Home » Politik » Radikalisme » Sidney Jones: “Motivasi Ideologis Aktivis JI Sangat Kuat”
Sidney Jones (Foto: antaranews.com)
Sidney Jones (Foto: antaranews.com)

Sidney Jones: “Motivasi Ideologis Aktivis JI Sangat Kuat”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Pelaku terorisme memang tidak mengenal paspor dan kantor imigrasi. Khilafah Nusantara yang dipancangkan aktivis Jemaah Islamiyah (JI) itu sendiri mengandung gagasan transnasionalisme yang mengabaikan nation-state. Totalitas komitmen ditentukan seberapa kuat afinitas visi dan misi terhadap doktrin JI, bukan kewargaan aktivisnya. Tak heran, bila aktivis JI tersebar di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Pasca-terbongkarnya ribuan amunisi dan bahan peledak di Semarang, tertangkapnya 9 aktivis JI, dan kaburnya Fathurrohman al-Ghozi dari penjara Filipina, maka tak relevan lagi bicara soal JI sebagai pepesan kosong. Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Sidney Jones, Direktur International Crisis Group (ICG), pada Kamis, 17 Juli 2003.

 

Bu Sidney, Anda sangat concern mengikuti sepak terjang JI selama ini. Bagaimana Anda menanggapi perkembangan terakhir JI belakangan ini?

Ada banyak hal yang perlu disampaikan. Pertama, sekarang di Indonesia saja terdapat lebih dari 70 orang yang ditangkap dengan tuduhan keterlibatan mereka dengan JI atau organisasi-organisasi yang dikaitkan dengan JI.

Bukan saja yang ditangkap sehubungan bom Bali, tapi juga mereka yang ditahan karena keterlibatan dalam bom Natal (tahun 2000), bom Makassar pada Desember 2002, dan lain-lain. Mereka bukan saja anggota asli JI, tapi juga yang terlibat secara kecil-kecilan, seperti menyembunyikan Ali Imron dan lain-lain.

Nah, setiap kali aparat menangkap orang baru yang dikaitkan dengan JI, ada saja informasi lebih masif tentang JI dan siapa lagi yang terlibat. Tapi, gambaran yang kami dapat saat ini, JI seolah-olah bukan organisasi yang terlalu hierarkis dan terorganisir, tapi lebih bersifat jaringan atau aliansi organisasi-organisasi.

Di antara sembilan orang yang ditangkap minggu lalu, terdapat seorang pemimpin JI yang betul-betul penting bernama Mustafa atau Mustofa. Dia pernah berada di Afganistan pada tahun 1980-an, terus pindah ke Mindanao.

Bagaimana hubungan Mustafa dengan Hambali, dedengkot JI?

Memang ada organisasi JI dengan anggota-anggota bayaran. Petinggi-petinggi organisasi itu antara lain Mukhlas, Hambali, Mustafa dan Zulkarnain. Yang disebut terakhir belum tertangkap. Selain itu, ada juga yang ditangkap (seperti di Makassar) bukan karena secara langsung ikut dalam keanggotaan JI, tapi turut dalam latihan JI di Mindanao.

Kemarin ada berita mengagetkan. Sembilan orang yang disinyalir sebagai anggota JI ditangkap dengan ribuan amunisi, senjata dan bahan-bahan peledak. Apakah Anda percaya ini bukan rekayasa?

Saya percaya, kecuali pada Ikhwanuddin yang diberitakan bunuh diri saat diborgol. JI memang punya ribuan amunisi dan bahan peledak. Saya teliti, senjata semacam itu diselundupkan dari Mindanao ke Indonesia. Mungkin ada jalur pembeliannya di Indonesia sendiri. Bahan-bahan peledak itu dibeli lebih dulu, lalu disimpan di banyak tempat.

Saya memang heran juga, mengapa senjata itu ditemukan di Semarang. Hanya saja, bukan tak mungkin amunisi dan senjata tersebut juga disimpan di tempat lain. Lihat saja, sebagian ada yang disimpan di Lamongan, tempat Amrozi dulunya, meski kecil kadarnya.

Mengapa mereka menaruh senjata dengan sembrono? Bukankah mereka terlatih dalam aksi-aksi terorisme yang menuntut kehati-hatian?

Ya. Tapi hal aneh lainnya, semua tersangka dalam kasus bom Bali, mencoba menyembunyikannya di dekat Solo, dan ditangkap di dekat Karang Anyar. Itu tidak masuk akal menurut saya.

Kesimpulan Anda: apakah mereka belum profesional atau polisi yang lebih pintar?

Ada beberapa penjelasan. Saya kira, polisi sudah sangat baik dalam melakukan investigasi. Apalagi, dalam kasus bom Bali, polisi dibantu polisi Australia dengan peralatan yang sangat canggih. Itu satu faktor yang sangat penting.

Saya kira, sulit sekali membuat rekayasa dalam persoalan macam ini. Itu yang pertama. Kedua, jelas bahwa mereka sedang merencanakan suatu aksi yang lain. Bisa saja ada banyak senjata di Semarang, karena sedang menyusun rencana pengeboman dalam skala besar.

