Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Politik » Radikalisme » Ahmad Taufik: “Radikalisme Hanya Ekspresi Sekelompok Orang”
Ahmad Taufik (Foto: tempo.co)

Ahmad Taufik: “Radikalisme Hanya Ekspresi Sekelompok Orang”

4.67/5 (3)

Apakah ada cara yang lebih mencerahkan yang bisa ditempuh Menag untuk menjaga hubungan harmonis antar umat beragama?

Seharusnya tidak ada pernyataan yang sesat menyesatkan itu. Kalau pun ada pernyataan sesat, itu tidak boleh diambil Mentri Agama RI. Sebab dia Menteri Agama Republik Indonesia, bukan Republik Islam Indonesia. Negara ini berdasarkan pancasila dan UUD 1945, dan sepanjang pengetahuan saya, dasar itu belum berubah. Tindakan sesat-menyesatkan yang berujung kekerasan itu tidak bisa dibiarkan berkembang lagi di negeri ini.

Selama ini saya melihat, ada pejabat-pejabat negera yang bukannya gamang dalam menghadapi demokrasi dan iklim kebebasan, tapi justru mengambil keuntungan politik dari situ. Aparat kepolisian kadang juga jarang mengambil tindakan tegas atas pelaku pengrusakan. Saya kira, bukan karena dia gamang dan takut dituduh melanggar HAM, tapi karena dia memperoleh keuntungan dari situ.

Mengapa Anda mengatakan Menag tidak berhak mengatakan kelompok ini atau itu sesat?

Salahnya Mentri Agama itu adalah karena dia ikut-ikutan kelompok yang radikal, atau semacam memberi pembenaran yang berulang-ulang atas tindakan brutal mereka. Kalau saya selaku Ahmad Taufik yang tidak punya jabatan tertentu mengatakan suatu kelompok itu sesat, itu hak individu saya dan tidak punya pengaruh apa-apa.

Tapi ini dilakukan Mentri Agama Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan sudah juga meratifikasi beberapa kovenan internasional tentang hak-hak sipil dan sebagainya. Itu menghawatirkan bagi saya.

Sebagai individu, silahkanlah saja Bapak Maftuh Basuni mengatakan begitu, tapi sebagai Mentri Agama, dia tidak boleh mengatakan begitu. Soalnya negara kita ini memang Bhinneka Tunggal Ika. Mestinya, yang dia lakukan adalah bagaimana masing-masing kelompok orang tidak saling bersinggungan karena perbedaan-perbedaan paham.

Apa yang membuat reaksi umat Islam Indonesia atas Ahmadiyah ataupun Lia Eden begitu keras?

Mungkin karena klaim-klaim kebenaran sepihak dan karena ketakutan-ketakutan kita sendiri akan masa depan Islam. Kita takut terganggu diri kita dan Islam, padahal kita dan Islam tidak terganggu. Islam tidak pernah terganggu, dan Tuhan pun tidak terganggu.

Kita saja yang merasa terganggu. Karena itu agar ketakutan-ketakutan itu tidak berlebihan, cobalah datangi orang-orang Ahmadiyah atau Lia Eden, dan berdialoglah dengan mereka. Mungkin ada perbedaannya, tapi saya kira lebih banyak kesamaannya.

Allahnya sama, kitabnya sama, nabinya pun sama. Mungkin Ahmadiyah mengklaim Imam Mahdi-nya sudah datang, dan namanya Mirza Ghulam Ahmad. Bagi kita, Imam Mahdi belum datang. Mungkin orang Ahmadiyah rugi karena dia sudah menetapkan Imam Mahdinya. Bagi orang Islam seperti saya, kan belum datang, dan mudah-mudahan saya yang nantinya dapat berkah menjadi Imam Mahdinya, ha-ha-ha.

Anda kini melihat proses penyeragaman corak keberagamaan dalam masyarakat Islam Indonesia?

