Home » Politik » Radikalisme » Martin L. Sinaga: “Kualitas Hidup Menentukan Perilaku Keberagamaan”
Martin Lukito Sinaga
Martin Lukito Sinaga

Martin L. Sinaga: “Kualitas Hidup Menentukan Perilaku Keberagamaan”

6/5 (1)

Hasil survei Pippa Norris dan Ronald Inglehart tentang tingkat keberagamaan suatu masyarakat mungkin mengejutkan sebagaian orang. Tesis utama keduanya dalam buku The Sacred and the Secular menyatakanbahwa kecenderungan umat manusia untuk beragama sangat terkait dengan tingkat kecemasan hidupnya (existential security).

Semakin tinggi kecemasan hidup, semakin beragama suatu masyarakat. Dan begitulah sebaliknya. Bagaimana menjelaskan tesis Norris dan Inglehart ini? Berikut perbincangan Burhanuddin Muhtadi dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Martin L Sinaga, seorang pendeta dan Purek III Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, Kamis (27/10) lalu.

 

Bung Martin, apa poin yang ingin dijelaskan Pippa Norris dan Ronald Inglehart dalam buku The Sacred and the Secular yang mencengangkan itu?

Poinnya, dulu pada tahun 1960-1970-an, para intelektual pernah membangun tesis bahwa nanti agama tidak akan laku dan tidak akan punya alasan rasional lagi untuk diikuti. Tesis ketika itu mengatakan, hanya orang-orang bodoh saja yang akan tetap beragama.

Tesis itu tampaknya dibangun atas pinsip optimisme dan rasionalisme yang memprediksi kalau dunia modern akan menyapu habis agama-agama. Begitulah kira-kira tesis besar para intelektual di masa itu. Atau meminjam ungkapan Nietzsche, mereka mendeklarasikan bahwa God is dead dan kitalah yang telah mebunuhnya.

Bertahun-tahun tesis itu dianut. Tapi pada tahun 1980-an, terjadi Revolusi Iran. Dan pada tahun-tahun belakangan, ada gerakan pentakolisasi Amerika Latin. Pada tahun-tahun ketika rezim komunis berjatuhan, justu agama yang menjadi alternatif. Lantas muncul pertanyaan: mati atau tidakkah teori sekularisasi yang dianut orang selama ini?

Sebagian penulis Islam malah mengatakan Tuhan seolah-olah balas dendam, karena dulu Dia diklaim mati. Dari tahun 1990-an sampai sekarang, agama justru berjaya. Tapi, buku ini tetap menganjurkan untuk tidak terlalu optimis dulu akan masa depan agama.

Dan jangan pula mengatakan bahwa Tuhan hidup lagi pada tahun-tahun belakangan ini. Karena itu, Norris dan Inglehart melakukan survei; suatu riset yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kematian Tuhan, tapi lebih khusus menyangkut kematian agama.

Jadi, buku ini hadir untuk mengajak orang tidak terlampau optimis akan masa depan agama?

Dia mau mengatakan begini: “Oke, dulu kita menebak-nebak bahwa agama akan berjaya atau malah tidak laku. Tapi sekarang mari kita berhitung di lapangan!“ Dan survei buku ini mengukur dengan ambisius dan dengan topangan dana yang tiada tara dengan data yang diambil dari World Values Survey.

Survei itu seakan-akan mau mewakili 5 miliar manusia sebagai populasinya. Dan penulis buku ini mau mengatakan bahwa hasil kesimpulan mereka memang berdasarkan pemantauan dan perhitungan yang njlimet, dengan dasar teori yang mereka sebut sebagai “kecemasan eksistensial” atau tingkat existential security.

Kesimpulannya kira-kira begini: semakin tinggi tingkat kecemasan dan ketidakpastian suatu masyarakat, semakin religius masyarakat itu. Tapi bila semua lini kehidupan bisa diukur, masa depan kehidupan bisa diprediksi, maka agama tidak akan lagi relevan. Dan proposisi itu mereka buktikan dalam hitungan-hitungan yang mereka lakukan.

Nah, mereka lalu mengatakan, hanya di negara-negara miskinlah agama akan tetap tumbuh subur, sebab di negara-negara itu, tingkat kecemasan hidup begitu tinggi, dan karena itu orang membutuhkan agama untuk membalut luka-luka dan ketidakpastian hidup mereka. Sementara di negara-negara maju seperti Eropa, di mana kepastian hidup bisa diprediksi, relevansi agama dalam kehidupan akan menurun dan cenderung tidak akan lagi mereka bicarakan.

Sejauh apa tesis ini bisa dibuktikan?

Kalau melihat bagaimana data-data survei ini diambil, tampak sekali bahwa prosesnya sangat sophisticated. Artinya, sulit buat kita untuk melakukan bantahan kecuali setelah melakukan survei serupa. Klaimnya sangat luar biasa. Sampel survei diambil dari 79 negara, selama jangka waktu 20 tahun. Dari data itu dibuat trend dari bank data yang terkemuka.

