Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Home » Politik » Radikalisme » Sarlito Wirawan: “Puritanisme Menghambat Kemajuan”
Sarlito W. Sarwono (Foto: sindonews.com)

Sarlito Wirawan: “Puritanisme Menghambat Kemajuan”

4/5 (2)

IslamLib - Kondisi mental dan psikologi umat Islam Indonesia setelah zaman reformasi belum kunjung berubah. Perasaan terus terkepung (siege mentality) oleh pelbagai isu, masih saja terus menghantui. Padahal, Islam tetap terus berkembang dengan wajar, baik di Indonesia bahkan di banyak belahan dunia. Demikian hasil perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Sarlito Wirawan, guru besar psikologi di Universitas Indonesia, Kamis (16/3) lalu.

 

Pak Sarlito, Anda sempat diminta bantuan untuk menganalisis kondisi psikologis Ibu Lia Aminuddin. Apa yang Anda dapat kemukakan dari gejala keberagamaan seperti itu?

Sebagai gejala keagamaan Ibu Lia itu sama saja dengan para pemimpin spiritual lainnya: ia menawarkan sesuatu untuk membuat orang senang atau tertarik agar orang lain tersebut masuk ke dalam komunitasnya. Itu hampir sama saja dengan apa yang dilakukan oleh orang lain seperti Ustad Jefri Al-Buchori dan Aa Gym, dan Arifin Ilham. Apalagi orang seperti Ustad Jefri itu funky, gaul; senanglah mereka yang mendengarnya.

Kalau Aa Gym lain lagi, ia menawarkan konsep Managemen Qolbu. Caranya menyejukkan, tidak terlalu banyak kata Arab, logis, dan bisa pula diterima oleh yang non-muslim. Jadi macam-macam versinya. Jadi, masyarakat kita memangkepengin atau membutuhkan tokoh-tokoh spiritual tertentu untuk dijadikan acuan. Jadi, ada demand atau permintaannya dalam masyarakat, seterbatas apapun segmen pasarnya.

Mungkin bedanya, yang satu ingin sesuai betul dengan ortodoksi pandangan keagamaan, sementara yang lain melakukan rienterpretasi dan lain-lain...

Ya… sebetulnya makin kita ortodoks makin jauh kita dari kondisi yang riil. Sebab apapun juga yang ada di zaman sekarang ini sudah tidak bisa dibandingkan dengan zamannya Rasulullah. Tapi sebagian masyarakat kita yang juga saya saksikan di kampus-kampus, ingin mengembalikan semua hal kepada zaman Rasulullah, setektsual mungkin.

Jadi termasuk jenggotnya, celananya yang ¾ dan tidak boleh menutupi mata kaki, ketika salat kelingkingnya harus menyentuh kelingking tetangganya supaya tidak ada peluang untuk setan, atau hal-hal lainnya. Itu kan sebenarnya tidak terlalu prinsip.

Sebetulnya, Islam itu harus mencari atau mengusahakan kemaslahatan untuk umat, misalnya bagaimana memerangi kemiskinan. Di Malaysia, perjudian itu diperbolehkan di Genting Highland, di mana orang berjudi, tapi orang muslim tidak ke situ. Tapi pajaknya dibuat untuk kemaslahatan umat Islam. Itu pula yang pernah dilakukan Jakarta pada zaman Ali Sadikin, sampai dia bilang berani masuk neraka gara-gara itu.

Tapi sekarang ini pelacuran tidak boleh atau ingin ditiadakan sama sekali. Perda Pelacuran di Tangerang itu, hasilnya justru tidak menguntungkan. Sebab ibu-ibu yang tidak bersalah juga tertangkap, sementara pelacurnya tetap bisa beroperasi karena mereka tidak berkeliaran di jalan, karena bisa dijangkau dengan telpon atau pesan pendek (SMS). Jadi hal-hal seperti itu tidak dipikirkan; mereka berpikir sederhana saja sehingga bisa diatasi dengan Perda. Tapi korbannya malah ibu-ibu biasa.

Sementara di sisi lain, saya melihat di seluruh dunia ini tidak ada masyarakat yang 100% bebas pelacuran atau bebas maksiat. Tidak ada dalam sejarah maupun dalam dunia manapun juga. Karena apa? Karena maksiat itu—maaf—terkadang bagi sebagian orang seperti kita buang hajat, buang air kecil, buang air besar yang memang harus dilakukan. Tapi yang berbeda adalah bagaimana itu dikelola begitu rupa sehingga ada tempat tertentu di mana kita bisa buang hajat dan tidak mencemari seluruh tempat.

