibandingkan mereka yang ada di Eropa. Dengan begitu, mereka mestinya lebih mapan secara ekonomi. Hanya saja, secara politik, mereka memang masih lemah.

Saya kira, proyek membangun lobi Timur Tengah atau Palestina dalam perpolitikan Amerika ini memang proyek jangka panjang. Untuk itu, berhentilah berpikir konspiratif, karena itu merefleksikan teorinya orang yang malas, karena tidak berpijak pada kenyataan.

Kalau mau belajar dari lobi Israel, apa yang perlu dilakukan untuk membangun lobi tandingannya?

Wah, ini pertanyaan yang sangat pelik dan saya tidak tahu bagaimana menjawabnya. Tapi yang saya tahu dari pengalaman belajar di Amerika adalah fakta bahwa komunitas Yahudi itu kuat, justru karena mereka tidak seragam. Maksudnya, mereka begitu majemuk dalam segala hal.

Contohnya, baik di sayap politik konservatif maupun liberal Amerika, banyak sekali orang Yahudi yang hebat-hebat. Padahal, mereka saling bertentangan dalam dua kecenderungan tersebut. Jadi Yahudi di Amerika sendiri tidak tidak bersifat monolitik. Tapi secara kualitas individu-individu, mereka begitu mumpuni dalam banyak bidang. Jadi, lagi-lagi ini soal kualitas SDM-nya.

Kalau begitu, masa depan lobi tandingan Israel sangat suram, dong?

Itu soal persepsi, ya. Kalau dilihat dari sekarang, kekuatan ekonomi kelompok Yahudi Amerika itu memang begitu digdaya. Dan itu berdampak ke dunia politik karena mereka bisa membiayai calon anggota Kongres supaya terpilih dalam pemilu dan membela kepentingan mereka.

Namun, tidak tepat juga kalau dikatakan bahwa ekonomi Amerika akan ambruk tanpa Yahudi. Tetapi kalau dibilang kalangan Arab atau Timur Tengah miskin, tentu tidak juga. Sebab kebutuhan Amerika terhadap minyak, sangat bergantung pada pasokan Timur Tengah.

Jadi kalau bicara soal lobi untuk jangka panjang, saya kira itu tidak mustahil. Banyak yang bisa dikerjakan dalam dunia politik yang riil oleh kalangan Islam Timur Tengah. Saya optimis, karena itu bisa dilakukan.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.