Home » Politik » Radikalisme » Martin van Bruinessen: “Intoleransi Juga Mengalami Demokratisasi”
Martin Van Bruinessen (Foto: uu.nl)

Martin van Bruinessen: “Intoleransi Juga Mengalami Demokratisasi”

4/5 (1)

Apakah untuk toleran, agama harus dianggap tidak terlalu penting?

Memang. Itu sama halnya kalau orang menganggap identitas etnisnya sangat-sangat penting. Kalau sudah begitu, mereka pasti tidak akan menghasilkan masyarakat yang toleran dalam hubungan antaretnis.

Apakah kelompok-kelompok teror di Indonesia kini punya akar sejarah dari masa lalu?

Saya kira, mungkin mereka bisa bergabung dengan gerakan yang sudah ada sejak dulu. Tapi bisa juga itu fenomena yang baru. Fron Pembela Islam (FPI) itu memang gerakan yang sedikit ideologis karena beberapa pemimpinnya pernah studi di luar negeri dan punya sikap islamisme yang kuat.

Namun gerakan anti-maksiat, sejak 1970-an juga sudah ada. Contohnya gerakan Komando Jihad. Tapi waktu itu, kelihatannya tidak ada akar ke bawahnya. Tapi semuanya masih berasal dari gerakan DI/TII. Untuk yang sekarang, mungkin masih dipengaruhi oleh situasi internasional. Jangan lupa, sekarang semua orang menonton TV.

Tapi, kalau kita analisa juga, ideologi salafi yang diwakili gerakan salafi seperti Laskar Jihad, tampaknya tidak memperjuangkan negara Islam seperti yang lain. Mereka juga tidak punya konsep tentang negara, karena syariat bagi mereka adalah apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia. Mereka tidak memerlukan negara. Dan yang paling menarik dari gerakan ini adalah kasus ketika mereka membunuh rekan mereka sendiri dalam kasus rajam.

Ini memang gejala swastanisasi syariat dan itu mungkin sesuai dengan doktrin pasar bebas. Bukan kebetulan kalau negara seperti Arab Saudi bisa lebih mudah mengakomodasi Amerika daripada negara yang menghadapi gerakan Islam yang lebih state-oriented.

Apakah radikalisme, fundamentalisme, bahkan terorisme, yang Indonesia hadapi saat ini produk dalam negeri atau racikan mancanegara?

Saya kira pertanyaannya salah. Tidak ada lagi saat ini sesuatu yang murni dalam negeri atau luar negeri. Pendidikan tinggi Indonesia sangat dipengaruhi kurikulum-kurikulum Amerika dan Eropa. Isi kurikulumnya sangat dipengaruhi oleh dunia luar.

Di pesantren dan madrasah, kurikulumnya dipengaruhi Arab Saudi dan Mesir. Ini tidak mungkin tak ada sentuhan luarnya. Jadi setiap gerakan, apakah itu kanan atau kiri, walau punya akar sejarah di dalam negeri, namun dalam perjalanannya tetap mengalami banyak pengaruh luar.

Anda melihat sendiri bagaimana pemikiran Cak Nur (almarhum Nurcholish Madjid) berkembang. Pemikiran Cak Nur itu diilhami oleh apa saja? Ketika dia masih memimpin HMI, masih ada pengaruh tradisi Masyumi yang kental. Tapi ketika ke Amerika dan juga sempat ke Timur Tengah, itu juga berdampak besar terhadap persepsi dia.

Di Amerika dia belajar dari Fazlur Rahman, dan berkenalan dengan sejarah teori Islam di Indonesia. Konsep kenegaraan Cak Nur sangat dipengaruhi oleh Marshal Hodgson yang menulisThe Venture of Islam.

Hodgson bicara mengenai Islamic civilization; kebudayaan yang struktur atasnya diberikan Islam, tapi di dalamnya ada banyak unsur non-Islam. Nah, yang membuat Indonesia satu negara, kata Cak Nur, memang Islam. Gerakan anti-penjajahan, katanya, dilancarkan orang-orang Islam, raja-raja, dan gerakan-gerakan tarikat.

