Home » Politik » Radikalisme » Akar-Akar Kekerasan Dalam Islam
agama

Akar-Akar Kekerasan Dalam Islam

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Pada minggu-minggu terakhir ini, dua organisasi besar Islam, NU dan Muhammadiyah, mengupayakan suatu rekonsiliasi, setelah sebelumnya, akibat perseteruan politik antara Amin Rais dan Abdurrahman Wahid, terjadi ketegangan yang berbuntut pada perusakan sarana-sarana publik. Menuju ke arah perdamaian pun telah diupayakan oleh dua kelompok agama yang bertikai, Islam dan Kristen, yang terjadi di Poso, Ambon dan beberapa daerah lainnya.

Pertanyaan yang tersisa adalah, apakah upaya perdamaian tersebut benar-benar menuju perdamaian sejati atau masih menyisihkan trauma pada masing-masing pihak, sehingga sewaktu-waktu dapat meletup kembali? Tulisan ini mencoba melacak akar kekerasan yang terjadi dalam sejarah panjang umat Islam, yang disadari maupun tidak, memiliki rangkaian benang merah dengan berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini.

Secara konsepsional, doktrin Islam yang utama adalah penekanannya pada ajaran perdamaian. Kata Islam sendiri bermakna damai, aman, selamat dan penyerahan diri. Dalam ritual salat, yang merupakan kewajiban utama dalam Islam, ikrar terakhir yang diucapkan adalah memberikan keselamatan dan kedamaian bagi sesama umat manusia. Sebuah simbol bahwa muara akhir dari ajaran ini adalah perdamaian.

Tetapi dalam sejarahnya, konsepsi di atas tidak selalu seiring dengan perjalanan umat Islam. Pada awal-awal lahirnya Islam, tidak kurang dari enam kali peperangan diikuti oleh Nabi, kendati dengan tujuan untuk menegakkan keadilan ekonomi, kesetaraan manusia dan bertahan dari penyerangan.

Hal ini didukung oleh al-Quran 4:75: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak yang semuanya berdo’a: Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan pertolongan dari-Mu!” serta pada ayat: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.

Demikian pula pada masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Peperangan yang dilakukan oleh mereka umumnya bermotifkan ekonomi, seperti penumpasan terhadap kelompok pembangkang yang enggan membayar zakat di masa Abu Bakar; pelebaran wilayah Islam, seperti yang terjadi pada masa Umar bin Khattab; dan perebutan kekuasaan seperti yang terjadi pada Usman dan Ali.

Disebutkan dalam sejarah, sepeninggal Nabi Muhammad, tak kurang dari 70.000 orang Islam mati terbunuh dalam medan peperangan. Bahkan dua khalifah yang terakhir, yakni Usman dan Ali terbunuh secara mengenaskan dalam suatu peristiwa peperangan. Ahmad Amin menyebut peperangan besar dalam sejarah umat Islam ini sebagai fitnah kehidupan yang paling besar (al-fitnah al-Kubra).

Berbagai bencana kekerasan berlangsung sepanjang kekuasaan dinasti Islam, yakni pada masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah. Kekerasan pada masa ini tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga kekerasan intelektual.

Kekerasan intelektual diwujudkan dalam wujud pembunuhan terhadap beberapa pemikir yang dianggap dapat merugikan kekuasaan, seperti yang terjadi pada Ghaylan al-Dimasyqi dan Al-Ja’d bin Dirham yang berpandangan bahwa kekuasaan dalam masyarakat Islam bukanlah monopoli keturunan Arab (bangsa Quraisy) sebagaimana yang menjadi pandangan kelompok Sunni, atau dari keturunan Ali bin Abi Thalib sebagaimana yang menjadi garis politik Syiah, melainkan siapa saja dari umat Islam yang disetujui berdasarkan musyawarah (kesepakatan).

Kekerasan pada aspek politik lebih mengerikan lagi. Pada masa Dinasti Umayyah, tepatnya dimasa Yazid bin Muawiyah, kepala Husain bin Ali dipenggal dari tubuhnya, dan kepala tersebut dibawa ke istana untuk dipermainkan.

