Home » Politik » Radikalisme » Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif

Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif

3.5/5 (2)

Islam sangat tidak menyukai sikap keterlaluan dan memperingatkan kita untuk tidak menganutnya. Tanda-tanda perilaku ekstrim adalah fanatik terhadap pendapat dan tidak mengakui pendapat lain; mewajibkan orang lain yang tidak diwajibkan Allah; memperberat yang tidak pada tempatnya; sikap kasar dan keras; buruk sangka kepada orang lain; dan terjerumus dalam jurang pengafiran, seperti yang dilakukan kelompok Khawarij di masa lalu.

Menurut Agus Maftuh Abugibriel (2011), radikalisme lahir dari pemahaman tekstual, parsial, dan tidak holistik yang menghilangkan dimensi historis, sosial, budaya, dan ekonomi yang mengitari lahirnya teks. Mereka mudah menuduh orang lain berbuat bid’ah dan churafat yang membawanya pada klaim kafir dan musyrik kepada sesama umat Islam. Toleransi pemahaman hilang dari diri mereka.

Kebenaran yang mereka yakini adalah kebenaran tunggal, sedangkan pemahaman orang lain yang berbeda dikatakan sesat dan masuk neraka. Mereka tidak bisa membedakan antara agama dan pemikiran agama. Agama seperti dikatakan Amin Abdullah (2009) dipahami secara doktrinal, bahkan dogmatik yang menghilangkan nalar kritis dan progresif sehingga terjebak pada ortodoksi dan konservatisme yang melahirkan radikalisme agama.

Apa sebenarnya radikalisme ? menurut Kamus Bahasa Indonesia, radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; sikap ekstrem di suatu aliran politik.

Sedangkan radikal artinya amat keras (Daryanto, S.S., Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, t.t.). Salah satu indikatornya adalah tidak adanya toleransi dan main hakim sendiri. Menurut Zuhairi Misrawi (2011), sepanjang tahun 2010 setidaknya telah terjadi 81 kasus intoleransi.

Dari semua kasus yang sempat didata, setiap kasus memiliki karakteristik sendiri. Karakteristik kasus intoleransi setidaknya bisa dilihat dari empat hal. Pertama, pada kasus itu sendiri. Meski kasusnya sama, misalnya masalah perusakan tempat ibadah yang sudah berulangkali terjadi, masing-masing kasus berbeda antara satu dengan yang lain.

Perbedaan ini terutama menyangkut pemicu, tingkat eskalasi dan pengaruh sosial yang diakibatkannya. Kedua, tempat dan dan waktu kejadian. Konteks tempat dan waktu seringkali menjadi kekhasan sendiri yang membedakan suatu kasus intoleransi dengan kasus yang lain. Karena itu, kejadian di suatu tempat tidak selalu bisa ditangani dengan cara yang sama seperti kasus di tempat yang lain. Ketiga, pihak-pihak yang terlibat terlibat di dalamnya jelas memberikan nuansa yang berbeda.

Pelaku intoleransi secara sederhana bisa dibedakan dalam tiga kategori, yakni negara/pemerintah, ormas dan badan usaha atau institusi tertentu. Perbedaan tiga hal ini hanya sekadar menunjukkan bahwa setiap kasus intoleransi tidak bisa didekati dengan cara yang sama. Bahkan, dalam kenyataan di lapangan, ketiga kelompok tersebut kadang tidak berdiri sendiri tetapi juga berkolaborasi dengan kelompok dalam.

Keempat, korban intoleransi itu sendiri. Setiap kasus intoleransi pasti melahirkan korban. Disadari atau tidak, korban adalah pihak yang mesti mendapat perhatian paling awal dalam menangani kasus intoleransi. Dan, karena itu, suara korban mestinya lebih banyak didengar ketimbang suara dari pihak-pihak lain.

