Home » Politik » Radikalisme » Syu’bah Asa: “Dakwah Para Teroris Itu Bertuah”
Syu'bah Asa (Foto: tempo.co)
Syu'bah Asa (Foto: tempo.co)

Syu’bah Asa: “Dakwah Para Teroris Itu Bertuah”

3/5 (1)

Tayangan testimoni para pelaku bom Bali II beberapa pekan lalu menunjukkan bahwa gejala bom bunuh diri sudah menjadi tren internasional yang menjangkiti anak bangsa. Apakah generasi muslim Indonesia sudah mengalami radikalisasi sedemikian rupa, sehingga tidak lagi kecut nyali untuk melakukan bom bunuh diri? Berikut perbincangan Novriantoni Kahar dan Mohamad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Syu’bah Asa, wartawan senior dan penulis buku Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik, Kamis (17/11) lalu.

 

Pak Syu’bah, beberapa pekan lalu, Wapres M. Jusuf Kalla mengajak beberapa kyai menyaksikan testimoni para pelaku bom Bali II. Para kyai tampak shock dengan pengakuan para pelaku bom. Apa komentar Anda?

Saya tidak heran kalau para kyai terkejut, karena selama ini saya kira mereka memang tidak banyak tahu tentang gerakan-gerakan Islam radikal dan paham-paham mereka. Selama ini, antara dunia kyai—dunia ajaran Islam yang kita katakan benar, damai dan toleran—memang agak terpisah dengan dunia mereka.

Para kyai mungkin saja sudah mendengar soal teologi teroris, tapi sepotong-sepotong. Nah, setelah mendengar testimoni itu, kontan mereka terkejut, terlebih karena ajaran yang menganggap pembunuhan atas orang lain sambil membunuh diri sendiri itu dianggap sebagai jalan menuju surga. Itu sungguh sangat mengejutkan!

Namun di samping itu, bagi saya, ada sedikit kebodohan dalam klaim masuk surga langsung itu. Sebab, surga itu hanya ada setelah kiamat. Sekarang ini kanbelum ada surga. Jadi ketika dalam testimoni itu dinyatakan “saya sudah di surga” dengan bangganya, itu sudah menunjukkan persepsi keagamaan yang sebenarnya dangkal dan belum utuh.

Testimoni pelaku bom bunuh diri di Palestina, misalnya, sudah sering kita dengar. Tapi sekarang, itu dilakukan orang Indonesia. Apakah orang Indonesia sudah mengalami radikalisasi sedemikian rupa, sehingga sampai pada kepurusan bom bunuh diri?

Saya tidak berpikir begitu. Sebab, hanya sebagian kecil orang Indonesia yang berani melakukan itu. Artinya, mereka itu ikut tren internasional saja. Tren itu bermula dari keberangkatan ke Afganistan dan langkah-langkah selanjutnya yang tidak kita tahu.

Tapi morif bom bunuh diri di sini tetap berbeda dengan yang di Timur Tengah. Di sana, ada hubungan kuat antara para aktivisnya dengan masyarakat pendukung, atau masyarakat umum. Di sini, dukungan itu tidak ada. Masyarakat umumnya tidak tahu sama sekali kalau mereka akan melakukan itu. Jadi, para pelaku di sini sebenarnya orang-orang yang sama sekali terpencil, terasing.

Tapi itu tidak berarti kalau berdakwah mereka tidak akan “dimakan”. Dakwahnya tetap bisa bertuah. Kalau orang seperti mendiang Azahari atau Noordin M Top menyatakan bahwa tindakan itu benilai istisyhâd (mati syahid) yang akan beroleh surga, pemuda-pemuda yang berlatarbelakang pengetahuan agama tipis, mungkin saja akan tergiur.

Tapi, saya mengira pemuda-pemuda dari kalangan NU atau Muhammadiyah tidak mungkin tergiur dengan jalan paling singkat menuju “surga” itu. Kita tahu, orang seperti mendiang Azahari itu bukanlah santri. Latar belakang pendidikannya pun bukan sekolah agama. Bahkan, konon mantan Panglima Lasykar Jihad, Ja’far Umar Talib, pernah menyatakan kepada pers bahwa ia pernah bertemu Usamah bin Laden. Katanya, “Pengetahuan agamanya nol.”