Tapi dalam klaim tadi ada juga pengecualian dalam apa yang disebut sebagai “American exceptionalism” atau perkecualian Amerika Serikat. Soal perkecualian Amerika ini dikukuhkan juga oleh survei terakhir Gallup Poll yang menunjukkan tingginya afirmasi masyarakat Amerika terhadap agama.

Bahkan dalam hal-hal yang sangat detil seperti cerita-cerita gaib, kisah kapal Nuh, soal-soal yang selama ini hanya menjadi bacaan para pendeta dan romo, ternyata banyak juga yang dikenal oleh masyarakat Amerika.

Tapi pertanyaannya: apakan American exceptionalism itu tidak dapat disebut kritik kedua penulis ini bahwa tesisnya keliru?

Nah dalam soal Amerika ini saya terkaget akan buku Da Vinci Code karya Dan Brown. Buku itu sangat laku dan mengalahkan penjualan Harry Potter. Itu menunjukkan bahwa orang Amerika memang masih mengerti cerita-cerita Kristen, Yesus yang katanya menikahi Maria Magdalena, dan mengenal persoalan agama secara cukup baik.

Tapi kalau fakta itu dikembalikan ke basis survei buku ini, mereka akan mengatakan bahwa Amerika itu anomali dan melawan arah. Mereka makmur, dan hidupnya cukup terprediksi, tapi tetap religius. Ini hanya satu-satunya negara yang terkecuali dari survei.

Mereka tidak berani memberikan konklusi mengenai fakta ini, tetapi tetap menjelaskan bahwa Amerika tidak punya prinsip seperti apa yang Eropa punya, yaitu soal kesejahteraan dalam konsep welfare state, di mana para penganggur saja tetap dibayar negara. Jadi kalau aku pengangguran, aku tidak akan mati di Eropa dan bahkah dibayar negara.

Tapi di Amerika, tingkat perbedaan kelas antara yang kaya dan miskin tinggi sekali. Dan di sana juga tinggi sekali tingkat imigrasinya. Semua orang tetap berlomba-lomba untuk mendapatkan green card demi tinggal di Amerika. Tapi di situlah letak penjelasannya.

Masuknya kelompok-kelompok imigran dari Asia, Korea, Amerika Latin, dan lainnya, konon membawa muatan agama masing-masing. Jadi kalau dihitung, orang Amerika yang tampaknya religius itu bisa dijelaskan dengan memakai teori ekonomi agama pada mereka-mereka yang imigran ini.

Di Amerika itu ada hal yang sangat menarik. Para pekerja agama dan rohani seperti para pendeta, hidupnya sangat tergantung pada dompet jemaat. Di Eropa, para pendeta hidup dari pajak yang diurus negara, sehingga mereka bisa tidur dan sudah pasti akan mendapat gaji. Sementara di Amerika, mereka harus bekerja keras untuk membuat ajaran agama jadi begitu menarik dan mampu mengumpulkan dana.

Karena itu, pendeta-pendeta di sana konon over supply dalam soal agama. Artinya, terlalu banyak agama yang mereka pasok pada masyarakat, sehingga masyarakat begitu keranjingan dalam beragama.

Kalau tidak salah, Morris dan Inglehart juga menggunakan pendekatan rational choice dalam penelitiannya. Hasilnya, sebenarnyademand side atau aspek permintaan akan agama itu pada dasarnya tetap, tapi berkat kreativitas kalangan pemasok (supplier) agama sepertiAnda, agama bisa hidup semarak.

Mungkin itu salah satu faktor yang bisa diukur, karena mental buku ini memang mengukur agama. Misalnya, penulisnya bertanya soal partisipasi agama: masih ke gereja atau tidak; masih salat atau tidak; dan seberapa penting agama bagi para respondennya.

Mereka juga bertanya soal isi agama yang masih mereka percayai, seperti doktrin surga-neraka, malaikat, Allah, dll. Kalau pertanyaannya sebatas itu, jawaban orang Amerika tampaknya masih sangat signifikan, entah karena pasokan dari imam-imam dan pendeta-pendeta itu, atau karena faktor lain.

Buku ini memang hanya mengukur sebatas itu. Namun bagi saya, ada sesuatu yang agak lain yang perlu dijelaskan dari buku ini, yaitu soal kultur Amerika sendiri. Negara Amerika memang dibentuk dengan kultur kerinduan terhadap kebebasan beragama.

Jadi orang-orang yang lari dari Eropa ke Amerika, dulunya memang terobsesi untuk mencari peluang menikmati agama secara bebas. Ini membentuk karakter kebudayaan mereka, sehingga agama sulit sekali dicerabut dari mereka. Meski suplai agama pas-pasan, kalau sudah masuk Amerika, ia akan tetap menjadi semacam identitas, sehingga agama kuat sekali terasa di sana.

