Home » Politik » Radikalisme » Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”
Greg Barton (Foto: rappler.com)

Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”

3/5 (1)

IslamLib - Proses konsolidasi demokrasi di Indonesia ibarat sebuah perjalanan di jalan raya. Bila supir dan penumpangnya kurang waspada, kecelakaan bisa terjadi sewaktu-waktu. Demikian analisis Greg Barton, indonesianis asal Australia yang telah menulis biografi Gus Dur dan beberapa buku tentang gerakan radikal Islam di Indonesia, kepada Novriantoni Kahar dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (25/5), lalu.

 

Pak Greg, sebagai pengamat Islam Indonesia, apakah Anda melihat masyarakat Islam Indonesia saat ini makin radikal?

Dikatakan makin radikal, belum pasti juga. Tapi apakah kita harus lebih waspada dan lebih memperhatikan perkembangan masyarakat, saya rasa memang harus begitu. Tapi mungkin ini semua harus dilihat dari konteks sejarah Indonesia yang cukup panjang.

Kalau kita membaca sejarah Indonesia, sejak tahun 1940-an sampai 1950-an, memang sudah ada persaingan antara mereka yang disebut kalangan Islamis dengan kalangan demokratis; dan itu terus-menerus ada dalam sejarah Indonesia. Jadi gejala ini bukan sesuatu yang baru, dan tidak mungkin dihilangkan dengansendirinya.

Jadi gerakan-gerakan radikal Islam saat ini masih terkait dengan sejarah pergulatan Islam dan negara di Indonesia sejak tahun 1940-an?

Benar. Ini merupakan cerita lama yang belum selesai. Dengan memakai bahasa ilmiah, ini bisa disebut sebagai persaingan kelompok Islamis yang punya misi politik yang didasarkan pada pemahaman Islam mereka yang mengharuskan penerapan hukum syariat lewat negara, dengan kelompok lainnya.

Perjuangan itu mereka bayangkan akan mencapai masyarakat dan negara Indonesia yang ideal. Namun di sisi lain, ada juga kelompok yang percaya bahwa demokrasi dan pemikiran politik yang liberal lebih memungkinkan perkembangan masyarakat Indonesia secara lebih sehat.

Mengapa aspirasi-aspirasi radikal Islam seperti keinginan mengganti dasar negara dianggap mengancam proses pengukuhan sistem berdemokrasi?

Sebab, tidak mungkin berdemokrasi tanpa ada penghargaan pada pluralisme, dan kalau kita tidak dapat menerima kenyataan adanya keragaman kelompok etnis, agama, dan budaya. Tidak mungkin juga ada demokrasi kalau kita menginginkan semua orang harus beraspirasi sama.

Itu bukan demokrasi yang praktis dan tidak bisa dicapai kecuali melalui pendekatan yang cukup keras. Jadi sikap-sikap yang keras itu memang harus dihindari dan harus ada kesepakatan bahwa itu bukan jalan keluar.

Adakah hubungan antara gerakan radikal Islam saat ini dengan gerakan Darul Islam (DI) seperti yang digerakkan Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh di tahun 1950-an?

Jelas ada hubungannya, tapi sifat hubungannya bermacam-macam. Ada hubungan yang bersifat kontrol, dan ada hubungan yang lebih langsung lewat kontak pribadi. Kalau kita bicara soal Jamaah Islamiyah sebagai sayap yang paling radikal dari yang ada saat ini, jelas meraka ada hubungan dengan gerakan lama itu lewat jalur keluarga dan lain sebagainya.

Ada juga faktor kultural yang ikut menentukan. Kalau melihat peristiwa yang baru saja terjadi pada Gus Dur di Purwakarta, kita jelas tahu bahwa daerah Sunda memang cenderung lebih konservatif dan radikal dalam ekspresi beragama.

Mungkin itu bukan gejala yang khas Jawa Barat saja. NU dan Muhammadiyah saja, kini sudah disinyalir makin condong ke kanan. Tanggapan Anda?

Ya, memang jelas-jelas lebih cenderung ke kanan. Dan kalau itu berjalan terus-menerus, memang itu akan berbahaya bagi proses demokratisasi di Indonesia. Tapi dalam konteks sejarah Indonesia yang panjang, kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu tidak perlu terlalu dilebih-lebihkan. Sebab perkembangan seperti itu juga bersifat dinamis.