Ya. Dari situ, saya melihat kesalahan. Sebetulnya, sejak awal negara ini didirikan, tidak ada persoalan agama resmi atau tidak resmi. Itu baru muncul dalam Penetapan Presiden Soeharto (PNPS). Di PNPS pun sebetulnya tidak tegas mengatakan mana agama yang resmi dan mana yang tidak resmi. Yang ada hanya ungkapan agama-agama yang banyak dianut di Indonesia. Jadi sebetulnya, di PNPS itu hanya ada urutan agama-agama yang banyak dianut di Indonesia.

Seharusnya, itu dipahami bukan sebagai undang-undang atau peraturan yang menyatakan agama yang resmi dan tidak resmi di negeri ini. Sebetulnya ada kesalahan interpretasi di situ, karena aturan itu diturunkan pada kebijakan Departemen Dalam Negeri dan Departemen Agama menjadi agama yang resmi dan tidak resmi.

Ini agak pribadi. Anda pernah punya pengalaman sebagai seorang yang fundamentalis dalam beragama, ya?

Ketika kecil, saya kebetulan sekolah di madrasah sekitar Tanah Abang. Keluarga saya dari lingkungan NU yang menganut mazhab Syafi’i. Jadi biasanya, kami memberlakukan agama seperti yang dirumuskan dalam madzhab Syafi’i.

Ketika mulai beranjak remaja, saya mulai berkenalan dengan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) yang bercampur-baur di dalamnya mereka yang keras-keras dan lain sebagainya. Bahkan dulu, saya punya kelompok yang berikrar bahwa setiap orang mesti memiliki senjata tajam untuk melawan musuh, sekurang-kurangnya jarum pentul.

Teman-teman saya ada yang membawa celurit setiap hari untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain yang tidak sesuai dengan paham agamanya. Pada saat SMA, saya ikut pengajian rutin Sabtu, lalu mulai bergaul dengan banyak orang.

Dalam perkembangannya, corak keberagamaan saya mulai berubah. Mungkin karena sudah banyak bergaul dengan orang lain, banyak membaca buku, dan faktor-faktor lainnya. Dari situ saya merasa, memang kayaknya ada yang salah di dalam diri umat kita ini karena menganggap diri selalu saja paling benar.

Menganggap diri kita yang paling benar itu ternyata adalah kesalahan. Saya mikir, di Alquran saja Allah berdialog dengan orang kafir dan orang yang tidak beriman. Jadi saya pikir, perlu ada perubahan-perubahan seperti itu dalam cara saya dalam beragama.

Saya rasa, semua itu mungkin karena banyak bergaul, dan banyak melihat kondisi orang lain. Saya pernah melihat orang-orang Islam di Yordania dan Irak, bahkan pernah ke Afganistan dan Pakistan. Jadi saya melihat, bagaimana pun kita ini manusia, hidup harus bersama-sama dan bumi ini dibagi pula untuk ditempati bersama-sama.

Di zaman Soeharto, saya sempat sangat benci Pancasila. Bahkan ketika saya di penjara Cipinang, saya tidak pernah mau ikut upacara. Saya benci Pancasila karena ia disalahgunakan oleh penguasa untuk bertindak semena-mena. Di situ saya juga bisa bicara dengan teman-teman yang terjerat kasus Lampung, dan Tanjung Priuk, dan mereka punya perasaan yang sama dengan saya. Di situlah kita berbagi. Kebetulan, di Garda Kemerdekaan, kita juga masih berdialog dan saling berbagi.

Dulu yang kami lawan adalah negara, karena negara menyalahgunakan Pancasila. Sekarang yang terjadi adalah kesewenang-wenangan kelompok tertentu. Untuk itu, kita harus kembali ke negara. Negara kini sudah tidak diktator seperti dulu lagi. Karena itu, kita menjaga agar negara tetap demokratis, agar bangsa ini tetap maju dan kuat. Bagaimana kita bisa maju kalau kita tidak bisa hidup bersama-sama?

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.