Home » Politik » Internasional » Wahyu Prasetyawan: “Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi”
Wahyu Prasetyawan (Foto: katadata.co.id)
Wahyu Prasetyawan (Foto: katadata.co.id)

Wahyu Prasetyawan: “Menunggang Tradisi, Jepang Raih Modernisasi”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

IslamLib – Jepang selalu dianggap sebagai model negara yang sukses menjalankan modernisasi sembari merawat unsur-unsur tradisinya yang penting. Karena itu, negara-negara berkembang melirik Jepang sebagai teladan yang perlu dicontoh. Tapi apakah tradisi yang membuat Jepang maju dan masih mereka pertahankan sampai kini? Wahyu Prasetyawan, alumnus Fakultas Dakwah IAIN Jakarta yang telah meraih gelar doktor bidang ekonomi dari Kyoto University, Jepang, menurutkannya pada Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL) Kamis, (4/5) lalu.

 

Mas Wahyu, banyak negara yang masih mencari model negeri yang modern, maju, sekaligus menghargai tradisi. Orang selalu melirik Jepang sebagai model. Anda bisa cerita bagaimana Jepang menjadi negara modern sembari mempertahankan unsur-unsur tradisinya yang perlu?

Sebetulnya ini cerita yang cukup panjang. Tapi singkatnya, kemajuan Jepang itu terutama masih berkaitan dengan spirit samurai. Proses modernisasi Jepang biasanya dilacak sejak Restorasi Meiji (awal abad XIX), ketika para samurai yang berpikiran maju menghendaki Jepang yang modern.

Tapi kalau kita tarik ke belakang lagi, sebetulnya Restorasi Meiji juga bisa sukses ketika sudah melewati masa jengoku jidai(masa perang) zaman Tokugawa (sekitar abad XV-XVII). Setelah selesainya era Tokugawa yang penuh perang, Jepang mengalami masa damai selama 200 tahun. Dan itulah modal besar yang dimiliki Jepang untuk mendidik bangsanya.

Ketika terjadi perang terus-menerus, para samurai memang banyak kerjaan. Tapi ketika memasuki era damai selama 200 tahun, mereka tidaklagi punya kerjaan. Tapi uniknya, mereka bukannya jadi gangster atau setara preman bayaran, tapi mengabdikan diri sebagai guru.

Mereka mendidik anak-anak orang kaya, terutama kelas pedagang, karena Jepang waktu itu memang berkelas-kelas. Yang paling tinggi adalah kelas samurai, lalu kesatria, pedagang, kelas petani, dan beberapa kelas lagi di bawahnya.

Yang menarik, kelas samurai itu mendidik kebanyakan kelas pedagang, karena para pedagang juga ingin naik kelas. Para samurai memang tidak hanya bisa perang, tapi mereka juga tahu sastra, tata negara, hukum, dan lebih dari itu, bisa membaca huruf Kanji yang memang terkenal susah itu. Nah, itulah yang menjadi modal Jepang untuk maju.

Bayangkan saja, selama 200 tahun, para samurai itu hanya mengajar saja. Bukan hanya itu, ketika Jepang memasuki era Kaisar Meiji, sekitar awal-awal abad ke-19, mereka sudah sadar bahwa pilihan untuk maju memang tidak banyak.

Ketika itu, Eropa sudah sangat maju dan Jepang hanya punya dua pilihan waktu itu: maju, atau bertahan dalam kemunduran. Kalau hendak maju, ya berpikir harus ala Eropa. Itulah yang sangat disadari oleh pemimpin-pemimpin Jepang ketika itu, terutama Kaisar Meiji.

Sejak itu juga, Kaisar mulai mengirim tunas-tunas muda Jepang yang cerdas untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Jadi, banyak sekali pemuda-pemuda Jepang yang pintar-pintar belajar ke luar negeri. Malah kita sering mendengar gosip-gosip kalau mereka suka mencuri ilmu, dan hanya belajar pada guru yang andal di bidangnya. Untuk modernisasi angkatan laut, mereka belajar dari Inggris yang ketika itu punya armada laut paling kuat di dunia. Untuk teknik, mereka ke Jerman.

Orang Mesir selalu bilang kalau mereka memulai proyek modernisasi seperiode dengan Jepang ketika gubernur Turki Utsmani di Mesir, Mohammad Ali mengirim tunas-tunas muda brilian Mesir untuk belajar ke Eropa. Tapi kok hasilnya beda dengan Jepang. Apa ini terkait mindset orang Jepang yang lebih terbuka untuk menerima khazanah Barat?

Mungkin penjelasannya tidak terletak di situ. Saya melihatnya begini. Ketika itu, Jepang sangat sadar bahwa dirinya dikepung oleh kekuatan-kekuatan besar seperti Cina, Inggris yang sangat digdaya, dan negara-negara Eropa yang sudah sangat maju.

Kekuatan kolonialisme juga sudah mulai mengintai Asia. Jepang sadar akah ancaman itu. Satu-satu cara untuk membentengi diri mereka adalah dengan menjadi kuat, baik secara militer maupun ilmu pengetahuan. Kesadaran itulah yang menyatukan Jepang.

Lebih dari itu, di Jepang ada kesadaran bahwa mereka itu satu bangsa, dan orang Jepang itu hampir dapat dikatakan homogen. Selain itu, posisi Tennoatau Kaisar juga sangat dihormati, dan itu juga menjadi faktor cukup penting dalam proses modernisasi. Artinya, kalau kaisar bilang kita ambil jalan Eropa dan kita harus kuat, prosesnya akan gampang dan hampir dipastikan bisa jalan. Dan kebetulan, Kaisar Meiji memang orang yang sangat visioner.