Peran Sentral. Dalam menghadapi kaum radikal-fundamental, umat Islam harus menjadi kelompok moderat progresif. Moderat, artinya berada di tengah, antara kajian tekstual (normatif) dan kontekstual (rasional-empiris), qadariyah-jabariyah, dan ritual-sosial. Umat Islam tidak boleh ekstrim kanan (tekstualis-normatif) dan ekstrim kiri (rasionalis-liberal).

Kesalehan ritual dan sosial menjadi trade mark utama. Progresif, artinya aktif melakukan pengembangan dalam bidang pemikiran dan aksi sosial sehingga membawa kemaslahatan publik secara massif. Umat Islam tidak boleh pasif, malas berjuang, dan menyalahkan orang lain. Mereka harus menjadi solusi problem umat, seperti kebodohan, kemiskinan, kemunduran, dan keterbelakangan. Dua ciri utama tersebut terinspirasi dari dua ayat dalam al-Qur’an.

Ayat pertama (QS. al-Baqarah 2:143) : Dan demikian Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Menurut Imam Muhammad Nawâwi al-Jâwi, wastha artinya terpilih, adil, dan terpuji karena ilmu dan amalnya (Muhammad Nawâwi al-Jâwi, al-Tafsîr al-Munîr li Ma’âlim al-Tanzîl, Surabaya : Al-Hidâyah, t.t., Juz 1:37 ).

Menurut Wahbah al-Zuhaili, wasatha adalah pertengahan sesuatu atau pusatnya wilayah (muntashif al-syaii au markaz al-dâirah), kemudian digunakan untuk sesuatu yang terpuji, karena setiap sifat yang terpuji adalah pertengahan diantara dua sisi, seperti sifat pemberani (syajâ’ah) adalah pertengahan antara melampaui batas dan pemborosan, dan utamanya adalah ditengah (Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr fi al-Aqîdah wa al-Syarîah wa al-Manhaj, Beirut : Dâr al-Fikri, 1430 H./2009 M., Jilid 1, cet. 10:367).

Menurut Abu Thâhir Muhammad ibn Ya’qûb al-Fairûzâbâdi, wasatha artinya adil (Abu Thâhir Muhammad ibn Ya’qûb al-Fairûzâbâdi, Tanwîr al-Qulûb min Tafsîr Ibn Abbas, Surabaya : Al-Hidâyah, t.t.:16). Adil menurut Nabi Muhammad SAW. adalah memberikan kepada setiap orang atau subjek haknya (i’thâu kulli dzi haqqin haqqahu) (Masdar Farid Mas’udi, Pajak itu Zakat, Bandung : Mizan, 2010, cet. 1:152-153). Pendapat para ulama ini menunjukkan status dan peran besar yang harus dilakukan umat Islam.

Ayat kedua (QS. Ali Imran 3:110) : Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Menurut Imam Muhammad ibn Shumâdih al-Tujaibi, pengertian khaira ummah ada dua pendapat. Pertama, adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW. Kedua, adalah umat Nabi Muhammad SAW. sebagai umat terbaik (Imam Muhammad ibn Shumâdih al-Tujaibi, Mukhtashar Tafsîr al-Thabari, Beirut ; Dâr Ibn Katsîr, 2004, hlm. 64).

Menurut Wahbah al-Zuhaili, predikat umat terbaik selama konsisten memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah secara benar, jujur, dan sempurna (Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, jilid 2, cet. 10:363). Pendapat ulama ini menjadi tantangan serius umat Islam untuk membuktikannya dalam realitas.

Kaum moderat seyogianya mengambil peran sentral untuk meluruskan paradigma dan ideologi ekstrim yang diusung oleh kelompok radikal ini dengan program-program yang mencerahkan, visioner, dan sistematis untuk mengembalikan Islam sebagai agama ramah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Islam adalah agama yang senantiasa membawa pesan kemanusiaan, persaudaraan, kasih sayang, dan perdamaian. Oleh karena itu, Islam jauh dari ekstrimisme, radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme yang menyengsarakan dan membahayakan masa depan umat manusia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.