Home » Politik » Internasional » Goenawan Mohamad: “Cupet, Pandangan Amerika ke Dunia Luar”
Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad: “Cupet, Pandangan Amerika ke Dunia Luar”

5/5 (1)

Goenawan Mohamad, atau akrab dipanggil mas Goen atau GM, bercerita tentang Amerika pasca tragedi 11 September 2001. Ketika peristiwa itu, mas Goen memang berada di negeri paman Sam untuk menjadi dosen tamu di University of California Los Angeles (UCLA). Selama empat bulan, selain ia mengajar di UCLA, ia pun berkeliling Amerika untuk ceramah dari kampus ke kampus menerangkan tentang kondisi Islam atau media di Indonesia.

Setelah peristiwa tragis itu, kata mas Goen, Amerika memang menjadi patriotik, xenopobia terhadap orang asing khususnya yang berbau “arab” dan Islam, serta intoleran terhadap orang yang berbeda pendapat. Ini karena orang Amerika sebetulnya orang-orang yang pada umumnya tidak banyak mengenal dunia luar. Mereka sibuk memahami diri sendiri, kuper. Bahkan Presiden George W. Bush, kata wartawan senior TEMPO dan penyair ini, sebelum jadi presiden tidak pernah ke luar negeri. Makanya, orang-orang Amerika itu tidak begitu tahu tentang apa itu Islam, Indonesia bahkan Eropa.

Minggu lalu, mantan pemimpin redaksi TEMPO ini balik ke Indonesia. Dan ia berdiskusi dengan Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Utan Kayu (31/1/0) tentang Amerika melihat Islam setelah peristiwa tragis itu. Tentu tidak hanya soal itu, mas Goen pun banyak mengutarakan pandangannya tentang Islam dan agama lainnya. Menarik! Berikut petikannya:

 

Kita akan mendiskusikan bagaimana Islam di Amerika Serikat seperti disaksikan oleh mas Goen, terutama berkaitan dengan tragedi 11 September. Bagaimana kesan umum Anda ketika itu, terutama bagaimana Islam sendiri sebagai agama dipandang di Amerika pasca tragedi itu?

Orang Amerika itu sebetulnya orang-orang yang pada umumnya tidak mengetahui banyak mengenai dunia luar. Memang seperti Indonesia, karena negara besar, beragam penduduknya, dan karena itu sibuk memahami diri sendiri terus menerus seperti kita, sehingga jadi kuper. Amerika sedikit sekali yang mengerti bagaimana Indonesia, bagaimana Islam, bagaimana Eropa. Saya dengar Presiden Bush sendiri sebelum jadi presiden belum pernah ke luar negeri.

Katanya baru dua kali, atau malah tidak pernah sama sekali.

Norak lah. Jadi memang ada satu ruang untuk salah paham, dan memang hari-hari pertama biasanya adalah patriotisme yang meninggi, ketakutan pada orang asing, xenophobia, dan intoleran juga pada orang-orang yang berbeda pendapat. Tentang perang, misalnya. Terhadap orang Islam juga muncul kecurigaan yang tinggi. Banyak orang yang kelihatan Arab dicurigai dan belum apa-apa sudah dianggap calon teroris.

Dan ada satu orang Islam Mesir yang ditembak di Chicago dan seorang Sheik yang ditembak di Arizona. Ini karena mereka tidak bisa membedakan mana yang Islam mana yang Sheik. Sejak ada pembajakan itu mereka juga begitu takut, sehingga kalau naik pesawat ada orang asing yang kelihatan seperti Arab atau yang lain, mereka curiga, minta diturunkan orangnya.

Kebetulan ada orang Pakistan, maka dia dturunkan. Yang lucu, ada satu rombongan orang yang memang kelihatan asing tampangnya, berdoa lima jam, lalu mereka anggap ini teoris, malah beberapa penumpang minta mereka diturunkan. Setelah itu mereka baru tahu itu bahwa mereka adalah orang Yahudi Ortodoks.