Tapi kesenian yang khas Indonesia bukanlah gamelan. Apa kesenian yang di mana-mana dapat kita temukan, tidak di satu daerah saja tapi bersifat nasional dan menyeluruh? Ada kasidah, dan ada juga dangdut. Jelas, budaya yang mewarnai Islam termasuk hal-hal seperti itu. Persepsi ini diambil Cak Nur dari Amerika.

Ketika kembali dari Chicago, dia menerbitkan Khazanah Intelektual Islam, yang merupakan terjemahan karya-karya klasik Islam yang selama ini belum diketahui luas di Indonesia. Itu jelas pengaruh dari luar. Jadi, akar budaya Indonesia itu justru punya karakter terbuka terhadap pengaruh dari Barat.

Kalau begitu, mungkinkah kita bicara tentang Islam yang khas Indonesia, atau Timur Tengah? Pengamat seperti Azyumardi Azra suka sekali membedakan antara Islam Asteng yang dianggap lebih moderat, toleran, dll., dan Islam Timteng yang berwatak sebaliknya. Bagaimana menurut Anda?

Azyumardi juga melihat orang Arab-Indonesia muncul dalam setiap gerakan radikal Islam di Indonesia. Kita melihat banyak orang Arab yang ada di tingkat kepemimpinan pada gerakan-gerakan itu. Sebagai prosentase mungkin tidak banyak, tapi di kepemimpinan gerakan radikal Islam, mereka banyak.

Mereka merupakan saluran Arabisasi Islam Indonesia. Saya kira, saya setuju dengan persepsi Azyumardi itu, walau banyak juga orang Arab di sini yang sama sekali tidak radikal. Kita jangan pula kaku membedakan antara Arab dan pribumi.

Memang, Islam Indonesia atau Asia Tenggara itu dari dulu punya karakter yang lain dari Timur Tengah. Jawa saja lain dari Sumatera atau Sulawesi. Di Jawa, kita dapat melihat bahwa kebudayaan Jawa bisa menerima apa saja dari luar. Semua diterima, tapi kemudian juga dijawanisasi. Akumulasi Islam pesantren salafiah yang khas Indonesia itu sangat diwarnai oleh nilai-nilai dan gaya hidup Jawa. Dan akomodasinya memang khas.

Kalau bicara model-model Islam di pelbagai negara, model yang mana menurut Anda akan punya masa depan? Turki, yang lebih puritas seperti Saudi, atau yang agak sinkretis seperti Indonesia?

Mungkin jawaban ini berdasarkan sejarah hidup saya yang sangat pro-orang Turki. Persepsi saya tentang perkembangan Islam di sana mungkin terlalu positif. Kalau Islam Indonesia, kalian kan lebih tahu. Pengalaman Islam di Turki, saya lihat sangat penting untuk seluruh dunia.

Sebagai masyarakat, Turki sudah banyak berubah. Saya tahu banyak tentang partai Islam yang berkuasa di sana. Eksperimen Partai AKP sebagai satu model, adalah eksperimentasi pertama partai Islam yang memimpin negara dengan baik.

Contoh kedua yang menarik adalah Iran, karena mereka punya pengalaman revolusi yang betul-betul didukung rakyat, sehingga bisa mengusir raja. Rajanya dikudeta oleh organisasi rahasia, tetapi untungnya dapat mewariskan undang-undang dasar yang cukup demokratis karena mengambil contoh Revolusi Perancis. Mereka juga mengalami tahapan-tahapan yang dilalui oleh Revolusi Perancis. Mereka punya parlemen yang betul-betul bisa bicara. Setelah Revolusi Islam Iran (tahun 1979) itu, ada saja anggota parlemen perempuan yang bisa mengubah undang-undang keluarga.

Jadi, proses demokrasi perempuan di Iran yang bisa mengubah pelaksanaan syariat itu, menarik sekali bagi saya. Ini sangat hebat. Kita juga melihat keikutsertaan perempuan yang sangat hebat dalam pemilu di Iran.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.