Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Politik » Internasional » Goenawan Mohamad: “Reaksi Berlebihan Merepotkan Muslim Eropa”
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad: “Reaksi Berlebihan Merepotkan Muslim Eropa”

3/5 (2)

Jadi ada soal perimbangan demografis yang cukup mengkhawatirkan?

Tidak hanya itu, tapi juga persoalan sosial-ekonomi. Memang ada kekhawatiran kalau persoalan demografis akan mengubah kultur Eropa, terutama karena nilai-nilai yang dianut para imigran dan penduduk setempat memang berbeda. Kehidupan sosial-ekonomi juga dianggap mulai terancam. Kalau lapangan pekerjaan mulai diambil pendatang, di sinipun orang akan marah.

Tapi secara umum, Eropa memang belum menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Di sisi lain, kalangan pendatang seperti orang Islam ataupun Hindu, tidak serta-merta bisa berintegrasi dengan masyarakat setempat. Ini terutama karena begitu bertemu dengan orang yang berbeda, kita cenderung memperkuat identitas masing-masing.

Itu terjadi juga di seluruh kawasan Eropa. Jadi orang yang tadinya belum Islam betul, tiba-tiba menjadi Islam betulan, dan orang yang tadinya anti-Islam, kini berubah anti-Islam betulan. Ketegangan ini memang sekarang terasa betul di Eropa.

Apakah kemarahan umat Islam di banyak tempat karena ekses dari globalisasi informasi atau karena menguatnya sayap politik Islam?

Dua-duanya. Pertama, kita harus ingat bahwa sekarang arus informasi menjadi sangat gampang menyebar luas. Perasaan orang yang di Tuban dan perasaan orang di Copenhagen tentu saja berbeda. Itu tidak selalu kita sadari.

Yang di Tuban mungkin merasa orang Copenhagen menghina mereka, sementara yang di Copenhagen tidak tahu kalau apa yang mereka lakukan akan dibaca orang Tuban, sehingga mereka merasa terhina. Jadi ada perubahan teknologis yang menyebabkan itu terjadi.

Sementara itu, militansi Islam dan fundamentalisme agama kini memang sedang meningkat. Tidak hanya di Islam. Anda ingat, gejala itu juga terjadi di Hindu. Di Gujarat sana, ada masjid yang dibakar. Anehnya, orang Islam di sini tidak marah, tapi justru secara berlebihan memarahi novel Satanic Verses karya Salman Rushdie yang tidak membakar masjid. Di Bosnia, dulu juga ada masjid yang sudah puluhan tahun dihancurkan kaum militan kanan Serbia. Tapi kita tidak bereaksi. Aneh itu.

Tapi mungkin, apa yang terjadi sekarang juga mencerminkan bahwa yang dilihat sebagai ancaman oleh umat Islam pada umumnya adalah apa yang disebut Barat, meski tidak juga pernah jelas apakah Barat yang dimaksud di situ.

Anda melihat reaksi umat Islam sudah berlebihan?

Ya. Ada ketidakadilan di situ. Misalnya, saya melihat restoran milik orang Islam di Singapura atau Filipina yang menulis bahwa “warga Denmark tidak diterima!” Kalau ditanya secara usil, bagimana dengan warga Denmark yang muslim? Kanbanyak juga yang muslim.

Di Eropa umumnya, pertumbuhan Islam besar sekali. Karena itu, kalau kita menggebyah-uyah atau menggeneralisasi negeri-negeri Eropa bertanggungjawab atas karikatur itu, ya salah. Kalau pemerintah Denmark mendukung karikatur itu, juga salah, apalagi pemerintah-pemerintah lain. Tapi saya dengar, Menteri Luar Negeri Inggris menghargai pers Inggris yang tidak memuat karikatur itu.

Mas Goen melihat semacam bentrokan peradaban antara negeri-negeri Eropa yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dengan kaum muslim yang sangat reaktif dan cepat tersinggung soal agama?

Saya kira tidak. Beberapa koran Eropa juga tak berminat memuat karikatur itu. Saya membaca editorial The Age, di Melboure, Australia. Di situ dikatakan: “Kami tidak mau memuat, karena karikatur itu tidak layak. Tapi itu bukan berarti kami menyetujui sensor!” Jadi ada dua hal berbeda yang diungkap di situ.

Pertama, kita tidak boleh memuat karikatur-karikatur buruk, sebab mungkin saja ia akan menyebarkan kebencian. Bagi saya, karikatur itu mirip karikatur tentang Yahudi di masa Hitler dulu. Ketika itu, ada wabah kebencian terhadap orang Yahudi yang digambarkan berjenggot, pakai puang, dan berhidung bengkok. Karikatur itu digunakan Hitler untuk menghabisi orang Yahudi.

Tapi kadang saya juga bertanya, bagimana orang mau menggambar Nabi Muhammad kalau mereka sendiri tak pernah melihatnya? Karena itu, yang digambarkan sebetulnya adalah stereotipe tentang orang Arab, orang Islam. Ini cara penggambaran yang buruk. Nah, koran The Age menolak itu.

Tapi saya kira, semua umat Islam juga perlu menyadari bahwa seandainyapun 90 persen koran dunia tak memuat karikatur itu, kita tetap saja bisa mendapatkannya lewat internet. Buktinya, saya dapat dari internet. Karena itu, aksi menyiarkan berita ini, seperti dilakukan sebuah tabloid di Bekasi, mungkin tidak bermaksud jahat. Maksudnya mungkin ingin menunjukkan: “Ini lhokarikatur yang membuat kita marah!”

Jadi, kita boleh dan memang layak marah pada karikatur itu, tapi juga harus bersikap adil kepada orang-orang yang tidak terlibat. Itu sesuai dengan prinsip Alqur’an kan?

Apakah ini bagian dari skenario untuk mengenyahkan orang Islam dari Eropa sana?

Saya tidak menganggap itu bagian konspirasi ataupun skenario. Tapi bahwa ini mencerminkan sikap rasialis orang Denmark terhadap minoritas Islam, terutama Arab dan Afrika, saya kira, ya. Itu memang penyakit yang melanda Denmark dan beberapa negara Eropa saat ini.

Menurut saya, itu bentuk kemerdekaan pers yang tak layak dipakai, karena telah menyebar kebencian. Itu setara dengan ketidaklayakan kita menyebar kebencian atas orang Cina, Yahudi, hitam, Jawa, atau Minang. Itu semuanya tidak benar.

Karena itu, mengapa kita harus merusak kedutaan Denmark? Kita juga harus berempati pada kaum muslim Denmark. Lebih dari itu, tak semua warga Denmark setuju dengan karikatur itu, dan banyak sekali warga Denmark yang membenci kaum rasialis.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.