Anda pernah menulis bahwa ada satu kegiatan doa bersama yang diselenggarakan di tempat terjadinya tragedi itu. Anda bisa ceritakan mengenai itu?

Setelah tiga hari saya datang ke Union Square itu, lapangan itu, banyak orang menyatakan duka cita dan segala macam. Yang meninggal di WTC itu antara lain 300 orang Pakistan dan orang Bangladesh. Belum lagi yang dari negeri lain. Jadi di lapangan itu duka cita dari seluruh bangsa dan agama. Saya melihat sendiri tulisan yang mengatakan ada orang-orang yang membenci umat Islam.

Ada satu tulisan di lapangan itu “please protect our moslem brothers and sisters” , mari kita lindungi saudara kita muslimin dan muslimat, di samping ada doa-doa lain. Mungkin kira-kira waktu menjelang perang dilancarkan ke Afghanistan, ada sekitar 10.000 demonstran di New York yang menentang.

Di antaranya pemimpin Yahudi, pemimpin Kristen, dan juga dalam doa itu ada tokoh Islam, salah satunya juga dari Indonesia, pemimpin masjid di salah satu masjid di sana. Jadi memang Amerika tidak satu, ramai sekali, macam-macam.

Ini menarik karena di satu pihak di Amerika ada ketidaktahuan mengenai orang lain, tetapi kemudian mengenai tragedi itu sendiri di sini itu juga dibaca dengan ketidaktahuan yang sama. Misalnya dulu ketika habis tragedi itu ada berita tentang 4.000 orang Yahudi yang katanya diberi tahu terlebih dahulu sebelum peristiwa itu terjadi.

Saya juga membaca berita itu kemudian saya cek, karena saya juga wartawan. Saya cek dengan beberapa wartawan, juga dengan wartawan New York Time. Tidak betul. Karena ada lima orang Israel pada peristiwa itu yang mati. Jadi orang Yahudi banyak juga, orang Yahudi Amerika. Karena di WTC banyak orang Istanik, orang Yahudi. Tidak benar itu. Kemudian memang terbukti bahwa ini di luar rencana Israel maupun Amerika.

Di sini, ada yang melihat tragedi itu dibaca secara terbalik sebagai konspirasi untuk menghancurkan Islam, terutama karena sikap Amerika setelah tragedi itu yang mencoba mengaitkan atau mengidentikkan antara Islam dengan terorisme.

Memang betul bahwa ada kecenderungan besar di Amerika, juga sebagian pejabat di pemerintahan Bush untuk menganggap negeri-negeri Islam sebagai pangkal terorisme. Misalnya, kita yang dari negeri Islam; Indonesia atau Malaysia, harus menunggu 20 hari untuk mendapatkan visa.

Jadi ada suatu prasangka yang agak jelek. Padahal terorisnya warga negara Perancis, orang dari Jerman, bahkan terakhir orang Inggris. Itu memang yang saya sesali. Tetapi presiden Bush akhirnya menyadari bahwa itu salah, sehingga dia datang ke masjid dan mengatakan jangan lagi ada persekusi terhadap kaum muslimin. Dan itu menolong.

Saya ada satu cerita di Ohio, ada Taman Kanak-kanak yang salah satu muridnya bernama Osama, orang Islam keturunan Arab. Dan dia ketakutan ke sekolah karena namanya. Tetapi tetangga-tetangganya dan seluruh orang tua murid di sana menganjurkan dan menelpon Osama supaya masuk. Tidak apa-apa. Memang tidak semuanya toleran dan tidak semuanya intoleran.

Jadi ada sejumlah nuansa di Amerika yang tidak sama, dan orang di luar Amerika mungkin tidak tahu. Dikira semua Amerika adalah anti atau tidak senang Islam.