Lalu, Sonata yang mengaku diperintah untuk membunuh Ulil Absha-Abdalla, sebenarnya juga tidak tahu apa-apa soal hukum membunuh sesama muslim. Jadi, mereka sebenarnya orang-orang memang yang tidak tahu. Tapi mereka gencar diberi dakwah oleh orang-orang yang budaya dan ilmu Islamnya bersifat global. Dakwah global ini dipengaruhi banyak sekali faktor politik.

Bom bunuh diri memang tidak dikenal dalam tradisi Indonesia. Tapi apakah aksi bunuh diri untuk mendapat status syahid itu pernah dikenal dalam sejarah Islam?

Secara tidak menguntungkan, fakta itu ada. Itu yang kita kenal dengan The Assassin atau kaum hasyâsyîn, sempatalan dari sekelompok Syiah Batiniah. Mereka menghalalkan teror dan sebagainya demi menegakkan supremasi dan dinasti mereka.

Orang Barat menyebut mereka sebagai The Assassin, karena menghalalkan segala cara; pembunuhan, intimidasi, teror, dan segala yang dianggap perlu untuk akan mewujudkan cita-cita mereka. Tapi mereka telah dikutuk di mana-mana. Aliran Syiah lain juga tidak mengakui mereka sebagai Syiah yang benar.

Dalam sejarah moderen, aksi bunuh diri itu pernah dipraktikkan kelompok IRA (Irish Republikan Army) di Irlandia, juga pasukan Yakuza Jepang. Oleh kalangan Islam tertentu, praktik itu ditiru dan diterapkan. Mereka menganggap itu bisa dibenarkan oleh Islam. Dalil pembenarnya mereka cari dari sejarah Islam. Konon, ada satu orang sahabat yang bersama Nabi di tepi medan tempur.

Lalu ia bertanya, “Ya Rasulallah, kalau aku pergi ke medan tempur itu, lalu berperang di sana dan gugur, apakah aku akan masuk surga?” Kata nabi, “Ya!” Lalu ia membuang kurmanya, melompat ke kuda, dan memacu kudanya ke medan berkecamuknya perang. Ia lalu mati terbunuh.

Banyak orang yang mengatakan kalau aksi itu bagian dari taktik bunuh diri. Tapi sebagian mengatakan “tidak”, karena ia masih berpeluang hidup. Intinya, kalau masih berkemungkinan hidup, bukan bunuh diri namanya. Tapi dalil itu sudah dijadikan pembenar oleh sebagian kelompok Islam untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

Kalau begitu, bagaimana membedakan kematian yang disebut syahid atau al-istisyhâd denganbom bunuh diri?

Kita bisa mengatakan bahwa etika bom bunuh diri itu bukan etika Islam alias etika kafir. Artinya, kalau saya menyatakan ingin syahid atau bermohon menjadi syahid dalam sebuah pertempuran, saya wajib membela diri supaya tetap hidup. Itu terutama berlaku untuk kancah pertempuran satu lawan satu—dengan menghunus pedang, misalnya.

Ada contoh lain untuk soal seperti ini. Dulu, prajurit Taliban yang berada di atas bukit, pernah dihadang meriam oleh pasukan Mujahidin, lawan mereka, yang memuntahkan mortirnya ke atas. Sekelompok orang Taliban yang di atas pernah menggunakan taktit turun ke bawah demi membungkam mortir Mujahidin.

Korban berjatuhan. Sebagian orang mengatakan itu bunuh diri konyol, sekalipun tetap ada peluang hidup. Karena itu mereka menyebut itu bukan bunuh diri yang murni. Kaidahnya: semua yang berkemungkinan hidup, bukanlah aksi bunuh diri.

