Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Politik » Radikalisme » Sarlito Wirawan: “Puritanisme Menghambat Kemajuan”
Sarlito W. Sarwono (Foto: sindonews.com)

Sarlito Wirawan: “Puritanisme Menghambat Kemajuan”

4/5 (2)

Pak Sarlito, ada asumsi lain yang mengatakan bahwa kebangkitan sebuah bangsa itu justru dimulai dari puritanisme keagamaan…

Di dalam sejarah, puritanisme itu justru penghambat kemajuan. Di Afganistan kita pernah mengalami masa Taliban yang amat puritan. Mereka justru menghancurkan umat sendiri; orang-orang dibunuh, digantung di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Perempuan-perempuan tidak bisa bekerja karena tidak ada muhrimnya. Anaknya pada mati karena kelaparan.

Sebaliknya, kemajuan itu justru terjadi ketika ada pembebasan dari ortodoksisme seperti yang dialami Eropa. Ketika protestantisme keluar dari doktrin-doktrin lama Katolik, mereka justru maju. Jadi kalau kita lihat sejarah, hampir tidak ada bukti bahwa kembali kepada ortodoksisme akan membawa kita sampai kepada kemajuan.

Apa tanggapan Anda tentang perasaan terkepung (siege mentality) yang selalu menghantui kebanyakan umat Islam meski mereka mayoritas di Indonesia dan Islam berkembang cukup baik baik di berbagai belahan dunia?

Saya mengatakan, masyarakat Islam di Indonesia ini mayoritas, tapi mentalnya minoritas. Biasanya, di tempat-tempat lain, yang suka macam-macam itu kangolongan minoritas. Tapi di sini justru dari golongan mayoritas. Berarti, intinya ada ketidakpercaya diri.

Ketidakpercayaan diri itu misalnya hadir dalam perasaan bahwa nanti akan ada kristenisasi, maksiatisasi, konspirasi, dan lain sebagainya. Sebetulnya, kalau kita diam saja, Islam akan jadi dengan sendirinya. Jadi, kita harusnya tetap mengusahakan agar hidup kita ini islami dengan cara mempraktikkan nilai-nilai moral Islam dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam kajian psikologi, bagaimana orang-orang beragama yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba dapat menjadi beringas ketika sudah berkumpul dalam suatu massa?

Ada penelitiaan yang mengungkap bagaimana orang-orang seperti itu tiba-tiba jadi beringas. Jadi memang, dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang pertamanya baik-baik itu kehilangan jadi dirinya, kemudian membaur menjadi sebuah massa. Ketika dia menjadi sebuah massa, dia sudah lupa apa yang tiap hari menjadi acuannya. Dengan begitu, orang yang baik-baik, tiba-tiba menjadi beringas.

Sebab biasanya yang namanya massa itu tidak berakal. Kadang-kadang kita ini aneh. Kalau sudah dituntun orang-orang tertentu yang berkharisme, langsung dianggap suci dari kesalahan. Padahal kan tidak seperti itu. Kebaikan seseorang itu tidak diukur apakah dia misalnya seprang habib atau tidak habib.

Tapi biasanya, polisi-polisi pun pada takut untuk melakukan sesuatu; jangan-jangan dia sendiri nanti kena. Mungkin takut dibilang fobia-Islam, melangar HAM, dan lain sebagainya. Sebab kalau terjadi sesuatu, biasanya yang kena itu yang di bawah. Para jenderal tidak akan kena, tapi yang kena justru yang berhadapan dengan masa langsung.

Apa usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk membuat kondisi psikologis masyarakat jadi lebih baik?

Kalau saya kembali kepada tesis saya, intinya sebetulnya terletak pada peran media masa. Sebab kalau kita mencari jawabannya di MUI atau tokoh-tokoh Islam, itu tidak akan ketemu. Mereka masih akan begitu terus. Tapi media masa sebagai lembaga yang punya peran dalam membentuk opini publik bisa melakukan hal-hal tertentu untuk menyehatkan psikologi masyarakat.

Kalau puritanisme menggejala luas di lingkungan mahasiswa kampus, apakah akan mengancam kehidupan ilmiah?

Tidak. Saya pikir, kehidupan ilmiah tidak akan terancam karena ilmu pengetahuan akan jalan terus. Sebetulnya kalau kita yakin sama Islam, ia akan tetap jalan pakai FPI atau tanpa FPI. Sebab kalau kita percaya sunnatullah, apa yang terjadi itu kan kun fayakun, akan terjadi kalau memang sudah dikehendaki Tuhan.

Jadi kita bisa berteriak-teriak, bisa berlaku macam-macam, tapi Islamnya tidak berpengaruh pada masyarakat menuju makin baik, makin teratur, dan makin sejahtera. Sebab umat ini, Islam atau tidak Islam dalam kategori agamanya, selalu saja punya naluri untuk mencari yang lebih baik.

Sekarang ada gerakan The Green Peace, LSM yang bekerja untuk penghijauan/melestarikan alam. Itu kan islami sekali, walau orang-orangnya barangkali dari Noerwegia atau Jerman. Tapi gerakan-gerakan yang islami seperti ini akan terus.

HAM itu islami sekali, tetapi kita ini yang menamakan diri Islam malah tidak ikut di situ. Contoh lain, di Jepang itu kalau kita menaruh uang di bank justru harus bayar. Kalau di sini, deposito kita malah yang dapat duit. Di sana uang kita tidak jadi berbunga-bunga seperti di sini. Nah, mereka yang tidak Islam justru sudah melakukan yang kita anggap islami.

Mereka tidak pakai jargon-jargon ekonomi Islam segala. Mereka menggunakan ekonomi biasa yang memang kalau dijalankan dengan benar, dengan jujur, tidak munafik, bukan double standard akan jadi baik seperti itu. Kita kan kadang suka munafik, dan karena double standard, maka terjadi biaya tambahan, biaya tidak terduga, sehingga ekonominya tidak terkontrol.

Mungkinkah beberapa kontribusi baik untuk gerakan kemanusiaan seperti green peace itu didorong oleh semangat keagamaan?

Yang mendorong itu adalah semangat keagamaan. Sebab setiap orang itu sepertinya punya naluri keagamaan. Pertama berupa pengakuan terhadap sebuah Supreme Being (Zat yang Mahaagung, Red), kemudian Supreme Beingitu menghendaki sesuatu yang baik untuk masyarakat, lalu orang-orang coba mendekati sifat-sifat yang baik. Islam itu kan sebetulnya punya 99 asma Allah, dan kita dianjurkan mendekati sebanyak mungkin atau mencapai sifat-sifat seperti itu.

Tapi kita kan tidak seperti itu; malah orang lain yang melakukannya. Saya juga percaya, pada dasarnya setelah Rasulullah wafat, semua umat yang ada di dunia ini Islam tanpa mengatakan kalimat syahadat.

Mereka sudah Islam, tinggal perilakunya sesuai atau tidak dengan kaidah-kaidah Islam. Jadi walaupun sudah mengucapkan kalimat syahadat berkali-kali tiap hari, tapi kelakuannya tidak sesuai dengan apa yang dimaksud Allah, ya berarti itu tidak Islam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.