Bisa jadi, NU dan Muhamadiyah saat ini makin ke kanan, tapi sepuluh tahun lagi mungkin sekali akan berubah lebih ke tengah dan berbelok. Nah, yang tidak jelas adalah: apakah kecenderungan itu akan terus-menerus seperti itu, atau akan muncul pemimpin baru yang merasa sudah saatnya untuk melakukan koreksi.

Apakah tokoh seperti Gus Dur makin kurang perannya dalam menggerakkan arus moderasi Islam di lingkungan NU?

Secara struktural, memang tidak bisa ditolak bahwa pengaruh Gus Dur sudah sangat terbatas. Itu terbukti lewat indikator Muktamar NU yang lalu. Tapi secara kultural, lewat kharismanya, pengaruh Gus Dur masih ada. Tapi di PBNU, oleh rekan-rekan Gus Dur sendiri, pengaruhnya dianggap sudah kandas.

Namun itu tidak berarti tidak akan ada lagi generasi muda yang pada masa depan muncul dan masuk ke dalam struktur NU dengan membawa inspirasi dari pemikiran-pemikiran Gus Dur dan tokoh lainnya. Jika tidak, mungkin akan ada bahaya bagi NU; kalangan muda akan meninggalkan NU, terutama kalau merasa sudah frustrasi.

Beberapa kalangan apologis Islam Indonesia mengembalikan radikalisme Islam Indonesia kepada faktor-faktor luar Indonesia seperti kebijakan Amerika dan pengaruh ajaran-ajaran Wahabisme. Tanggapan Anda?

Ada benarnya. Memang ada faktor-faktor luar yang bisa dikatakan merupakan sebab. Tapi faktor-faktor yang menyebabkan itu tentu ada banyak. Ada faktor keadaan, tapi juga ada faktor yang berkenaan dengan ide atau gagasan. Gagasan-gagasan Islam yang radikal, dalam konteks global baru muncul sejak tahun 1940-an lewat buku-buku al-Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, dan lain-lain. Itu juga ditambah pula oleh ide-ide Wahabisme yang sudah lama ada.

Jadi iklim dan ide Islam global ikut mempengaruhi perkembangan Islam lokal Indonesia?

Pengaruh Islam di tingkat global dan ide-ide Islam modern, memang baru muncul pada abad ke 20-an dan itu berlangsung terus menerus. Tapi pengaruh itu bukan sesutau yang terus-menerus ada di Indonesia. Memang selalu ada ide yang disebut garis keras, tapi itu juga merupakan fenomena modern dan baru muncul di abad ini saja.

Jadi radikalisme itu juga harus dilihat dalam konteks dunia modern. Jelas faktor politik dan environmentatau lingkungan global sangat menentukan juga. Karena isu-isu dan kondisi umat Islam di berbagai tempat, memang jauh lebih gampang menyentuh hati.

Kalau ada persepsi bahwa ada pihak yang tertindas, dan seseorang secara pribadi merasa putus asa atau merasa hidup mereka tidak ada artinya lagi, radikalisme bisa terjadi. Itu sangat wajar. Dalam suasana seperti itu, orang akan mencari kesempatan untuk memakai hidup dengan sesautu yang dianggap bermakna.

Nah, hasilnya yang paling radikal adalah menyalurkannya lewat bom bunuh diri. Tapi juga tidak mudah bagi orang untuk tertarik pada kelompok garis keras. Tidak mudah juga bagi orang untuk percaya bahwa radikalisme merupakan solusi, jawaban, atau jalan keluar. Karena itu, kita memang harus lebih banyak memahami orang.

Melihat bukti-bukti konflik yang ada di Ambon atau Poso, misalnya, saya kadang dapat kesan bahwa orang-orang di sana sudah lama bisa hidup bersama dalam keragaman, dan itu tidak menjadi masalah. Tapi tiba-tiba muncul isu besar atau masalah. Ada sesuatu yang memicu. Dalam kasus seperti itu, mungkin sekali faktor penyebabnya cukup rumit, kompleks, dan tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Jadi kalau kita bilang itu hanya karena orang dari luar, mungkin terlalu naif juga.