Tapi contoh di atas berbeda dengan yang meledakkan diri dengan bom. Aksi itu betul-betul aksi menjemput maut. Nah, yang seperti itu tidak ada pembenarannya dalam Islam. Dalam Islam, orang tetap harus berusaha hidup, demi menghormati pemberian karunia hidup itu sendiri. Di dalam Alqur’an sendiri Allah menyatakan bahwa seseorang yang membunuh orang lain tanpa alasan yang haq, seakan-akan ia telah membunuh keseluruhan manusia.

Rasulullah juga mengutuk intihâr, aksibunuh diri. Dan dalam sebuah hadis qudsi, Allah juga berfirman bahwa “orang yang membunuh dirinya, mirip seperti mereka yang tidak menerima takdir-Ku.” Artinya, dia mendahului kehendak Tuhan.

Jadi, pelaku bom bunuh diri ini bisa dianggap mempercepat takdir ilahi tentang kematiannya?

Ya. Mungkin mereka tidak paham. Mereka mengira tindakan itu identik dengan apa yang pernah dilakukan para sahabat Nabi. Padahal, ada cara-cara lain untuk mencapai tujuan. Lebih lagi, tujuan-tujuan yang ingin mereka capai juga tidak realistis.

Mestinya, harus dibahas dulu apakah tujuan mereka realitstis atau tidak, baru kemudian orang mengangguk atau menggeleng. Sepanjang yang kita tahu, tujuan mereka tidak realistis sama sekali. Bagaimana melawan Amerika dengan membunuh orang-orang di Bali? Logika seperti ini susah ditangkap. Dan umumnya, para santri tidak tertarik ide-ide seperti itu.

Sajida, perempuan pelaku bom bunuh diri yang gagal di Amman, Yordania, tertarik melakukan bom bunuh diri karena tiga kakaknya tewas akibat agresi Amerika di Irak. Bagaimana kalau alasannya seperti itu?

Kalau menurut agama, alasan itu bersifat dendam dan sangat pribadi. Kalau kita merujuk pada cerita-cerita utama para sahabat, kita akan tahu bahwa tidak boleh berperang hanya karena dendam. Sayidina Ali pun tidak jadi membunuh seorang musuh ketika ia diludahi. Dia urung, karena kalau tetap membunuh, ia hanya membunuh karena motif dendam dan kemarahan.

Namun fatwa Syekh Yusuf al-Qardlawi memang membolehkan bom bunuh diri di Palestina. Katanya, untuk melawan Israel, dibolehkan aksi istisyhâd (bom syahid atau martir). Namun bagaimana kalau korbannya ibu-ibu, gadis-belia, atau anak-anak yang sedang jalan-jalan di mal dan tempat lain? Ia memberi jawaban yang sangat formalistis. Katanya, dalam undang-undang Israel, semua warganegara mereka seorang prajurit.

Secara formalistis, alasan itu memang dapat diterima. Tapi faktanya, mereka tetap bukan prajurit. Pertama, mana mungkin seorang bayi sudah bisa dianggap prajurit. Kedua, apakah tidak ada jalan lain?

Kita tentu tahu kepahitan hidup orang Palestina dan orang Bosnia dulunya yang sempat diperkosa orang-orang Serbia. Tapi apakah bunuh diri jalan yang bagus untuk memecahkan soal? Apakah itu tidak hanya akan menimbulkan dendam selamanya? Apakah aksi itu betul-betul bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun Syekh al-Qardlawi tidak membolehkan aksi itu bagi yang tidak diserang?

Jadi, kadang alasan pembenar atas aksi itu sangat formalistis. Dulu ada banyak orang yang membela Saddam Husein dengan alasan dialah satu-satunya sosok penyeimbang dalam peta kekuatan di Timur Tengah. Dia dianggap mengatrol kekuatan Islam dalam berhadap-hadapan dengan Israel. Saya pernah menulis komentar di Republika: bagaimana bisa menjadi penyeimbang kalau senjatanya saja dari luar negeri?

Sekarang, kita bisa mengatakan, “Bagaimana bisa melawan Amerika dengan cara membunuh orang di Bali?” Di sinilah kita tampaknya perlu belajar dari Jepang yang bisa mengungguli Amerika tanpa mengeluarkan sepucuk pistol pun. Lihat juga ekonomi Cina saat ini. Bahkan, lihat pulalah Vietnam yang mulai menguat.

