Home » Politik » Internasional » Goenawan Mohamad: “Reaksi Berlebihan Merepotkan Muslim Eropa”
Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad: “Reaksi Berlebihan Merepotkan Muslim Eropa”

3/5 (2)

IslamLib – Gelombang kemarahan umat Islam di banyak negeri muslim terhadap pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad, hendaknya tetap memperhitungkan posisi minoritas muslim di banyak negara Eropa. Reaksi yang gegabah dan membari buta bisa-bisa justru akan lebih mempersulit posisi mereka yang hidup rantau sana. Demikian perbincangan Luthfi Assyaukanie dan Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL), dengan Goenawan Mohamad, budayawan dan mantan Pemimpin Redaksi majalah Tempo, Kamis (9/2) lalu.

 

Mas Goen, apa yang terjadi di Denmark sana sehingga koran Jyllands Posten memuat karikatur Nabi Muhammad yang menghina itu?

Saya kira itu pertanyaan penting saat ini. Kita perlu meneliti atau menelaah bagaimana latar belakang masyarakat Denmark, karena memang koran yang memuat karikatur itu mula-mula ditujukan untuk khalayak Denmark. Koran itu juga berbahasa Denmark yang hanya dipahami oleh orang yang sangat terbatas.

Dua tahun lalu, saya bersama KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, kebetulan diundang ke Denmark. Pak Hasyim diminta menjelaskan tentang Islam Indonesia, sementara saya menjelaskan mengenai kebudayaan Indonesia.

Dari kunjungan singkat itu kelihatan bahwa di Denmark memang ada suasana tidak toleran terhadap imigran, terutama yang datang dari Pakistan, dunia Arab, dan Turki, yang kebanyakan beragama Islam, miskin, dan punya problem sosial sebagai orang miskin. Di antara problem yang mereka hadapi adalah pengangguran dan bahkan gejala-gejala rasialisme.

Pemerintah Denmark telah berusaha meredam itu, antara lain dengan mendatangkan orang-orang seperti kami. Pemerintah yang sekarang tampaknya memang harus memperhatikan suasana yang bergerak ke arah anti-asing. Itu mungkin karena angka kriminalitas yang menaik, yang sebetulnya tak berhubungan dengan Islam, tapi dengan tingkat kemiskinan.

Nah, saya kira, karikatur itu dibuat oleh orang yang memang punya pandangan rasialis; orang yang mau melecehkan minoritas. Kalau melihat karikatur itu—saya mendapatkannya dari internet—tampak sekali kalau arahnya menuju pengulangan stereotipe; mengulangi klise mengenai orang Arab dan orang Islam yang sangat menghinakan.

Jadi, karikatur itu lebih dari sekadar penghinaan yang ditujukan kepada Nabi. Sebab kita tahu, Nabi tidak bisa dihina, karena beliau sudah cukup mulia untuk merasa terhina dengan cara seperti itu. Saya kira, yang disasar adalah penghinaan atas kaum minoritas yang lemah. Justru karena itu, karikatur itu perlu dikutuk sebab mencerminkan ketidakadilan dan semangat kebencian.

Karikatur itu terbit sejak September 2005, tapi mengapa kontroversinya baru terjadi minggu-minggu belakangan?

Saya kira inilah sebuah paradoks dalam globalisasi informasi. Dalam globalisasi iformasi, berita, gambar atau musik, bisa melintas perbatasan dengan cepat sekali, pada detik yang sama. Tapi di saat yang sama, informasi itu bisa saja sebenarnya ditulis untuk publik atau khalayak yang terbatas. Kita tahu, informasi itu ditulis dalam bahasa Denmark–dan siapa penduduk dunia yang mengerti bahasa Denmark kecuali 4 juta orang Denmark?! Mungkin memang perlu waktu untuk sampai ke negeri lain.

Tapi saya kira, orang yang membuat karikatur itu tidak menyadari, dan memang sukar menyadari, bahwa globalisasi informasi memungkinkan lepasnya konteks, baik konteks pendengar maupun pembuat.

Jadi misalnya, pembuat karikatur yang ada di Cengkareng yang tiba-tiba dimuat di internet, mungkin sekali tidak tahu kalau karyanya akan dibaca orang di Peru sana. Tentu saja dia tidak berpikir ke sana, sebab dia mungkin berpikir hanya untuk konsumsi masyarakat setempat.

Karena itu, karikatur Jyllands Posten itu bisa saja bukan untuk khalayak muslim sedunia, tapi untuk memperkuat rasialisme, semangat anti-asing di masyarakat Denmark saja. Tapi karikatur itu mungkin saja juga sangat ditentukan oleh corak politik dalam negeri Denmark sendiri.

Salah satu karikatur itu mengasosiasikan Nabi Muhammad seperti seorang teroris yang bersorban dengan pemantik bom. Apakah itu bagian dari reaksi orang Denmark atas perkembangan umat Islam yang juga mengkhawatirkan mereka?

Wajah Islam di Eropa memang ada dua. Ada wajah yang diwakili kekerasan, kebrutalan, dan intoleransi, dan ada pula yang memberikan pencerahan seperti yang dibawakan Tariq Ramadan, cucu Hassan Al-Banna.

Di sana dua-dua corak itu kuat sekali. Di samping itu, Eropa sekarang sedang mengalami problem unik, yaitu derasnya arus masuk kaum imigran dari dunia ketiga, terutama dari Afrika dan Arab, sehingga penduduk Eropa yang asli makin lama makin sedikit.

Dalam pola pertumbuhan penduduk, orang-orang tua menjadi lebih banyak, sementara yang muda tambah sedikit. Makin lama, penduduk yang disebut asli—kita tidak tahu apa ada yang asli di muka bumi—makin sedikit. Itu antara lain disebabkan datangnya gelombang imigrasi yang luar biasa. Dan menurut seorang penulis Italia, gerakan migrasi penduduk ini lebih besar dari yang pernah ada di zaman Mongol dulu.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.