Home » Politik » Radikalisme » Ihsan Ali-Fauzi: “Terorisme Bunuh Diri Kerap Dipicu Oleh Nasionalisme”

Ihsan Ali-Fauzi: “Terorisme Bunuh Diri Kerap Dipicu Oleh Nasionalisme”

5/5 (1)

 

Faktor pendorong utama terorisme bunuh diri (suicide terrorism) dalam kurun waktu 1980-2003, bukanlah fundamentalisme agama. Ia lebih didorong oleh spirit nasionalisme suatu kelompok masyarakat untuk mengusir orang yang mereka anggap menjajah ibu pertiwi mereka.

Demikian hasil diskusi buku Dying To Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism karangan Robert Pape (2006) antara Jaringan Islam LIberal (JIL) dengan Ihsan Ali-Fauzi, mahasiswa Ilmu Politik di Ohio State University Amerika Serikat, Kamis (5/10) lalu.

 

Mas Ihsan, apa yang membuat orang tertarik meneliti orang yang sangat berani merisikokan nyawanya untuk mati dalam terorisme bunuh diri?

Tentu orang ingin tahu mengapa orang mau mati bunuh diri, untuk tujuan apa, dan lain sebagainya. Penjelasan yang biasa adalah: orang-orang itu frustrasi, tidak punya uang untuk hidup, dan lain sebagainya. Robert Pape dalam bukunya Dying To Win (Mati untuk Menang) datang dengan temuan baru. Menurut dia, ada pertimbangan strategis dan alasan-alasan lainnya sehingga orang mau mati bunuh diri, dan itu bukan personal.

Pertanyaan besar dia: mengapa orang rela bunuh diri, khususnya di kalangan Islam saat ini? Dalam studi-studi ilmiah maupun koran-koran yang populer, biasanya soal itu dikaitkan dengan naiknya fundamentalisme Islam. Tapi hasil penelitian Pape menunjukkan bahwa ini semua bukan didorong fundamentalisme Islam, tapi hal lain yang dia sebut nasionalisme atau kepentingan nasional tertentu.

Jadi secara umum, tujuannya sekuler belaka, strategis belaka, yaitu untuk mengusir tentara yang menduduki wilayah-wilayah tertentu yang dianggap para sponsor aksi terorisme sebagai homeland atau tanah air mereka. Orang-orang Chechnya merasa bahwa Rusia telah menduduki tanah mereka, sementara Palestina merasa Israel menduduki tanah mereka.

Yang menarik, Pape dalam buku ini juga menafsirkan bahwa jaringan al-Qaidah itu adalah fenomena nasionalisme, yaitu gerakan yang ingin mengusir apa yang mereka sebut sebagai pendudukan tentara Amerika di jazirah Arabia.

Anda bisa jelaskan bagaimana Pape sampai pada kesimpulan demikian?

Saya kira, sejauh ini penelitian Pape adalah yang paling komprehensif dan paling kokoh secara metodologi. Dulu, kita melakukan studi kasus atau membandingkan beberapa kasus tentang aksi bunuh diri, misalnya yang dilakukan aktivis Hamas maupun Fatah. Tapi di sini, Pape mengumpulkan semua kasus terorisme bunuh diri.

Sebelumnya perlu diterangkan latar belakang Robert Pape. Ia adalah guru besar Ilmu Politik di University of Chicago. Dia juga mengepalai Center for The Study of Suicide Terrorisme di universitas itu. Lembaga yang dipimpinnya sangat spesifik, berurusan dengan semua jenis aksi terorisme yang pelakunya akan mati.

Dalam bukunya itu, secara singkat juga dipaparkan sejarah bom bunuh diri. Tapi kasus yang dia teliti terbatas ketika bom bunuh diri naik pamor di era modern, yaitu sejak 1980-an sampai 2003. Di edisi terakhir bukunya, Pape memperbarui datanya dengan beberapa kejadian mutakhir Iraq. Jadi yang ditelitinya adalah 315 kasus bunuh diri, yang dilakukan di seluruh dunia dari tahun 1980-2003.

