Home » Politik » Radikalisme » Bambang Harymurti: “Xenophobia, Ekspresi Rendah Diri”
Bambang Harymurti (Foto: en.tempo.co)
Bambang Harymurti (Foto: en.tempo.co)

Bambang Harymurti: “Xenophobia, Ekspresi Rendah Diri”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Bencana Aceh dan Sumut secara menakjubkan menuai simpati dan kehadiran bala bantuan dunia. Hanya, kehadiran mereka memicu kecemasan, kekhawatiran berlebihan, bahkan xenophobia.

Adakah hubungan xenophobia ini dengan faktor agama dan ilusi tentang nasionalisme sempit? Inilah percakapan Ulil Abshar-Abdalla dari KIUK dengan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Bambang Harymurti, Kamis (27/01) lalu.

 

Gejala xenophobia (ketakutan terhadap hal asing) yang dianggap mengancam harga diri sejak zaman Orba sudah bercokol di kita. Bagaimana Anda melihat masalah ini?

Memang, belakangan ini yang mendominasi kebudayaan bangsa kita adalah apa yang disebut Cak Nur (Nurcholis Madjid) sebagai budaya pedalaman, bukan budaya pesisir. Mereka yang takut berlebihan akan sesuatu yang asing, biasanya memang mereka yang menganut budaya pedalaman yang bersifat agrikultural, feodal, dan berkelas-kelas.

Pernyataan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung orang-orang desa. Ini bukan soal desa-kota, tapi soal dua pola budaya antara yang pesisir dan pedalaman. Secara kebudayaan, orang yang hidup di pesisir biasanya cenderung melihat laut sebagai jembatan menuju dunia yang lebih luas.

Namun, orang yang hidup di budaya pedalaman atau di hulu akan cenderung melihat yang asing sebagai ancaman. Ini mungkin disebabkan mereka sudah merasa nyaman dengan keadaannya semula, dan takut tatanan mereka yang sudah ada akan terganggu.

Atau, refleksi lain mengatakan bahwa gejala xenophobia muncul karena rasa percaya diri yang sangat lemah. Akibatnya, muncul dorongan untuk melihat sesuatu yang lain sebagai ancaman. Kalau mau belajar, kita perlu menimba ilmu dari Jepang. Jepang adalah sebuah negara yang sangat terbuka, dan budaya apa saja bisa masuk di sana. Mereka yakin sekali akan kekuatan budaya mereka.

Contoh lain adalah Bali. Orang Bali mungkin tidak takut lagi akan orang asing dengan beragam budaya yang mereka bawa, karena mereka merasa kuat dengan kebudayaannya. Karena itu, turisme bisa hidup dan berkembang dengan baik di Bali.

Kecurigaan berlebihan atas bantuan asing kadang terbit juga dari beberapa kelompok keagamaan. Apakah xenophobia juga terkait dengan unsur keagamaan?

Saya kira unsur agama hanya topeng. Unsur utamanya perasaan rendah diri, tak sanggup berkompetisi karena yang asing lebih banyak duit, lebih kaya sumber daya, dan lain-lain. Akhirnya yang asing dianggap ancaman, dan rasa rendah diri itu terkadang keluar dalam bentuk permusuhan.

Saya kira, sekiranya yang membantu adalah bangsa yang dianggap jauh lebih rendah dari kita, bantuan itu tidak akan dianggap ancaman, walaupun dari agama yang berbeda. Jadi, bagi saya xenophobia disebabkan rasa rendah diri yang kelewatan.

Bagaimana Anda melihat reaksi pemerintah yang memberi tenggat waktu bagi bantuan-bantuan relawan maupun militer asing?

Itu sangat memalukan. Ketika setahun yang lalu di Iran terjadi gempa, kita juga mengirim pasukan untuk membantu. Andai ketika itu kita mendengar mereka mengatakan pasukan Indonesia pulang saja tanggal sekian, bayangkan rasa sakit hati kita.

Makanya, kita terkadang seperti bangsa yang tidak kenal ungkapan terima kasih. Untung saja saya mendengar Presiden Yudhoyono pernah menyatakan bahwa pemerintah Indonesia berterima kasih atas semua bantuan. Kalau tidak?

Yang mengesalkan dari kasus ketakutan akan asing ini, dia tidak muncul dari rakyat Aceh sendiri yang notabene adalah korban. Kalau yang mengusir justru orang Aceh, kita mungkin masih bisa mengerti. Tapi, yang meributkan justru mereka yang bukan korban. Menurut saya, sikap seperti itu jahat sekali.

Sejumlah aktivis dan masyarakat Aceh di Jakarta berunjuk rasa di gedung PBB, meminta pasukan asing tetap membantu Aceh. Adakah ini counter atas kebijakan pemerintah, ya?

Ya. Saya bahkan pernah menyimak wawancara Front Pembela Islam (FPI) soal bantuan asing. Di situ mereka tidak terkesan anti, karena mereka tahu kegunaannya. Mereka cuma mengatakan, “Silakan datang dan menolong. Kita cuma mengamati agar mereka tidak membuat bar dan tempat pelacuran. Kalau itu yang terjadi, kita akan sikat. Kalau mereka menolong, welcome!”