Itu jelas. Memang orang Amerika, seperti yang saya katakan tadi, pandangan tentang dunia luarnya cupet. Tidak seperti orang di negeri kecil. Mungkin karena besar, beragam. Di Amerika itu ada negeri tropis seperti di Hawai, ada negeri Altic seperti di Alaska, ada negeri Mediteranian seperti di California, yang iklimnya segala macam ada.

Kedua, Amerika itu negara yang menghasilkan dolar, sementara utangnya juga dari dolar. Kita utangnya dari dolar. Rasa butuh terhadap dunia luar agak kurang. Ketiga, yang lebih penting lagi, politik di Amerika itu lokal. Korannya pun lokal.

Anda pernah bercerita mengenai suatu peristiwa di UCLA; kisah buka puasa di sana. Bagaimana itu?

Karena ada beberapa kekerasan terhadap orang Islam, maka kaum minoritas lain juga merasa bersimpati. Misalnya, FBI meminta orang-orang asing keturunan Arab ditanyai oleh polisi di salah satu daerah. Komandan polisi di sana menolak. “Tidak mau saya , karena itu melanggar undang-undang dan karena itu berprasangka buruk pada orang asing”.

Orang ini memang orang minoritas, orang hitam. Yang menarik ketika saya di UCLA, ada satu acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh persatuan mahasiswa Yahudi, di kampus. Yang datang mahasiswa dari Palestina, dari negei Arab; ada mahasiswi dari Arab Saudi, dan salah satu yang berdoa adalah seorang muslim dari India.

Mahasiswa Yahudi yang menyelenggarakan dan kemudian ada seorang Rabi yang mengatakan bahwa di Yahudi juga ada tradisi puasa, Islam juga ada tradisi puasa. Lalu ada seorang pofesor hukum, orang Arab Saudi yang lulus dari Yale, ahli agama Islam yang juga mengajar di sana, juga menjelaskan masalah puasa dan sebagainya. Ada apresiasi baru tentang Islam di sana.

Karena orang kaget juga; kok sebuah agama diperlakukan begini, masa semuanya teroris. Memang dulunya orang tahu bahwa terorisme di Palestina itu bukan dimulai oleh kalangan Islam. Sebelumnya George Habermas dan sebagainya itu orang Kristen, (kaum Kiri, Marxis), dan orang Islam kemudian.

Sebetulnya sikap anti Amerika itu sudah lama menjadi suatu sentimen yang meluas di kalangan Islam. Apakah Anda melihat setelah tragedi kemarin itu sentimen ini menjadi menebal di sejumlah negara atau sesuatu yang menimbulkan gejala lain di Amerika?

Memang sentiman anti Amerika itu meluas setelah Syah Iran dan Revolusi Iran. Sebenarnya menaik. Saya pernah ikut diskusi, saya tanyakan, sebetulnya itu belum terjadi, belum pernah Amerika dianggap setan besar. Bahkan di tahun 1950-an Pakistan, negara Islam pertama itu adalah anggota dari Pakta Pertahanan Asia Tenggara, seperti NATO-nya Asia Tenggara.

Dan pada tahun 1950-an juga di Indonesia, kalangan Masyumi sangat dekat dengan Amerika. Jadi itu kemudian perkembangan baru. Perkembangan baru karena menurut saya politik Amerika terhadap Israel yang memang kurang adil dan memang patut dikritik. Tapi tidak berarti bahwa itu ada hubungannya langsung dengan masalah Islam. Karena sebenarnya tidak hanya orang Islam yang komplain mengenai itu.

Seperti kemarin waktu Natalan di Betlehem, waktu Arafat tidak boleh ke gereja, simpati juga datang dai kalangan Yahudi. Di gereja, protes terhadap kebijakan tersebut luar biasa. Kritik kepada Amerika keras sekali. Edward Said adalah seorang pembela Palestina, pengecam politik Amerika, dan dia beragama Kristen.

