Home » Politik » Radikalisme » Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”
Greg Barton (Foto: rappler.com)

Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”

3/5 (1)

Jadi iklim dan ide Islam global ikut mempengaruhi perkembangan Islam lokal Indonesia?

Pengaruh Islam di tingkat global dan ide-ide Islam modern, memang baru muncul pada abad ke 20-an dan itu berlangsung terus menerus. Tapi pengaruh itu bukan sesutau yang terus-menerus ada di Indonesia. Memang selalu ada ide yang disebut garis keras, tapi itu juga merupakan fenomena modern dan baru muncul di abad ini saja.

Jadi radikalisme itu juga harus dilihat dalam konteks dunia modern. Jelas faktor politik dan environmentatau lingkungan global sangat menentukan juga. Karena isu-isu dan kondisi umat Islam di berbagai tempat, memang jauh lebih gampang menyentuh hati.

Kalau ada persepsi bahwa ada pihak yang tertindas, dan seseorang secara pribadi merasa putus asa atau merasa hidup mereka tidak ada artinya lagi, radikalisme bisa terjadi. Itu sangat wajar. Dalam suasana seperti itu, orang akan mencari kesempatan untuk memakai hidup dengan sesautu yang dianggap bermakna.

Nah, hasilnya yang paling radikal adalah menyalurkannya lewat bom bunuh diri. Tapi juga tidak mudah bagi orang untuk tertarik pada kelompok garis keras. Tidak mudah juga bagi orang untuk percaya bahwa radikalisme merupakan solusi, jawaban, atau jalan keluar. Karena itu, kita memang harus lebih banyak memahami orang.

Melihat bukti-bukti konflik yang ada di Ambon atau Poso, misalnya, saya kadang dapat kesan bahwa orang-orang di sana sudah lama bisa hidup bersama dalam keragaman, dan itu tidak menjadi masalah. Tapi tiba-tiba muncul isu besar atau masalah. Ada sesuatu yang memicu. Dalam kasus seperti itu, mungkin sekali faktor penyebabnya cukup rumit, kompleks, dan tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Jadi kalau kita bilang itu hanya karena orang dari luar, mungkin terlalu naif juga.

Kita juga harus melihat faktor perubahan sosial kemasyarakatan, arus imigrasi, faktor sosial, dan juga faktor ekonomi. Maksud saya, harus diakui, memang ada faktor-faktor penyebab yang disebut faktor organik. Maksudnya ada faktor dalam diri masyarakat itu sendiri yang memungkinkan isu atau masalah terjadi.

Tapi ada juga faktor luar, dengan kehadiran orang luar yang sangat merusak suasana. Dan mereka itu boleh jadi salah satu faktor. Yang dari luar ini mungkin tidak memulai masalah, tapi hanya memberi sumbangan negatif terhadap konflik.

Kini sudah muncul kekuatan-kekuatan sosial yang mengatakan ”tidak” atau ”cukup” pada unsur-unsur yang radikal dalam masyarakat Indonesia. Tapi yang diam tampaknya lebih banyak lagi. Bagaimana ini?

Memang tidak semua orang mau terlibat konflik. Yang pasti, ada banyak orang yang sekadar ingin menghindarkan diri dari konfrontasi langsung. Dan memang, kecenderungan untuk menghindari konfrontasi itu sesuatu yang sehat. Tapi kadang-kadang, kalau apa yang terjadi sudah keterlaluan, diperlukan banyak orang berani untuk mengatakan ”sudah cukup!”.

Mungkin kini sudah saatnya orang bangkit dan punya nyali. Tapi dengan banyaknya yang diam, kita juga jangan menafsirkan bahwa kelompok netral atau yang moderat sudah tidak ada lagi. Sebab itulah penafsiran yang diinginkan kelompok garis keras.

Pak Greg, gagasan mendirikan ”kerajaan Tuhan” atau menetapkan ”hukum-hukum Tuhan” dalam kehidupan bernegara, sampai kini tampaknya masih mempesona gerakan-gerakan radikal Islam. Apakah di kalangan radikal Kristen atau Katolik masih banyak yang punya aspirasi seperti itu?

Harus diakui, dulu ada, dan bahkan mereka memperjuangkan aspirasi mereka dengan jalan kekerasan. Sampai kini, mereka masih ada di beberapa negara seperti Inggris atau Australia, walau sudah tidak kelihatan lagi. Saya kira, salah satu sebabnya adalah karena sistem demokrasi yang diterapkan sudah cukup matang.

Memang, sistem demokrasi di Inggris atau Australia sudah cukup berhasil, tapi tetap belum sempurna. Kesempurnaan merupakan sesuatu yang sangat diinginkan banyak orang, tapi ia hanya milik Tuhan saja. Jadi keinginan seperti itu merupakan respon yang sangat wajar atas kehidupan sosial-politik.

Karena itu, dalam sejarah umat manusia yang cukup panjang, memang ada banyak orang yang merasa dunia sudah sangat gelap, sudah penuh dengan pola-pola hidup jahiliyah. Untuk menanggulangi itu, mereka merasa hanya ada satu jalan keluar, yaitu dengan memaksakan kebenaran agama. Untuk itu, kebenaran itu dipersepsi hanya ada satu, dan kalau ada pluralisme, itu bukti nyata bahwa masih ada iklim jahiliyah.

Tapi sebaliknya, ada orang lain yang mengatakan kalau cara-cara kekerasan yang digunakan untuk mencapai apa yang mereka sebut”keinginan Tuhan” itu, justru bukti adanya pola hidup jahiliyah. Pluralisme malah merupakan ketentuan dari Allah. Nah, kalau bicara dalam kacamata teologi Islam, saya sangat diyakinkan oleh pandangan bahwa pluralisme merupakan salah satu sunnah Allah.

Justru cara-cara kekerasan itu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, saya tidak mau berputus asa dan bilang bahwa kehidupan jahiliyah sudah terlalu jauh. Memang unsur-unsur jahiliyah selalu ada dalam hidup ini, tapi juga selalu ada harapan. Saya belum putus asa menghadapi dunia modern.

Pak Greg, banyak negara muslim yang tampaknya belum selesai dalam menentukan dasar bernegara. Setelah lebih 50 tahun merdeka, wacana itu tampakya juga belum selesai di Indonesia. Mengapa itu masih terjadi, ya?

Gejala itu bukan sesuatu yang senantiasa ada, tapi merupakan tahapan dalam perkembangan bernegara. Kita bisa membedakan beberapa negara Arab dalam menaggapi isu seperti itu. Sebagian menganggapnya sudah selesai, dan sebagian belum.

Dan memang, pola pikir Wahabisme sampai kini masih mendominasi banyak dunia Islam, terutama karena faktor kekuatan petrodolar Arab Saudi yang mampu mentransmisikan ide-ide dan ideologi mereka. Pengaruh seperti itu kelihatannya tidak banyak terjadi di Turki, karena mereka jelas bukan Arab dan merasa perlu punya kebudayaan yang berbeda dengan negara-negara Arab.

Ini berbeda dengan apa yang terjadi di kawasan Asia Selatan, seperti aspirasi kaum muslim di India dan Pakistan. Di Afganistan, pengaruh Arab Saudi juga sangat terasa di masa kekuasaan Taliban. Tapi di negara-negara Asia Tenggara dan umumnya dunia Melayu, ada pemahaman dan penerapan Islam yang agak mirip dengan cara Turki. Itu bagi saya merupakan sesuatu yang sangat menarik.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.