Seorang tua yang tahu masa kecil Husain dengan gusar berkata: “Saya pernah melihat wajah itu diciumi oleh Rasulullah”. Peristiwa ini disebut sebagai “tragedi Karbala”, sebuah momentum perpecahan antara kelompok Islam Sunni dan Syiah pada tahun 64 Hijriah.

Demikian halnya pada masa Dinasti Abbasiyah. Akbar S Ahmed menggambarkan upaya kudeta militer Dinasti Abbasiyah terhadap Dinasti Umayyah sebagai berikut: “Sekali waktu Abdullah, seorang Jendral Abbasiyah mengundang 8 orang pemimpin Umayyah untuk makan malam pada musim panas bulan Juni tahun 750 M di rumahnya yang terletak di Jaffa.

Ketika para tamu sedang makan, mereka ditangkap oleh para tentara. Setelah para tentara menikam semua pimpinan Umayyah tersebut, para pelayan menggelar tikar di atas tubuh mereka yang masih menggeliat-geliat dan para tamu lainnya melanjutkan makan malam sambil bersuka ria.” (Discovering Islam).

Menjelang keruntuhan kekuasaan Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah yang terbentang dari wilayah Afrika dan seluruh jazirah Arab itu, tentara Kristen dari Eropa Barat menyerang dua dinasti Islam tersebut.

Dengan misi perang suci untuk menaklukkan orang-orang “kafir”, umat Islam saat itu dihadapkan pada dua pilihan: beralih ke agama Kristen atau keluar dari wilayah kekuasaannya (migrasi). Perang ini kemudian diikuti oleh sebuah perang lain yang dalam sejarah dunia disebut perang salib, sebuah perang yang menghabiskan waktu tidak kurang dari seratus tahun dan menyisakan trauma pahit bagi Kristen dan Islam.

Pada awal-awal abad 20-an, beberapa wilayah yang berbasiskan umat Islam pun terdesak oleh negara-negara kolonial dari Eropa. Misalnya, Indonesia oleh Belanda; Mesir, Maroko, Aljazair oleh Perancis, Malasyia, Nigeria, oleh Inggris dan Libia oleh Italia. Dan panggung sejarah umat Islam yang sempat penuh gemerlap itu terbenam ke bawah dasar permukaan, bagai sebuah cerita yang ditutup secara tiba-tiba.

Jejak-jejak kekerasan tersebut, disadari ataupun tidak, masih membekas pada diri sebagian umat Islam sekarang. Sikap pemerintah Amerika terhadap wilayah-wilayah muslim, seperti Afganistan, setelah tragedi pemboman gedung WTC tanggal 11 September 2001 lalu, mengusik kembali emosi sebagian umat Islam akan peristiwa pahit yang dipaparkan di atas.

Akibat dari perasaan sakit tersebut, sebagian umat Islam mencari identitas primordialnya dengan mengungkap kembali nilai-nilai keagamaan yang dimiliki. Hanya saja, nilai-nilai tersebut cenderung hanya menonjolkan identitas yang berupa atribut, tidak berupa ruh yang terekspresi dalam prilaku.

Dalam konteks Indonesia, atribut-atribut tersebut diekspresikan melalui maraknya tuntutan pemberlakuan syariat Islam di beberapa daerah. Tuntutan itu tak jarang dilakukan dengan cara-cara kekerasan, misalnya membentuk berbagai kelompok komando jihad, menyerang tempat-tempat hiburan, memaksa perempuan menggunakan pakaian tertentu, intoleran terhadap pemikiran lain, memutlakkan kebenaran pemikiran kelompoknya dan anti dialog.

Cara-cara tersebut semakin menguatkan anggapan bahwa Islam, sebagaimana yang ditulis Max Weber, adalah agama yang memiliki etos keprajuritan, tetapi tidak memiliki etos kewiraswastaan. Penyebaran Islam bahkan sering difahami dengan gambaran seseorang yang “memegang al-Quran di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya”.

Padahal Islam, menurut hemat saya, bukanlah ajaran agama yang rumit, yang jauh di langit sana, tetapi ia agama nurani yang merupakan bagian dari ruh detak nafas kita. Diantara ajaran tersebut, yang nampaknya sepele, tetapi sangat mendasar adalah bagaimana kita dapat berdamai dengan diri sendiri untuk dapat menebar kedamaian kepada sesama dan lingkungan hidup kita.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.