Kembali pada soal kebencian terhadap Amerika, ada kebencian Amerika di satu pihak, ada terorisme, ada Islam di sini. Itu kemudian mudah sekali sekarang seolah-olah dikaitkan ketiga-tiganya sekaligus. Itu bagaimana?

Pertama, Amerika tidak satu, Islam tidak satu, terorisme tidak satu. Macam-macam. Jadi kalau kita menyimpulkan masing-masing seolah-olah bertentangan itu salah.

Menurut Anda sendiri apakah usaha untuk memisahkan antara Islam dan terorisme itu cukup berhasil tidak?

Saya kira ya, tapi belum cukup. Ya karena Presiden Bush mengatakan bahwa ini bukan perang antara Islam, dan dia datang ke masjid, dan mengatakan begitu, dan ada perlindungan terhadap orang-orang Islam di sana yang diteror oleh orang ekstrim kanan.

Misalnya bagaimana perlindungan itu?

Polisi dan ada undang-undang anti kebencian di sana. Jadi kalau menyebarkan kebencian pada Islam, ya ditangkap. Atau kepada Yahudi, atau kepada Kristen, ya ditangkap.

Tapi tidak cukup dalam pengertian bagaimana?

Itu dalam arti karena misalnya peraturan soal visa. Itu masih menunjukkan seolah-olah ambivalen. Kedua, belum cukup karena belum meyakinkan pada masyarakat di dunia bahwa ini bukan soal Islam-non Islam. Ini adalah soal hubungannya dengan politik Amerika di Timur Tengah.

Jadi lebih berkaitan dengan kebijakan luar negeri Amerika, ketimbang soal agama?

Ya.

Ada sejumlah orang yang mengatakan bahwa sebetulnya terorisme itu bukan sekedar soal kekerasan fisik tapi juga dilandasi oleh pemahaman keagamaan yang ditafsirkan dengan cara-cara tertentu untuk membenarkan kekerasan itu. Jadi ada sesuatu yang sifatnya lebih teologis atau doktrinal?

Memang ada suatu studi mengenai ini dilakukan oleh seorang guru besar dari Universitas Santa Barbara, Mark Juergensmeyer. Dalam bukunya yang berjudul Terror in the mind of God, ia melakukan studi terorisme yang dilakukan atas nama agama, bukan hanya Islam.

Oleh semua agama; Yahudi, Kristen, Budha, Sheik. Karena memang salah satu unsur yang suka dipakai oleh orang beragama adalah bahwa dia punya pendirian Tuhan bersama dia. Semuanya benar. Seolah-olah dia menjadi wakil Tuhan. Jadi semuanya benar, yang tidak setuju jadi salah dan salah harus dihabisi. Tapi agama juga bisa mengilhami hal-hal yang baik juga. Jadi tergantung dari orangnya sebenarnya.

Bagaimana menafsirkan agama itu. Orang-orang yang menganggap bahwa membunuh 3000 orang tidak bersalah itu sebagai kebajikan agama, itu ada. Tapi ada orang yang mengutip salah satu ayat Quran yang mengatakan bahwa membunuh satu orang berarti membunuh seluruh manusia. Jadi tergantung apakah Anda memang mempunyai tabiat yang sebagai pembunuh yang kejam atau Anda memang seorang yang mencari damai. Lalu memilih ajaran yang Anda anggap cocok.

Di Injil pun ada kata-kata yang mengatakan saya datang membawa perang bukan membawa damai, dan itulah yang digunakan oleh kaum ekstremis Kristen, kaum fundamentalis Kristen di Amerika untuk membom, misalnya, gedung Oklahoma City, juga membakar Taman Kanak-kanak orang Yahudi, dan menyerang klinik-klinik dan membunuh dokter.

Ada sejumlah penulis muslim yang menulis setelah tragedi itu yang mengatakan bahwa sebaiknya orang-orang beragama, termasuk Islam, mencoba untuk menelaah kembali apa sebenarnya yang terjadi pada umatnya sendiri di dalam kaitan terhadap pemahaman agama itu. Apakah Anda memandang ada sesuatu yang serius di sini berkaitan dengan tafsir agama itu yang karena punya potensi untuk mendukung kekerasan itu?

