Home » Politik » Radikalisme » Ihsan Ali-Fauzi: “Terorisme Bunuh Diri Kerap Dipicu Oleh Nasionalisme”

Ihsan Ali-Fauzi: “Terorisme Bunuh Diri Kerap Dipicu Oleh Nasionalisme”

5/5 (1)

Tapi, jangan-jangan saat ini kita sedang dibutakan fenomena bunuh diri mutakhir yang lebih banyak berlabel agama. Artinya, Pape ingin mengingatkan bahwa dalam kurun waktu yang agak panjang, sejak 1980-2003, nasionalisme masih menjadi faktor penjelas terpenting. Kebetulan, kini unsur agama agak menonjol…

Itulah yang mau saya katakan dan sudah dikatakan Pape. Dalam ilmu sosial, memang ada apa yang disebut sebagai teori yang pasimoni. Artinya, kita harus mengambil satu faktor untuk menjelaskan sebuah fenomena tanpa mencampurnya dengan faktor-faktor lain.

Makin jelas faktor penjelas kita, makin dahsyat sebuah teori. Nah, Pape ingin menjelaskan bahwa aksi bom bunuh diri itu bukan semata-mata karena agama, tapi lebih karena argumen nasionalisme.

Nah, kalau kita belajar ilmu politik atau sosial, ya, mesti berposisi seperti itu. Makin kokoh argumen, makin jelas pandangan kita mengenai suatu hal, makin bagus suatu teori. Bukan malah mencampur semua; penjelasan politik, nasionalisme, agama, dan sebagainya. Sebab, kalau terlalu banyak penjelasan, jadinya malah tak ada penjelasan sama sekali. Nah, Pape ingin menjelaskan, dan seperti itulah hasilnya.

Kritik lainnya?

Saya merasa kita tidak perlu punya penjelasan yang sama untuk semua kasus terorisme bunuh diri. Menurut saya, terorisme bunuh diri itu adalah alat, senjata. Dan senjata tidak mengenal ideologi. Orang yang dilatih dengan berbagai keahlian untuk membunuh—bisa dengan alasan agama, sekuler atau apa, sehingga dia pun rela mati untuk itu—ketika siap dikomando oleh pimpinannya, pada akhirnya dia hanyalah alat, senjata.

Dan, senjata itu bisa dipakai Hizbullah, Macan Tamil, atau yang lain-lain. Nah, senjata itu bisa ditiru penggunaannya. Hizbullah bisa meniru dari Macan Tamil dan Hamas bisa meniru dari Hizbullah. Semuanya untuk tujuan yang tidak mesti sama.

Adakah penjelasan rasional dari Pape soal mengapa orang mau merisikokan diri untuk tugas bunuh diri?

Pape tidak tertarik untuk bertanya seperti itu. Itu pertanyaan tentang bagaimana ”senjata” tadi dibuat. Pape hanya ingin mencari kejelasan tentang mengapa ini terjadi, instead of alatnya dibuat dari usnur-unsur agama, fundamentalisme, nasionalisme, atau yang lain. Dia juga ingin mencari apa tujuan akhir semua aksi-aksi ini.

Di situ dia membuat generalisasi-generalisasi. Dan menurut dia, alasan paling kuat adalah nasionalisme. Artinya, ada sekelompok masyarakat yang merasa bahwa tanah air mereka sedang diduduki pasukan asing, seperti GAM dulunya merasa diduduki tentara Indonesia, Chechnya diduduki Rusia, dan lain sebagainya.

Apa kata Pape tentang penjelasan dari sudut doktrin jihad dan keinginan orang untuk syahid, mendapat surga, lalu berjumpa bidadari, setelah membunuh orang dan dirinya sendiri?

Pape akan bilang: Novri juga diajari keyakinan yang sama tentang jihad waktu di pesantren. Saya (Ihsan) juga. Kenapa Novri dan Ihsan tidak bersedia bunuh diri, sebagaimana orang Hamas bersedia melakukannya? Artinya, aspek ideologi penting, tapi tak cukup untuk menjelaskan sebuah fenomena.

Sebagaimana penjelasan tentang aspek ekonomi dan lain sebagainya tidak memadai. Orang yang berusaha menjelaskan dari aspek ekonomi akan bilang itu karena kemiskinan. Tapi, kan ada banyak sekali orang miskin yang membaca doktrin jihad dan syahid. Tapi mengapa tidak semua orang bersedia melakukannya?

Kalau alasannya adalah fundamentalisme Islam, bukan nasionalisme, kata Pape, mengapa Hizbullah berhenti melakukan aksi bunuh diri sesudah tentara Amerika dan Prancis meninggalkan Libanon tahun 1983? Padahal, saat itu fundamentalisme dan paham-paham Islam keras terus berkembang. Jadi, memang ada faktor-faktor ideologi dan ekonomi. Tapi, dua faktor itu saja tidak cukup untuk menjelaskan fenomena aksi bunuh diri.

Kini, aksi-aksi bunuh diri di Palestina tampaknya ditahan Pemerintahan Hamas dan Partai Fatah. Sebenarnya, aksi bunuh diri bisa juga dimulai dan berakhir, ya?

Salah satu yang juga menarik dari studi Pape adalah: dia tidak saja melihat bagaimana terorisme bermula, tapi juga bagaimana itu berakhir. Sebab, ketika kita mempelajari bagaimana sesuatu bermula, kita akan tahu bagiamana sesuatu itu berakhir.