Nah, saya kira, kalau FPI yang kita tahu sikap antiasingnya cukup besar justru mengubah sikap ketika melihat keadaan lapangan Aceh, saya jadi bingung terhadap mereka yang justru bersikap sebaliknya.

Pemerintah terkesan kurang bersahabat terhadap pasukan asing. Saya kira, pemerintah kita terlalu takut akan tekanan-tekanan yang mestinya tidak perlu ditakuti. Pemerintah ini kan dipilih langsung oleh rakyat?

Sebagian menyebut ketakutan itu beralasan karena ada isu buku dan VCD porno, serta kitab injil segala. Jadi, ketakutan ini dianggap bagian dari akomodasi atas perasaan umat Islam?

Itu sekali lagi menunjukkan betapa tingginya rasa rendah diri kita. Bagi saya, isu itu tidak masuk akal. Korban bencana Aceh ini sudah tidak punya rumah, apalagi VCD player. Kalau dikirimi VCD porno, mau diapakan? Apa gunanya mengirim VCD porno?

Kalaupun saya orang Kristen dan di Aceh dikirimi Bibel, saya akan marah sekali. Dalam situasi orang tidak punya kompor dan tak punya apa-apa untuk memasak, Bibel nanti justru bisa dipakai untuk memasak. Makanya, kita berpikir rasional sajalah. Kalau mau VCD porno, jalan saja ke kawasan kota, yang tidak jauh dari kantor polisi itu.

Mengapa soal remeh seperti itu menjadi serius dan diangkat menjadi isu publik, bahkan oleh sebagian media Islam?

Saya kira isu itu diangkat bukan karena khawatir orang Aceh akan berpindah agama dan menjadi bejat moralnya, tetapi lebih sebagai refleksi atas ketidakmampuan membantu.

Kalau dilihat dari sudut pandang orang Aceh, sebetulnya persoalan ini justru melecehkan orang Aceh. Seolah-olah orang Aceh sedemikian mudahnya dikristenkan dan dirusak moralnya dengan VCD porno. Saya kira, orang Aceh akan marah sekali dengan isu seperti ini, karena mereka seakan tidak punya iman saja.

Kalau isu Bibel dan VCD porno itu benar, bagaimana pula menyikapinya?

Kalau itu benar, sebagai orang Islam yang percaya diri, selain mempelajari agamanya sendiri, dia juga mestinya mempelajari agama lain demi memperkuat keyakinannya. Jadi, keyakinan itu menjadi kuat bukan karena tidak mempelajari keyakinan lain.

Mengapa harus takut kalau kita yakin bahwa kita sedang memegang kebenaran yang absolut? Mengapa kita harus takut dengan kebenaran yang kita anggap palsu?

Rumor soal kristenisasi yang dilancarkan organisasi seperti WorldHelp apakah itu juga ikut menyulut xenophobia?

Saya kira isu itu menambah bensin ketakutan saja; apinya sudah ada sebelumnya. Saya sudah meminta wartawan Tempo menginvestigasi kasus ini. Reporter kita di Amerika dan di Aceh sudah kita kerahkan untuk misi itu.

Sampai saat ini kita tidak melihat bukti proyek itu pernah terjadi. Kita sudah coba juga mem-follow-up pernyataan bapak Dien Syamsuddin (Sekjen MUI Pusat) yang menyebut WorldHelp sudah bergerak dan masuk Aceh dengan pesawat Boeing 737.

Setelah kita cek, pesawat Boeing 737 itu hanya berkapasitas maksimal 108 kursi. Sementara, anak-anak itu tidak mungkin jalan sendiri. Jadi rumor itu sulit dibenarkan.

Saya kira, bukan perkara gampang menyelundupkan 300 anak. Saat ini semua bandara yang pergi menuju Aceh sangat terbatas. Makanya, sampai sekarang kita berkeyakinan kasus itu tidak ada. Mungkin sudah ada niat, tapi tidak kesampaian.

Selain dengan agama, apakah juga ada kaitan xenophobia dengan nasionalisme yang keblabasan?

Harus kita akui, bibit xenophobia itu juga cukup alamiah. Dulu di Amerika Serikat pernah ada survei yang menanya masyarakat soal nama dan suku-suku asing yang mereka anggap sebagai ancaman. Di situ masyarakat mengungkapkan nama yang masuk porsi ancaman yang cukup tinggi.

Padahal, survei itu ngarang-ngarang saja, dan suku asing yang disebutkan tadi sebenarnya tidak ada. Jadi, ketakutan atas sesuatu yang tidak sama dengan kita memang terkadang alamiah pada kita. Artinya, itu manusiawi saja karena terjadi hampir pada semua masyarakat dan bangsa.

Hanya, tugas kita adalah mengontrol perasaan takut yang berlebih-lebihan. Perasaan itu mungkin tidak akan pernah hilang. Tapi, kalau itu justru mengganggu jalannya bantuan ke Aceh, kita perlu waspada.