Nah, salah satu tesisnya menyebutkan bahwa bunuh diri lebih dilakukan atas dasar nasionalisme, bukan dorongan agama. Dari 315 data kasus yang dia teliti—sebagian besar secara kuantitatif—aksi-aksi bunuh diri justru lebih banyak dilakukan kelompok bukan fundamentalis agama. Macan Tamil di Srilanka melakukannya 76 kali, lebih banyak dari yang dilakukan Hamas (54 kali), dan kelompok Jihad Islam (27 kali).

Aspek lain yang juga menarik dari data Pape adalah: di dalam Islam sendiri, rupanya jumlah aksi terorisme bunuh diri yang diorganisir kaum muslim yang bukan fundamentalis, tapi sekuler, lebih besar daripada yang diorganisir kaum fundamentalis. Temuan ini penting untuk menguji tesis apakah benar ada kaitan antara terorisme dengan fundamentalisme Islam.

Yang dia maksud muslim sekuler adalah kelompok seperti Partai Buruh Kurdistan di Turki yang gigih menentang apa yang mereka sebut aneksasi Turki atas Kurdistan. Apa yang dilakukan Brigade al-Aqsha merupakan bagian dari agenda kelompok Fatah.

Kita tahu, Fatah itu nasionalis, bukan fundamentalis seperti Hamas. Jadi, jumlah yang dilakukan muslim sekuler lebih besar. Dari data-data kuantitatif itu, dia ingin menunjukkan bahwa tidak betul asumsi awal tadi (fundamentalisme adalah pemicu terpenting terorisme bunuh diri, Red). Atau, paling tidak, hubungannya tidak sekuat yang dibayangkan orang sebelumnya.

Tapi di Iraq atau Afganistan saat ini, terorisme bunuh diri selalu diklaim oleh kelompok Islam tertentu ataupun jaringan al-Qaidah. Bahkan mereka juga menyampaikan pesan tertentu. Apakah data-data terakhir itu belum masuk?

Masuk juga. Seperti saya sebutkan tadi, dalam edisi paling akhir yang terbit Juni 2006, itu semua sudah masuk. Dan Pape menyebut bahwa apa yang terjadi di Iraq sekarang merupakan bagian dari aksi al-Qaidah. Sebab, para aktivis perlawanan Iraq sebagian besar adalah kaum Sunni yang juga didukung kelompok Jihadis, terutama dari Arab Saudi.

Tetapi sebelum lari ke sana, saya mau lebih detil bicara tentang bagaimana nasionalisme muncul sebagai penjelas dalam argumen Pape. Menurut dia, ada tiga ciri besar yang dalam semua kasus bom bunuh diri yang ia teliti.

Pertama, aksi-aksi itu tidak dilakukan random atauacak dan pribadi-pribadi. Dia telah diorganisir oleh organisasi lebih besar yang dia sebut sponsor. Jadi ia tak pernah sendirian. Seorang pelaku mestilah bagian dari organisasi tertentu seperti Hamas, Macan Tamil, atau lainnya.

Kedua, organisasi-organisasi itu sadar betul bahwa mereka adalah kelompok lemah dibandingkan lawan yang mereka hadapi. Karena itu mereka berpandangan bahwa aksi terorisme bunuh diri adalah langkah paling akhir yang dalam ilmu sosial sering disebut weapon of the weak, senjata orang-orang yang lemah. Dan itu sangat decisif karena susah ditahan dan dideteksi lebih awal. Ia sangat mematikan.

Yang ketiga, negara-negara yang menjadi target terorisme adalah negara-negara demokratis. Pape menyebut dua alasan mengapa itu terjadi. Pertamakarena sponsor aksi-aksi bunuh diri merasa bahwa negara-negara demokratis bisa ditekan oleh aksi mereka sehingga warganya bisa bernegosiasi dengan pemerintahan agar menuruti tuntutan yang diminta kaum teroris.