Kita juga harus melihat faktor perubahan sosial kemasyarakatan, arus imigrasi, faktor sosial, dan juga faktor ekonomi. Maksud saya, harus diakui, memang ada faktor-faktor penyebab yang disebut faktor organik. Maksudnya ada faktor dalam diri masyarakat itu sendiri yang memungkinkan isu atau masalah terjadi.

Tapi ada juga faktor luar, dengan kehadiran orang luar yang sangat merusak suasana. Dan mereka itu boleh jadi salah satu faktor. Yang dari luar ini mungkin tidak memulai masalah, tapi hanya memberi sumbangan negatif terhadap konflik.

Kini sudah muncul kekuatan-kekuatan sosial yang mengatakan ”tidak” atau ”cukup” pada unsur-unsur yang radikal dalam masyarakat Indonesia. Tapi yang diam tampaknya lebih banyak lagi. Bagaimana ini?

Memang tidak semua orang mau terlibat konflik. Yang pasti, ada banyak orang yang sekadar ingin menghindarkan diri dari konfrontasi langsung. Dan memang, kecenderungan untuk menghindari konfrontasi itu sesuatu yang sehat. Tapi kadang-kadang, kalau apa yang terjadi sudah keterlaluan, diperlukan banyak orang berani untuk mengatakan ”sudah cukup!”.

Mungkin kini sudah saatnya orang bangkit dan punya nyali. Tapi dengan banyaknya yang diam, kita juga jangan menafsirkan bahwa kelompok netral atau yang moderat sudah tidak ada lagi. Sebab itulah penafsiran yang diinginkan kelompok garis keras.

Pak Greg, gagasan mendirikan ”kerajaan Tuhan” atau menetapkan ”hukum-hukum Tuhan” dalam kehidupan bernegara, sampai kini tampaknya masih mempesona gerakan-gerakan radikal Islam. Apakah di kalangan radikal Kristen atau Katolik masih banyak yang punya aspirasi seperti itu?

Harus diakui, dulu ada, dan bahkan mereka memperjuangkan aspirasi mereka dengan jalan kekerasan. Sampai kini, mereka masih ada di beberapa negara seperti Inggris atau Australia, walau sudah tidak kelihatan lagi. Saya kira, salah satu sebabnya adalah karena sistem demokrasi yang diterapkan sudah cukup matang.

Memang, sistem demokrasi di Inggris atau Australia sudah cukup berhasil, tapi tetap belum sempurna. Kesempurnaan merupakan sesuatu yang sangat diinginkan banyak orang, tapi ia hanya milik Tuhan saja. Jadi keinginan seperti itu merupakan respon yang sangat wajar atas kehidupan sosial-politik.

Karena itu, dalam sejarah umat manusia yang cukup panjang, memang ada banyak orang yang merasa dunia sudah sangat gelap, sudah penuh dengan pola-pola hidup jahiliyah. Untuk menanggulangi itu, mereka merasa hanya ada satu jalan keluar, yaitu dengan memaksakan kebenaran agama. Untuk itu, kebenaran itu dipersepsi hanya ada satu, dan kalau ada pluralisme, itu bukti nyata bahwa masih ada iklim jahiliyah.

Tapi sebaliknya, ada orang lain yang mengatakan kalau cara-cara kekerasan yang digunakan untuk mencapai apa yang mereka sebut”keinginan Tuhan” itu, justru bukti adanya pola hidup jahiliyah. Pluralisme malah merupakan ketentuan dari Allah. Nah, kalau bicara dalam kacamata teologi Islam, saya sangat diyakinkan oleh pandangan bahwa pluralisme merupakan salah satu sunnah Allah.

Justru cara-cara kekerasan itu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, saya tidak mau berputus asa dan bilang bahwa kehidupan jahiliyah sudah terlalu jauh. Memang unsur-unsur jahiliyah selalu ada dalam hidup ini, tapi juga selalu ada harapan. Saya belum putus asa menghadapi dunia modern.

Pak Greg, banyak negara muslim yang tampaknya belum selesai dalam menentukan dasar bernegara. Setelah lebih 50 tahun merdeka, wacana itu tampakya juga belum selesai di Indonesia. Mengapa itu masih terjadi, ya?

Gejala itu bukan sesuatu yang senantiasa ada, tapi merupakan tahapan dalam perkembangan bernegara. Kita bisa membedakan beberapa negara Arab dalam menaggapi isu seperti itu. Sebagian menganggapnya sudah selesai, dan sebagian belum.