Setelah penangkapan sembilan orang yang disinyalir sebagai anggota JI, ledakan bom terjadi di DPR. Apakah itu semacam aksi balas dendam?

Bukan balas dendam, tapi sebagai indikasi untuk menunjukkan kalau mereka masih ada. Mereka masih bisa bertahan. Dan perlu diingat, ada beberapa pemimpin JI yang masih belum ditangkap, seperti Zulkarnain dan Hambali.

Banyak juga orang Indonesia yang dilatih secara militer di Mindanao, lalu kembali ke Indonesia. Memang bukan semuanya anggota JI. Hanya saja, mereka punya keterampilan untuk membuat aksi seperti di Makassar dan gedung DPR itu.

Apa perbedaan penting antara JI dengan organisasi lain. Apakah mereka punya ideologi spesifik yang memotivasi mereka atau sama saja dengan organ teroris di tempat lainnya?

Saya kira memang ada sesuatu yang khusus. Walaupun ideologi mereka terarah pada doktrin jihad dan menjadikannya sebagai tahap mendirikan negara Islam, tapi tetap saja bisa dicampuri sesuatu yang khas Indonesia.

Jadi, ideologi JI adalah campuran antara ideologi Darul Islam (DI) —dalam artian meneruskan cita-cita Sardjono Marijan Kartosoewiryo— dengan ideologi Salafiyah yang didapat di Afganistan. Tapi juga ada kombinasi dengan ideologi jihad dan bagaimana memanfaatkan kekerasan dan perang agar bisa mencapai tujuan mereka.

Apakah Anda pernah ketemu langsung dengan aktivis JI sehingga bisa tahu tentang apa yang mereka pikirkan?

Itu selalu melalui orang lain. Sulit bagi saya sendiri untuk bertemu langsung dengan mereka. Tapi, motivasi ideologis dalam pergerakan mereka memang kuat. Hal ini bukan masalah “orang beriman” yang mencari kesempatan untuk ke luar negeri saja. Di Afganistan dan Mindanao, ajaran mereka dibagi antara ajaran agama dan teknik perang. Jadi latihan militer selalu dilihat sebagai hasil dari ajaran agama.

Abu Sayyaf di Filipina bersifat kelanjutan dari Nur Misuari yang ingin menyatukan antara cita-cita negara Islam dan nasionalisme Moro. Artinya, gagasan tentang negara Islam transnasional nampaknya tidak terlalu kuat. Tanggapan Anda?

Jangan mengacaukan antara dua Sayyaf. Ada Sayyaf yang berasal dari nama seorang Afganistan yang memimpin suatu kelompok mujahid dari tahun 1980 sampai sekarang. Sampai sekarang dia masih hidup di Afganistan.

Hampir semua anggota JI dilatih oleh Abdurrosul Sayyaf itu yang bermukim di Afganistan. Abu Sayyaf di Filipina lain lagi. Pemimpin atau pendiri kelompok Abu Sayyaf di Filipina bernama Abdurazak Abubakar Janjalani.

Abdurrosul Sayyaf yang berada di Afganistan adalah guru Janjalani. Untuk menghormati Abdurrosul Sayyaf, kelompok mereka dinamai Abu Sayyaf. Hubungan JI dengan Abu Sayyaf di Filipina semata-mata bersifat aliansi pragmatis saja. Tujuannya tidak sama.

Tapi kalau Abu Sayyaf perlu bantuan, kadang anggota JI seperti Fathurrohman Al-Ghozi sebelum ditangkap, bisa saja menolong. Atau, bila JI butuh bantuan dari kelompok Abu Sayyaf bisa saja dipenuhi. Jadi ada semacam reciprocal assistance atau bantuan yang saling menguntungkan.

Apakah pasca-runtuhnya Afganistan, latihan-latihan JI dipusatkan di Filipina?

Ya. Sebetulnya, sebelum Taliban runtuh juga sudah dipindahkan ke Filipina. Di sana ada instruktur yang sama dengan yang ada di medan pelatihan Afganistan. Semacam latihan lanjutan di Afganistan. Bahkan sesudah ada perang sesama mujahidin di Afganistan, tidak ada lagi latihan yang diadakan di Afganistan.

Bagaimana melihat hubungan antara JI yang menginginkan khilafah Nusantara meliputi Asia Tenggara dengan S M Kartosoewiryo?

Itu persoalan menarik juga. Kalau membaca bahan-bahan sidang bom Bali, saya kira, sebagian besar orang yang ikut gerakan ini tetap berambisi mendirikan negara Islam di Indonesia. Walau dituduh akan mendirikan daulah Islamiyah Nusantara, sebetulnya sebagian besar masih berharap pada Indonesia.

Imam Samudera yakin ide negara Islam Nusantara bisa tercapai. Saya kira, Imam Samudera adalah orang top dan banyak bicara, meskipun dia bukan sosok yang paling top di JI.

Apakah selama ini Anda punya dokumen-dokumen yang cukup reliable tentang doktrin JI?