Pape juga mengatakan dalam konteks Iraq dan Afganistan, meski korbannya orang Islam sendiri, tuntutannya tetap ditujukan kepada the real power yang berada di belakang pemerintahan Iraq atau Afganistan saat ini. Kritik saya buat Pape, kalau teori itu dipakai untuk menjelaskan al-Qaidah dan sebagainya, memang agak susah.

Lantas apa yang direkomendasikan Pape kepada pemerintahan atau negara-negara yang berminat terhadap studinya?

Temuan Pape menyimpulkan bahwa fenomena terorisme bunuh diri bukanlah semata-mata karena menguatnya fundamentalisme Islam—meski fundamentalisme juga punya peran. Itu tidak cukup menjelaskan fenomena.

Yang lebih menjelaskan menurut dia adalah keinginan orang untuk berdaulat di negaranya sendiri. Karena itu, rekomendasi Pape (untuk pemerintahan Amerika) adalah kembalilah kepada kebijakan luar negeri AS di tahun 1970-1980-an, yaitu offshore balancing.

Artinya, AS mesti menarik tentaranya dari Semenanjung Arabia atau tempat-tempat lain dan tidak lagi menetap di wilayah itu. Mereka cukup mengawasi kepentingan ekonomi politik dan keamanan sekutu-sekutunya tidak secara langsung di daratan, tapi di kapal-kapal dekat wilayah itu, atau pangkalan khusus militer.

Pape memandang akar protes gerakan-gerakan bunuh diri bukanlah karena mereka bertambah fundamentalis, tapi karena keberadaan tentara pendudukan di suatu wilayah; tentara Srilanka di wilayah Macan Tamil, Israel di Libanon dan Palestina, atau Rusia di Chechnya.

Pape merasa, kalau AS menarik diri, akan ada pengaruh. Menurutnya, yang lebih sulit bukanlah menangkap Osama bin Laden karena someday dia mungkin akan tertangkap, tapi menahan generasi baru yang lahir karena setuju terhadap apa yang dikemukakan Osama bin Laden.

Apa kelemahan tesis Pape menurut Anda?

Dalam beberapa aspek, tesis Pape memang sangat kuat, terutama dalam kasus bom bunuh diri Hizbullah, dan juga Palestina. Pape berhasil menunjukkan bahwa, karena Hizbullah melakukan terorisme bunuh diri, pasukan Amerika dan Prancis terpaksa keluar dari Libanon (1983).

Yang persoalan bagi Pape memang ketika menjelaskan kasus al-Qaidah. Kelompok ini adalah gerakan supranasional. Dia seperti Non-Government Organisation (NGO)—bukan NGO sebenarnya, tapi lebih pada jaringan.

Orang tidak mesti menjadi pengikut Osama dengan member card, tapi cukup punya kesamaan ide. Orang bisa belajar melakukan aksi bunuh diri secara sendiri-sendiri, dan bisa pula dilakukan secara independen. Nah, Pape tidak bisa menjelaskan itu.

Saya kira ada 5 atau 6 kali nama Indonesia disebut-sebut buku Pape. Tapi salah satu anomali terbesar yang sulit dijelaskan teori Pape adalah kasus Bom Bali, Madrid, atau London. Sebab, semuanya dilakukan oleh orang yang lahir di tempat itu, di London misalnya, meski mereka memiliki akar kultural India atau Pakistan.

Apakah Pape juga memberi gambaran tentang perubahan-perubahan modus operandi pelaku terorisme bunuh diri?

Sejauh yang saya tahu, Pape tak melakukan deskripsi mendetail soal jenis-jenis bahan dan cara yang dipakai dalam suicide bombing atau bom bunuh diri. Dia menyebut beberapa jenis terorisme, tapi yang dia teliti adalah terorisme yang membunuh diri.