Tapi kan tetap ada polarisasi antara masyarakat Amerika yang religius dan kurang religus?

Norris dan Inglehart juga mengutip temuan survei pemilu Amerika tahun 2000 lalu. Dari situ diketahui bahwa yang memilih George W Bush adalah orang-orang Selatan yang tradisional atau orang-orang yang tergiur akan politik kanan, seperti isu anti-aborsi, anti-homoseksual, pro-family values, pro-patriotisme Amerika, dll.

Jadi ada belahan demikian. Sementara, orang-orang di Utara Amerika adalah mereka-mereka yang hidupnya cenderung individualis, terpelajar, berekonomi mapan, memilih Al-Gore, dan cenderung pada sesuatu yang bersifat kiri.

Tapi yang juga menarik dari survei ini, karena tingginya aktivitas agama di belahan Selatan Amerika, masyarakat agama menjadi aktif sekali dalam membangun asosiasi-asosiasi religius yang punya makna publik. Misalnya, asosiasi yang merawat panti jompo, memberi makanan gratis bagi orang yang tidak punya rumah, menolong orang-orang tua dan anak yatim.

Tapi dengan begitu pula, fundamentalisme kekristenan di sebelah Selatan Amerika juga lebih hidup dan lebih kentara. Tapi sebenarnya, secara umum agregat religiusitas orang Amerika memang tetap signifikan.

Bung Martin, teori dasar yang dikembangkan buku ini adalah soal keinginan. Artinya, motif orang menganut agama itu lebih karena soalsecurity. Semakin rendah tingkat kecemasan dalam sebuah negara, maka masyarakatnya akan semakin tidak beragama, dan begitu juga sebaliknya. Tapi Anda juga pernah bercerita bahwa tidak sepenuhnya akan terjadi demikian. Di Jerman yang dikenal sebagai negara dengan tingkat security bagus, ternyata kecemasan dalam hidup juga banyak.

Benar juga kritik itu terhadap buku ini. Artinya, bagaimana kamu tahu hakikat kecemasan itu sendiri. Buku ini hanya melihat soal kecemasan itu pada tingkat nutrisi, pendapatan, dan tingkat human development index (HDI). Padahal tingkat kecemasan juga bisa lahir dari orang asing, dan bisa juga bersifat hal-hal yang psikologis.

Jadi secara teoritis, penelitian ini juga tidak terlalu solid, karena mengasumsikan kecemasan material yang akan menyebabkan orang semakin beragama. Jadi ada kelemahan teoritik. Walau demikian, penelitian ini memang mengejutkan kita.

Kalau alasan dasar orang beragama karena kecemasan sebagaimana penelitian Norris dan Inglehart, bagaimana menjelaskan orang yang kaya, dengan tingkat kecemasan hidup yang rendah, tapi gandrung mengikuti pengajian, seperti gejala sufisme kota di kota?

Buku ini menjelaskan bahwa kecemasan dan ketidakcemasan itu juga proses sosialisasi sejak kecil. Orang kaya Indonesia bisa saja sangat cemas sejak kecil; kuatir tetangganya akan merampok karena tetangganya banyak yang miskin. Jadi orang kaya bisa saja sangat cemas.

Kalau di Eropa, seperti di negara-negara Skandinavia, sejak kecil orang sudah terbiasa untuk memprediksi hidup. Kalau Anda akan naik kereta, Anda tahu bahwa kereta akan datang tepat waktu pada jam 1. Jadi sejak kecil, anak-anak di sana sudah tahu bahwa kereta datang di suatu halte pada jam 1 tepat.

Jadi kecemasan berkurang, kehidupan lebih terprediksi, dan semua temuan-temuan teknologi meyakinkan orang bahwa tidak ada hal-hal yang terlalu mencemaskan keselamatan hidup. Dan bahkan, dalam buku-buku gereja di Jerman, berita duka atas kematian itu biasanya memuat orang yang sudah berumur rata-rata 80-90 tahun.

Karena itu, sekarang muncul beban baru dalam bentuk merawat orang tua. Di Belanda, orang-orang mengusulkan euthanasia saja untuk mengurangi jumlah orang tua.

Jadi secara kualitatif, teori buku ini tidak mau masuk ke soal seperti itu. Buku ini hanya ingin mengatakan bahwa ada human development index yang luar biasa di Eropa, dan karena hidup di sana sudah terprediksi, orang-orang tampaknya tidak relegius lagi.

Kesimpulannya, tingkat kecemasan hidup tidaklah tinggi di Eropa, sehingga mereka berpendapat bahwa itu satu-satunya yang bisa menjelaskan kenapa orang Eropa tidak terlalu bersemangat lagi dalam beragama dan agama cenderung hilang di sana. Dari sudut itu, kita sulit menyerang tesis ini.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.