Nah, yang namanya lokalisasi itu seperti itu. Kita bisa membuat WC kita dengan berlapis emas, tapi tetap saja isinya tinja. Persoalannya, kalau kita tidak punya WC, di mana kita akan membuang hajat? Itulah yang akan terjadi kalau kita tidak bisa mengelola maksiat-maksiat itu dengan baik. Dia akan tersebar. Bisa saja tiba-tiba, ada anak kost di rumah kita yang menjadi salah satu wanita panggilan. Itu kan nggak lucu.

Tapi saya tidak mengatakan perjudian, pelacuran dan segala bentuk kemaksiatan itu baik. Saya cuma mau mengatakan bahwa yang tidak baik itu terkadang tidak bisa diingkari. Saya tidak mengatakan perjudian itu baik, tapi yang tidak baik, kotoran atau sampah masyarakat itu, haruslah dikelola dengan baik. Jadi aspek pengelolaannya itu yang perlu diperhatikan.

Bukan kita menghalalkan, tapi kita bersikap realistik karena ada orang yang hidupnya di sekitar kotoran itu. Karena itu, ya sudah, kita buat dia terisolir; kita tidak usah masuk ke situ tapi bagaimana dia tidak mengganggu tempat kita. Kita harus mengelola masyarakat dengan baik, dengan realistis, dengan logis.

Bagaimana dengan merebaknya gejala yang ekstrem dalam sikap beragama di sebagian masyarakat kita dalam menyikapi apa yang disebut maksiat dan aliran sesat?

Ya. Ektremisasi itu merupakan hal yang disukai oleh pihak-pihak tertentu, karena dengan begitu dia mengambil banyak keuntungan. Terus terang saja, yang namanya penumpasan maksiat di jalan itu kan bagian dari UUD: ujung-ujungnya duit.

Ini bukan rahasia lagi, dan semua orang sudah tahu bahwa orang-orang yang suka melakukan hal itu telah mengutip uang dari pengusaha-pengusaha karaoke, atau pengusaha-pengusaha lainnya, sambil menggertak. Jadi untuk biaya keamanan lah.

Lalu apa bedanya gerakan seperti itu dengan—mohon maaf—para preman? Kalau dibayar bisa aman, kalau tidak bayar diserbu. Jadi penumpasan maksiat itu dijadikan alasan oleh ektremis-ektremis yang memang suka begituan.

Kemarin saya barusan melihat tertangkapnya pengacau-pengacau di Poso itu dari televisi. Mereka menggunakan agama untuk membunuh orang. Dan kita tahu, kasus foto telanjang Anjasmara juga harus membayar uang tidak sedikit supaya tidak dituntut dan ditekan terus.

Artinya ektremisme itu kadang-kadang soal pemerasan saja?

Betul, intinya seperti itu. Pemerasan hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kekuatan, dan kebetulan, kekuatan itu saat ini dilambangkan dengan simbol-simbol agama.

Pak Sarlito, ada asumsi lain yang mengatakan bahwa kebangkitan sebuah bangsa itu justru dimulai dari puritanisme keagamaan...

Di dalam sejarah, puritanisme itu justru penghambat kemajuan. Di Afganistan kita pernah mengalami masa Taliban yang amat puritan. Mereka justru menghancurkan umat sendiri; orang-orang dibunuh, digantung di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Perempuan-perempuan tidak bisa bekerja karena tidak ada muhrimnya. Anaknya pada mati karena kelaparan.

Sebaliknya, kemajuan itu justru terjadi ketika ada pembebasan dari ortodoksisme seperti yang dialami Eropa. Ketika protestantisme keluar dari doktrin-doktrin lama Katolik, mereka justru maju. Jadi kalau kita lihat sejarah, hampir tidak ada bukti bahwa kembali kepada ortodoksisme akan membawa kita sampai kepada kemajuan.

Apa tanggapan Anda tentang perasaan terkepung (siege mentality) yang selalu menghantui kebanyakan umat Islam meski mereka mayoritas di Indonesia dan Islam berkembang cukup baik baik di berbagai belahan dunia?

Saya mengatakan, masyarakat Islam di Indonesia ini mayoritas, tapi mentalnya minoritas. Biasanya, di tempat-tempat lain, yang suka macam-macam itu kangolongan minoritas. Tapi di sini justru dari golongan mayoritas. Berarti, intinya ada ketidakpercaya diri.

Ketidakpercayaan diri itu misalnya hadir dalam perasaan bahwa nanti akan ada kristenisasi, maksiatisasi, konspirasi, dan lain sebagainya. Sebetulnya, kalau kita diam saja, Islam akan jadi dengan sendirinya. Jadi, kita harusnya tetap mengusahakan agar hidup kita ini islami dengan cara mempraktikkan nilai-nilai moral Islam dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam kajian psikologi, bagaimana orang-orang beragama yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba dapat menjadi beringas ketika sudah berkumpul dalam suatu massa?