Menurut Anda, faktor-faktor apa yang membuat Jepang cepat bangkit, mulai dari proses meniru menuju inovasi?

Saya ingin kembali ke faktor pendidikan, karena saya percaya, faktor pendidikan adalah kunci. Artinya, dibandingkan Eropa pada periode yang sama, tingkat melek huruf orang Jepang di era Meiji sudah 98%, hampir 100%. Tingkat melek huruf Eropa ketika itu, paling tinggi masih di angka 60-70%.

Jadi, ketika Jepang akan masuk proses industrialisasi, mereka sudah punya man power (sumber daya manusia) yang trampil dan cukup terdidik. Mereka-mereka itu sudah siap untuk mentransformasi dirinya, tidak hanya mengubah mindset, tapi ikut dalam proses industralisasi. Karena itu, ketika mereka dikirim belajar ke luar negeri, mereka cepat menangkap. Jadi mereka sudah pintar dari dasarnya.

Bandingkan fakta itu dengan Indonesia. Sampai sekarang, yang lulus S1 di kita masih sekitar 2% dari total jumlah penduduk. 60-70% penduduk kita masih lulus SD. Jadi kalau ada inovasi baru, tidak semua orang bisa ikut proses itu; banyak yang ketinggalan. Kalau di Jepang, semua sudah bisa ikut.

Itu soal pendidikan dan tingkat melek huruf. Bagaimana dengan tradisi; apakah menghambat proses modernisasi atau justru mendorong?

Pertanyaan yang menarik. Di Jepang, tradisi bukanlah hambatan. Malah menurut pengamatan saya selama tinggal di sana, tradisi justru menjadi fasilitator kemajuan. Kasarnya, dengan menunggangi tradisi, orang Jepang meraih modernisasi. Tadi saya sudah sebutkan bagaimana spirit samurai dipakai untuk belajar, dan mempercepat proses menyerap ide-ide luar. Tradisi itu sampai sekarang masih hidup. Kalau kita bicara tentang profesor-profesor di Jepang, mereka itu banyak yang dari kelas samurai.

Kita selalu beranggapan orang Jepang modern masih kukuh berpegang pada tradisi. Tapi di Jepang apakah yang kini disebut tradisi itu?

Dari hasil pembicaraan dengan banyak orang Jepang, saya jadi tahu bahwa pengertian tradisi bagi orang Jepang tidaklah kaku. Kalau sekarang pergi ke Jepang, kita akan melihat banyaknya ABG Jepang yang rambutnya dicat merah-merah. Pertanyaannya: apakah mereka orang yang menghargai tradisi Jepang atau tidak?

Kesan kita selama ini, orang Jepang itu pakai kimono, berambut panjang, dan kesan-kesan fisik lainnya. Tapi yang disebut tradisi di Jepang itu bukanlah itu semua, tapi spirit untuk memadukan antara kehendak untuk maju dengan spirit mempertahankan budaya. Simbol-simbol tradisinya bisa hilang, tapi spirit selalu ada dalam dada mereka. Mereka bisa mengatakan, saya orang Jepang, walau rambut saya merah.

Apakah kehendak kuat untuk maju itu yang sering dirumuskan dalam teori ilmu sosial sebagai virus keinginan untuk berprestasi(need for achievement)?

Ya. Kalau kita kembali ke teori zaman sekolahan saya dulu, penjelasan itu memang ada betulnya. Orang Jepang memang pekerja keras, dan kalau dia ingin sesuatu, dia harus dapatkan dan mampu bertahan untuk mencapai tujuan itu. Jadi virus keinginan untuk maju itu tidak harus disuntikkan dari luar, karena mereka sudah punya. Dari mana itu berasal? Spirit samurai. Sebab mereka belajar itu dari gurunya yang samurai.

Jadi, nilai-nilai samurai yang bercirikan etos kerja yang tinggi, jujur dan ulet, diturunkan ke murid-muridnya yang pedagang. Jadi spirit itu yang sekarang masih ada dan menyatu pada diri dan membentuk kepribadian orang Jepang. Keuletan bekerja dengan jam kerja yang lebih panjang dari orang Barat itu jugalah yang membuat orang Barat geleng-geleng kepala. Mereka seakan-akan hidup untuk, bukan bekerja untuk hidup.

Mas Wahyu, intelektual kita yang pernah mengajar di Jepang, Pak Sudjatmoko dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, pernah menyebut kalau orang Jepang menilai orang Indonesia bermoral lemah. Mungkin karena kurang ulet dan jujur, hipokrit, dsb. Mengapa mereka menilai begitu?

Orang Jepang memang tidak suka bohong. Mereka tepat waktu dan berdisiplin tinggi. Kalau janji ketemu jam 1, ia pasti datang jam satu. Untuk hal-hal yang sepele saja mereka disiplin. Di Jepang, untuk beli tiket, atau antri di restoran saja, mereka berusaha tertib. Kita agak susah melihat antri yang tertib di Jakarta.

Sebetulnya, sebagai orang Indonesia yang mayoritas Islam, kita harus tunjukkan bahwa kita juga bisa tertib. Orang Jepang memang lebih suka moralitas, dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Seperti yang saya utarakan tadi, jati diri yang penting bagi orang Jepang bukanlah simbol luarnya, bukan warna rambutnya, tapi lebih pada nilai-nilai atau values yang tertanam dalam diri setiap pribadi mereka.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.