Ada yang membenarkan bom bunuh diri asal sesuai dengan syariat dan bertujuan menghancurkan musuh-musuh Islam. Tanggapan anda?

Pertanyaan saya: sesuai dengan syariat Islam atau sesuai fikih? Biasanya, kita memahami bahkan mengidentikkan syariat itu dengan fikih. Tapi, dari keduanya itu pun tidak ada kasus dan klausul pembenar, baik atas bunuh diri dengan bom ataupun dengan pedang.

Jadi sejak dulu, sejarah Islam tidak menganggap bunuh diri sebagai tindak kepahlawanan seperti pernah yang terjadi di Jepang. Dalam contoh Jepang, pesawat kecil masuk ke cerobong asap kapal induk musuh, lalu pelakunya mati, dan kapalnya meledak.

Dalam sejarah Islam tidak ada contoh seperti itu. Di masa Nabi juga tidak ada. Jadi syariat Islam seperti apa yang dapat membenarkan, saya juga sangat ingin tahu.

Yang kedua soal tujuan. Kalau mau menandingi Barat, sebaiknya gunakan cara-cara yang islami, seperti yang ditempuh Jepang saat ini; tidak dengan senjata, karena memang percuma. Justru dari sisi kekuatan ekonomilah kita mesti berjuang keras. Jadi tetap dengan cara yang damai.

Saya rasa, kita terlalu banyak disibukkan, diributkan, dan dibikin habis waktu oleh urusan ideologi. Sudah saatnya kita betul-betul bekerja, melek mata dan melihat apa yang kita butuhkan untuk kemajuan umat Islam di bumi persada ini. Hanya dengan cara itu kita bisa menandingi atau menyamai orang lain.

Bagaimana dengan bom bunuh diri altruistis, atau yang dianggap sebagai pengorbanan untuk orang banyak?

Aksi bunuh diri yang bisa dibenarkan itu hanya pernah saya lihat dalam sebuah film yang dibintangi Bruce Willis, Armageddon. Di situ dihayalkan bahwa ada benda luar angkasa yang harus diledakkan di atas langit, karena kalau tidak, bumi akan hancur. Tentu ini hanya hayalan.

Setelah diundi, Bruce Willis terpilih sebagai orang yang harus meledakkan. Dia mati, dunia selamat, dan manfaatnya nyata bagi semua orang. Nah, kalau ada kasus seperti itu, saya kira boleh saja. Tapi di luar itu, saya tidak paham bagaimana menghukuminya. Sebab, di zaman Rasulullah tidak ada presedennya.

Anda bisa bedakan motif-motif bom bunuh diri di Indonesia dan di Timur Tengah?

Tentu ada perbedaannya. Bagaimanapun juga, ada penghormatan besar bagi para pejuang di Palestina. Target mereka pun jelas. Di Palestina, bom bunuh diri dilakukan agar tentara Israel mundur. Di Irak, itu dilakukan agar sesuatu terjadi menurut harapan mereka; entah Amerika mundur, atau lainnya. Beberapa target mereka tercapai. Terbukti, PM Israel, Ariel Sharon, menarik mundur warganya dari pemukiman Gaza. Tapi di Indonesia targetnya tidak ada.

Tapi kalau saya ditanya apakah setuju bom bunuh diri dengan target tertentu seperti di Timur Tengah, dengan pengetahuan terbatas, saya tetap tidak setuju. Itu tidak ada klausulnya dalam Islam, dan tidak bisa dikiyaskan dengan ajaran Rasulullah soal menghargai hidup.

Bagaimana dengan bom bunuh diri atas mereka yang dituduh kolaborator atau yang dianggap bekerja sama dengan musuh, seperti kelompok Syiah yang hampir tiap hari dibom di Irak?

Saya tidak tahu. Tapi gerakan kekerasan seperti perencanaan bom bunuh diri memang sangat menyenangkan dan memikat pelaku dan simpatisannya. Ketika seorang pemuda yang berpengetahuan agama nol berkenalan dengan gerakan militan dan revolusioner, baik yang berlabel Islam atau pun komunis, itu akan sangat menyenangkan.