Dia memisahkan antara terorisme yang dilakukan organisasi-organisasi swasta seperti Macan Tamil dan lain sebagainya, dengan terorisme yang dilakukan national government. Yang kedua ini tidak dia bahas. Kasus warga Korea Utara yang diutus pemerintahnya untuk teror bunuh diri di Korea Selatan demi tujuan politik, tidak dia bahas di sini.

Pape juga tidak melakukandetailing tentang bagaimana aksi terorisme bunuh diri dilakukan; misalnya apakah dilakukan anak kecil, ibu-ibu, atau yang lainnya.

Apa kritik Anda terhadap tesis Pape?

Satu, kita tak bisa menjelaskan fenomena ini hanya dengan penjelasan tunggal. Ini kritik mengenai asumsi. Pape mengumpulkan 315 kasus, dan dia tak berpikir mengenai alasannya apa dan sebagainya. Tapi ada asumsi awal bahwa pasti ada sesuatu yang menyatukan semua tindakan terorisme bunuh diri itu.

Menurutnya, itu sesuatu yang bisa dijelaskan sama-sama, lintas kasus. Tapi, apakah harus demikian? Saya tak melihatnya harus begitu. Mengapa kita harus punya penjelasan yang sama untuk kasus terorisme bunuh diri di Palestina dan di mana-mana? Buat saya, pada akhirnya terorisme bunuh ini hanyalah sebuah senjata.

Tapi, jangan-jangan saat ini kita sedang dibutakan fenomena bunuh diri mutakhir yang lebih banyak berlabel agama. Artinya, Pape ingin mengingatkan bahwa dalam kurun waktu yang agak panjang, sejak 1980-2003, nasionalisme masih menjadi faktor penjelas terpenting. Kebetulan, kini unsur agama agak menonjol...

Itulah yang mau saya katakan dan sudah dikatakan Pape. Dalam ilmu sosial, memang ada apa yang disebut sebagai teori yang pasimoni. Artinya, kita harus mengambil satu faktor untuk menjelaskan sebuah fenomena tanpa mencampurnya dengan faktor-faktor lain.

Makin jelas faktor penjelas kita, makin dahsyat sebuah teori. Nah, Pape ingin menjelaskan bahwa aksi bom bunuh diri itu bukan semata-mata karena agama, tapi lebih karena argumen nasionalisme.

Nah, kalau kita belajar ilmu politik atau sosial, ya, mesti berposisi seperti itu. Makin kokoh argumen, makin jelas pandangan kita mengenai suatu hal, makin bagus suatu teori. Bukan malah mencampur semua; penjelasan politik, nasionalisme, agama, dan sebagainya. Sebab, kalau terlalu banyak penjelasan, jadinya malah tak ada penjelasan sama sekali. Nah, Pape ingin menjelaskan, dan seperti itulah hasilnya.

Kritik lainnya?

Saya merasa kita tidak perlu punya penjelasan yang sama untuk semua kasus terorisme bunuh diri. Menurut saya, terorisme bunuh diri itu adalah alat, senjata. Dan senjata tidak mengenal ideologi. Orang yang dilatih dengan berbagai keahlian untuk membunuh—bisa dengan alasan agama, sekuler atau apa, sehingga dia pun rela mati untuk itu—ketika siap dikomando oleh pimpinannya, pada akhirnya dia hanyalah alat, senjata.

Dan, senjata itu bisa dipakai Hizbullah, Macan Tamil, atau yang lain-lain. Nah, senjata itu bisa ditiru penggunaannya. Hizbullah bisa meniru dari Macan Tamil dan Hamas bisa meniru dari Hizbullah. Semuanya untuk tujuan yang tidak mesti sama.

Adakah penjelasan rasional dari Pape soal mengapa orang mau merisikokan diri untuk tugas bunuh diri?