Saya bukan seorang ahli agama. Jadi sukar sekali kalau saya berkata, nanti disangka sok tahu. Cuma memang memonopoli satu tafsir itu memonopoli Tuhan. Seolah-olah kita serba tahu tentang Tuhan. Ini menimbulkan intoleransi. Tuhan kan Maha Akbar.

Bagaimana bisa dipersempit oleh satu tafsir saja. Kebanyakan orang-orang fanatik adalah, atau yang sempit, menganggap bahwa tafsirnya paling benar, yang lain adalah kafir dan haus disingkirkan. Itu terjadi di semua agama. Terorisme itu kekerasan, semua agama. Sekarang masalahnya adalah karena kita tahu semua agama mengalami itu maka semua agama kita ramai-ramai berusaha mawas diri.

Kenapa akhir-akhir ini, tiba-tiba soal penafsiran masalah agama menjadi masalah karena bisa berakibat pada kekerasan fisik. Itu sesuatu yang belum pernah kita alami dulu. Ini timbul belakangan saja. Apa saja faktor yang membuat ini tejadi?

Saya kira ini pernah dialami tidak oleh Islam saja. Ingat bahwa di zaman Eropa, malam Bartolomeus itu orang-orang Protestan dibunuhi dalam satu malam di Prancis. Juga perang antara Syiah dan Sunni. Keras sekali. Zaman yang ditulis oleh Zardi Zadan dalam Bendera Hitam dari Khurasan penuh dengan kekerasan. Jadi tidak hanya sekarang. Sekarang ini memang problemnya ada suatu keresahan karena orang mengangap bahwa zaman yang begitu pesat ini orang kehilangan pegangan. Jadi mau pegang apa saja yang kuat.

Nah, agama ketemu di situ?

Tidak hanya agama sebetulnya. Bisa juga komunisme. Apa saja yang dipegang kuat. Asal jangan takut jadi ke hancur. Lalu agama tentu saja paling mudah karena memberikan kemutlakan.

Lalu ini soal orang sedang cari-cari pegangan karena frustrasi dengan keadaan ini. atau melihat keadaan begitu penuh dengan krisis. Sejumlah orang mengatakan atau berpandangan bahwa kalau saya berpegangan pada agama ini, agama A, agama B, atau A dalam versi tafsiran A, maka seluruh masalah akan selesai. Itu bagaimana Anda melihat keyakinan atau anggapan semacam ini yang juga potensi toleransi?

Tuhan kan tidak memaksudkan dunia ini surga. Jadi selalu akan ada cacat.

Tapi solusi tetap diperlukan?

Solusi tetap diperlukan. Tapi harus selalu tahu bahwa ini cacat. Karena kalau kita bawa agama untuk solusi yang cacat nanti agamanya cacat.

Jadi tempat yang layak untuk agama di dalam konteks semacam itu?

Menurut saya, agama tidak mungkin, agama apapun, menyediakan jalan keluar tuntas untuk segala macam, untuk sepak bola sampai soal negara. Tapi ada beberapa hal yang bisa mengilhami orang untuk cari jalan keluar yang baik. Karena inspirasi kuat dan kalau kita lihat prestasi-prestasi pemikiran dan kesenian yang diilhami oleh agama yang sangat luhur.

Jadi misalnya kalau kita lihat di stiker-stiker, di koran bahwa Jesus is Solution, Islam is Solution dan semacamnya itu banyak sekali kita baca. Bagaimana menempatkan stiker seperti itu secara tepat, karena itu banyak mengecoh banyak orang juga?

Memang stiker bahasanya jelas. Bahwa agama bisa tuntas urusan, karena dunia begitu kompleks dan berubah-ubah, dan juga tidak dimaksudkan untuk akan sempurna. Kan ada surga.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.