Soal xenophobia dan nasionalisme tertutup ini mungkin akan tetap berkembang. Kita sudah tentu harus cinta tanah air, tapi bagaimana mencintai tanah air secara sehat?

Pidato Bung Karno yang menjelaskan soal kebangsaan mungkin bisa membantu. Dia pernah mengatakan bahwa kebangsaan saya bukanlah kebangsaan yang sempit. Bung Karno mengaku akan meniru perkataan Mahatma Ghandi, seorang nasionalis tulen India, “I am a nationalist. And my nationalism is humanity (saya seorang nasionalis tulen. Dan prinsip nasionalisme saya adalah paham kemanusiaan).”

Nah, kalau Bung Karno dan Ghandi saja mengatakan nasionalismenya adalah prinsip kemanusiaan, saya menjadi heran kepada orang Indonesia yang malah mengatakan bahwa nasionalisme dan kemanusiaan itu berseberangan. Saya pikir, mereka perlu mengaji kembali dasar-dasar nasionalisme mereka.

Bagaimana globalisasi? Apakah dunia yang semakin terbuka dan komunikasi dengan dunia luar yang makin lancar juga dianggap ancaman?

Sejarah negeri ini membuktikan sebaliknya. Globalisme sudah terjadi di negeri ini sejak ratusan tahun silam. Pada abad ke-6 dan ke-7, China dan India sudah menemukan jalur perdagangan laut yang harus melintasi Selat Malaka, dan mesti berlabuh di Sumatera bagian selatan.

Kawasan itu kemudian menjadi bandar yang semakin besar dan menjelma menjadi Sriwijaya yang menghasilkan Borobudur dan pusat kebudayaan Buddha. Ketika itu, India pernah mengirim orang-orangnya untuk belajar Buddhisme di Indonesia. Artinya, ketika itu kita menjadi kota kosmopolitan. Itu semua akibat globalisme jalur perdagangan dunia.

Ketika terjadi perubahan dan rempah-rempah sudah menjadi aset perdagangan yang mahal, orang-orang Gujarat mulai mencari jalur sendiri untuk mendapatkan sumber rempah yang tadinya mereka beli dari Sriwijaya.

Akhirnya mereka menemukan jalur pelayaran ke Maluku. Untuk sampai ke sana, mereka mesti mampir di pantai utara Jawa. Lama-lama pantai itu menjadi besar. Ketika Sriwijaya mulai lemah dan runtuh, muncul Majapahit. Supremasi kekuasaan berubah dari Buddha ke Hindu. Kerajaan Majapahit yang Hindu itu menjadi cikal bakal Indonesia yang kedua. Ketika pedagang-pedagang Arab juga sudah tertarik untuk berdagang, mereka datang ke Indonesia.

Poin saya dari cerita ini: Islam yang paling awal datang ke Indonesia adalah Islam produk globalisme. Jadi, semacam gejala globalisasi sejak dulu sebetulnya sudah ada, dan kita menjadi Islam karena globalisasi.

Gejala xenophobia yang kita perbincangkan berkonotasi negatif. Bisakah dipositifkan?

Istilah xenophobia biasanya dipakai untuk menggambarkan rasa ketakutan atas sesuatu yang dianggap asing. Asing di situ diasumsikan pasti jahat, sehingga harus dilawan.

Kalau mau dipositifkan, yang harus dilawan adalah asing yang jahat saja. Bukan karena asingnya, tapi karena jahatnya. Jadi, jangan karena kita melihat orang lain punya bentuk kulit dan ras yang berbeda, lantas kita musuhi. Dengan begitu, kita sudah terjebak pada perangkap stereotyping. Masalahnya mungkin, bagaimana menumbuhkan kedewasaan berpikir!

Juga menumbuhkan rasa percaya diri. Orang yang kuat imannya tidak akan takut akan yang asing. Menurut saya, penyakit kagetan yang menimpa masyarakat kita ini bukanlah gejala lama, tapi fenomena baru.

Bangsa ini sudah terbiasa dengan globalisasi. Hanya, sejak zaman Orde Baru -seperti dikatakan Cak Nur- telah terjadi proses pedalamisasi (pembentukan budaya pedalaman, Red), sehingga kultur pesisir pelan-pelan terkikis.

Sebagian ciri pedalamisasi adalah pengandaian bahwa kita seolah-olah punya pemerintahan yang selalu melindungi rakyat dari segala-gala yang jahat. Ini mirip filosofi China dulu ketika membangun tembok besar untuk berlindung dari kelompok barbar dan serangan asing.

Orang yang biasa hidup dalam tembok besar, kalau mengalami demokratisasi dan tidak lagi hidup dalam tembok besar, tentu akan shock. Itulah perumpamaan orang yang selalu takut akan “barbarisme asing”. Saya pikir, kita sudah lama tidak hidup dalam alam demokrasi.

Makanya, kecurigaan menjadi tinggi. Pemerintahan yang otoriter hanya selalu dapat berkuasa bila bisa menerbitkan rasa ketakutan di masyarakat andaikan pemerintahan itu hilang. Makanya, kalau demokrasi kita makin matang, saya kira ketakutan itu pelan-pelan akan terkikis.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.