Pape tidak tertarik untuk bertanya seperti itu. Itu pertanyaan tentang bagaimana ”senjata” tadi dibuat. Pape hanya ingin mencari kejelasan tentang mengapa ini terjadi, instead of alatnya dibuat dari usnur-unsur agama, fundamentalisme, nasionalisme, atau yang lain. Dia juga ingin mencari apa tujuan akhir semua aksi-aksi ini.

Di situ dia membuat generalisasi-generalisasi. Dan menurut dia, alasan paling kuat adalah nasionalisme. Artinya, ada sekelompok masyarakat yang merasa bahwa tanah air mereka sedang diduduki pasukan asing, seperti GAM dulunya merasa diduduki tentara Indonesia, Chechnya diduduki Rusia, dan lain sebagainya.

Apa kata Pape tentang penjelasan dari sudut doktrin jihad dan keinginan orang untuk syahid, mendapat surga, lalu berjumpa bidadari, setelah membunuh orang dan dirinya sendiri?

Pape akan bilang: Novri juga diajari keyakinan yang sama tentang jihad waktu di pesantren. Saya (Ihsan) juga. Kenapa Novri dan Ihsan tidak bersedia bunuh diri, sebagaimana orang Hamas bersedia melakukannya? Artinya, aspek ideologi penting, tapi tak cukup untuk menjelaskan sebuah fenomena.

Sebagaimana penjelasan tentang aspek ekonomi dan lain sebagainya tidak memadai. Orang yang berusaha menjelaskan dari aspek ekonomi akan bilang itu karena kemiskinan. Tapi, kan ada banyak sekali orang miskin yang membaca doktrin jihad dan syahid. Tapi mengapa tidak semua orang bersedia melakukannya?

Kalau alasannya adalah fundamentalisme Islam, bukan nasionalisme, kata Pape, mengapa Hizbullah berhenti melakukan aksi bunuh diri sesudah tentara Amerika dan Prancis meninggalkan Libanon tahun 1983? Padahal, saat itu fundamentalisme dan paham-paham Islam keras terus berkembang. Jadi, memang ada faktor-faktor ideologi dan ekonomi. Tapi, dua faktor itu saja tidak cukup untuk menjelaskan fenomena aksi bunuh diri.

Kini, aksi-aksi bunuh diri di Palestina tampaknya ditahan Pemerintahan Hamas dan Partai Fatah. Sebenarnya, aksi bunuh diri bisa juga dimulai dan berakhir, ya?

Salah satu yang juga menarik dari studi Pape adalah: dia tidak saja melihat bagaimana terorisme bermula, tapi juga bagaimana itu berakhir. Sebab, ketika kita mempelajari bagaimana sesuatu bermula, kita akan tahu bagiamana sesuatu itu berakhir.

Misalnya dalam kasus tadi: berhentinya Hizbullah melakukan aksi bunuh diri. Di situ ada pertimbangan kapan tuntutannya dipenuhi atau tidak, atau kapan aksi bunuh diri efektif dan tidak. Kalau kita tidak menghitung kapan berakhirnya suatu aksi, kita tidak akan tahu seberapa besar efektivitasnya.

Bagaimana menjelaskan bom bunuh diri yang dilakukan kelompok Sunni atas Syiah, atau sebaliknya di Iraq sana ini. Apakah fundamentalisme agama tidak bisa dipakai sebagai penjelas?

Itu juga salah satu kelemahan teori Pape. Kalau kita mendasarkan argumen pada nasionalisme dalam pengertian ingin melepaskan diri dari kungkungan pihak asing, sulit sekali menjelaskan rivalitas antara muslim Sunni dan Syiah di Bagdad. Sebab mereka sama-sama Islam dan sama-sama ingin memperjuangkan satu nation yang sama. Itu saya kira salah satu kelemahan terbesar teori Pape.

Sekarang, aksi terorisme bunuh diri sudah berkembang ke dua arah yang berbeda dengan asumsi Pape. Yang satu mengalami globalisasi, mengatasi nasionalisme sempit ala Hizbullah. Di sini, tesis Pape bukan tidak kena sama sekali. Tesis Pape sangat kena buat Hizbullah, buat Israel. Tapi dalam kasus al-Qaidah, ia sama sekali tidak kena.