Dan memang, pola pikir Wahabisme sampai kini masih mendominasi banyak dunia Islam, terutama karena faktor kekuatan petrodolar Arab Saudi yang mampu mentransmisikan ide-ide dan ideologi mereka. Pengaruh seperti itu kelihatannya tidak banyak terjadi di Turki, karena mereka jelas bukan Arab dan merasa perlu punya kebudayaan yang berbeda dengan negara-negara Arab.

Ini berbeda dengan apa yang terjadi di kawasan Asia Selatan, seperti aspirasi kaum muslim di India dan Pakistan. Di Afganistan, pengaruh Arab Saudi juga sangat terasa di masa kekuasaan Taliban. Tapi di negara-negara Asia Tenggara dan umumnya dunia Melayu, ada pemahaman dan penerapan Islam yang agak mirip dengan cara Turki. Itu bagi saya merupakan sesuatu yang sangat menarik.

Kita sering bicara tentang fundamentalisme Islam. Bagaimana dengan fundamentalisme Kristen di negara-negara Barat?

Fundamentalisme beragama merupakan fenomena era moden. Menurut orang seperti Samuel P. Huntington, ada ciri khas yang instrinstik di dalam ajaran Islam, sehingga membuat umatnya cenderung fundamentalis. Padahal, itu bukan sesuatu yang esensial pada watak Islam, karena muncul juga di dalam berbagai tradisi agama dan umat. Fenomena yang mirip fundamentalisme Islam juga terjadi di negara-negara Barat. Fundamentalisme Kristen dan fundamentalisme Islam, dalam banyak hal sama, karena memang produk dari faktor-faktor yang agak sama.

Tapi bicara soal fundamentalisme, kita akan tahu bahwa walau kalangan fundamentalis itu umumnya menolak pluralisme, mereka sendiri sangatlah plural atau beragam. Ada macam-macam corak fundamentalisme. Ada yang betul-betul garis keras dan ada yang lebih lunak.

Di Amerika Serikat, yang betul-betul garis keras saya kira tak banyak. Tapi ada saja kelompok lebih besar, walau tidak terlalu keras, tapi sangat kurang tahu akan bahaya fundamentalisme garis keras itu. Justru karena mereka kurang tahu, mereka sangat mudah digunakan oleh mereka yang betul-betul keras.

Itu sama saja dengan apa yang terjadi di banyak negara Islam. Di Iran, yang betul-betul garis keras memang agak sulit juga untuk bergerak. Sebab ada banyak indikasi bahwa mayoritas orang Iran pada dasarnya tidak suka kalangan fundamentalis. Mereka juga tidak suka pemerintah yang bersifat fundamentalis. Jadi kita harus waspada dan arif supaya tidak memancing respon sesuai dengan kebutuhan dan keinginan orang-orang fundamentalis. Ini memang situasi yang cukup rumit.

Sepanjang sejarah umat manusia, selalu saja ada orang-orang yang berusaha memakai agama untuk kepentingan politik. Tidak heran kalau itu juga terjadi di Indonesia. Tapi kita tidak usah putus asa dan umat beragama sejauh mungkin semua harus bekerjasama agar kelompok yang menggunakan agama untuk kepentingan politik dapat diblokir.

Kita cenderung membayangkan pemerintah atau pihak keamanan mampu memberi solusi untuk segalanya. Tapi sebenarnya, masyarakat madani juga harus ikut bertanggungjawab untuk menanggulangi itu.

Karena maraknya fundamentalisme dan radikalisme, dialog dan kerjasama antar umat beragama justru makin relevan, ya?

Memang harus begitu. Kalau pemerintah terlalu campur tangan, kita kan juga tidak terlalu senang. Tapi kalau mereka diam saja, itu juga kurang sehat. Karena itu, kelompok yang disebut masyarakat madani yang harusnya membikin respon.

Kalau semua orang mestinya punya tanggung jawab untuk membangun masyarakat yang sehat diam saja, perkembangan masyarakat akan makin kurang sehat. Tapi sebelum ada respon dari pemerintah atau pihak keamanan, lebih baik respon itu muncul dulu dari masyarakat madani.