Ya. Tapi dokumen itu disebut di mana-mana. Misalnya dalam sidang kasus bom Bali. Dokumen-dokumen tersebut menjadi pedoman dan pegangan bagi orang yang ikut Jl. Dari sidang bom Bali ini, kita tahu, pemikir siapa yang berpengaruh besar terhadap JI.

Sayyid Qutb disebut-sebut berpengaruh. Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Abul A’la Al-Maududi juga penting. Tapi, apa yang mereka dapatkan langsung di Afganistan dari para mujahidin sangat penting sekali, terutama Abdurrosul Sayyaf dan Gulbuddin Hekmatyar.

Mereka bukan pemikir besar, tapi merupakan pejuang yang sangat mempengaruhi aktivis JI dalam menggelorakan semangat jihadnya. Meski demikian, pada saat mereka berada di Afganistan, belum ada organisasi bernama JI.

Bagaimana peran Abubakar Baasyir dalam kelompok JI?

Memang peran Baasyir masih agak misterius. Saya kira, peran dia penting, apalagi melihat jumlah lulusan Ngruki yang menjadi tokoh penting JI. Ikhwanuddin, mantan pentolan JI, yang dikabarkan bunuh diri juga alumni Ngruki tahun 1995.

Karena keterlibatan banyak alumni inilah, maka pengaruhnya cukup besar. Orang-orang Ngruki juga ada yang dikirim ke Afganistan atau Mindanao, bahkan kedua tempat tersebut. Yang jelas saat ini, sesudah organisasi JI dikukuhkan sekitar tahun 1995-1996, Baasyir menjadi salah satu tokoh di dalamnya.

Memang Baasyir bukan amirnya, tapi dia menjadi orang paling dekat dengan amirnya saat itu, yaitu Abdullah Sungkar. Sesudah Abdullah Sungkar wafat tahun 1999, Baasyir naik pangkat menjadi amir. Posisi amir itulah yang diwasiatkan Abdullah Sungkar pada Baasyir.

Saat ini, kita tidak tahu apakah Baasyir masih menjabat sebagai amir. Mungkin tidak lagi, karena ada orang lain yang ditangkap. Namanya Abu Rustam atau Toriquddin dari Kudus, yang rupanya mengganti Baasyir. Tapi apakah dia mengganti Baasyir karena sedang tidak aktif alias ditahan atau diganti karena ada ketidaksenangan, terutama kelompok garis keras, dengan gaya kepemimpinan Baasyir, saya tidak tahu.

Bagaimana peran Abdullah Sungkar? Apakah ketika menggagas negara Islam Nusantara dia sudah merancang perjuangan bersenjata?

Itu sebetulnya dimulai sebelum Abdullah Sungkar mendirikan JI, ketika dia mulai merekrut dan mengirimkan orang-orang ke Afganistan sekitar tahun 1985-1986. Saat itu sudah tercetus ide melakukan perjuangan bersenjata.

Kenapa dia mengirim orang ke Afganistan? Karena dia merasa bahwa yang diperlukan ialah persiapan fisik, dalam arti perang. JI sebetulnya baru didirikan sesudah dia pecah kongsi dengan Masduki dari Darul Islam sekitar tahun 1994. Jauh-jauh hari memang sudah ada ideologi jihad.

Perang Afganistan dimulai tahun 1979 ketika Uni Soviet masuk ke Afganistan dan berlangsung hampir 10 tahun. Mereka keluar dari sana tahun 1989. Angkatan pertama dari kelompok Baasyir dan Abdullah Sungkar, berangkat tahun 1985, sebelum Uni Soviet menarik diri.

Apakah ada kaitan antara JI dengan organisasi yang belakangan muncul, khususnya Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin Baasyir?

Ada memang orang-orang yang menjadi anggota JI sekaligus MMI. Tapi sebagai lembaga, MMI terpisah dan tidak pernah ikut aksi kekerasan. Tapi, MMI punya bagian askariah atau sayap militer yang antara lain beranggotakan Abu Urwah atau Mukhtar dg Lau yang sekarang ditangkap dalam kaitan dengan bom Makassar.

Di mana peran Irfan S. Awwas?

Sulit dikatakan. Jika saya katakan, pasti saya akan digugat lagi ha..ha..

Apakah JI kelompok yang tunggal, lintas negara mulai dari Indonesia, Singapura, Malaysia dan Filipina?

Ada satu organisasi saja. Ada organisasi JI yang paling tidak —sampai tahun 2001-2002— punya mantiqi dan wakalah yang saling dikaitkan, misalnya di Filipina, Singapura dan Indonesia. Selain itu, ada juga semacam jaringan atau organisasi-organisasi sendiri yang visi dan ideologinya saja yang sama, tapi lain organisasi dan tidak saling terkait.

Anda punya estimasi jumlah aktivis JI?

Tidak. Hanya saja, yang bisa kita tahu, ada sekitar 200-an yang pernah ikut latihan militer di Afganistan, dan lebih banyak lagi yang ikut di Mindanao. Kadang ada satu dua orang yang telah melewati kedua-duanya. Saya kira, orang yang betul-betul dilatih dengan ketrampilan perang, mungkin sudah mencapai 800 orang lebih. Di antara mereka yang tertangkap hanya 100-an. Itupun tak semuanya anggota JI.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.