Ada penelitiaan yang mengungkap bagaimana orang-orang seperti itu tiba-tiba jadi beringas. Jadi memang, dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang pertamanya baik-baik itu kehilangan jadi dirinya, kemudian membaur menjadi sebuah massa. Ketika dia menjadi sebuah massa, dia sudah lupa apa yang tiap hari menjadi acuannya. Dengan begitu, orang yang baik-baik, tiba-tiba menjadi beringas.

Sebab biasanya yang namanya massa itu tidak berakal. Kadang-kadang kita ini aneh. Kalau sudah dituntun orang-orang tertentu yang berkharisme, langsung dianggap suci dari kesalahan. Padahal kan tidak seperti itu. Kebaikan seseorang itu tidak diukur apakah dia misalnya seprang habib atau tidak habib.

Tapi biasanya, polisi-polisi pun pada takut untuk melakukan sesuatu; jangan-jangan dia sendiri nanti kena. Mungkin takut dibilang fobia-Islam, melangar HAM, dan lain sebagainya. Sebab kalau terjadi sesuatu, biasanya yang kena itu yang di bawah. Para jenderal tidak akan kena, tapi yang kena justru yang berhadapan dengan masa langsung.

Apa usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk membuat kondisi psikologis masyarakat jadi lebih baik?

Kalau saya kembali kepada tesis saya, intinya sebetulnya terletak pada peran media masa. Sebab kalau kita mencari jawabannya di MUI atau tokoh-tokoh Islam, itu tidak akan ketemu. Mereka masih akan begitu terus. Tapi media masa sebagai lembaga yang punya peran dalam membentuk opini publik bisa melakukan hal-hal tertentu untuk menyehatkan psikologi masyarakat.

Kalau puritanisme menggejala luas di lingkungan mahasiswa kampus, apakah akan mengancam kehidupan ilmiah?

Tidak. Saya pikir, kehidupan ilmiah tidak akan terancam karena ilmu pengetahuan akan jalan terus. Sebetulnya kalau kita yakin sama Islam, ia akan tetap jalan pakai FPI atau tanpa FPI. Sebab kalau kita percaya sunnatullah, apa yang terjadi itu kan kun fayakun, akan terjadi kalau memang sudah dikehendaki Tuhan.

Jadi kita bisa berteriak-teriak, bisa berlaku macam-macam, tapi Islamnya tidak berpengaruh pada masyarakat menuju makin baik, makin teratur, dan makin sejahtera. Sebab umat ini, Islam atau tidak Islam dalam kategori agamanya, selalu saja punya naluri untuk mencari yang lebih baik.

Sekarang ada gerakan The Green Peace, LSM yang bekerja untuk penghijauan/melestarikan alam. Itu kan islami sekali, walau orang-orangnya barangkali dari Noerwegia atau Jerman. Tapi gerakan-gerakan yang islami seperti ini akan terus.

HAM itu islami sekali, tetapi kita ini yang menamakan diri Islam malah tidak ikut di situ. Contoh lain, di Jepang itu kalau kita menaruh uang di bank justru harus bayar. Kalau di sini, deposito kita malah yang dapat duit. Di sana uang kita tidak jadi berbunga-bunga seperti di sini. Nah, mereka yang tidak Islam justru sudah melakukan yang kita anggap islami.

Mereka tidak pakai jargon-jargon ekonomi Islam segala. Mereka menggunakan ekonomi biasa yang memang kalau dijalankan dengan benar, dengan jujur, tidak munafik, bukan double standard akan jadi baik seperti itu. Kita kan kadang suka munafik, dan karena double standard, maka terjadi biaya tambahan, biaya tidak terduga, sehingga ekonominya tidak terkontrol.

Mungkinkah beberapa kontribusi baik untuk gerakan kemanusiaan seperti green peace itu didorong oleh semangat keagamaan?

Yang mendorong itu adalah semangat keagamaan. Sebab setiap orang itu sepertinya punya naluri keagamaan. Pertama berupa pengakuan terhadap sebuah Supreme Being (Zat yang Mahaagung, Red), kemudian Supreme Beingitu menghendaki sesuatu yang baik untuk masyarakat, lalu orang-orang coba mendekati sifat-sifat yang baik. Islam itu kan sebetulnya punya 99 asma Allah, dan kita dianjurkan mendekati sebanyak mungkin atau mencapai sifat-sifat seperti itu.

Tapi kita kan tidak seperti itu; malah orang lain yang melakukannya. Saya juga percaya, pada dasarnya setelah Rasulullah wafat, semua umat yang ada di dunia ini Islam tanpa mengatakan kalimat syahadat.

Mereka sudah Islam, tinggal perilakunya sesuai atau tidak dengan kaidah-kaidah Islam. Jadi walaupun sudah mengucapkan kalimat syahadat berkali-kali tiap hari, tapi kelakuannya tidak sesuai dengan apa yang dimaksud Allah, ya berarti itu tidak Islam.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.