Apakah respon pemerintah Indonesia terhadap kelompok-kelompok radikal yang selalu melakukan tindak-tindak kekerasan dan pengrusakan saat ini sudah proporsional?

Ya, kita harus lihat konteksnya. Kita masih dalam masa kondisional. Indonesia sudah mencapai demokrasi secara mekanisme, karena sudah ada pemilu yang baik dan lain sebagainya. Tapi untuk sampai pada demokrasi yang seutuhnya, yang lengkap dan sehat, tampaknya belum sampai.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau demokrasi Indonesia dibandingkan dengan Inggris yang sudah berabad-abad menerapkan sistem itu, tentu Indonesia kalah jauh. Inggris sudah matang dalam berdemokrasi, sementara Indonesia sedang dalam proses.

Jadi, kalau respon pemerintah Indonesia terhadap kelompok-kelompok radikal itu belum secukupnya, belum lengkap, belum dipikirkan dengan cara yang betul-betul memuaskan, itu tidak heran. Mereka juga kewalahan. Kadang-kadang, saya mengira mereka berpikir tidak mau campur tangan, tapi di pihak lain juga merasa harus ikut berperan.

Tapi paling kurang, pemerintah harus hadir ketika ada warga negara yang diancam, diintimidasi, dan diteror secara semena-mena, kan?

Ada banyak pihak yang kecewa dengan respon pemerintah dalam soal itu. Tapi kita yang terlibat dalam masyarakat madani juga harus punya tanggung jawab untuk berperan sejauh mungkin daripada hanya mengkritik pemerintah. Mengkritik sambil ngopi memang cukup masuk akal, tapi akhirnya kita juga jangan lupa bergerak. Kita juga harus mencari kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi.

Dengan makin kuatnya peran MUI dan maraknya regulasi syariat di Indonesia belakangan ini, apakah Indonesia sedang mengarah pada negara teokratis?

Kita harus ingat dengan apa yang pernah diajarkan almarhum Nurchalis Madjid atau Cak Nur. Cak Nur membedakan sekularisme yang merupakan ideologi tanpa agama, dan sekularisasi yang merupakan proses ketika pemerintah tidak perlu campur tangan terlalu dalam untuk isu-isu agama. Kalau yang kedua itu yang kita inginkan, itu adalah sesuatu yang sehat dan sangat perlu untuk proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Tapi itu tidak berarti kita harus percaya pada sekularisme.

Memang, orang beragama selalu ingin bertindak atas dasar imamnya dalam mengelola negara. Tapi mereka juga harus melihat, menghormati, dan menerima bahwa ada orang yang berpendapat lain dalam pelbagai persoalan. Karena itu, mereka juga harus menerima kenyataan tidak semua orang akan berpendapat sama dengan mereka. Nah, yang terjadi pada kasus pengusiran Gus Dur di Purwakarta kemarin, kelihatannya dilakukan orang-orang yang kurang sopan dan kurang sabar. Dan itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Omong-omong soal Cak Nur dan Gus Dur, apakah gagasan-gagasan besar mereka punya dampak dalam perkembangan Islam Indonesia saat ini?

Bagi saya sebagai orang luar, dampaknya sangat besar. Itu sangat kelihatan pada generasi-generasi intelektual Islam Indonesia yang lebih muda. Tapi sayang sekali, Cak Nur sudah tidak ada dan belum ada lagi yang setaraf Cak Nur. Kita masih punya Gus Dur, tapi tidak ada lagi generasi baru sekaliber dia. Mudah-mudahan, sebentar lagi akan muncul. Tapi kalau kita terus-menerus menunggu munculnya ratu adil, mungkin kita akan kecewa juga.

Anda optimis atau pesimis melihat perkembangan demokratisasi di Indonesia?

Mungkin permisalannya begini. Kalau berjalan di jalan raya, saya perlu optimis tidak akan ada kecelakaan dalam perjalanan. Tapi optimisme itu juga harus didasarkan pada kewaspadaan saya dalam perjalanan. Kalau saya tidak waspada, mungkin sekali akan ada kecelakaan. Untuk itu, sang supir pun harus tetap memerhatikan kondisi jalan dan jangan terlalu santai. Kalau kita betul-betul bertanggung jawab, kecelakaan bisa dihindarkan. Saya peduli akan masa depan bangsa Indonesia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.