Al-Qaidah sudah mengalami supranasionalisasi, mengatasi nasionalisme. Pada saat yang sama (kedua) terorisme bunuh diri juga mulai terjadi pada tingkat yang lebih lokal dan lebih kecil dibanding nasionalisme, yaitu di internal Islam pada kasus Iraq.

Bagaimana memahami logika Imam Saumudra cs yang membom Bali demi melawan Amerika?

Kalau menggunakan logika yang global, itu bisa dijelaskan. Mereka adalah bagian dari global islamic network atau jaringan Islam global yang dipengaruhi al-Qaidah. Mereka juga mengklaim penderitaan umat Islam di Palestina dan di mana saja sebagai bagian dari penderitaan mereka.

Karena itu mereka harus melawan dengan cara menghancurkan apa saja yang mereka anggap layak dihancurkan. Itulah bagian dari apa yang saya sebut sebagai globalized Islam(Islam yang mengglobal). Dan itu adalah bagian yang susah sekali dijelaskan dengan teori Pape.

Ada juga orang yang mengaitkan terorisme dengan soal ketimpangan ekonomi dan kesengsaraan hidup. Menurut Anda?

Itu asumsinya radikalisme agama atau politik terjadi karena alasan ekonomi. Itulah yang disebut relative deprivacion theory dalam ilmu sosial. Asumsinya, orang protes karena miskin, lapar, dan lain sebagainya.

Tapi pertanyaannya lagi-lagi: banyak orang miskin di dunia, tapi mengapa yang satu jadi teroris, yang lain tidak? Jawaban lebih positif dan berbasis data diberikan juga oleh Pape. Pape menghitung income perkapita negara-negara mayoritas muslim.

Dari situ tampak, kalau aksi-aksi ini dikarenakan ketimpangan ekonomi atau kemiskinan, mestinya para aktivis al-Qaidah bukan berasal dari orang-orang Arab Saudi, tapi Afrika Utara dan Selatan yang miskin-miskin.

Tapi ada yang aneh; kok orang kaya seperti Osama bersedia menjadi seperti itu. Kita tahu, 15 dari 19 orang pelaku bom bunuh diri WTC adalah orang Arab Saudi yang pendapatan negaranya tinggi. Mereka juga orang-orang terdidik. Jadi, tentu ada masalah yang lebih besar dari sekadar itu.

Para pelaku bom Bali itu tampak pengecut. Tujuan perjuangannya tidak jelas tapi justru mengorbankan yang tidak bersalah. Komentar Anda?

Kalau dari segi pelaku, mereka merasa tidak masalah jika orang-orang yang turut mendukung rezim yang mereka musuhi ikut menjadi korban. Orang seperti Imam Samudra, dalam bukunya menyatakan kalau itu salah satu konsekuensi. Kalau tak salah, Amrozi juga bilang: ”Saya sedih dengan korban-korban, tapi ini untuk tujuan yang lebih besar.” Jadi tentang pemilihan korban itu sepenuhnya arbitrer.

Yang perlu kita mengerti justru aspek eksposenya di media, dan juga sedikit masalah psikologi. Kalau bom bunuh diri dilakukan di satu tempat, memakan 5 korban, tapi tak diekspos media, dia tidak akan jadi apa-apa.

Dia sama sekali tidak bermakna atau bermakna kecil. Sebab, yang menjadi tuntutan adalah agar rakyat pada negara yang melakukan pendudukan terhadap nation mereka memberontak terhadap pemerintah.

Makanya, orang-orang seperti Noam Chomsky dan rakyat Amerika lainnya mulai berpikir: jangan-jangan ada yang salah dengan kebijakan luar negeri pemerintah, sehingga kelak mereka memilih presiden lain atau partai yang lain.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.