Menyusun rencana bawah tanah, berhubungan secara sel-sel, memang membangkitkan adrenalin kaum muda. Apalagi garansinya masuk surga. Orang akan berfantasi bahwa mereka akan ke surga yang sudah ditunggui bidadari-bidadari cantik.

Dengan aksi-aksi seperti itu, orang yang tadinya nobody menjadi somebody dan merasa dirinya sangat penting. Orang-orang seperti Amrozi, Imam Samudra, dan lain-lain, sangat yakin akan kebenaran apa yang mereka perbuat. Karena itu, pribadi-pribadi yang putus asa di dunia ini, bisa saja dijadikan sasaran dakwah untuk kekerasan seperti itu.

Pak Syu’bah, bagaimana cara menanggapi terorisme Amerika di beberapa tempat dan ketidakadilan global yang dianggap pemicu aksi-aksi teror?

Terorisme oleh negara kuat seperti Amerika atau Israel hanya bisa kita pahami sebagai latar belakang timbulnya terorisme umat Islam. Tapi sekalipun itu dapat dianggap sebagai latar belakangnya, tidak berarti aksi terorisme itu sendiri bisa kita benarkan. Itu yang penting kita pegang.

Lalu bagaimana dengan teori konspirasi yang mengatakan aksi-aksi itu hanya rekayasa negara-negara asing? Bagi saya, teori yang banyak diungkap bekas orang BIN (Badan Intelijen Negara), almarhum ZA Maulani, itu susah sekali dibuktikan.

Almarhum ZA Maulani percaya betul kalau Bom Bali I itu bukan perbuatan orang Indonesia. Saya tidak ahli dalam bidang itu. Tapi yang nyata, kalaupun konspirasi itu ada, dan teror itu sebenarnya rekayasa negara luar, tohpelakunya tetap orang sini juga.

Apakah bom bunuh diri di Indonesia hanya tren yang akan berakhir dua-tiga tahun mendatang?

Sangat tergantung bagaimana masyarakat dan kalangan ulama menanggapinya. Kalau para ulama berjanji akan berbuat sesuatu, tren itu saya kira cepat menghilang, atau tidak pernah dibenarkan umat. Sekarang mungkin umat masih terkagum-kagum dengan nyali orang yang membunuh dirinya sendiri sambil membunuh orang lain. Kalau para ulama menerangkan bahwa cara berjihad seperti itu salah dan keliru, tren itu tidak akan menyebar betul.

Peran apa yang bisa diharap dari agama dan agamawan untuk mengurangi persebaran gagasan-gagasan teror?

Pada akhirnya kita harus mengembalikan agama ke dalam posisinya yang wajar, yang benar. Saya sangat mengharapkan kepedulian para ulama untuk berani angkat bicara soal terorisme. Kadang-kadang, para ulama memang payah untuk diharapkan. Coba kita ingat, pada zaman Orde Baru, tidak ada satu orang ulama pun yang bicara lantang soal korupsi. Sekarang, di tayangan televisi setelah subuh, mereka pada teriak: “Korupsi! Korupsi!”

Karena itu, saya kadang berkesimpulan, ulama itu pada dasarnya tidak bisa kita kedepankan, kecuali untuk urusan ibadah. Memang ini agak disayangkan, tapi begitulah faktanya.

Nanti kalau perkara ini sudah selesai, para teroris sudah kalah, mereka baru berani angkat bicara. Saya dapat informasi bahwa surat pembaca yang masuk ke desk anti-terorisme di Dephankam menganjurkan untuk melibatkan ulama. Tapi sayang, banyak ulama yang bilang: “Jangan saya lah… !” Semua hampir begitu. Untuk bicara soal kebenaran saja mereka tak berani. Mereka lebih suka bicara soal-soal yang laku di televisi.

Namun demikian, tanpa mengurangi penghargaan kita pada ulama, kita tetap punya pengharapan. Harapan itu berupa upaya untuk membantu Islam supaya tetap diapresiasi sebagai agama yang benar, yang rahmatan lil `âlamîn.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.