Misalnya dalam kasus tadi: berhentinya Hizbullah melakukan aksi bunuh diri. Di situ ada pertimbangan kapan tuntutannya dipenuhi atau tidak, atau kapan aksi bunuh diri efektif dan tidak. Kalau kita tidak menghitung kapan berakhirnya suatu aksi, kita tidak akan tahu seberapa besar efektivitasnya.

Bagaimana menjelaskan bom bunuh diri yang dilakukan kelompok Sunni atas Syiah, atau sebaliknya di Iraq sana ini. Apakah fundamentalisme agama tidak bisa dipakai sebagai penjelas?

Itu juga salah satu kelemahan teori Pape. Kalau kita mendasarkan argumen pada nasionalisme dalam pengertian ingin melepaskan diri dari kungkungan pihak asing, sulit sekali menjelaskan rivalitas antara muslim Sunni dan Syiah di Bagdad. Sebab mereka sama-sama Islam dan sama-sama ingin memperjuangkan satu nation yang sama. Itu saya kira salah satu kelemahan terbesar teori Pape.

Sekarang, aksi terorisme bunuh diri sudah berkembang ke dua arah yang berbeda dengan asumsi Pape. Yang satu mengalami globalisasi, mengatasi nasionalisme sempit ala Hizbullah. Di sini, tesis Pape bukan tidak kena sama sekali. Tesis Pape sangat kena buat Hizbullah, buat Israel. Tapi dalam kasus al-Qaidah, ia sama sekali tidak kena.

Al-Qaidah sudah mengalami supranasionalisasi, mengatasi nasionalisme. Pada saat yang sama (kedua) terorisme bunuh diri juga mulai terjadi pada tingkat yang lebih lokal dan lebih kecil dibanding nasionalisme, yaitu di internal Islam pada kasus Iraq.

Bagaimana memahami logika Imam Saumudra cs yang membom Bali demi melawan Amerika?

Kalau menggunakan logika yang global, itu bisa dijelaskan. Mereka adalah bagian dari global islamic network atau jaringan Islam global yang dipengaruhi al-Qaidah. Mereka juga mengklaim penderitaan umat Islam di Palestina dan di mana saja sebagai bagian dari penderitaan mereka.

Karena itu mereka harus melawan dengan cara menghancurkan apa saja yang mereka anggap layak dihancurkan. Itulah bagian dari apa yang saya sebut sebagai globalized Islam(Islam yang mengglobal). Dan itu adalah bagian yang susah sekali dijelaskan dengan teori Pape.

Ada juga orang yang mengaitkan terorisme dengan soal ketimpangan ekonomi dan kesengsaraan hidup. Menurut Anda?

Itu asumsinya radikalisme agama atau politik terjadi karena alasan ekonomi. Itulah yang disebut relative deprivacion theory dalam ilmu sosial. Asumsinya, orang protes karena miskin, lapar, dan lain sebagainya.

Tapi pertanyaannya lagi-lagi: banyak orang miskin di dunia, tapi mengapa yang satu jadi teroris, yang lain tidak? Jawaban lebih positif dan berbasis data diberikan juga oleh Pape. Pape menghitung income perkapita negara-negara mayoritas muslim.

Dari situ tampak, kalau aksi-aksi ini dikarenakan ketimpangan ekonomi atau kemiskinan, mestinya para aktivis al-Qaidah bukan berasal dari orang-orang Arab Saudi, tapi Afrika Utara dan Selatan yang miskin-miskin.

Tapi ada yang aneh; kok orang kaya seperti Osama bersedia menjadi seperti itu. Kita tahu, 15 dari 19 orang pelaku bom bunuh diri WTC adalah orang Arab Saudi yang pendapatan negaranya tinggi. Mereka juga orang-orang terdidik. Jadi, tentu ada masalah yang lebih besar dari sekadar itu.

Para pelaku bom Bali itu tampak pengecut. Tujuan perjuangannya tidak jelas tapi justru mengorbankan yang tidak bersalah. Komentar Anda?

Kalau dari segi pelaku, mereka merasa tidak masalah jika orang-orang yang turut mendukung rezim yang mereka musuhi ikut menjadi korban. Orang seperti Imam Samudra, dalam bukunya menyatakan kalau itu salah satu konsekuensi. Kalau tak salah, Amrozi juga bilang: ”Saya sedih dengan korban-korban, tapi ini untuk tujuan yang lebih besar.” Jadi tentang pemilihan korban itu sepenuhnya arbitrer.

Yang perlu kita mengerti justru aspek eksposenya di media, dan juga sedikit masalah psikologi. Kalau bom bunuh diri dilakukan di satu tempat, memakan 5 korban, tapi tak diekspos media, dia tidak akan jadi apa-apa.

Dia sama sekali tidak bermakna atau bermakna kecil. Sebab, yang menjadi tuntutan adalah agar rakyat pada negara yang melakukan pendudukan terhadap nation mereka memberontak terhadap pemerintah.

Makanya, orang-orang seperti Noam Chomsky dan rakyat Amerika lainnya mulai berpikir: jangan-jangan ada yang salah dengan kebijakan luar negeri pemerintah, sehingga kelak mereka memilih presiden lain atau partai yang lain.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.